Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Perizinan ...


__ADS_3

“Iis, Aa Riki masuk penjara, lagi,” ucap Taca sambil menghela napasnya berat.


“Hah? Kok bisa? Aa Riki hobi amat masuk penjara?” tanya Iis kaget.


Taca pun mulai menjelaskan semuanya lewat sambungan telepon pada sahabat sehidup sematinya itu. “Gitu ceritanya.”


“Astaga, kasian Cicil dia bisa stress kalau gitu. Aku takut Cicil histeris, gimana kalau ada apa-apa coba?” Iis langsung memindahkan handphonenya dari kuping kanan ke kiri.


“Makanya itu, aku mau temenin Cicil. Aku mau nginep di sana,” ucap Taca.


“Lah Kama, Kalila dan Kafta gimana?” tanya Iis.


“Aku titip, Adipati aja. Udah ada mbak juga, Kafta tinggal Adipati urus. Adipati itu bisa kok urus tiga anak,” ucap Taca yakin kalau suaminya itu bisa mengurus ketiga anaknya.


“Yakin?” tanya Iis.


“Yakin, Kama sama Kalila udah gede. Udah toilet trainning juga. Kafta udah bisa ditinggal lah,” jawab Taca.


“Ya udah aku ikut, aku juga mau temenin Cicil. Kasian tau, Ta.”


“Lah, emang bisa bayi kamu ditinggalin?” tanya Taca bingung.


“Liz udah gede ampir sama umurnya ama Kafta kali, Khalid bisa dijaga Juan,” ucap Iis.


“Bukan, bayi yang kecil,” ucap Taca.


“Bayi yang mana lagi?” tanya Iis bingung, seingatnya anaknya hanya dua. Bernard? Astaga dia sudah gede udah mau kuliah. Ya kali di sebut bayi lagi.


“Bayi gede kamu, astaga yang hobinya ngambekkan kalau kamu rambutnya diiket,” terang Taca.


“Ah, Mas Juan?” tanya Iis.


“Iya Masmu itu, lupa?” tanya Taca yang tiba-tiba berkata dengan logat Jawa.


“Hilih, sejak kapan kamu jadi orang Jawa,” kekeh Iis.


“Sejak dulu. Beneran emang bisa, kamu ijin ke bayi gede kamu? Itu bayi nggak tidur sama kamu sehari aja bibirnya nyerocos.”


“Hahaha, lah emang bayi kamu nggak gitu juga? Bayi kamu lebih parah.” Iis mencoba mengingatkan Taca.


“Iya sih parah emang.” Taca berkata.


“Jadi gimana?”


“Hm ... tapi, aku kasian ama Cicil. Dahlah, aku mau minta ijin. Paling, sehari doang ‘kan?” tanya Taca.


“Oke, aku juga bakal minta ijin.”


“Oke, Bye Iis,” ucap Taca.


“Bye.”


Setelah menutup teleponnya Taca berjalan ke kamarnya. Adipati sedang asik mengutak atik dasi miliknya, Taca dengan cepat naik ke atas kasur. “Sini aku tolongin.”


“Amore, dari mana kamu. Ini dasi susah banget dipakenya,” rengek Adipati sambil berjalan kearah Taca.


“Makanya sini aku pasangin, Di.” Taca langsung mengelus pipi Adipati dan mengecup pipinya sebelum membenarkan dasi milik Adipati.


“Aku tuh nggak bisa pasang dasi, susah.”

__ADS_1


“Sebelum ketemu aku, yang masang dasi kamu siapa, Di? Hantu?” tanya Taca sambil menyimpulkan dasi milik Adipati.


Tangan Adipati langsung meremas bagian belakang pinggul Taca gemas.


“Aw sakit,” pekik Taca sambil tersenyum, “tapi enak.”


“Nah kan, istri aku genit,” ucap Adipati sambil mengangkat badan Taca, spontan Taca membelitkan kakinya di pinggang Adipati.


“Biarin geditnya ke kamu, kecuali aku genitnya ke orang lain ....”


“Percaya kamu bisa genit ke orang lain, Amore. Dipegang orang lain aja histeris.” Adipati menggesekkan hidungnya di hidung Taca.


“Hahaha, iya ah susah emang aku tuh. Nggak bisa pindah kelain hati, suami aku terlalu ganteng.”


“Si Amore. Makanya nggak usahlah kamu cari yang lain,” ucap Adipati.


“Cari siapa? Kamu aja udah cukup, cuman kamu yang demen banget bikin aku ngelayang-layang,” goda Taca sambil memeluk Adipati,


“Astaga, aku bisa telat kantor kalo gini,” ucap Adipati.


“Yah, nggak papa kantor juga punya kamu, telat lima belas menit juga nggak bakal ada yang marah,” ucap Taca sambil mengecupi bagian leher Adipati, memberikan efek meremang.


“Bisa lebih, Amore.”


“Good, emang aku suka kalau kamu lam —“


Detik itu juga Adipati mendorong tubuh Taca ke dinding, mengelus paha Taca dengan pelan. Bibirnya dengan cepat mengecupi setiap jengkal di leher Taca.


“Di,” desah Taca sambil menancapkan buku-buku jarinya di bahu Adipati dan mengeratkan belitan kakinya.


Suasana makin panas, tangan Adipati menelusup ke balik baju Taca, mencari sesuatu yang sangat Adipati suka untuk diremas. Setelah mendapatknya diusapnya bagian pucuknha dengan menggunakan ibu jarinya, bersamaan dengan itu semua Adipati mendengar desahan Taca yang meminta lebih.


“Di, cium aku,” pinta Taca, tanpa disuruh dua kali Adipati mengaitkan bibirnya dengan bibir Taca, mengecup manis bibir istrinya dengan cepat.


Klik ...


“Dada, Mih ... Kama rusakkin barbie aku lagi.”


“Astaga.” Adipati langsung menurunkan Taca dari pangkuannya dan dengan cepat berbalik melihat Kalila yang berkaca-kaca.


“Kenapa sayang?” tanya Adipati sambil memberekan kemejanya dan mengaitkan kembali sabuknya dengan baik.


“Kama, Kama rusakin barbie aku, Dada,” rengek Kalila sambil menunjuk pintu keluar.


Adipati langsung menggendong Kalila, “Apa yang dirusak, Nak?”


“Barbie aku,” rengek Kalila.


“Udah coba kamu cari Kamanya, bilang kata Dada nggak boleh rusak mainan, ayo sana.” Adipati mengecup pipi gembil anak perempuan satu-satunya itu sambil menurunkannya dari pangkuannya.


“Nah sana coba bilang, nanti kalau Kama masih gitu juga. Nanti Dada yang kasih tau, udah sana.” Adipati mendorong pelan anak perempuannya itu, memberinya semangat untuk mempertahankan haknya dari adiknya yang nakal.


Kalila pun pergi keluar dari kamar orang tuanya meninggalkan Taca dan Adipati sambil berteriak memanggil adiknya, “Kama.”


“Astaga mulai sekarang aku kunci kamar deh, sering banget kaya gini,” ucap Taca sambil mengecup pipi Adipati sambil meloncat.


“Jatuh, Amore,” ucap Adipati sambil mengelus pipi Taca. “Nanti malam dilanjut yah, aku bikin kamu nggak bisa berdiri dari kasur.”


“Can wait (nggak sabar) eh ... tapi, aku mau ijin hari ini,” ucap Taca.

__ADS_1


“Mau kemana?” tanya Adipati.


“Aku malem mau nginep di tempat Cicil, kan kamu tau Aa Riki di penjara, aku kasian liat Cicil sendirian. Dia kan ada gangguan sama kesehatan mentalnya, aku takut dia kelepasan kalau nggak ada yang liatin. Aku nggak mau tiba-tiba ada berita bunuh diri, yang ada Aa Riki yang stress kalau istrinya bunuh diri,” terang Taca.


Adipati menghela napasnya saat mendengar lerkataan Taca, sebenarnya Adipati sudah tau betapa terganggunya mental Cicil. “Berapa lama?”


“Nggak tau, tapi aku mau kesana malem ini. Jadi, aku dari rumah jam sembilanan nunggu anak-anak tidur. Baru aku kesana, pagi-pagi jam delapan aku pulang lagi,” terang Taca.


Adipati melihat Taca, “Nggak ada yang bisa diminta tolong lagi?” tanya Adipati.


“Siapa? Rozak? Mau ditonjok Aa Riki kalau ketauan tidur di kamar yang sama? Nggak ada, katanya keluarga Cicil lagi diluar negeri. Mamihnya baru bisa dateng dua hari lagi, karena ada urusan sama apa gitu,” ucap Taca.


Adipati mengelus pipi Taca pelan, “Ya udah, aku urus anak-anak.”


“Nggak papa?” tanya Taca.


“Nggak Papa, besok juga hari sabtu. Asal ....”


“Apa?”


“Asal kamu jangan tiba-tiba nyari suami baru aja sama Cicil,” ucap Adipati yang kadang was-was bila mengijinkan Taca bergaul dengan Cicil.


“Hahaha, males ah ... yang ini aja udah lebih dari cukup, Om-Om meresahkan hehehe.”


“Amore,” panggil Adipati.


“Iya,” jawab Taca.


“Aku nggak ngantor hari ini,” ucap Adipati sambil melepaskan dasinya dari kemejanya dan membuka kemejanya dengan sekali tarikan.


Taca tersenyum mengerti maksud dan tujuan suaminya itu. “Bentar.”


Taca langsung berlari kearah pintu kamar dan berteriak, “Mbak ....”


“Iya, Bu,” jawab pembantunya.


“Jagain Kama, Kalila dan Kafta yah, saya mau ada yang harus diurus dulu sama bapak. Kalau ada tamu juga usir aja, oke,” ucap Taca sambil mengeluarkan jarinya membentuk tanda Ok pada pembantunya.


“Siap, Bu,” ucap Pembantunya sambil tersenyum.


Taca langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya. Saat berbalik, mata Taca membulat dan dirinya berjuang menelan salivanya saat melihat tubuh Adipati yang hanya mengenakan celana boxernya saja. Napas Taca langsung tercekat, sepertinya hari ini Taca akan dimakan habis oleh Adipati.


“Di.


“Si Amore?” tanya Adipati sambil mendekati Taca yang tersudut di dekat pintu. Dengan cepat diangkatnya dagu Taca.


“Please ....”


“With my pleasure,” ucap Adipati sambil menautkan bibirnya ke bibir Taca dan bersiap memberikan kenikmatan tanpa ampun pada istri mungilnya.


•••


Ada yang kangen Adipati Taca?


Yang kangen Juan Iis? Sabar hihihihii


Btw buat member GC Gallon, mohon maaf banget. Kalian nggak ada salah kok, cuman emang aku keluarin semuanya dari GC, Maaf yah. Kalian nggak ada salah, ini keputusan aku kok buat tutup GC sementara. Nanti, kalau udah buka aku woro-woro lagi, biar pada bisa masuk. Jangankan kalian aku juga dimurkai adminnya yang aku kick 🤣🤣, tetep dukung aku yah. Kalau mau ngobrol sapa aja di DM Ig atau Dm FB.


Maaf yah ❤️.

__ADS_1


Eh ... hari senin nih, jangan lupa votenya dikasih buat Mr and Mrs Trina, bunga dan kopinya juga boleh. ❤️


XOXO GALLON


__ADS_2