
“Gawat, tulung..!?” ucap Edy dengan suara yang bergetar hebat.
“Apaan? Kenapa?” tanya Riki khawatir.
“Ada Bapaknya Laura,” ucap Edy sambil mengusap-usap bahunya. Hujan mulai turun, rasa dingin benar-benar menusuk badan Edy.
“Ya, terus. Ya kamu salam kek, sungkem kek. Kamu ada Bapaknya Laura ngapain nelepon aku, Edrosh. Nggak ada hubungannya, nggak ada cita-cita aku nikah sama Laura,” ucap Riki.
“Eits... mau aku santet kamu hah?” ucap Edy.
“Gih, paling yang nyantetnya Ki Brondong yang poninya nggak nahan. Udah mukanya aneh gitu, nggak takut gue.”
“Wah, kamu nggak percaya sama kesaktian Ki Brondong, baek-baek kamu bisa kena sial.” Edy memperingatkan Riki.
“Bodo amat, ini nggak ada yang bakal diomongin? Udahlah aku mau mandi ini bareng Cicil. Itu dari tadi Cicil bolak balik mulu kagak pake baju. Ini otak mesum aku udah meronta-ronta, Mang,” ucap Riki.
“Aduh, Ki. Tolongin urang heula lah, tulung.”
“Nya, kunaon?” tanya Riki kesal karena harus menahan hasrat mesumnya.
(Iya, kenapa?)
“Ieu aya Bapakna si Laura, kumaha ieu?” tanya Edy sambil mengintip kedalam kamar dan nampak Sabar Subagja yang memiliki perawakan badan mirip tukang pukul khusus pembayaran kredit macet kartu kredit.
(Ini ada Bapaknya Laura, gimana ini?)
“Nya teu kukumaha, datangan maneh teh. Salim, ngomong abdi Edy, abdi teh duriat pisan ka Neng Laura. Geus beak perkara,” ucap Riki kesal, kenapa dia harus mengajarkan tata cara bertemu calon mertua pada Edy sih.
(Ya, nggak gimana-gimana, datengin sama kamu. Cium tangan, bilang saya Edy, saya cinta banget sama Neng Laura. Udah selesai.)
“Nggak bisa gitu, Mang. Ini masalahnya pelik, susah di ungkapkan dengan kata-kata,” jawab Edy.
“Yah, gimana mau aku bantu kalau kamu sendiri nggak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Mau di bantu doa?” tanya Riki kesal.
“Gini loh, tadikan aku mau transfusi darah putih sama Laura. Udah siap tuh, aku udah nggak pake baju, Laura udah aku buka cel...”
“Nggak usah di jelasin juga, Edrosh,” terdengar Riki mengemeretakkan giginya karena kesal dengan perkataan Edy. Bagaimana tidak, detik ini karena mengangkat telepon Edy, Riki harus menahan hasratnya sendiri.
“Nah, celananya masih ada disini,” ucap Edy sambil mengambil pakaian dalam berenda berwarna ungu dan hitam milik Laura.
“Nggak usah dibahas, ini jadina teh gimana?” tanya Riki kesal bukan main.
“Jadi, pas lagi gitu. Pintu di gedor sama Bapaknya Laura, ini aku lagi diluar di beranda. Cing sumpah, tiris. Hujan, Mang. Urang teu di baju ieu,” ucap Edy sambil berjongkok di pinggiran beranda kamar sambil menatap hujan yang terus bergemuruh.
(Sumpah ini, dingin. Hujan, Mang. Aku nggak pake baju.)
“Syukur, Edy,” kekeh Riki keras, saking kerasnya membuat Cicil yang sedang menggunakan pakaiannya melirik bingung pada Riki.
“Tulung, tulung. Helep, helep. Riki, tolong atuh, ini hujan. Dingin beneran ieu mah.” Edy memohon.
“Hahaha... makanya nunggu halal dulu emang nggak bisa? Sabar, makanya,”olok Riki sambil menahan tawanya.
“Aduh, nggak kuat saya. Laura itu bahenol pisan, Cicil aja kal...”
“Edrosh, hina Cicil sekali lagi. Aku pecat kamu,” ucap Riki.
“Aduh, lain ngahina, ini tuh kenyataan Mang, body Neng Laura, beh. Depan belakang jadi,” ucap Edy sambil membayangkan bagian dada milik Laura yang sangat pas di tangannya.
“Nggak bakal aku tolon...”
“Tulung atuh, Mang. Dingin ini, bisa meriang ini. Tolong,” mohon Edy.
“Ya udah, tunggu aku kesana ama Cicil,” ucap Riki sambil menutup sambungan teleponnya.
Setelah menutup teleponnya, Edy langsung mengerutkan badannya, berusaha untuk menghangatkan diri dengan cara memeluk tubuhnya sendiri.
__ADS_1
“Nasib-nasib, mau transfusi darah putih malah huhujanan, gusti,” ucap Edy sambil mengusap wajahnya pelan.
Di lihatnya Papih Laura yang sedang memeriksa kamar mandi dan Laura yang berjuang untuk menjauhkan Papihnya dari beranda kamar. Sayup-sayup terdengar rengekkan Laura.
“Papih, kok bisa tau aku disini?” tanya Laura berusaha menutupi beranda dengan tubuhnya, walau Laura tau kalau itu semua percuma, badannya terlalu munggil untuk menutupi jendela beranda yang besar.
“Ya tau lah, kamu bukannya ke acara keluarga, malah kabur ke Bandung. Kamu tau acara kelurga itu buat ngenalin kamu sama anaknya Pak...”
“Laura udah punya pacar, Papih. Laura nggak mau di jodohin,” potong Laura cepat.
“Yah, mana pacarnya? Mana, kamu tuh kadang suka bohong. Alasan bilang kamu punya pacar, cuman buat nolak dikenalin sama anak-anak kolega Papih.” Sabar berkacak pinggang sambil mengedarkan pandangannya.
Laura menggerak-gerakkan kakinya berjuang untuk memasukkan celana dan t-shirt milik Edy ke kolong tempat tidur. “Papih, Papih inget pacar terakhir Laura, yang Laura kenalin sama Papih?”
“Oh, si Dave. Pacar kamu pas zaman kuliah?” tanya Sabar mengingat mantan pacar anaknya.
“Iya, itu pacar pertama dan terakhir yang bakal Laura kenalin ke Papih,” ucap Laura gemas sambil duduk di atas kasur dan terus berusaha memasukkan celana Edy kedalam kolong tempat tidur.
“Kenapa?”
“Kenapa kata Papih? Papih inget, Papih patahin tangan Dave, dia sampai harus di rawat di rumah sakit selama satu bulan penuh,” ucap Laura sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Papih kesal.
“Halah, cuman ditimpa doang. Kurang strong dia itu. Jadi, laki harus strong..!” ucap Sabar sambil mengangkat kedua tangannya menunjukkan otot-otot ditubuhnya.
“Ditimpa? Papih, liat badan Papih gede banget. Untung nggak mati Dave,” ucap Laura sambil mengusap dahinya kesal. “Makanya, semenjak itu. Laura nggak mau ajak pacar Laura ketemu Papih.”
“Ah, nggak asik, cowo sekarang cemen. Dulu, Papih itu ketemu Aki kamu itu, beh perjuangan,” ucap Sabar sambil menunjukkan berbagai macam gaya yang bisa menunjukkan otot-otot tubuhnya.
“Terserah, udah sana Papih pulang. Laura ngantuk mau tidur,” ucap Laura sambil mendorong badan Sabar.
“Eh, nggak bisa. Papih itu ngerasa kamu nyembunyiin laki-laki, kamu ke Bandung juga ngapain coba?”
“Nyembunyiin dimana? Kan Papih udah periksa semua sudut kamar. Masa Laura sembunyiin didalem kulkas?” ucap Laura sambil menunjuk kulkas kecil berwarna putih.
“Tapi, Papih itu nyium-nyium bau ikan lele,” ucap Sabar sambil mengendus-ngendus.
“Eh, Papih itu punya banyak mata-mata, udah ngaku dimana itu Lele dumbo?” tanya Sabar gemas, dia ingin melihat kesungguhan kekasih anaknya. Pantas atau nggak kekasihnya anaknya itu untuk menjadi calon mantunya. Kalau, kelakuannya kelemar kelemer mirip cucian yang direndam kelamaan. Auto di blacklis, oleh Sabar. Calon suami anaknya harus strong.
“Nggak ada,” ucap Laura sambil menyilangkan kedua tangannya.
“Bohong, kalau kamu kesini nggak sama si Lele dumbo, ngapain kamu ke Bandung?” selidik Sabar kesal.
“Nganterin Cicil, Cicil ngidam ke Bandung,” jawab Laura.
“Mana Cicilnya? Nggak ada,” ucap Sabar sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar.
“Iya, Cicil sama suaminya di kamarnya, masa dia tidur disini. Disini ‘kan aku sama Edy yang ti...”
“Nah kan, ngaku kamu Laura Subagja. Dimana itu pacar kamu yang menurut kabar angin yang beredar mukanya mirip ikan lele?” tanya Sabar sambil menunjuk Laura.
“Apa sih, nggak ada ah. Mana ada, Laura cuman ngomong ngaco aja,” jawab Laura.
“Ngaku..!?”
“Nggak ada Papih,” ucap Laura.
“Kalau kamu nggak ngaku Papih kuru...”
Tok...tok...tok...
“Laura, ini gue. Jadi nggak kita pergi beli pizza?”
“Siapa?” tanya Sabar bingung, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar.
“Cicil, Pih. Kan Laura udah bilang Laura ke sini itu nemenin Cicil yang ngidam, Papih nggak percaya sih,” ucap Laura sambil membuka pintu kamar.
__ADS_1
“Cil,” panggil Laura.
“Om Sabar di dalem?” tanya Cicil sambil berusaha untuk melihat kebagian dalam.
“Iya.”
“Terus Edy dimana?” tanya Riki.
“Lele di beranda, di luar. Astaga kasian dong Lele, mana ujan diluar. Gimana ini?” tanya Laura bingung.
“Ya, udah suruh masuk aja, atuh,” ucap Riki.
“Edy nggak pake baju, cuman pake boxer doang. Apa kata Papih nanti?” tanya Laura bingung.
“Cicil,” ucap Sabar tiba-tiba dari balik badan Laura.
“Om Sabar apa kabar?” ucap Cicil.
“Baek, kamu gimana? Kata Laura hamil yah?” tanya Sabar.
“Iya, hamil Om, kenalin ini suami saya Riki,” Cicil menunjuk pada Riki.
“Riki, Om,” ucap Riki sambil menjabat tangan Sabar. Riki berjuang untuk menelan salivanya. Bagaimana tidak, Om Sabar berbadan sangat-sangat kekar. Pantas saja Edy mengkerut, nyawa bisa melayang kalau tiba-tiba dia keluar dari balik beranda.
“Hai, masuk-masuk.”
“Nggak usah, kita makan dibawah aja, yuk Om,” ajak Cicil, berusaha untuk mengajak Sabar keluar dari kamar.
“Nggak, Om lagi diet. Sebulan lagi Om ada turnamen MMA,” ucap Sabar sambil masuk kembali kedalam kamar.
“MMA?” tanya Riki sambil menatap Laura.
“Iya, Papih juara MMA senior Indonesia,” jawab Laura.
“Juara berapa,” tanya Riki.
“Juara satu,” jawab Laura.
“Udah abis si Edy, bisa jadi penyek dia.” Riki menggaruk kepala bagian belakangnya.
“Aduh, gimana dong. Tolongin, kasian Lele,” ucap Laura panik.
“Ya udah, kita coba deh, yah. Berdoa aja moga Edy bisa ditolong dan diselamatkan tanpa cacat atau bahkan—“ Riki menatap kedalam kamar dan mendapati Sabar sedang push up di lantai. “kematian?”
Laura dan Cicil langsung meringgis saat mendengar perkataan Riki.
•••
Nah loh, gimana ini...
Bagaimanakah nasib Edy Edrosh?
Apa yang terjadi dengan Edy Edrosh?
Ya udah kita tunggu saja selanjutnya kisah absurd nan aneh ini 🤣🤣🤣.
Oh cuman mau kasih liat visual Sabar Subagja..
Mantep kan ototnya 🤣🤣.
Nanya aja nih, mau visual semua pemain Mr. and Mrs. Trina nggak?
Penasaran sama ki Brondong, Kharis, dan semuanya? Koment yah, kalau mau, bakal aku keluarin 😊😊
__ADS_1
Xoxo Gallon.