
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
“Pak... mau minum?” tanya Ira sambil berlari-lari kecil disamping Rozak.
Rozak hanya tersenyum melihat tingkah anak didiknya ini. Ira adalah murid sekolahnya yang teramat sangat berjuang untuk mendapatkan perhatiannya. Dengan cara apapun Ira selalu saja tiba-tiba mencari perhatian dari dirinya.
“Nggak makasih Ra, saya bawa minum sendiri,” ujar Rozak sambil mengeluarkan tempat minum berwarna ungu dari dalam tasnya.
“Aw... Bapak suka warna ungu?” tanya Ira antusias.
“Oh, nggak. Ini botol minum punya kaka saya,” jawab Rozak sekenangnya.
Ira benar-benar berjuang untuk mengimbangi langkah kaki rozak yang sangat cepat. Ira benar-benar penasaran dengan gurunya ini. Rozak muda, tampan, baik dan astaga badannya walau ditutup dengan pakaian olah raga sekalipun, hormon remaja Ira benar-benar bergejolak melihatnya.
“Pak, mau kemana sih? Buru-buru amat?” tanya Ira lagi sambil terus berjalan disampingnya.
Rozak langsung menghentikan langkahnya, Ira yang mengejar Rozak dari belakang mau tidak mau menabrak punggung Rozak dengan keras.
“Aw... Bapak kok berhenti tiba-tiba ini sakit,” ujar Ira sambil menyentuh hidungnya.
Rozak membalikkan badannya kemudian menatap Ira. “Ra, Bapak mau pulang, kamu pulang juga yah. Tuh pacar kamu udah nunguin,” ujar Rozak sambil menunjuk seorang anak SMA yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Ira refleks melihat kebelakang dan mendapati Hesa sedang menatapnya. Ira dengan kesal menghentakkan kakinya kesal, Hesa lelaki yang mengejar-ngejarnya, tapi, Ira nggak mau sama sekali dengan Hesa. Hesa kurang dewasa, Ira suka yang dewasa seperti Rozak.
“Dia bukan pacar saya, Pak. Saya nggak tau dia maunya apa,” ujar Ira sambil mengalihkan pandangannya dari Hesa kembali pada Rozak.
“Ya, saya nggak tau. Coba kamu kesana dulu. Bapak banyak kerjaan,” ujar Rozak sambil berbalik dan berjalan meninggalkan Ira yang sedang mengigit bagian bawah bibirnya, mengutuki nasibnya yang ditolak oleh Rozak.
Saat berjalan gawai milik Rozak berbunyi pelan. Dengan cepat Rozak melihat siapa yang meneleponnya.
“Aa Riki?” Rozak langsung mengangkat teleponnya.
“Apa Aa?” tanya Rozak cepat.
“Zak, Aa butuh bantuan kamu sama Nama lagi, bisa?” tanya Riki.
“Bantuan apa?” tanya Rozak.
__ADS_1
“Bantuan, Aa ada masalah sama Albert....”
“Mantan Cicil?” potong Rozak cepat.
“Iya, mantan Cicil. Dia bikin perkara lagi, dia sembunyiin dan malsuin surat perjanjian. Bisa bangkrut Restoran Aa kalau perjanjiannya nggak di ambil,” ujar Riki.
“Ah... ya udah, nanti aku telepon Nama, nanti ketemu di Resto aja, aku sekarang mau nelpon Namanya, dulu,” ujar Rozak sambil menutup sambungan teleponnya.
Rozak tersenyum lebar, hatinya berbunga. Gimana nggak berbunga, dia akan bertemu dengan tambatan hatinya. Purnama atau Nama.
•••
Nama yang baru selesai membereskan barang-barangnya dikagetkan dengan kedatangan Rozak. “Eh... kamu kok bisa masuk ruang guru?” tanya Nama kaget.
“Yah, bisalah. Kan aku juga guru,” ujar Rozak sambil tersenyum manis dan duduk didepan Nama.
“Iya, kamu guru. Tapi kan kamu guru SMA, bukan guru SD,” kekeh Nama.
“Eh lupa, kamu yang guru SD, aku mah cuman guru SMA yang terlunta-lunta,” ujar Rozak sambil tersenyum manis dan menjentikkan jarinya.
“Mana ada guru SMA terlunta-lunta? Ngacooo...” ujar Nama sambil berjalan kesamping Rozak.
“Ada aku,” jawab Rozak sambil mengangkat satu alisnya, spontan Nama tertawa terbahak-bahak.
“Nggak tau, tapi moga nggak aneh-aneh deh, aku nggak sanggup kaya kemarin lagi. Gila aja kita dari condet muter-muter monas. Entah dapet ide apa itu si Edy,” kenang Rozak sambil beranjak dari duduknya dan berjalan disamping Nama.
“Hahahaa... aku bener-bener nggak nyangka loh, bisa ngelakuin hal kemarin. Kayanya kalau bukan sama kalian aku nggak mungkin berani ngelakuin hal sinting kaya kemaren,” kekeh Nama.
Rozak hanya tersenyum manis, hatinya berdesir saat melihat kecantikan Nama. Senyuman Nama benar-benar membuat hatinya berdetak cepat.
“Kita kesana naik apa, Zak?” tanya Nama sesaat mereka sudah sampai parkiran.
“Naik, motor nggak papa ‘kan?” tanya Rozak sambil menunjuk motor bebek kesayangannya.
Nama tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Iya nggak papa, aku doain deh kamu biar bisa nyupir mobil Tesla,” ujar Nama sambil mengedipkan matanya.
Mama... kenapa gadis didepannya ini imut banget, rasanya Rozak ingin mencubit kedua pipi Nama saking gemasnya. “Nyupirin doang mah pernah, Nam. Kalau buat beli nggak bakal mampu,” cerocos Rozak.
“Oh, yah. Pernah jadi supir juga?” canda Nama sambil memberikan tasnya kepada Rozak untuk disimpan di dalam bagasi (ini bener nggak sih namanya bagasi, ituloh yang ada ditengah motor. Koreksi kalau salah) motor.
Rozak membulatkan matanya mendengar perktaan Nama, ingin rasanya Rozak bilang kalau dia pernah menyupiri semua jenis mobil mewah yang ada di Indonesia. Terima kasih pada adik iparnya yang menjadi salah satu Crazy Rich Indonesia. Tapi, Rozak memilih bungkam, itu bukan uang miliknya. Itu milik adik iparnya, Rozak lebih suka membumi.
“Pernah, tapi dipecat,” canda Rozak sambil tertawa kecil.
__ADS_1
“Kenapa?” Entah mengapa Nama mempercayainya.
“Istri boss saya suka sama saya, jadi saya dipecat,” jawab Rozak ngasal, ya kali Taca adiknya jatuh cinta sama dia. Bisa di tendang Abah yang ada.
“Hah... astaga cinta terlarang dong,” kekeh Nama pelan.
“Yah resiko orang ganteng.”
“Hah, mana yang ganteng?” tanya Nama sambil mendekatkan wajahnya pada Rozak. Rozak yang detik itu memang sedang menatap Nama, kaget saat wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
Jantung Rozak dan Nama saling bertalu-talu, Nama yang sudah lama tidak menjalin hubungan dan dekat dengan pria manapun benar-benar dibuat terpesona dengan tatapan tajam Rozak. Sedangkan Rozak yang kesulitan move on dari mantannya dulu dan baru detik ini membuka hatinya benar-benar dibuat ketar ketir saat melihat bibir tipis Nama yang berwarna pink.
Napas mereka berdua benar-benar tercekat. Saking dekatnya Nama bisa mencium wangi tubuh Rozak yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Wangi tubuh Rozak benar-benar menghanyutkan Nama. Nama benar-benar seperti terbius.
“Nam...”
“Ya...”
Rozak mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka berdua. Entah kenapa Nama langsung menutup matanya, pasrah.
Rozak yang melihat Nama menutup matanya langsung tersenyum dan makin mendekatkan wajahnya dengan Nama. Tangan Rozak tiba-tiba mengusap pipi Nama, membuat bulu kuduk Nama meremang. Jantung Nama menggedor dengan keras, saking gugupnya. Astaga ini bukan ciuman pertama Nama, tapi kenapa rasanya lebih gugup dari pada ciuman pertama Nama.
Rozak menekan bibirnya di bibir Nama, pelan dan lembut. Tanpa menuntut apapun, tanpa menuntut untuk masuk lebih jauh lagi atau meminta akses tanpa batas didalam bibir Nama. Rozak hanya menempelkan saja bibirnya sekejap kemudian mengecup dahi Nama pelan dan lembut.
“Rozak...” panggil Nama kaget karena mendapatkan perlakuan manis dari Rozak.
“Segini dulu, Nam, Bidadari itu harus diberlakukan dengan lembut,” ujar Rozak sambil memasangkan helm dikepala Nama.
Nama yang masih belum sadar betul dari efek ciuman kilat namum manis dari Rozak, hanya bisa menatap Rozak dengan tatapan kaget, “Bidadari?”
“Iya, Bidadarinya itu bernama Nama,” ujar Rozak.
Blush...
Pipi nama langsung memerah saat mendengar perkataan Rozak. Astaga lelaki didepannya ini benar-benar manis. Tapi....
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon