Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
EMBIAKKKKKK


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


Tisa dan Rully sudah sampai di restoran Water Teapot. Mereka dengan cepat masuk kedalam restoran dan disambul oleh Manda yang saat itu diminta untuk menjadi kasir daripada memporak porandakan dapur restoran.


“Selamat pagi, Pak, Bu. Meja untuk dua orang?” tanya Manda.


“Ah... bukan, saya kesini mau cari Bu Cicil,” ujar Tisa cepat, Tisa malas berbasa basi, ina inu itu, dia butuh bertemu Cicil dan memaksanya menandatangani semua berkas yang ada.


“Cicil?!” tanya Manda berpura-pura bodoh, semenjak insiden Cicil di culik Albert, Riki benar-benar mewanti-wanti semua karyawan di restonya jangan pernah bilang kalau ada Cicil disana.


“Iya Ibu Cicil, yang pacarnya Pak Riki,” ujar Rully tiba-tiba.


“Aduh maaf, Pak,Bu. Nggak ada yang namanya Cicil disini,” dusta Manda pada Rully dan Tisa.


“Aduh, jangan bohong deh Mbak, demi masa depan cicilan kartu kredit saya ....”


“Juga cicilan rumah, mobil, sama arisan emak saya yang udah nunggak dua bulan, saya mohon dengan sangat. Jujurlah, Mbak...” Rully memotong perkataan Tisa dengan curhatan kehidupan perekonomiannya yang sangat mengkhawatirkan sekali.


Manda yang mendengar curhatan Rully hanya bisa menatap lelaki berbadan tegap tersebut, “Maaf, Pak. Saya prihatin sama hutang Bapak, tapi saya nggak tau dimana Cicil.” Manda bersikukuh karena Manda pun detik ini mempertaruhkan pekerjaannya.


“Haduh, gimana ini Tis, aku udah nggak sanggup lagi dah, mending jadi pengangguran ajalah. Aku lelah,” ujar Rully pasrah sambil duduk di sofa terdekat.


Tisa langsung mendekati Rully kemudian mengguncang-guncangkan badan Rully, “Rully Sutomo...!! Ingat hutang-hutangmu, ingat biaya melahirkan itu berat...!! Cuman kamu yang bisa tanggung, istri kamu nggak,” ujar Tisa tegas sambil mengedipkan salah satu matanya. Tisa berharap Rully mengikuti permaiannya, diotaknya saat ini adalah lakukan apapun sampai menemukan Cicil. APAPUN.


“Astaga... Mama, maafkan Papa, Mama... Papa nggak bisa kasih kamu perawatan bersalin yang layak, Papah bakal bikin kamu sengsara. Bayi kita .... bayi kita nanti gimana? Oh maafkan suamimu ini,” isak Rully sambil mengacung-ngacungkan kedua tangannya keudara seperti orang minta dikasihani. Rully pun mengikuti permainan Tisa.


“EMBIAAAAAKKKKKK....” teriak Tisa sambil menatap Manda yang kaget melihat tingkah Rully.


“Iya...” spontan Manda menjawab.


“Embiakk... nggak kasian sama dia, kalau dia tidak menemukan Bu Cicil, dia bisa dipecat, hidupnya terlunta-lunta, EMBIAAAKKKK....!!!” teriak Tisa diakhir kalimat sambil mengeluarkan air mata buaya buntung.


“Tap....”


“MAAFKAN PAPAH, NAK.... KITA HARUS TINGGAL DI KOLONG JEMBATAN...!!” teriak Rully tiba-tiba sambil berguling-guling dilantai. Untungnya pengunjung toko sedang sedikit, jadi kelakuan Rully dan Tisa sama sekali tidak menarik perhatian orang.


“EMBIAKKK.... tidak adakah sedikit hati nurani di hati EMBIAKKK...!!” Entah kesambet apa tiba-tiba Tisa bersajak sambil mengacung-ngacungkan tangannya keudara.


“It....”


“Sedikit saja Mbak, kasian teman saya, kemanakah jiwa-jiwa yang memberikan kasihnya disaat jiwa lainnya membutuhkannya, OH TUHAAAAANNNNN kenapa kau kutuk jiwa wanita didepanku dengan hati nurani yang seperti batu...!!” Sudahlah kagok edan, Tisa sudah tidak peduli dia dianggap gila, yang penting detik ini dia harus bertemu Cicil.


“Tuhan, ketuklah hati wanita didepan kami. Buatlah dia tahu, bahwa bantuannya sungguh sangat berarti bagi kami, tuhan...!” ujar Rully sambil menggenggam kedua tangan Tisa dan menyatukan kedua tangan mereka sambil menatap Manda dengan pandangan paling nyeleneh yang pernah Manda lihat, pandangan onta minta kawin, lebih tepatnya.


“Ah...” Manda hanya bisa menatap Rully dan Tisa dengan tatapan ‘WAH-KUMAT’ dan berusaha untuk menelan salivanya.


“Jadi, dimana bu Cicil?” tanya Tisa sambil mengedipkan kedua matanya.


“Atas... kantor pak Riki,” ujar Manda sambil menunjuk tangga yang mengarah langsung ke kantor Riki.

__ADS_1


Tisa dan Rully pun langsung melepaskan genggaman tangannya, kemudian membenarkan bajunya kembali sambil berdehem. “Terima kasih, mari,” ujar Tisa.


“Terima kasih,” ujar Rully sambil tersenyum kecil dan berlari mengejar Tisa yang sudah berjalan didepannya.


“Wong edyan,” ujar Manda sambil menepuk dahinya dengan telapak tangan kanannya.


•••


Tok... tok... tok...


Cicil yang sedang asik chat dengan Tutti Frutty mengenai kursus pelangsingan yang akan dilakukannya dengan teman-teman Tutti, kaget mendengar suara ketukan di pintu kantor Riki.


“Iya, sebentar,” ujar Cicil sambil menyimpan handphonennya di sofa kemudia berjalan kearah pintu.


Klik....


“Iya kenapa....”


“BU CICIL....!?” teriak Tisa dan Rully berbarengan sambil merengsak masuk kedalam kantor Riki dengan brutal.


Cicil yang kaget langsung mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang agar Tisa dan Rully bisa masuk kedalam ruangan.


“Tisa, Rully?!” ujar Cicil kaget.


“Bu Cicil, Bu Cicil kemana aja? Bu, Cicil nggak ke kantor?” ujar Tisa sambil memeluk Cicil yang kaget didatangi oleh sekertarisnya dan juga sekertaris Papih.


“Tisa, Rully tau dari mana kalian kalau saya ada disini?” tanya Cicil kaget, dengan cepat dia memunculkan kepalanya keluar pintu dan melihat keluar mencari-cari takutnya ada Albert disana.


“Pokoknya kami tau, Bu. Bu saya mohon pekerjaan Ibu dikerjakan dulu,” ujar Tisa sambil menyerahkan satu koper penuh berkas-berkas yang banyaknya luar binasa..!


“Iya, Bu. Ibu mangkir hampir seminggu yah berkasnya sebanyak ini,” ujar Tisa sambil menyusun berkas-berkas itu di meja terdekat.


“Oke, kalau kamu kesini saya bisa ngerti, terus ngapain kamu disini Rully?” tanya Cicil sambil menunjuk Rully.


“Saya?” tanya Rully sambil menunjuk hidungnya.


“Iya kamu, emang disini siapa lagi yang namamya Rully? Kamu sangka kucing saya namanya Rully?” ujar Cicil sambil menunjuk geulis yang sedanh berjalan-jalan di dapur dengan angunnya.


“Saya, disuruh Pak Jeff buat bawa ibu pulang ke rumah,” ujar Rully.


“Pergi kamu, saya panggil satpam yah,” ujar Cicil sambil mengambil handphonennya bermaksud menelepon Riki untuk membawa satpam ke kantor.


“Aduh, Bu. Tolong lah Bu, pulanglah, Bu. Saya mohon,” ujar Rully.


“Nggak saya nggak mau pulang, udah sana kamu pergi,” ujar Cicil sambil menelepon Riki.


Pada dering ke dua Riki mengangkat teleponnya. “Aa dimana?” tanya Cicil cepat.


Rully langsung berdekatan dengan Tisa sambil menatap Cicil.


“Dibawah, Neng. Kenapa? Kangen?” goda Riki sambil terkekeh.


“Ih... nggak, kamu godain aku terus, ih,” ujar Cicil malu-malu sambil tersipu-sipu.


Tisa dan Rully langsung membulatkan matanya dan saling berpandangan.

__ADS_1


“Itu Ibu Cicil?” tanya Rully.


“Nggak tau, gue kayanya butuh aspirin. Seumur hidup gue kerja sama dia, belum pernah liat Bu Cicil kelakuannya kaya remaja bau kencur,” jawab Tisa dengan tatapan kaget parah.


“Kerasukan?” tanya Rully.


“Mungkin....”


“Aa, sayang kesini, ini ada sekertaris Papih disini, dia paksa Neng pulang, Neng nggak mau, Aa,” ujar Cicil manja sambil mengoyang-goyangkan badannya.


“Oke fix, Bu Cicil kerasukan siluman goyang dumang...!!” ujar Rully sambil menganggukkan kepalanya pada Tisa dengan penuh keyakinan.


“Gue juga yakin,” ujar Tisa mantap.


“Rully, kamu pulang. Cepet, atau pacar aku usir kamu...!?” ujar Cicil sambil menatap tajam Rully.


“Nah udah sadar lagi Bu Cicilnya,” ujar Tisa.


“Kembali ke mode Bu Cicil wanita karir penindas bawahan,” bisik Rully pelan.


“Rully, pulang kamu..!!” bentak Cicil sambil melipat tangannya di dada.


“Tapi....”


Klik...


Riki masuk bersama Edy yang membawa pisau daging. “Mana sekertaris Papih kamu Cil?” tanya Edy sambil memelet-meletkan lidahnya sambil mengacung-ngacungkan pisaunya.


Rully kaget melihat wajah Edy yang mirip lele, Rully yakin dengan pasti Edy pasti titisan siluman lele. “Astaga, Tis. Itu siluman lele?”


“Gue doain elo selemat, Rull. See you,” ujar Tisa sambil menepuk bahu Rully.


Rully hanya bisa pasrah saat Edy menarik kerah baju Rully kearah luar pintu.


“Bu Cicil...” teriak Rully sambil mengatupkan kedua tangannya didada.


“Hati-hati Edy belum disuntik vaksin tetanus jadi kalau gigit bisa kena tetanus kamu nanti,” jawab Riki ngasal sambil melambaikan tangannya pada Edy dan Rully.


“BU CICILLLLLLL........”


•••


EMBIAAAAKKKK EMBIAAAKKKKK READERKUUU...... jangan lupa komen dan klik tombol like......


Dadahhh EMBIAAAAAKKKK........ 🤣🤣🤣


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2