
Sudah dua minggu semenjak Taca meminta izin untuk menginap di tempat Cicil. Itu membuat Adipati harus melewati malam-malamnya sendirian, tidak ada celotehan Taca yang kadang memekakkan telinganya atau tawa renyah istrinya saat melakukan apapun di sekitarnya.
Adipati melemparkan pulpennya ke atas kertas, diusapnya wajahnya dengan kedua tangannya. “Jam dua.”
Pekerjaan Adipati yang menumpuk benar-benar membuat dirinya lupa waktu, biasanya Taca yang mengingatkan dirinya untuk beristirahat. Jam dua belas Taca akan masuk ke ruang kerjanya dan memborbardirnya tentang dampak tidur terlalu larut dan begadan yang tidak baik untuk tubunya.
Kenapa dia serindu ini dengan Taca padahal setiap dia membuka matanya pasti dia sudah mendapati Taca yang sedang asik membuatkan makan pagi untuknya dan anak-anak.
Adipati tertawa kecil, sepertinya hidup bersama Taca sudah mengubahnya dari lelaki mandiri menjadi lelaki ketergantungan. Semuanya disediakan dan disiapkan oleh Taca, Argh ... dia rindu Taca, rindu memeluk tubuh dan menciumi wangi tubuh istrinya itu.
“Da ... Da ....”
Adipati tersentak saat mendengar suara Kafta, dialihkannya pandangan matanya ke bawah meja. “Ngapain kamu di sana?”
“Da ... Mih?” Kafta menanyakan di mana Taca.
Dengan tersenyum diangkatnya Kafta kemudian diayungnya pelan Kafta, “Kamu kangen Mamih?”
“Mih, Da ... Mih, nyo ....”
“Kamu mau susu Mamih? Astaga sama, Nak. Daddy juga mau susu Mamih kamu,” kekeh Adipti sambil berjalan keluar dari ruang kerjanya. Adipati dengan cepat menyiapkan susu asi milik Taca yang sudah disimpan di frezzer.
“Kamu gimana turun dari kasur kamu sih Nak? Mbak simpen kamu di bawah yah?” tanya Adipati pada Kafta.
“Nyo ... Nyo ... Mih,” ucap Kafta sambil menepuk-nepuk tangannya sambil mengerling pada Adipati.
“Kamu mirip banget Mamih kamu, mata kamu coklat banget. Kayanya yang matanya kaya Daddy cuman Kalila,” ucap Adipati sambil memberikan botol susu ke arah Kafta.
“Da ....” Dengan cepat Kafta mengambil botol susunya dan meminumnya dengan cepat.
“Enak?” tanya Adipati yang langsung dijawab anggukkan oleh Kafta. Diayunkannya kembali badan Kafta.
“Astaga, Daddy kangen Mamih kamu, biasanya dia yang ngayun kamu jam segini, Nak.” ucap Adipati sambil mengecupi pipi gembil Kafta.
“Da ...”
“Tidur yuk, Daddy capek. Yuk kita tidur,” ucap Adipati sambil berjalan ke arah kamarnya. Saat masuk ke dalam kamarnya, napasnya terhenti saat melihat Kama dan Kalila sedang berloncat-loncatan di kasur.
“Astaga Kama, Kalila kalian ngapain?” tanya Adipti bingung. “Ini jam dua pagi, kenapa kalian nggak tidur?”
Kama dan Kalila langsung berhenti berloncatan mereka saling tatap sebelum menjawab pertanyaan Adipati, “Mamih mana?”
Adipati langsung menggaruk kepalanya, kenapa semua anaknya mencari Taca. Apakah dirinya tidak cukup?
“Mamih lagi nginep di tempat Aunty Cicil. Besok juga pulang,” terang Adipati sambil duduk di kasur yang sudah porak poranda.
“Aunty Cicil kenapa sih harus ditemenin? Aunty Cicil nggak bisa tidur sendiri apa?” tanya Kalila sambil masuk kedalam selimut.
“Nggak tau, nanti kita tanya Mamih, yah. Ini kenapa jadi tidur di sini semuanya?” tanya Adipati bingung melihat Kama dan Kalila masuk ke dalam selimut.
__ADS_1
“Bobo sini aja, ma Dada,” ucap Kalilah sambil berpelukkan dengan Kama.
Dua anak kembarnya ini benar-benar membuat Adipati tertawa. Tingkahnya selalu ajaib, mungkin darah turunan Abah mengalir di nadi mereka berdua. Berbanding, terbalik dengan Kafta yang benar-benar menunjukkan sifat Adipati. Kama dan Kalila benar-benar mirip Taca dan Abah.
“Ya udah. Tapi, tidur yah. Daddy besok ada kerjaan,” ucap Adipati sambil merebahkan tubuhnya, sebelumnya dia sudah merebahkan Kafta.
Adipati mencari posisi enak untuk tidur, biasanya dia tinggal menarik Taca yang pasrah dijadikan guling hidup miliknya. Tapi, saat ini tidak mungkin Adipati menjadikan salah satu anaknya guling hidup.
Saat Adipati memejamkan matanya tiba-tiba telinganya mendengar Kama dan Kalila mulai cek cok. Hanya gara-gara selimut, Adipati mengabaikannya matanya sudah benar-benar lelah. Dia tidak mau diganggu oleh rengekkan tidak berfaedah dari Kama dan Kalila, sampai ....
Bug...
“Huaaa ....” Tangisan Kafta pecah,
Mata Adipati langsung terbuka, dilihatnya Kafta menangis karena terpukul secara tidak sengaja oleh Kama yang sedang tarik-tarikkan selimut dengan Kalila.
“Astaga Kama Kalila?!” seru Adipati keras, rasa lelah benar-benar membuat Adipati lepas kendali. Biasanya Taca akan mengusap paha Adipati untuk meminta dirinya menurunkan intonasi suaranya.
Kama dan Kalila langsung menatap Adipati ketakukan. Mereka nakal namun, bila Adipati sudah berteriak nyali mereka langsung menciut dan ...
“Huaaa ... Mamih, Mamih.” Kama dan Kalila pun langsung menangis keras ketakutan.
Tangisan Kama dan Kalila otomatis membuat Kafta juga menangis makin kencang. Adipati hanya bisa menatap ketiga anaknya yang menangis kencang. Keadaan makin ricuh karena Kafta berguling-guling dan memukul Kalila tanpa sengaja.
“Astaga, udah-udah.” Adipati mulai kalut, biasanya Taca yang bisa menghandel ini semuanya. Argh ... dia rindu Taca. Kepalanya pecah.
Adipati melirik handphonenya dan melihat layar handphonenya. Siapa yang menelepon jam setengah tiga pagi!? Argh ... kepalanya makin pecah saat melihat Kama menangis sambil memeluknya.
“Tenang, Nak.”
Adipati langsung mengangkat teleponnya dan berkata, “ Ju.”
••••
Tiga puluh menit sebelum Juan menelepon Adipati.
Juan yang sedang asik mengurus berkas-berkas untuk rapat besok tidak sadar kalau waktu sudah berlalu dengan cepat. Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan jam dua malam.
“Eh ... udah jam dua,” ucap Juan sambil menutup laptopnya dan beranjak dari kursinya.
Juan berjalan ke arah dapur, rumahnya kosong semua pembantu dan babysitter sudah tertidur. Anak-anaknya sudah tidur dengan nyaman diranjang mereka masing-masing. Matanya pun sudah ngantuk.
Juan dengan cepat mengambil semangkok ice cream vanilla dari frezzer. Dia akan menikmati ice creamnya dulu baru menutup matanya. Saat sedang menyuapkan ice cream kemulutnya Juan mendengar suara tangisan dari kamar Khalid.
Dengan cepat Juan berjalan kearah kamar Khalid dan meninggalkan ice cream miliknya itu. Juan menatap Khalid yang sedang merengek di kasur miliknya. Iis benar-benar memaksa anak-anaknya tidur sendirian di kamar semenjak dini. Suatu keuntungan yang sangat Juan nikmati, karena Juan bisa dengan bebas meminta jatah kelonnya.
“Kenapa, Nak?” tanya Juan sambil menggendong Khalid dan menimangnya pelan.
“Uu, Uu,” isak Khalid sambil menepuk-beluk dada Juan.
__ADS_1
Juan tersenyum kecil, kelakuan Khalid benar-benar sebelas dua belas dengan dirinya. Pemuja uu.
“Iya, uu dari botol dulu yah,” ucap Juan sambil memberikan botol pada Khalid.
Khalid menatap botel tersebut kemudian menepisnya dengan keras, “UU!?”
Juan kaget saat botol susunya terlempar ke samping. “Khalid, Mamih nggak ada sayang. Papih nggak punya uu. Papih juga kangen uu Mamih kamu, Papih bahkan puasa dua tahun ini,” ucap Juan ngasal.
“UU!?”
“Hilih, kayanya kaka kamu nggak gini-gini amat, udah botol dulu yah,” bujuk Juan sambil mengambil kembali botol susu Khalid dan membujuk Khalid untuk meminum susunya.
Khalid akhirnya mengalah dan menikmati botol susunya. Juan dengan cepat menepuk-nepuk bagian belakang pinggul Khalid dan merasakan popok sekali pakainya sudah penuh.
“Penuh banget, Nak.” Juan langsung menidurkan Khalid di tempt mengganti popoknya. Dengan cepat Juan mengganti popok Khalid.
Sedang asik menggangi popok Khalid, tiba-tiba saja Khalid pipis dan air pipisnya dengan sukses membentuk air mancur dan mengenai Juan. Juan langsung berteriak keras.
“Astaga, Khalid. Astaga, Nak nggak mancur gini juga, Ayang ...,” panggil Juan yang lupa kalau Iis tidak ada di sana.
Air mancur yang dibuat oleh Khalid makin deras, Juan menjerit-jerit karena tubuh dan wajahnya basah. “Ayang, astaga Ayang. Khalid!?”
Juan kelabakan menerima pipis Khalid yang mengucur dengan derasnya. Tangan kanan menahan badan Khalid takut jatuh sedangkan, tangan kirinya berusaha menghalangi deburan air mancur buatan Khalid.
“Ayang ... Ay ....” Juan baru teringat kalau Iis tidak ada di rumah. Astaga, sudah cukup. Dua minggu tanpa istrinya benar-benar membuat kewarasan jiwa dan raganya teruji. Yang ada Cicil sehat sedangkan dirinya mulai gila. Istrinya harus pulang besok. Dan dia tau siapa yang harus diajak bekerja sama untuk memulangkan istrinya ke rumah.
Juan langsung mengganti bajunya dan melirik Khalid yang sudah tertidur pulas di kasurnya lagi. Diambilnya handphone dari nakas dan menelepon seorang lelaki yang memiliki nasib seperti dirinya. Siapa lagi kalau bukan sahabat sehidup sematinya, Adipati Berutti.
Tut ... tut ....
Pada dering ketiga terdengar suara diujung sambungan telepon.
“Ju.”
“Di.”
••••
JuDi tewwwwwww
Itu perbutan haram kata Bang Haji Rhoma Irama. Hahaha .... garing yah? Bodo ah ....
Kasian Om-Om meresahkan itu butuh kasih sayang istrinya wkwkwk ....
Terima kasih komen, point dan votenya. Kalian luar binasa eh salah biasa 🥰😘.
Itu tombol like di tampol, baca lurus2 aja ih ... kesel deh hahaha...
XOXO GALLON yang Lucu nan Imut 😍😘🤣
__ADS_1