
Laura menghentikan mobilnya di pakarangan rumahnya. Laura mengambil semua bawaannya dan berjalan dengan lunglai kedalam rumahnya.
“Hai, Pih.” Laura langsung mencium pipi Sabar.
“Darimana kamu?” tanya Sabar sambil mengangkat barbel ditangan kanannya.
“Dari tempat Cicil, Pih.” Laura menjawab sejujurnya sambil berjalan kearah Mamihnya yang sedang asik membaca majalah fashion terbaru.
“Kamu pasti ketemu si Lele dumbo itu,” ucap Sabar.
“Siapa Lele dumbo?” tanya Wina. Wina Mamih Laura, wanita berumur 55 tahun itu bertanya dengan nada penasaran.
“Itu, pacar baru anak kita. Namanya Edy. Tapi, mukanya kaya lele dumbo.” Sabar memindahkan barbelnya ketangan satunya.
“Eh, Laura. Kamu teh punya pacar?” tanya Wina dengan wajah berseri-seri.
“Iya, punya tapi kayanya mau putus,” jawab Laura sedih.
“Bagus,” ucap Sabar.
“Eh, si Papih mah. Kok putus, kenapa putus?” tanya Wina sambil berjalan kearah Laura.
“Gimana nggak putus, sekarang aja dia ke Banten nyari ilmu,” ucap Laura.
“Eh... pacar kamu teh, apa kok sampai ke Banten segala?”
“Tanya Papih, gara-gara Papih Lele ke Banten. Laura jadi harus ulang tahun sendirian.” Laura menyimpan semua barang-barangnya dikursi dengan kesal.
“Lah, Papih nyuruh pacar Laura ke Banten ngapain?” tanya Wina bingunh.
“Ngapain, Papih nggak nyuruh dia ke Banten.” Sabar mengambil handuk dan melap badannya.
“Ih, Papih tuh ngajak tarung Edy, Mih. Badan Edy kecil, Mih. Masa mau tanding MMA di sasana yang dibelakang. Gimana kalau Edy berpulang kerahmahtuloh?” cecar Laura kesal.
“Papih, kok gitu sih. Kamu mau anak kamu jadi perawan tua? Ih... semua temen-temen Laura udah pada nikah, tinggal dia yang belum nikah.” Wina memukul bahu Sabar keras.
“Papih lakuin itu buat liat, seberapa seriusnya itu Lele dumbo sama anak kita. Papih, nggak butuh menantu klemar klemer. Harus yang strong, kaya Papih,” ucap Sabar sambil menunjukkan otot-otot ditangan kanannya.
“Masa Laura harus pacaran ama atlit binaragawan sih, Pih.”
“Wah ide bagus, mau Papih kenalin?” tanya Sabar sambil mengambil handphonennya. Setelah beberapa lama mengutak atik layar handphonennya, Sabar langsung menunjukkan seorang atlit binaragawan.
“Namanya, Unu. Mau nggak, wah ini otot kawat tulang besi. Ganteng maksimal,” ucap Sabar sambil menunjukkan pria berbadan besar sedang menunjukkan otot-ototnya.
Laura langsung bergidik membayangkan dirinya ada dibawah badan lelaki berbadan besar itu. “Nggak mau, serem. Remuk yang ada Laura pas malam pertama.”
“Nggak lah, buktinya Mamih kamu sampai detik ini nggak remuk-remuk tiap malam Papih tindih,” ucap Sabar sambil mengerucutkan bibirnya kearah Wina.
Wina langsung tersenyum malu-malu meong melihat rayuan Sabar yang menurutnya imut. “Ih, Papih suka bener deh. Jadi malu.”
Laura langsung bergidik, rasanya ngeri-ngeri sedep membayangkan kedua orang tuanya kuda-kudaan. “Nggak mau, Laura maunya sama Edy Edrosh, titik. Nggak ada debat!?”
“Laura, tapi dia badannya kecil gitu kaya kurang gizi,” ucap Sabar.
“Nggak mau, pokoknya Laura suka Edy. Maunya sama Edy,” ucap Laura sambil menghentakkan kakinya dan berjalan ke arah kamarnya yang ada diujung rumah.
“Laura,” panggil Sabar, “susah banget anak kamu dikasih tau.”
“Udah, Pih. Mungkin Laura emang cinta ama Lele. Kaya dulu Mamih ke Papih. Cinta mati,” ucap Wina sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Ah kamu tuh, jadi inget masa muda,” ucap Sabar sambil mencawil hidung Wina dan memaju-majukan bibirnya.
“Idih, Papih pasti mau minta jatah kelon,” ucap Wina malu-malu meong.
Sabar langsung mengangkat Wina seperti mengangkat karung beras dan menepuk bokong Wina pelan.
“Mari kita arungi malam ini, baby.” Sabar berkata sambil berjalan memasukki kamar mereka berdua.
•••
Laura hanya bisa mengerucutkan bibirnya saat mendengar suara cekikkikan Sabar dan Wina. Rasa kesal langsung menggerogoti Laura.
Diambilnya minuman bobba miliknya, diminumnya dengan cepat. Laura langsung menscroll handphonennya, berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari kekasihnya.
Dengan kesal Laura duduk di ambang jendela kamarnya. Jendela kamar Laura memang didesain sedemikian rupa hingga bisa membuat Laura duduk di ambang jendelanya, sambil menatap keluar kamar.
Tanpa terasa waktu menunjukkan jam 11.50 WIB, dengan kesal Laura mengganti bajunya dan mengambil kue kecil yang tadi Laura beli sebelum pulang.
Dengan cekatan Laura menyalakan lilin ulang tahun miliknya. “Hah... sedih amat hidup aku ulang tahun sendirian.”
Laura menutup matanya dan mengucapkan permintaannya, “Aku harap Lele bisa menang dari Papih dan Lele bisa nemenin aku ulang tahun aku tahun depan.”
Laura langsung meniup lilinnya dengan cepat, saat api di lilinnya mati Laura mendengar dentingan suara gitar dari luar kamarnya. Sayup-sayup terdengar lagu fix you-coldplay.
When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
__ADS_1
Stuck in reverse
And the tears come streaming down your face
When you lose something, you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Coldfly-fix you.
Laura membuka jendela kamarnya dan tersenyum manis saat melihat Edy memainkan gitarnya sambil bernyanyi.
“Lele...” bisik Laura sambil menatap Edy yang berjalan kearahnya.
“Masih marah?”
“Katanya kamu ke Banten,” ucap Laura sambil mengusap pipi Edy.
“Banten bisa nunggu. Tapi, ulang tahun kamu nggak bisa nunggu ‘kan?” Lele menurunkan gitarnya dan mengeluarkan kue ulang tahun kecil ditangan kanannya.
“Lele...” pendar cahaya lilin membuat senyuman Laura tampak sangat cantik dimata Edy.
“Make a wish,” ucap Edy.
(Bikin permintaan)
Laura langsung menutup matanya dan meniup lilinnya. “Udah.”
“Apa permintaannya?” tanya Edy penasaran.
“Ih, kalau dikasih tau mana bisa. Nanti nggak terwujud lagi.”
“Hahaha, ya udah. Selamat ulang tahun, Cantik.”
“Makasih, Le.”
Edy mengecup kening Laura pelan, “Apapun permintaan kamu, Edy harap semuanya terkabul.”
“Rekor apaan?” tanya Edy bingung.
“Rekor mengabulkan permintaan tercepat.”
“Hah kok bisa, emang apa permintaan kamu?” tanya Edy penasaran.
“Salah satunya aja, yah.” Laura berkata sambil mengelus hidung Edy.
“Iya, satu aja yang paling bisa dikabulin sekarang,” ucap Edy.
“Aku mau BOBBA,” ucap Laura.
“Eh, bobba?” tanya Edy yang langsung dijawab anggukkan oleh Laura sambil mengedipkan sebelah matanya. “Tapi, Beb ini bobba.”
Edy menunjuk segelas minuman Boba disebelah Laura. “Kurang?”
“Ih, bukan bobba ini. Aku mau bobba yang lain.” Laura berkata dengan manja dan mengalungkan tangannya di leher Edy.
“Bobba apaan?” tanya Edy bingung.
Laura mendekatkan bibirnya ke telinga Edy, membisikkan kata-kata yang mampu membuat Edy melambung tinggi.
“Aku mau Bobba,” ucap Laura sambil berbisik ditelinga Edy, hembusan napas Laura membuat Edy bergidik.
“Bobba apa, Beb?” tanya Edy.
“BOBo BAreng,” ucap Laura sambil mengigit pelan kuping Edy.
Seketika itu juga wajah Edy memerah, “Beb, bobo kuda-kudaan?”
“Bukan, bobo aja. Mau nggak?” tanya Laura sambil mengedipkan matanya kearah Edy. “Kamu ke Bantennya besok aja.”
“Eh, dimana?”
“Disana,” ucap Laura sambil menunjuk kasur miliknya.
“Eh, tapi...”
“Ayo.”
Edy pun menuruti keinginan Laura, malam itu mereka saling berpelukkan dan bercengkrama, terkadang mereka berdua saling mencumbu atau saling merayu sampai mereka terlelap.
•••
__ADS_1
Edy membalikkan badannya, kemudian memeluk kembali Laura. Dengan cepat Edy mendekatkan kepalanya kearah badan Laura, berharap bisa mencium wangi badan Laura yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
“Beb, wangi kamu kok jadi acem gini sih, belum mandi yah?” tanya Edy sambil menggosok-gosokkan hidungnya ke badan Laura yang entah mengapa terasa keras.
“Beb, cium.” Edy memajukkan bibirnya meminta dicium oleh Laura dengan mata yang masih terpejam.
PLAK...
Bukan ciuman yang Edy dapatkan. Tapi, sebuah pukulan di keningnya. Pukulan tersebut langsung membuat Edy tersadar dan terperanjat.
“ET DAH, SABAR..!?” teriak Edy sambil meloncat dari kasur Laura dengan cepat.
“Ngapain kamu disini, hah?” tanya Sabar sambil berdiri menghadap Edy.
“Bobba, Om,” jawab Edy dengan mulut bergetar, diedarkannya pandangannya kesetiap penjuru ruangan berharap menemukan sosok Laura. Tapi, nihil Laura tidak ada disana.
“Bobba gimana?” tanya Sabar sambil menggeremetakkan buku-buku jarinya.
“Bobba Om.”
“Bobba apa, hah?” tanya Sabar sambil berjalan mendekati Edy.
“BOBo BAreng, Om.”
“APA!?” teriak Sabar sambil merobek bantal dihadapannya menjadi dua bagian.
Sontak Edy langsung menahan napasnya, “Ampuni saya Om,” ucap Edy.
“Kamu, yah.”
“Lele,” teriak Laura dari balik jendela kamar Laura.
“Beb,” ucap Edy sambil membuka jendela dibelakangnya.
“Lari, sekarang!?” pinta Laura sambil menarik tangan Edy untuk keluar dari kamar melalui jendela kamarnya.
Edy sontak mengikuti usulan Laura, dengan cepat dan cekatan Edy langsung meloncat keluar kamar dan menatap Laura ketakutan.
“Lari Lele,” teriak Laura sambil mendorong Edy.
“Kamu, gimana?” tanya Edy bingung.
“Udah lari sana, pokoknya pulang dari Banten kalahin Papih, yah.” Laura berkata sambil mendorong Edy untuk berlari.
“EDY LELE DUMBO!?” teriak Sabar dari jendela kamar Laura, Sabar berniat untuk mengejar Edy namun ditahan Laura.
“Papih, udah ih. Udah, aku sama Edy juga nggak ngapa-ngapain,” ucap Laura sambil menahan Sabar.
“Awas kamu yah, heh. Edy!?” teriak Sabar sambil melempar buku kearah Edy.
Pletak...
Edy merasakan kepalanya terkena buku yang dilempar Sabar. “Ampun Om, dua minggu lagi Edy kesini. Demi Laura, Edy bakal kalahin Om, walau nyawa taruhannya Om.”
“Sini kamu, saya bikin rendang kamu!?” teriak sabar.
“Papih udah, nanti aja.”
“Argh, kamu juga centil banget, ngapain aja kamu?” tanya Sabar kesal.
“Nggak ngapa-ngapain, Pih.”
“Awas aja kalau kalian kuda-kudaan, Papih bikin si Edy jadi kuda beneran!?” ancam Sabar sambil masuk kembali kedalam kamar Laura.
Laura hanya bisa menghela napas pelan saat melihat Papihnya masuk kembali kedalam kamarnya. Kecerobohannya lupa mengunci pintu kamar saat keluar untuk memindahkan mobil, membuat Papihnya masuk kedalam kamar dan mendapati Edy sedang asik tertidur di kasurnya. Untungnya Laura berpikir cepat dengan berlari kearah jendela kamarnya, kalau tidak mungkin detik ini Edy sudah ada di rumah sakit.
“Laura, Papih kenapa?” tanya Mamih yang tiba-tiba ada dijendela kamar Laura.
“Ketemu Edy.”
“Aduh, Laura kamu tuh yah. Awas aja kalau si Edy nggak nikahin kamu. Mamih gantung si Edy,” ancam Wina.
“Iya, wong aku sama Edy nggak ngapa-ngapain kok. Sumpah deh.”
“Ah, pokoknya menang nggak menang, kamu Mamih kawinin sama si Edy,” ucap Wina kesal.
“Cakep, emang itu yang Laura mau,” ucap Laura sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Wina hanya bisa mendengus kesal dan berlalu dari sana. Kepalanya hampir pecah mengurusi anak semata wayangnya itu, sepertinya Laura benar-benar harus cepat dinikahkan dengan lele dumbo itu. Secepatnya.
•••
Muahahahahaa...
kasian Edy, hanya karena Bobba akhirnya dia mau dijadikan rendang 🤣🤣🤣
Jangan lupa komen yang banyak, like diklik, vote disumbangkan dan point juga koin di sebar dengan penuh cinta dan kacih cayang wkwkwkw
XOXO GALLON
__ADS_1