
“Pak Rozak,” panggil salah satu rekan kerjanya.
Rozak menghentikan langkahnya dan berbalik melihat siapa yang memanggilnya, “Ah ... iya Pak Rio kenapa?”
“Ini undangan kamu?” tanya Rio sambil menunjukkan undangan berwarna merah kehadapan Rozak.
“Iya itu undangan saya, saya mau nikah. Dua minggu lagi” ucap Rozak.
“Aduh ... cepet banget, ngebet amat nikah,” goda Rio sambil memukul bahu Rozak.
Rozak hanya bisa mengulum senyumnya, rasanya dia ingin berteriak ‘woi ... umur gue udah tuir woi.’ Tapi, tidak mungkin dia lakukan bisa disangka orang gila.
“Kamu jadi nikah sama Kakaknya.” Rio menghentikan kalimatnya sambil melirik kanan dan kiri seperti takut melihat seseorang.
“Siapa Pak?” tanya Rozak.
“Itu ... Kakaknya Ira yang bapaknya sekarang ada di kantor polisi?” tanya Rio penasaran dengan kabar yang beredar di sekolah saat ini.
Rumor beredar dengan sangat cepat kalau Rozak akan menikah dengan kakak beda ibu Ira. Bahkan Rozak disangka ikut menikmati hasil korupsi ayah Ira.
“Iya Pak, saya mau nikah sama Nama. Dia Kakaknya Ira beda Ibu, karena Nama anak dari istri kedua pak Ahyar,” terang Rozak yang sudah muak menutupi segalanya. Nama pun saat ini sudah tidak terlalu perduli bila rahasia kelam rumah tangga orang tuanya di ketahui oleh orang lain.
“Ah ... bener jadi yah?”
“Iya Pak, emang kenapa? Nggak boleh?”
“Boleh lah.”
“Kan saya nikah sama Nama Pak, anaknya perempuan tulen. Bukan nikah sama Ahyar, tenang Pak walau saya berubah orientasi seksual, pasti saya pilih-pilih buat jadi pacar mah,” canda Rozak dengan logat sundanya yang sangat kental.
“Hahaha ... kamu ngelawak aja Pak Rozak, maaf ... saya cuman penasaran aja sama gosip yang beredar. Karena kamu tau sendirilah orang-orang di sini ngegosipin kamu kaya apa,” ucap Rio jujur, “jujur sebenarnya saya tidak enak menanyai pertanyaan tadi pada Pak Rozak tapi, dari pada saya ngomongin di belakang. Lebik baik saya ngomong langsung lebih enak.”
Rozak hanya bisa tersenyum, sebenarnya apa yang dikatanya Rio ada benarnya tapi, sakit juga ternyata mendengar perkataannya. “Iya Pak, nggak papa tenang aja. Saya mah udah kebal sama gosip kaya gitu.”
“Maaf yah, Pak. Saya cuman konfirmasi aja, jadi nanti kalau ada yang tanya saya bisa jawab dengan baik,” ucap Rio merasa tidak enak hati.
“Iya nggak papa, hm ... ada yang mau dibicarakan lagi Pak?” tanya Rozak pada Rio.
“Nggak ada, Pak. Bapak mau ke mana?” tanya Rio sedikir penasaran, jiwa ghibah dan keponya meronta-ronta.
“Saya mau—“
“Kang Rozak.”
Sebuah suara yang sangat Rozak kenal langsung membuat Rozak membalikan tubuhnya dan tersenyum senang saat melihat Nama berlari menghampirinya. Calon istrinya itu tampak cantik mengenakan blouse dan rok yang sangat pas membalut tubuh bagian bawahnya.
“Nyun,” panggil Rozak sambil melambaikan tangannya.
“Kang maaf Nama masuk, abis Nama udab tunggu di depan Kang Rozak nggak muncul-muncul. Nama mau pipis,” bisik Nama pada bagian kata pipisnya karena malu ada Rio di sana.
__ADS_1
“Ah ... maaf Akang keasikkan ngobrol, kamu mau kekamar mandi?” tanya Rozak.
“Iya.”
“Kamu ke sana aja, Akang tunggu di sini,” ucap Rozak.
Nama pun tersenyum pada Rio dan berlari meninggalkan Rio dan Rozak.
“Itu Kakaknya Ira? Kok beda?” tanya Rio yang bingung dengan tampilan Nama yang tampak seperti orang jepang.
“Iya, kakek dari pihak Ibunya orang Jepang asli. Makanya dia beda sama Ira. Banyak yang nggak nyangka dia kakaknya Ira,” terang Rozak.
“Lah ... kalau saya jadi kamu, emang paling bener langsung dinikahin sih. Takut.”
“Takut apa?” tanya Rozak bingung, apa yang harus ditakuti dari Nama.
“Takut keburu sadar terus nikah sama orang lain. Berabe, Pak,” canda Rio sambil tersenyum pada Rozak.
“Hahaha ... Pak Rio ini bisa aja.” Rozak berkata sambil menahan tawanya. Sebenarnya itu juga yang membuat Rozak ngebet nikah dengan Nama. Dia benar-benar takut, Nama kabur atau di gondol pebinor. Bisa gawat apalagi kalau pebinornya, pebinor halus macam Aa Riki wah celaka. Habis dia.
“Sudahlah Pak, saya doakan lancar yah. Saya permisi dulu, nanti pasti saya datang ke acara nikahannya.” Rio berkata sambil meninggalkan Rozak sendirian menunggu Nama yang sedang di kamar mandi.
••••
“Kita Fitting baju sekarang?” tanya Nama sambil menggelayut di tangan Rozak.
“Haiya ... sakit astaga, kamu kebiasaan ih, nyental nyentil. Sakit tau,” ucap Nama kesal sambil mencubit perut Rozak.
Saat sedang berjalan tiba-tiba mereka di kejutkan dengan seorang wanita yang berjalan ke arah mereka dan menubruk Rozak dengan sangat keras.
Mau tak mau Rozak terduduk karena tertabrak wanita tersebut. Sedangkan, wanita itu tergeletak tak berdaya menimpa tubuh Rozak.
“Maaf-maaf,” ucap wanita itu sambil berusaha bangkit.
“Zurra,” ucap Rozak pelan saat mengetahui siapa yang menimpanya.
“Eh ... kamu Zak,” ucap Zurra sambil tersenyum dan dengan cepat berdiri.
“Iya aku.”
“Maaf yah, aku buru-buru jadi nggak ngeh. Aku bener-bener minta maaf jadi nubruk kamu,” ucap Zurra sambil mengusap-ngusap dada Rozak bermaksud untuk menghilangkan debu dipakaian Rozak.
Melihat itu Nama langsung mengepalkan tangannya, rasanya dia ingin menarik rambut Zurra dan melemparkannya kembali ke alamnya.
“Iya nggak papa, nggak sakit kok.” Rozak berkata sambil menepis halus tangan Zurra yang dari tadi menepuk-nepuk dadanya.
“Aduh maaf yah,” ucap Zurra sambil menyatukan kedua tangannya di dada.
“Nggak papa kok,” ulang Rozak lagi sambil menarik tangan Nama agar lebih mendekat pada dirinya. Namun, Nama bergeming sepertinya tubuhnya terpatri di lantai tak bergerak satu jengkal pun.
__ADS_1
“Beneran?”
“Iya.” Rozak berkata sambil berusaha menarik tangan Nama. Berusaha agar Nama mendekati dirinya. “kamu nggak papa?”
Nama yang mendengar pertanyaan Rozak langsung menatap Rozak dengan gemas, rasa cemburunya benar-benar sudah di pucuk kepalanya. Rasanya Nama ingin mengacak-ngacak wajah Rozak. Untuk apa sih Rozak menanyakan keadaan si Kuntilicing ini. Astaga ... mana cara bertanyanya manis banget, ehm ... kaya gula yang minta di seduh pake air raksa.
“Nggak, ah ... kamu,” ucap Zurra yang seakan baru sadar kalau ada Nama di sana. “Kamu itu pa—“
“Calon istrinya, dua minggu lagi ini manusia mau nikahin saya.” Nama menunjuk Rozak dengan tangan kanannya. Intonasi suara Nama benar-benar seperti orang yang sedang emosi jiwa.
“Oh hai ....” Zurra langsung merasakan sutuasi yang sangat-sangak tidak enak. Sepertinya, kehadirannya benar-benar membuat calon istri Rozak memendam angkara murka yang teramat sangat.
“Hai.” Nama menjawab dengan sangat ketus.
“Ya ... udah saya pergi dulu, permisi,” ucap Zurra undur diri, lebih baik dia meninggalkan Rozak dan calon istrinya dari pada nyawanya melayang karena di tatap terus menerus dengan tatapan membunuh dari Nama.
Setelah Zurra pergi, Nama langsung berjalan meninggalkan Rozak. Langkah kakinya dihentakkan dengan keras ke lantai. Pertanda Nama sedanh sangat-sangat kesal.
“Hai ... Nyun, kamu kenapa?” tanya Rozak sambil berjalan di samping Nama dan menggenggam tangannya lebih erat lagi.
“Nggak,” ucap Nama sambil menghentikan langkahnya.
“Ih ... Nyun kamu marah?” tanya Rozak bingung dengan perilaku Nama yang tiba-tiba berubah.
Nama langsung menatap Rozak dan berkata dengan suara dan ekspressi paling menyebalkan yang pernah Rozak liat.
“Kamu nggak papa?”
“Eh ....” Rozak kaget dengan perkataan Nama.
“Nyebelin banget, ngapain coba nanya keadaan si kuntilicing itu. Kamu nggak papa? Hilih nyebelin, coba kalau aku. Mau nyungsep di solokan juga kagak akan kamu tanya kamu nggak papa.”
“Eh ... “ Rozak kaget dengan perkataan Nama.
“Apa? Kamu nggak papa, idih ... geli dengernya,” ucap Nama sambil pergi meninggalkan Rozak yang detik itu hanya bisa mengulum senyumnya.
Rozak hanya bisa menggelengkan kepalanya, sepertinya Nama cemburu dan sialnya Rozak menyukai saat Nama cemburu pada dirinya.
•••••
Hilih .... yang cemburu, hahaha ....
Nama kalau cemburu gitu ngeselin, bakal selalu diingat itu kata-kata, kamu nggak papa ampe akhir hayatnya.
Wkwkwkkwk
Oke maaf malem banget ini updatenya, jangan lupa kasih kamu nggak papa berupa kopi dan bunga yang. Wkwkkwk
Kamu nggak papa?
__ADS_1