
“Kunaon Mang?” tanya Rozak saat melihat Edy yang tampak galau sumalau selama seminggu ini.
“Stress lah,” jawab Edy sambil menepuk-nepuk jidatnya.
“Stress kunaon (kenapa)?”
“Erek kawin teu boga duit, kahayang Laura araraneh wae deui, (Mau nikah nggak punya uang, keinginan Laura aneh lagi)”
“Aneh?”
“Yah aneh, masa mau nikah di Disneyland Jepang.”
“Aduh Euceu Disney,” kekeh Rozak sambil menahan tawanya melihat kegundah gulanaan Edy.
“Duit mana duit, puja duit puja duit,” ucap Edy sambil mengacung-ngacungkan tangannya ke udara berharap ada duit yang jatuh dari langit.
Rozak hampir tersedak saat melihat Edy yang melakukan sesembahan memuja duit. “Woi ... musrik, pake ada acara muja duit segala.”
“Sedih aku tuh, Laura mau nikah di Disneyland sedangkan uang aku hanya bisa untuk nikah di KUA-land.” Edy berkata sambil menggaruk kepalanya.
“Sabar ... mau nikah emang banyak cobaannya,” kekeh Rozak mengingat betapa ribetnya mengurus pernikahan.
Edy menatap buku-buku jarinya yang di ketuk-ketukkan ke meja. Berpikir keras apa yang harus dirinya lakukan, bingung bukan kepalanya. Saat sedanh asik meratapi nasibnya Edy merasakan getaran di pahanya.
“Om Sabar,” guman Edy sebelum mengangkat teleponnya. “Halo.”
“Edy, mantu kesayangan.”
Edy langsung tersenyum mendengar perkataan Om Sabar. Entah kenapa Edy merasa senang ada yang memanggilnya mantu kesayangan, seumur hidup tidak merasakan kasih sayang seorang Ayah membuat Edy otomatis menghormati Sabar selayaknya Ayahnya sendiri.
“Om—“
“Papih, panggil Papih demen banget manggil Papih Om,” koreksi Sabar.
“Eh ... iya maaf Papih, gimana ... gimana?” tanya Edy.
“Kamu udah denger keinginan Laura?” tanya Sabar.
Lidah Edy langsung kelu saat mendengar pertanyaan Sabar, “Udah, Pih.”
“Terus?”
“Edy bingung Pih, kalau buat nikah di sana. Edy bukan sultan Pih. Masa nikah di Disneyland Jepang. Nikah di Jakarta aja Pih, Ed—“
“Hahaha ... itu emang keinginan Laura dari orok nikah di kastil. Dulu waktu umur lima tahun, Laura cita-citanya nikah sama pangeran berkuda putih.” Terdengat tawa Sabar di ujung telepon.
“Pangeran kuda putih?” tanya Edy dengan suara agak keras membuat Rozak yang ada di sana mendengarnya.
“Kuda lumping maneh mah,” celetuk Rozak sambil menatap Edy, Edy langsung melempar tissue ke arah Rozak geram.
“Iya, kuda putih. Dia lagi ngerajuk aja, udah biarin. Besok kamu kesini yah, kita obrolin lagi mau nikah di mana?” ucap Sabar.
“Kalau Laura mau nikah di Disneyland aku bingung, Pih,” ungkap Edy jujur, Edy sudah jiper duluan mengkalkulasikan biaya yang harus Edy keluarkan untuk menikah di Disneyland, hoi ... dirinya bukan Harvey moeis.
“Hahaha ... nggak usah dipikirin, besok ke sini yah, mantu kesayanga,” ucap Sabar.
“Oke Pih besok Edy kesana,” jawab Edy.
__ADS_1
Setelah menutup teleponnya, Edy menatap Rozak dengan mata berbinar. “Zak, bantuin.”
“Bantuin apaan? Aku juga mau nikah Edy, lupa kamu teh?” ucap Rozak mencoba mengingatkan Edy kalau dirinya juga mau menikah dengan Nama.
“Eh ... kapan?” tanya Edy kaget karena tiba-tiba Rozak akan menikah dengan Nama.
“Bulan depan di sini,” jawab Rozak.
“Lah ... nggak bilang-bilang.”
“Lo ribut mau nikah ala Liverpool,” kekeh Rozak.
“Hehehe maaf-maaf,” ucap Edy, “Zak, bantuannya.”
“Bantuin apaan?” tanya Rozak curiga dengan permintaan Edy yang dapat dipastikan absurd.
“Jadi ....” Edy mengatakan rencananya pada Rozak, Rozak yang awalnya mendengarkan dengan seksama langsung menarik badannya menjauh dari Edy.
“Nggak mau, dahlah emang nggak ada yang bener hidup kamu mah,” ucap Rozak sambil berjalan meninggalkan Edy.
“Mang, woi Mang. Sakali ieu, please.”
“Nggak?!”
••••
Laura mengerjapkan matanya, pagi ini dia masih kesal dengan Edy. Bagaimana tidak setelah mengatakan dirinya ingin menikah di Disneyland, Edy langsung lesu dan tidak menjawab pertanyaannya dengan baik.
“Argh ... kesel, dasar Lele Dumbo nyebelin. Kenapa aku bisa suka sama Lele dumbo sih,” maki Laura sambil membenamkan wajahnya ke bantal miliknya.
“Nyebelin, suka nggak jelas terus aneh pula. Kenapa aku bisa suka tuhan!?” maki Laura sambil melemparkan bantalnya ke arah pintu kamar miliknya.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Wina sesaat dia membuka pintu kamar anaknya untuk membangunkan Laura dari tidurnya. Anaknya ini sangat susah untuk bangun pagi.
“Kesel Mih, aku kesel kenapa aku bisa suka sama Lele Dumbo sialan itu.” isak Laura sambil menghentak-hentakkan tangannya ke kasur tak berdosa miliknya.
Wina tersenyum melihat kegundah gulanaan anak gadisnya itu, “Yah ... nggak tau, coba diingat-inget lagi kenapa kamu suka sama itu Lele?”
Laura berusaha untuk mengingat kenapa dia bisa suka dengan Edy, semua kenangan Laura kumpulkan untuk mengenang apa yang membuat dirinya bisa jatuh cinta dengan Edy.
“Nggak ada.”
“Lah ... terus gimana? Kok bisa suka? Kamu dipelet jangan-jangan,” tebak Wina.
“Kayanya, eh ... iya ini pasti aku dipelet, nggak mungkin aku suka sama Lele Dumbo. Udah miskin, jelek, mukanya kaka Lele, nyebelin, tukang ngerajuk, dan yang terpenting dia nggak mampu buat ngajak aku nikah di Disneyland Jepanh kaya Sandra Dewi,” ucap Laura sambil menepuk kedua tangannya di dada.
“Nah, udah kalau gitu putusin cari yang lain. Palingan kamu nunggu sepuluh tahun lagi buat nikah,” ucap Wina santai.
“Eh ... lama amat, Mih.” Laura kaget dengan perkataan Wina.
“Nyari yang kaya Edy, yang mau digebukkin sama Papih kamu itu susah tau. Nggak liat itu dia badan dari segede cacing kremi sekarang udah rada gedean dikit berkat dilatih dan digebukkin ama Papih?” ucap Wina mengingatkan perjuangan Edy untuk mendapatkan persetujuan Sabar.
Laura terdiam mendengar penjelasan Wina, benar juga cuman cowo yang benar-benar cinta sama dia yang bakal mau disiksa sebegitunya oleh Sabar hanya untuk mendapatkan restu Sabar yang terkenal galaknya bukan main.
“Ah ... tau, pusing aku. Pokoknya aku benci ama Lele dumbo!?” maki Laura geram bukan main.
“Ya udah kalau benci Mamih ba—“
__ADS_1
“Sayangku kasihku, Akang Edy Edrosh yang hobinya diEndorsh datang.”
Ucapan Wina terpotong dengan suara teriakkan ditambah suara lagu dari luar jendela kamar Laura. Spontan Laura dan Wina saling bertatapan bingung siapa yang membuat keributan diluar kamarnya.
“Lele?” tanya Laura seraya berdiri dan membuka jendela kamarnya lebar-lebar.
“Lauraku sayang, Akang Edy datang,” teriak Edy sambil mengayunkan tangannya melambaikan ke arah Laura yang sedang menatapnya dari jendela kamarnya.
Laura tersenyum dan menahan tawanya melihat Edy yang mendekati dirinya. Edy tampak gagah menggunakan kostum pangeran berwarna hitam dan menaikki kuda berwarna putih.
(Gambar hanya ilustrasi 🤣🤣🤣)
“Astaga Tuhan, itu Lele?” tanya Wina kaget saat melihat kearah luar jendela dan mendapati calon mantunya sedang mendekati mereka dengan naik kuda. Otak mantunya seperti rusak. “Nggak salah?”
“Nggak, Mih. Lele emang penuh kejutan dan selalu bikin aku ketawa. Itu yang aku suka,” ucap Laura spontan.
“Nah, jadi mungkin ini yang bikin kamu jatuh cinta ama Lele dumbo,” ucap Wina sambil mencolek Laura.
“Iya, aku cinta Lele yang ini. Lele yang spontan, penuh kejutan dan nyebelin. Iya ... Mih, Laura cinta Lele tanpa syarat,” jawab Laura sambil tersenyum ceria menatap Edy.
“Ya udah, Mamih cari Papih dulu, kamu urus lah pangeran berkuda putih kamu tuh,” kekeh Wina sambil menepuk bahu Laura dan berlalu dari sana. Meninggalkan dua sejoli yang entah mengapa memiliki kisah cinta yang extra absurd.
“Lele,” teriak Laura dengan wajah berseri-seri, jantungnya berdegup kencang saat melihat Edy.
“Neng Lauraku sayang, yuk ikut ama akang naek kuda,” ucap Edy saat berada di depan jendela kamar Laura.
“Mau kemana?” tanya Laura sambil tersipu-sipu.
“Mau ngajak kamu nikah. Tapi ....”
“Apa?” tanya Laura penasaran sambil mengambil bunga mawar asli dari Edy. “Ah ... bunganya asli.”
“Iya seasli cintaku padamu, sayangku,” gombal Edy sambil mengedipkan matanya.
“Hahaha ... gombal, ya udah kamu mau ngajak aku nikah. Tapi, apa?” tanya Laura penasaran.
“Tapi, maaf aku nggak bisa ngajak kamu nikah di Disneyland. Nikah di Jakarta aja nggak papa?” tanya Edy sambil memberikan senyuman terbaiknya.
“Kenapa?” goda Laura, walaupun sebenernya detik ini dia sudah tidak perduli mau nikah di mana pun asal bersama Edy.
Edy menunjukkan gigi-gigi putinya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya sebelum menjawab pertanyaan Laura. “Uang Edy cukupnya di KUA-Land, Laura.”
“Hahaha ....” Detik itu juga Laura tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasan Edy yang polos. “Ya udah nggak papa, aku mau nikah di mana pun juga asal sama kamu.”
“Beneran?” tanya Edy.
“Iya beneran, tunggu yah. Aku kesana, aku bakal naik kuda bareng kamu. Tunggu,” ucap Laura sambil berlari keluar kamarnya untuk menyambut pujaan hatinya. Pujaan hatinya yang tidak ganteng, tidak kaya bahkan cenderung absurd. Tapi, mampu membuat dirinya nyaman dan tertawa setiap saat. Tak lain dan tak bukan Edy Edrosh yang hobinya di Endorsh.
•••
Ganteng yah Edy naik kuda 🤣🤣🤣🤣.
Dahlah kawin udah kawin, mantep asik udah ... nikah semuanya nikah 🤣🤣🤣.
XOXO GALLON
__ADS_1