
“Neng,” ucap Riki pada Cicil sambil menepuk pelan paha Cicil.
“Eh.” Cicil langsung menengokkan wajahnya pada Riki, “anak siapa Aa, anak Ahyar tuh cuman dua.”
“Nggak diomongin sekarang juga,” bisik Riki sambil mengelus paha Cicil pelan.
Cicil langsung menatap Rozak, Nama dan Islah dengan perasaan bersalah. Terkadang bibirnya terlalu lancang, “Maaf, saya cuman....”
Cicil yang bingung akhirnya menatap Riki, memohon bantuan pada suaminya itu.
“Istri saya semenjak hamil suka ngawang-ngawang kalau ngomong, maaf yah. Dia kemaren rada nggak enak badan. Pinggangnya sering sakit nahan beban.” Riki melanjutkan perkataan Cicil. Membantu istrinya sudah menjadi hal biasa untuk Riki.
“Ah... iya,” jawab Islah sambil menatap Nama.
Nama terdiam, dipilinnya ujung baju yang dikenakan olehnya. Rasa bingung dan rendah diri langsung menerpa dirinya. Rasanya Nama ingin menangis, ternyata seberat ini menjadi anak yang tidak diharapkan orang tuanya sendiri. Mau nikah aja susah, Nama berdoa di dalam hati moga keluarga Rozak bukan kelurga yang mementingkan bibit, bebet dan bobot. Kalau keluarga Rozal sampai memikirkan itu semua, sudah habislah Nama.
“Nyun,” panggil Rozak.
Nama mengangkat wajahnya dan berusaha untuk tersenyum pada Rozak. Tangannya masih memilin ujung bajunya. “Iya, Kang.”
“Bu, saya pinjem Nama dulu, yah.”
Islah menatap Rozak kemudian Nama bergantian, seutas senyum langsung terbit di wajah Islah. “Iya, boleh. Kebelakang aja, biar Ibu ngobrol sama Riki dan Cicil.”
Mendengar perkataan Islah, Rozak langsung menarik lengan Nama dengan tangan kiriny. “Ayo, sini.”
Mereka berjalan ke arah taman belakang, disana Rozak langsung meminta Nama duduk di kursi. “Duduk sini, Nyun.”
“Yang punya rumah aku, kok kamu yang suruh duduk?” kekeh Nama sambil duduk disamping Rozak.
“Nanti juga jadi rumah aku,” jawab Rozak ngasal.
“Idih, kapan kamu beli rumah ini?” tanya Nama.
“Pas aku nikah sama kamu,” jawab Rozak sambil menatap manik mata Nama yang terhalang kacamatanya.
“Jadi, kamu nikah sama aku cuman buat dapet rumah ini?”
“Iya, aku ‘kan, lelaki pengeruk harta orang,” canda Rozak.
“Ih...”
“Hahaha, nggak papa ‘kan?” tanya Rozak sambi menggenggam tangan Nama.
Nama hanya tersenyum dan menatap Rozak bingung. “Aku cuman anak dari istri kedua, Kang.”
“Baguslah.”
__ADS_1
“Eh... kok bagus?” tanya Nama bingung.
“Cocok kita tuh, kamu ‘kan anak istri kedua. Aku cowo yang nikah karena harta. Udah cocok kita,” canda Rozak.
Nama menggaruk rambutnya yang tidak gatal saat mendengarkan perkataan Rozak. “Ada yang gitu?”
“Adalah namanya Rozak Trina dan Purnama Trina.”
“Ih sejak kapan nama belakang aku ganti?” tanya Nama.
“Sejak kamu nikah sama akulah.”
“Kan belum,” ucap Nama.
“Makanya ayo nikah ajalah, nggak usah mikirin Ayah kamu.”
“Tapi, keluarga kamu emang mau nerima aku?”
Rozak langsung mengacak rambut Nama pelan, “Keluarga aku bakal nerima kamu, Abah bukan orang yang mengotak-ngotakkan status sosial orang. Syarat Abah itu cuman seiman dan sayang sama anak-anaknya.” Rozak berusaha menenangkan Nama.
“Kamu yakin? Tadi Cicil bilang gitu loh, aku nggak enak hati.” Nama menunjuk Cicil yang sedang asik memakan kejunya di ruang tamu.
“Cicil itu emang gitu, bibirnya kadang lancang. Kalau kamu mau tau, dulu Cicil itu musuh Taca sama Iis.”
“Eh... musuhnya?”
“Abah tau?” tanya Nama penasaran.
“Tau, Abah tau semuanya. Abah itu tau kehidupan anak-anaknya, ntah bagaimana caranya, mata ama kupingnya ada di mana-mana,” kekeh Rozak.
“Tapi, kenapa Abah ijinin Cicil nikah sama Riki?” tanya Nama bingung.
Rozak menarik-narik bibir bagian bawah Nama pelan. “Karena, Abah tau Cicil bakal ngurus Riki dengan baik dan Riki juga sayang sama Cicil. Abah nggak pernah mikir yang aneh-aneh, nggak ada dipikiran dia bibit, bebet dan bobot. Percaya sama Akang, Nyun.”
Nama mengerjapkan matanya sambil menatap Cicil kembali yang masih asik memakan keju dan mengobrol dengan Ibunya. “Akang yakin?”
“Yakin, Nyun.”
Nama memang tidak bisa memungkiri setiap melihat Cicil dan Riki, seperti pasangan sempurna tanpa celah. Walau, Nama tau kisah percintaan mereka yang berat. Dimana Cicil diperkosa oleh mantan pacarnya sendiri, Riki yang ditolak oleh keluarga Cicil, dan kebingungan akan siapa ayah biologis di dalam kandungan Cicil. Tapi, mereka menjalaninya dengan senyuman. Tanpa, mengeluh.
“Emang kita bisa kaya mereka, Kang?” tanya Nama sambil terus menatap Riki dan Cicil yang sedang tertawa lepas.
Rozak menatap Riki dan Cicil, “Jujur, kalau Akang sesabar Aa Riki nggak akan bisa, Nyun.”
“Kenapa?”
“Bisa gila aku kalau mikir istri sendiri di perkosa orang lain. Seumur hidup nyalahin diri sendiri, ditambah tiba-tiba istri hamil. Wah, udah Akang kayanya udah masuk RSJ.” Rozak menatap Riki yang sedang asik berbincang dengan Islah dan sesekali menepuk paha Cicil.
__ADS_1
“Kenapa Aa Riki nggak?”
“Dia yang paling sabar diantara semua anak Abah. Dia....” Rozak terdiam sambil menatap Nama.
“Kenapa?”
“Dia paling banyak ngerasa kesedihan diantara aku sama Taca. Dia yang paling inget saat Ambu meninggal saat ngelahirin Taca dan Tasya. Dia yang paling kena beban buat ngurus adik-adiknya. Dia yang paling sadar bagaimana membutuhkannya seorang perempuan didampingi setelah mengalami pelecehan seksual.”
“Hah?”
“Tasya, kakak kembar Taca. Adik kami yang ke tiga meninggal, karena diperkosa pacarnya dan hamil. Dia nggak sanggup nanggung semuanya dan kami waktu itu benar-benar nggak sadar kalau Tasya benar-benar butuh ditemani. Kami benar-benar berkubang dengan kegiatan kami sendiri-sendiri, kami melupakan Tasya sejenak dan....”
“Apa?” tanya Nama yang penasaran dengan cerita keluarga calon suaminya ini.
“Tasya bunuh diri, dia nggak sanggup menghadapi semuanya sendirian dan yang paling kena imbasnya itu Aa Riki dan Taca.”
“Kamu?”
“Aku, juga kena imbasnya. Tapi, ntahlah aku ngerasa yang paling kena imbasnya Taca dan Aa Riki. Taca sampai jejeritan kalau ada lawan jenis yang megang dia. Sedang, Riki dia menyalahkan dirinya terus menerus karena nggak bisa ada didekat Tasya.”
“Makanya, saat tau Cicil diperkosa mantan pacarnya. Riki menolak melepas Cicil dan tetep disebelah Cicil walau sakitnya bukan main?” tanya Nama sambil menatap Rozak.
“Iya, Riki nggak mau Cicil hilang akal sampai mencelakakan dirinya sendiri. Riki bertahan sampai dia sendiri mempertanyakan kewarasannya, berkali-kali dia bilang nggak sanggup ke aku, Nyun.” Rozak mengenang betapa sengsaranya Riki dulu.
Nama terdiam dan menatap pasangan dihadapannya. Banyak yang bilang Riki adalah pria yang terlalu sempurna, nggak mungkin ada dikenyataan. Tapi, mendengar cerita Rozak, Nama tau ternyata semuanya ada penyebabnya. Cicil beruntung mendapatkan Riki. Apakah dia juga bisa seberuntunh Cicil?
Pandangan mata Nama menatap Rozak, lelaki dihadapannya ini sangat-sangat santai menjalani hidupnya. Tampak tidak ada beban sama sekali. Tapi, kekeraskepalaannya jangan ditanya, Nama berkali-kali menolak untuk menikah. Sampai akhirnya dia sendiri yang meminta untuk menikah dengan Rozak.
“Kalau kamu?”
“Aku?” tanya Rozak bingung.
“Kamu mau nerima aku?” tanya Nama, sambil menatap mata Rozak. Mungkin ini saatnya dia menceritakan masa lalunya.
“Nyun, aku nggak peduli kamu anak dari istri kedua. Yang salah orang tua kamu, bukan kamu.” Rozak berusaha menenangkan Nama. “Kamu nggak salah, kamu nggak bisa milih mau dilahirkan siapa, kan?”
“Iya, Kang. Aku tau,” jawab Nama sambil menatap Rozak.
“Aku nerima kamu,” ucap Rozak.
Nama menatap Rozak lama, “Boleh nggak kamu kasih jawabannya setelah kamu tau cerita aku yang lainnya?”
“Nama apa lagi?” tanya Rozak.
“Aku....”
•••
__ADS_1
Xoxo Gallon.