Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Kesempatan hidup


__ADS_3

Dug... Dug... Dug...


Terdengar suara Edy yang sedang membentur-benturkan kepalanya di meja. Kepalanya pusing bukan main, dia hanya punya waktu empat belas hari untuk menyiapkan dirinya, untuk menghadapi calon mertuanya.


“Lele, jangan sedih. Lele pasti bisa, dulu ‘kan Lele juga bisa ngalahin Albert.” Laura mencoba menguatkan Edy sambil menatap kekasihnya itu.


“Beb, beda itu liat badan bapak kamu, dia segede kulkas dua pintu itu,” ucap Edy sambil menatap Laura.


“Papih, emang gede. Tapi, baik kok orangnya,” bujuk Laura.


“Masalahnya, ngapain kamu bilang kalau kamu udah diambil perawannya sama aku?” tanya Edy sambil menatap Laura. “Siapa coba yang ambil perawan kamu, emang aku?”


“Yah, kalau aku nikah sama kamu. Perawan aku dibawa kamu,” ucap Laura malu-malu sambil mencubit pipi Edy.


“Eh, kamu masih sege...”


“Iya,” jawab Laura malu-malu meong, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Jadi masih se...”


“Laura emang masih perawan, gimana kagak perawan. Saban punya pacar, lakinya kabur mulu liat bapaknya,” potong Cicil cepat sambil duduk disamping Laura dan memakan seblak daun kelor kesukaannya.


“Cicil, kamu jangan buka kartu.” Laura menepuk paha Cicil keras.


“Sakit, ih...” ucap Cicil sambil mengusap pahanya.


“Kenapa, Neng?” tanya Riki sambil mengusap-ngusap paha Cicil pelan.


“Dipukul sama Laura, nyebelin sumpah,” ucap Cicil sambil memutar bola matanya kesal.


“Abis, kamu. Nggak usah buka kartu, di senior high school juga dia tuh suka buka kartu, aku.” Laura mengerucutkan bibirnya kesal.


“Hahaha... tapi, asikkan. Semua temen-temen cewe nggak ada yang berani jahatin kita. Karena takut sama Om Sabar,” kekeh Cicil sambil memeluk Laura.


“Tapi, lo bilang ke satu sekolah kalau gue masih perawan. Ampe gue diolok-olok satu sekolahan, tau.” Laura mengerucutkan bibirnya kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


“Eh... kok gitu?” tanya Riki bingung, seingatnya saat dirinya SMA, malah kalau ketauan nggak perawan yang ada wanita itu di nyinyirin satu kadipaten.


“Aku sama Laura sekolah di Amerika dulu, keluarga aku dulu tetanggaan. Kalau, di Amerika emang gitu. Kalau masih ada yang perawan di nyinyirin. Nih, contohnya Mbak Laura Subagja,” kekeh Cicil.


Edy dan Riki hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perbedaan budaya benar-benar membuat mereka hanya bisa tersenyum.


“Nggak papa, Beb. Edy menerima Bebeb Laura mau segel ataupun tidak. Edy tetap cinta mati pada Bebeb Laura,” ucap Edy sambil mencium pipi Laura.


Laura langsung tersipu-sipu, detik ini Laura ingin mengucap syukur memiliki Papih segalak Sabar Subagja. “Makanya, Lele kamu harus menang yah, aku cuman mau dibuka segelnya sama Lele pokoknya.”


Edy langsung menggenggam tangan Laura dengan erat, “Iya, Lele akan berusaha. Demi menikahi Laura dan membuka segel Laura.”


“Iya, Lele. Lele harus berjuang demi Laura,” ucap Laura sambil memeluk Edy dengan erat.


Edy langsung memeluk Laura dengan tatapan penuh dengan keteguhan, mampu mengalahkan Sabar Subagja demi bisa menikahi wanita pujaannya dan membuka segel Laura Subagja.


“Dy, yuhu,” goda Riki sambil menunjukkan photo bentuk badan Sabar Subagja di handphone miliknya.


Seketika itu juga Edy langsung menelan salivanya, “Tulung,” bisik Edy pada Riki.


Riki hanya menahan tawanya dan berbisik pelan di belakang kepala Cicil. “Turut berduka, Ed.”


Edy hanya bisa menelan salivanya lagi, sepertinya mulai besok dia harus kembali ke perguruan pencak silatnya. Menimba ilmu, demi membuka segel Laura Subagja.


•••

__ADS_1


“Jadi, dilihat dari detak jantungnya. Bayi dalam kandungan Ibu sehat,yah” ucap Dokter Rindu sambil tersenyum pada Riki dan Cicil.


“Berapa bulan?” tanya Riki pada dokter Rindu.


“Empat bulan, Pak Riki,” ucap Dokter Rindu.


Zrrrtt... Zrrrrt...


“Aa, siapa telepon?” tanya Cicil sambil menatap Riki.


Riki melihat handphonennya, “Rozak, Aa angkat dulu,yah,” Riki mengecup kening Cicil dan tersenyum pada Dokter Rindu.


Sepeninggalan Riki, Cicil menatap Dokter Rindu, “Dok, maaf. Hasil test DNA-nya kapan, yah?”


Riki dan Cicil sudah melakukan test DNA, mereka berdua sedang menunggu hasil testnya.


“Nanti bisa diambil dimeja depan, Bu Cicil,” ucap Dokter Rindu.


“Jadi, hasil test DNA-nya udah ada?” tanya Cicil.


“Iya, sudah ada. Ibu tinggal ambil.”


“Dokter tau hasilnya?” tanya Cicil.


Dokter Rindu hanya tersenyum menatap Cicil, “Saya nggak tau, Bu. Maaf.”


“Oh....”


Dokter Rindu hanya tersenyum, “Ibu, liat aja. Ada didepan suratnya, Bu.”


Cicil langsung mengulum senyumnya dan menatap tampilan anaknya di layar. Jantungnya berdebar, sebentar lagi dia bakal tau siapa ayah biologis anaknya. Setelahnya, dia baru akan memutuskan mau di pertahankan atau tidak anak yang ada didalam kandungannya ini.


“Dok, kalau nanti saya mau gugurin anak ini, bisa?” tanya Cicil pada Dokter Rindu.


“Dok, saya itu diperkosa. Saya nggak bakal sanggup hidup ngurus anak dari orang yang merkosa saya, Dok,” jawab Cicil sambil menatap Dokter Rindu.


“Bu, Ibu nggak mau kasih anak didalam kandungan Ibu kesempatan?” tanya Dokter Rindu.


“Saya—“ Cicil terdiam sambil melihat layar dihadapannya. Cicil melihat calon bayinya.


“Bu, Ibu mau denger detak jantung anak Ibu sekali lagi?” tanya Dokter Rindu.


Cicil menatap Dokter Rindu bingung, untuk apa dia mendengar detak jantung anaknya. “Buat apa?”


“Dengerin, sekali lagi. Mau?”


“Boleh,” jawab Cicil akhirnya.


Dokter Rindu pun akhirnya mulai mengurusi segala-galanya. Diperbesarnya suara detak jantung anak yang ada didalam kandungan Cicil.


Deg... deg... deg...


Terdengar detak jantung anak yang ada didalam kandungan Cicil. Suaranya sangat-sangat besar dan jelas, detaknya terdengar sangat jelas dan teratur.


“Bu, ini suara detak jantung anak Ibu.”


“Terus?” Cicil benar-benar bingung dengan maksud pembicaraan ini.


“Ini bukti,” ucap Dokter Rindu.


“Bukti?”

__ADS_1


“Iya, ini bukti kalau anak yang ada didalam kandungan Bu Cicil sedang berjuang untuk hidup. Anak didalam kandungan Ibu, sedang berjuang agar bisa bertemu Ibu, dia lagi berjuang.”


“....”


“Dia lagi berjuang untuk hidup, tumbuh dan berkembang menjadi bayi yang sempurna. Menjadi seseorang yang bisa ibu peluk, cium dan sayang.”


“Dok....” Mata Cicil tiba-tiba berkaca-kaca mendengar perkataan Dokter Rindu.


“Bu, bayi didalam kandungan Ibu. Lagi, berjuang untuk hidup. Dia berjuang supaya bisa bertemu dengan Ibu. Iya, saya tau dia bisa saja bukan anak Pak Riki suami sah Ibu. Tapi, bisakah Ibu ijinkan anak ini hidup?”


Air mata langsung mengalir dari mata Cicil, tangan Cicil langsung menyentuh perutnya mengusapnya pelan. Sedikit demi sedikit Cicil mulai mencintai kehidupan yang tumbuh secara perlahan di perutnya.


“Bu, ijinkan anak ini hidup. Dengar detak jangungnya, dia sedang berjuang untuk hidup. Tidak adil rasanya kalau ibu merebut haknya untuk hidup, Bu Cicil.”


“Tapi, saya nggak tega sama suami saya, dia terlalu baik. Saya nggak mau dia menderita seumur hidupnya dia melihat anak yang bukan anaknya,” isak Cicil lagi.


“Saya yakin, semuanya ada jawabannya dan saya yakin niat baik akan ada jalannya,” jawab Dokter Rindu sambil mengusap pelan punggung tangan Cicil pelan.


Cicil terdiam, suara detak jantung anaknya benar-benar terdengar sangat-sangat keras. Apa yang dikatan Dokter Rindu benar, anaknya ini sedang berjuang untuk hidup. Berjuang untuk bertemu dengan dirinya dan.....


•••


Anak dalam kandungan tidak pernah salah. Mereka tidak pernah meminta dilahirkan sebagai anak dari hasil perbuatan apapun. Mereka tidak pernah meminta untuk dilahirkan dari rahim ibu seperti apa dan Ayah seperti apa. Yang, mereka inginkan hanya disayang dan dicintai.


Hai, senin nih... yuk cus, berikan votemu untuk Kaka Gallon. Jangan lupa kasih bunga dan kopi untuk Kaka Gallon.


Dan hai jempolnya digunakan dong buat klik tombol like biar apa?


BIAR HOBAAAAAAAAAA...!?


Visual part 2



Abah suhaedi Trina...


tolong jangan dibilang visualnya kurang pas dan lain-lain. Awalnya visualnya itu Kang Ibing. Iya, tau Kang Ibing? Tadinya itu. Tapi, sialnya Abah aslinya (Papa Kaka Gallon yang sifat dan kelakuannya Kaka Gallon jadikan sabagai sifat dan karakter Abah) PROTES. Katanya ganti jadi Roy marten biar ganteng. Oke siap, Bah. Baik laksanakan siap Bos.



Taca Trina Berutti


Adik Riki yang paling kecil, Pembuka cerita dari seluruh cerita Absurd di Water Teapot dan Mr. and Mrs. Trina.



Adipati Berutti


Bule mesum, yang hobinya transfusi darah putih sama istrinya. Terbukti anak Taca tiga.



Lizbet Wijaya atau Iis. Istri Juan Wijaya, sekaligus mantan pacar Rozak. Yah, Iis adalah mantan terindah Rozak Trina.



Juan Wijaya, Om-om meresahkan. Mantan tunangan Cicil. Awalnya Mas Juan ini mantannya banyak, playboy bangsul, sebelah duabelas dengan Adipati. Tapi, saat ini dia menjadi suami takut istri 🤣🤣.


Udah yah visualnya, buat visual Rozak yah maafkan Kaka Gallon masih galau. Wkwkkw


Kurang ngena di hati pokoknya, hehehe...

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2