Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Bersyukur


__ADS_3

Riki yang sedang asik duduk dipinggiran ruangan, kaget saat melihat Rozak masuk kedalam sel penjara yang sama dengan dirinya.


“Zak, kenapa kamu ada disini?” tanya Riki bingung saat melihat adiknya masuk kedalam penjara yang sama dengan dirinya.


Rozak yang sedang membenarkan bajunya menatap Riki sambil memamerkan gigi putih miliknya. “Hai, Aa.”


“Hai... hai... yang bener, kenapa kamu bisa ada disini?” tanya Riki kesal dengan kelakuan adiknya yang kelewat santai.


“Kan aku juga sama di laporin sama Albert,” ucap Rozak sambil melihat sekeliling ruang penjara yang hanya ada mereka berdua saja.


“Kamu dilaporin Albert juga?” Riki menunjuk Rozak dengan telunjuk tangan kanannya, “bentar lagi si Edy yang dilaporin kalau gini.”


“Nggak si Edy nggak dilaporin, muka dia terlalu absurd buat dikenalin,” kekeh Rozak sambil duduk di lantai.


“Kamu, kok malah seneng masuk penjara?” tanya Riki bingung.


“Asiklah, aku bisa liburan sambil leha-leha,” ucap Rozak sambil tersenyum pada Riki.


Riki langsung duduk disamping Rozak dan menatap Rozak. “Kelamaan jomblo gini nih, ngenes.”


Tawa Rozak langsung terdengar diruangan tersebut. “Iyalah, yang udah punya calon istri.”


Riki mendorong Rozak sambil tertawa pelan, “Naon sih maneh? (apa sih kamu?)” ucap Riki sambil tertawa pelan.


“Cicil ampe marah-marah kemarin malem ke Albert....”


“Albert kerumah?” potong Riki kaget, mau apa Albert kerumah.


“Iya, dia bilang dia bisa keluarin kamu dan bakal bikin udaha kamu naek. Tapi, ada syaratnya.”


“Apa syaratnya? Jangan bilang Cicil harus nikah sama dia?” Riki mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


“Kok tau?”


Brak...


Terdengar Riki memukulkan kepalan tangannya ke ranjang disampingnya.


“Terus Cicil mau?”


“Nggaklah, dia ampe bilang, mending dia nungguin kamu kelur dari penjara dari pada harus nikah sama Albert,” jawab Rozak sambil mendengus pelan.


“Beruntung banget kamu, Aa. Si Cicil ampe segitunya ama Aa, Aa pelet yah?” canda Rozak sambil menahan tawanya.

__ADS_1


“Iya, Aa pelet pake makanan ikan,” kekeh Riki sambil duduk di kasur yang ada disebelahnya.


“Tenang, Aa,” ucap Rozak sambil merenggangkan badannya, “kita pasti keluar dari sini.”


“Caranya? Si Abert bener-bener punya kuasa dimana-mana,” ucap Riki.


“Kemarin Taca pulang,” ucap Rozak sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Ah, ancur kalau gini. Pasti aku nyusahin Taca sama Adipati. Astaga kaka macam apa Aa ini, Zak. Hobi banget bikin adik sama adik ipar kesusahan.”


“Aa, mau gimana lagi. Kita butuh mereka dalam keadaan kaya gini,” ucap Rozak, Rozak ingin menyadarkan Riki kalau sesekali mereka harus memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki.


“Tapi, aku anak pertama. Harusnya aku yang ngelindingin adik-adiknya. Udah ngelindungin Tasya nggak bisa....”


“Tasya meninggal itu bukan salah Aa. Udahlah Aa, nggak usah nyalahin diri sendiri,” ucap Rozak kesal sambil beranjak dari duduknya.


Rozak paling benci kalau sudah membicarakan kematian kembaran Taca. Tasya, adik mereka yang meninggal karena gantung diri karena tidak menerima dirinya hamil akibat diperkosa oleh kekasihnya sendiri.


“Tapi, tapi kalau Aa jaga Tasya dengan baik dulu, mungkin detik ini Tasya masih hidup,” ucap Riki sambil menatap Rozak.


“Udahlah, semuanya takdir, Aa. Rozak udah sampai berbusa ngomong kalau itu bukan salah Aa. Udahlah, stop ngomongin Tasya. Bikin baik darah, tau,” ucap Rozak sambil merebahkan dirinya di kasur.


Riki hanya bisa menatap Rozak disampingnya. “Zak, kalau Aa nikah sama Cicil, Aa bakal kuat nggak yah hidup sama dia?”


“Yah Cicil kan ka....”


“Iya tau Cicil kaya, anak sultan, duitnya nggak berseri. Nggak kaya kita, yang mau beli KFC aja harus mikir seribu kali. Nggak kaya kita yang mau beli panci aja harus dikredit dua tahun, dah macam kredit motor,” potong Rozak, jengah dia mendengar keluhan Riki yang itu-itu saja. Rasanya Rozak ingin melempar Riki dengan panci, berusaha untuk menyadarkannya kalau pengorbanan Cicil itu 100 kali lebih besar dan banyak dari pada pengorbanan Riki.


“Zak, kamu nggak lagi di posisi Aa, kamu nggak bakal ngerti,” ucap Riki.


“Ya udah, mau aku ngerasain yang Aa rasain?” tanya Rozak kesal.


“Gimana caranya?” tanya Riki bingung.


“Aku yang nikah sama Cicil, gimana?” tanya Rozak sambil menatap Riki dengan tatapan serius.


Bug...


Satu pukulan telak langsung mengenai wajah Rozak. Rozak langsung terjengkang kebelakang, Rozak langsung merasakan hidungnya sedikit bergeser.


“Nyeuri...!?” pekik Rozak sambil memegangi hidungnya. (Sakit...!?)


“Lamun ngomong dipikir, koplok...!?” teriak Riki sambil menunjuk Rozak sambil menatapnya dengan tatapan siap membunuh.

__ADS_1


(Kalau ngomong dipikir, koplok((coba ada yang tau bahasa Indonesia koplok itu apa?)))


“Da Aa, teu boga otak. Geus nyaho si Cicil bogoh pisan ka Aa. Masih we mikiran nu teu penting. Mikir Aa. Si Cicil teh, geus mikiran hade gorengna nikah jeung Aa teh. Tuluy ayeuna, Aa rek ningalkeun deui si Cicil? Geus, lamun kitu mending si Cicil kawin jeung urang...!?” ucap Rozak kesal, entah harus berapa puluh kali Rozak menyadarkan Riki yang selalu rendah diri.


(Aa nggak punya otak,udah tau Cicil cinta banget sama Aa. Cicil tuh, udah mikirin baik dan buruknya untuk nikah sama Aa tuh. Terus sekarang, Aa mau ninggalin Cicil lagi? Udah, kalau gitu mending Cicil nikah sama saya...!)


“Urang lain jelma boga, Zak. Urang sieun ngajieun Cicil sangsara, ngarti teu sia teh?” sentak Riki kesal. (Saya bukan orang berada Zak, saya takut bikin Cicil sengsara)


“Tapi, Cicil nggak takut sengsara...!” teriak Rozak, “jadi Rozak harap Aa juga nggak takut buat berjuang dan hidup sama Cicil. Sumpah Aa, kalau sampai Aa ningalin Cicil, aku yang bakal nikahin dia...!” teriak Rozak murka.


Kemarahan Rozak benar-benar sudah diubun-ubun, sudah ini terakhir kalinya Rozak mendengar keluhan sialannya itu.


Rozak muak...!


Riki terdiam mendengar perkataan Rozak dengan cepat dia duduk di kasur. “Sekarang Aa harus apa? Aa di penjara.”


“Aa cuman harus diam dan nggak usah banyak omong. Biar Adipati yang urus,” ucap Rozak sambil menatap Riki kesal.


“Zak, emang orang miskin nggak boleh bahagia? Emang orang miskin nggak boleh jatuh cinta?” tanya Riki lagi.


“Kalau orang miskinnya kelakuannya kaya Aa sih, mending jomblo ampe mati, Aa,” ucap Rozak sambil mengusap hidungnya yang berdarah.


Riki mengambil handuk kecil dari dalam tasnya, dengan cepat diberikannya pada Rozak. “Sorry, Zak.”


“Hah... sudah biasa, sudah biasa,” kekeh Rozak sambil tersenyum pada Riki.


“Aa, inget satu hal. Aa harusnya bersyukur, bersyukur punya calon istri sebaik dan secantik Cicil.” ucap Rozak.


“Iya Zak.”


“Bersyukur Aa, bersyukur membuat kita terlihat lebih bahagia dan nggak akan bikin orang kesel sama kita. Bersyukur, Aa.”


“Iya, Pak Haji Rozak yang terhormat,” canda Riki sambil tersenyum.


•••


Iya bersyukur...


Syukuri semuanya, dikasih apapun syukuri. Karena, semuanya itu terjadi pasti ada alasannya, dan yakinlah alasannya itu baik.


Jangan lupa tombol likenya di TAMPOL pake pinggul biar HOBAAAAAAAAAAAAA....


XOXO GALLON

__ADS_1


__ADS_2