Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Inhaler


__ADS_3

“Hah?”


“Asma aku kum... Inhaler aku inhaler...” teriak Laura sambil mencari-cari tas marc jacob miliknya.


Edy yang panik langsung mencari-cari inhaler di dalam tas Laura. “Nggak ada, Bebz!?”


Laura langsung panik, saking paniknya Laura tidak sengaja menggerakkan rak makan disampingnya sampai beberapa barang berjatuhan.


Blentang...


“Apa ada apa?” tanya Cicil kaget sambil masuk kedalam gudang. Dirinya makin kaget lagi melihat Laura yang sedang bernapas pelan dan menggunakan baju miliknya.


“Asma Laura kumat, inhalernya nggak ada,” ucap Edy kebingungan.


Edy yang sudah tidak menggunakan kemeja chefnya, menunjukkan bagian dadanya pada Cicil. Cicil langsung berjuang menelan salivanya melihat badan Edy yang benar-benar menggugah selera. Edy itu BMW ( Body Mengalahkan Wajah) pantas saja Laura mau dengan Edy.


“Inhalernya di mobil,” ucap Cicil.


“Kenapa, Neng?” tanya Riki saat masuk kedalam gudang.


“Inhaler Laura, ambilin inhaler Laura di mobil, Aa.” pinta Cicil panik. Riki langsung berlari keluar untuk mengambil inhaler Laura.


Cicil mendekati Laura yang sedang mencoba untuk bernapas dengan benar. Tapi, mata Cicil langsung melihat tindakan Edy yang menurutnya aneh.


“Kamu ngapain Edy?” tanya Cicil bingung.


“Berdoa, kasian Laura. Mungkin dengan doa asmanya bisa hilang.” Edy berkata sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Astaga Edy, sinting kamu.” teriak Cicil kesal.


Bug bug bug...


Cicil memukul bahu Edy kesal. “Orang Asma itu dibawa ke dokter, dikasih obat bukan didoain. Sekalian aja lo yasinan sono..!?” hardik Cicil kesal bukan main, dimana otak Edy ini. Malang bener nasib sahabatnya dapet cowo bentukkannya kaya si Edy.


“Ya udah kita ke Ki Berondong,” ucap Edy sambil berusaha untuk mengangkat Laura yang sedang mencoab bernapas dengan baik.


“Ki Berondong, dukun lo?” tanya Cicil kesal.


“Iya, dukun serba bisa. Pasti bisa dia ngobatin penyakit Laura. Edy yakin,” ucap Edy mantap.


“Sinting lo, yah. Astaga, orang sakit itu dibawa ke rumah sakit bukan ke dukun. Astaga, bener-bener hidup lo abstrak,” ucap Cicil kesal.


“Tapikan, Ki Brondong itu sakti mandra guna.” Edy yang tidak ridho dukun kesayangannya di ejek langsung membela Ki Berondong.


“Idih...”


“Woi, udah... bisa tenang nggak, gue susah napas ini, gara-gara dingin,” ucap Laura sambil mengangkat kedua tanganya untuk memisahkan Edy dan Cicil.


“Ini, Neng.” Riki tiba-tiba sudah ada dibelakang Cicil, dengan cepat Cicil memberikan inhaler pada Laura.


Laura langsung menggunakan Inhaler miliknya, dihirupnya dalam-dalam inhaler itu.


“Gimana, udah enakan?” tanya Cicil lagi.

__ADS_1


“Kalau belum enakkan juga, nanti Lele berdoa lagi, yah.” Edy langsung mengangkat kedua tangannya dan langsung berdoa dengan khusyuk.


Bug...bug...


Dengan kesal Cicil memukuli Edy dengan keras, “Dibilang kalau orang sakit bawa ke rumah sakit, bukan didoain. Sinting beneran kamu tuh, Ed.”


“Aduh, kan doa adalah salah satu usaha, Cil.”


“Ihhh.... ini kenapa malah berantem gini, sih. Udah Lele, gendong kita ke RS. Aku kayanya harus di nebu, masih sesak.” Laura meminta Edy menggendong dirinya.


“Bisa kagak, Lo?” tanya Cicil sambil menatap Edy, “encok ntar.”


“Kuat aku, kuat,” ucap Edy sambil menggendong Laura. “Bebz, kok kamu berat yah?”


Bug....


Laura memukul dada Edy kesal, kekasihnya ini benar-benar tidak bisa menjaga mulut. “Aku nggak berat, cuman montok.”


Edy langsung mengiyakan perkataan Laura, memang Laura ini nggak kurus. Badannya berisi dibagian-bagian yang memang seharusnya. Bagian depan adalah favorite Edy.


“Udah cepet bawa ke Rumah sakit, aku bawa jaket dulu. Aku ikut ke rumah sakit, aku takut Laura nggak dibawa ke rumah sakit, malah di bawa ke dukun. Bukannya sembuh, malah sekarat nantinya.” Cicil berkata sambil berjalan ke arah kantor Riki untuk membawa jaket miliknya.


“Istri lo galak yah,” bisik Edy.


“Dia emang galak, ke orang lain. Tapi, ke aku mah nggak. Manja,” ucap Riki sambil berjalan di samping Edy.


“Cicil itu judes, galak, dan kalau udah moodnya jelek. Orang satu kantor bisa dimurkai sama Cicil, sampai di panggil Nyonya sama pekerjanya Cicil itu. Tapi, semenjak nikah sama kamu, Cicil lebih kalem,” ucap Laura.


“Iya, Nyonya,” jawab Edy, Laura dan Riki berbarengan.


“Udah, cepet.


•••


Dirumah sakit Laura langsung ditangani oleh perawat yang bertugas, sambil ditemani Edy yang terus menerus berdoa. Cicil sampai gemas melihat kelakuan Edy.


“Aa, itu Edy emang kelakuannya absurd gitu?” tanya Cicil gemas.


“Iya, emang gitu si Edy mah, dari tahun kuda juga kelakuannya kaya gitu. Nggak jelas,” ucap Riki sambil menepuk-nepuk paha Cicil pelan. “untung Laura kuat, kalau nggak udah sawan dia punya pacar kaya Edy.”


“Entahlah, mungkin si Edy itu kepalanya harus dipentokin ke dinding......” Cicil menggantungkan kalimatnya. Rasa mual tiba-tiba menyerang dirinya.


“Kenapa, Neng.” Riki langsung merangkul Cicil sambil mengelus-ngelus punggung Cicil.


“Aku mual, dari kemarin juga aku panas dingin.” Cicil mengipasi badannya, entah kenapa sekarang dia merasa panas.


“Mau diperiksa, Neng?” tanya Riki.


“Nggak tau juga, mual banget beneran, Aa.” Cicil mengipasi badannya.


Tiba-tiba ada seorang perawat berjalan ke arah Cicil dan Riki. “Maaf, Ibunya kenapa?”


“Nggak tau, ini istri saya katanya mual,” ucap Riki sambil mengusap-ngusap punggung Cicil.

__ADS_1


“Bu, mau ikut saya. Ibu pucat banget masalahnya. Saya antar ke poli umum,” ucap perawat itu. Tertera nama Ibun di name tagnya.


Cicil langsung pergi dengan Ibun. “Suster, boleh ke kamar mandi?”


“Kamar mandi?” tanya Ibun bingung.


“Iya, saya mau cek sesuatu. Kayanya saya tau, saya kenapa,” ucap Cicil sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Ibun langsung tersenyum saat melihat benada yang dikeluarkan Cicil dari tasnya. Testpact.


“Ayo saya antar, saya tungguin yah. Saya takut ada apa-apa juga.” Ibun menemani Cicil ke salah satu bilik kamar mandi.


Dengan cepat Cicil langsung masuk kedalam salah satu bikil dan melakukan kegiatan pengetesan. Setelah selesai, dia menatap alat test didepannya, menanti hasilnya.


Saat keluar hasilnya, mata Cicil tidak berkedip sama sekali. Badannya lemas bukan main, air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Dia bener-benar bingung dengan hasil ditangannya, dia harus bagaimana?


Klik...


Cicil kelur dari kamar mandi dengan lemas dan lesu. Melihat Cicil keluar dari kamar mandi, Ibun langsung berasumsi kalau hasilnya jelek.


“Tenang, Bu. Mungkin belum waktuny,” ucap Ibun bijak.


Cicil hanya tersenyum kecil pada Ibun, diberikannya hasil test dirinya ke tangan Ibun.


“Wah, Mbak. Mbak hamil ini,” ucap Ibun dengan mata berbinar-binar. “Terus, masalahnya apa, Mbak?”


Ibun bingung kenapa wanita dihadapannya ini sama sekali tidak berbahagia dengan kehamilannya.


“Masalahnya?” tanya Cicil pelan.


“Iya, apa masalahnya?” tanya Ibun bingung.


“Masalahnya saya korban perkosaan, Sus. Saya ini Cicil Trina, wanita yang kemarin viral karena diperkosa oleh...”


“Yang, kemarin menang kasusnya?” tanya Ibun.


“Iya, sekarang saya hamil.”


“Terus..!?” tanya Ibun masih tidak mengerti arah pembicaraannya.


“Saya nggak tau bapaknya siapa, Sus...!?” ucap Cicil sambil berjongkok ditempat dan menangis sekencang-kencangnya.


“Hah!?”


••••


Jangan murka dulu, ini Kakak Gallon lagi konsultasi khusus sama Ibun wkwkkw...


Biar nggak halu-halu banget ini ceritanya. Harap tenang dan santai yah pembacaku sayang ❤️❤️❤️.


Jangan lupa ini hari senin, kasih votenya untuk Kakak Gallon yah ❤️❤️❤️


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2