
"Permisi..." ucap Laura sambil mengetuk pintu rumah.
"Iya."
pintu rumah Edy terbuka, Laura langsung menemukan seorang lelaki sepuh menatap dirinya. Perawakan Aki-aki (Kakek dalam bahasa sunda) tersebut tinggi dan sedikit berisi. Ketampanan diwajahnya tidak hilang walau dimakan usia.
"Cari siapa?" tanya Aki itu sambil melihat Laura dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kakek itu bingung, kenapa ada gadis cantik mengetuk pintu rumahnya.
"Lele... eh salah, Edynya ada?" tanya Laura.
"Edy? Oh, cucu saya Edros?" Aki-aki itu balik bertanya pada Laura.
"Iya, Edy Edrosh. Ada dirumah?" tanya Laura.
"Ada, mau apa? Kamu siapa, si Edy nggak bikin perkara 'kan?" tanya Aki-aki itu.
"Nggak, Edy nggak bikin perkara kok," jawab Laura cepat.
"Ada siapa, Aki?" tanya seseorang dari dalam rumah.
Aki langsung membuka pintunya lebih lebar lagi, menunjukkan Edy yang berjalan kearah Laura.
Mata Laura membulat sempurna, napasnya tercekat. Astaga bagaimana tidak, Edy berjalan kearah Laura tanpa menggunakan sehelai benangpun di badan bagian atasnya. Laura berusaha menelan salivanya, ini pertama kali Laura melihat badan Edy tanpa kaos, otot sixpack Edy benar-benar mengalihkan dunia Laura. Tidak pernah Laura sangka dengan wajah seperti Lele dumbo, Edy memiliki badan yang mampu membuat Laura tidak berkedip.
"Sayang, ngapain disini?" tanya Edy pada Laura yang masih tidak mengedipkan matanya sama sekali.
"Siapa ini?" tanya Aki.
"Laura, Ki. Pacar Edy," jawab Edy sambil menggunakan kaos.
"Jangan..." Laura spontan mengatakan hal itu saat melihat Edy mengenakan kaosnya.
"Jangan kenapa, Sayang?" tanya Edy bingung, kenapa pula si Laura ini.
"Jangan, jangan, jangan..." Laura menggaruk kepalanya bingung. "jangan lupa makan."
"Kamu kenapa sih?" tanya Edy bingung.
"Ini pacar kamu?" tanya Aki.
"Iya, geulis pan (cantik kan)?" tanya Edy.
"Gancang dikawin, bisi kaburu sadar, Edy." ucar Aki sambil memukul bahu Edy. (Cepet dikawin, takut sadar, Edy)
"Sadar gimana, Ki?" tanya Laura bingung, emang dia pingsan apa?
"Yah, takutnya kamu sadar kalau Edy tuh titisan siluman lele, terus ningalin dia. Kamu cantik gini masalahnya," puji Aki sambil tersenyum.
"Aki..."
"Kalau gitu, aku nggak mau sadar. Mau gini aja terus, karena aku suka sama silumn lele ini, Kek," ucap Laura sambil mencawil hidung Edy, Edy yang dicawil langsung tersenyum lebar.
"Wah, demen tuh si Edy kalau dapet yang modelan kaga gini, happy," ujar Aki sambil terkekeh.
"Siapa dulu dong, Edy Edrosh," jawab Edy.
"Ed, astaga aku lupa. Abah nyuruh kita kerumahnya sekarang," Laura baru sadar maksud dan tujuannya datang.
"Ngapain?" tanya Edy.
"Ada Albert sama Om Jeff, dia dirumah Abah. Kata Abah kita harus kesana dan bilang bakal ada huru hara," Laura menirukan ucapan terakhir Abah.
"Astaga, bakal parah sih itu. Ya udah, kita kesana," Edy mengambil kunci mobilnya dan mencium pipi Kakeknya cepat.
"Ati-ati Ed, inget kalau ada apa-apa teriak yang keras, da Aki mah nggak bisa bantuin apa-apa" ucap Aki sambil mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Siap, Ki," jawab Edy sambil mengacungkan kedua jempolnya keudara.
"Lele, masa naek ini sih? Mobil kamu yang biasa mana?" tanya Laura kaget saat Edy membawanya mendekati mobil yang akan membawa mereka kerumah Abah.
"Mobil lagi dipinjem ibu-ibu pengajian, katanya mau ke sunatan anak Camat," jawab Edy santai.
"Tapikan...."
"Udah 'kan, duduk didepan juga, Sayang. Ayo cepet," ujar Edy sambil membukakan pintu untuk Laura.
+++
"Saya minta Cicil pulang," suara bariton Jeff terdengar jelas di ruangan itu.
"Cicil, nggak mau pulang, Pih. Cicil nggak mau," Cicil berkata dengan nada yang tak kalah keras dari suara Jeff.
"Cicil, saya ini bapak kamu. Saya yang membesarkan kamu, pulang kamu," bentk Jeff kesal dengan kekeras kepalaan putrinya.
"Je suis ton père, je te demande de rentrer à la maison?!" terik Jeff menggunakan bahasa Prancis yang kental. (Aku ayahmu, aku memintamu pulang ...!)
Cicil berdiri sambil menghentakkan kakinya dengan kesal, "J'ai 28 ans, je suis adulte. Je peux décider de ma propre vie. Le père ne peut rien interdire." pekik Cicil frustasi.
(Saya berusia 28 tahun, saya sudah dewasa. Saya bisa memutuskan hidup saya sendiri. Papih tidak bisa melarang apapun.)
Jeff terdiam, apa yang dikatakan Cicil benar. Sebenarnya apa yang dilakukan dirinya saat ini yang memaksa Cicil pulang pun, bukan perbuatan yang baik. Dia lupa gadis kecilnya sudah dewasa.
"Cil...."
"Nggak, Papih. Kalau Papih paksa Cicil pulang dan nikah sama Albert. Cicil nggak mau, Cicil punya hak untuk menentukan hidup Cicil." ucap Cicil sambil menunjuk Albert yang dari tadi hanya menatap Cicil dengan tatapan penuh dengan nafsu. Entah nafsu apa, yang pasti Cicil benar-benar dibuat tidak nyaman dengan tatapannya.
"Pak, maaf boleh saya berbicara disini?" tanya Abah pada Jeff.
Jeff menatap Abah dari atas sampai ke bawah, tatapan Jeff adalah tatapan paling meremehkan yang pernah Abah terima.
"Lah, kan saya udah bilang tadi. Saya Abah, saya bapaknya si Riki. Cowo yang ingin nikahin Cicil anak bapak," jawab Abah santai.
"Ya udah mau ngomong apa, kalau minta izin buat nikahin Riki sama Cicil, saya nggak bisa kasih izin sama sekali," ucap Jeff.
"Papih, ini hidup Cicil. Cicil bebas mau nikah sama siapa aja. Papih nggak bisa egois. Dulu, Papih menikah dengan Mamih juga atas pilihan Papih. Almarhum Granpa juga nggak larang Papih, kan?" ucap Cicil kesal.
Jeff mengusap wajahnya dengan keras, sepertinya anak gadisnya ini benar-benar memiliki sifat yang sama dengan dirinya. Sifat keras kepala.
"Tapi, Papih menyesal. Papih menyesal menikah dengan Mamih kamu yang kastanya dibawah Papih. Papih menyesal menikahi Mamih kamu yang lebih miskin dari Papih...!?"
Mendengar jawaban Jeff, Cicil kaget. Bukan rahasia lagi kalau Papih dan Mamih tidak akur. Mamih Cicil baik, tapi dia memiliki kebiasaan minum-minuman keras yang sangat parah. Saking parahnya, beberapa kali Mamih pernah keracunan Alkohol. Tapi, tidak pernah Cicil sangka kalau, Papih menyesal menikahi Mamih.
"Pih..."
"Papih nggak mau, kamu menyesal menikahi Riki. Dia beda kasta dengan kita, Nak..."
Cicil langsung terduduk dikursi yang ada dibelakangnya, Riki dengan sigap menahan bobot tubuh Cicil. Badan Cicil benar-benar lunglai.
"Pih, kok Papih ngomong gitu sih?" tanya Cicil lemah, pikirannya melayang pada saat masa kebahagiaan keluarganya.
"Kenyataan,Nak. Papih menyesal menikah dengan Mamih. Andai dulu Papih menikah dengan orang yang sederajat, mungkin hidup Papih bakal lebih bahagia dari ini," jawab Jeff lemah.
"Jadi, jadi Papih nyesel nikah sama Mamih?"
"Iya, Mamih kamu benar-benar seperti OKB (Orang Kaya Baru), berapa kali Papih harus mengingatkan dirinya kalau diatas langit masih ada langit. Mamih kamu berontak, merasa dikekang dan akhirnya lari ke alkohol. Berkali-kali Papih bilang akan melepaskannya. Berkali-kali pula, Mamih kamu menolak. Alasannya Mamih sudah tidak bisa lagi hidup miskin," jawab Jeff, sebenarya ada satu lagi fakta penting yang membuat Rea istrinya bersikukuh menolak perceraian. Tapi, Jeff menolak memberi tahukannya.
"Kalau gitu, Papih nyesel aku hidup? Papih nyesek aku lahir?" tanya Cicil pelan sambil menatap Papih dengan pandangan mata yang buram. Mata Cicil sudah tertutupi air mata yang siap tumpah bila Cicil mengedipkan matanya.
"Nggak, Papih tidak pernah menyesal punya kamu, Cil. Nggak pernah," jawab Papih lirih, siapa yang bisa menyesal mendapatkan anak secantik dan sepenurut Cicil.
"Pih, mending Papih pulang, Cicil nggak mau pulang. Cicil mau disini. Cicil mau nikah sama Aa Riki. Kalau Papih nggak mau jadi walinya, biar Uncle Jaquien yang jadi walinya," ujar Cicil sambil menatap Papih lekat-lekat.
__ADS_1
Jeff kaget saat mendengar Cicil menyebutkan, nama adiknya yang saat ini tinggal di Belgia dan bekerja menjadi seorang dosen disana. "Kamu nggak akan bisa hubungin di...."
"Uncle udah setuju, dia bakal kesini seminggu lagi. Uncle bakal nikahin aku sama Aa Riki. Dengan atau tanpa restu Papih," ucap Cicil.
"Tapi, saya Papih kamu," ucap Jeff sambil menunjuk dadanya kesal.
"Pak, sudahlah. Bagaimana kalau bapak besok kesini lagi. Biar saya bujuk Cicil untuk pulang," ujar Abah bijak.
"Abah, Cicil nggak mau. Kalau Cicil pulang, bisa-bisa Cicil dipaksa nikah sama Albert. Cicil nggak mau," isak Cicil, tidak bisa Cicil bayangkan seumur hidupnya, dia harus hidup bersama seorang monster seperti Albert.
"Baby, pulang. Papih tau yang terbaik buat kamu," bujuk Albert.
"Heh, Baby, baby. Cicil punya nama, panggil namanya...!" bentak Riki, Riki yang dari tadi menahan emosinya akhirnya meledak juga saat mendengar Albert memanggil Cicil dengan sebutan Baby.
"She is alwayas my Bab..."
Brakk...
Riki langsung bangkit dari duduknya dan mencengkram kerah kemeja Albert, sebelah tangannya terkepal bersiap untuk memukul wajah Albert.
"Riki, udah... nggak ada cerita keluarga kita main pukul-pukul," ucap Abah mencoba menenangkan Riki yang sudah meledak.
Albert menatap mata Riki dengan tatapan meremehkan, dengan cepat tangan Riki ditepis oleh Albert. Riki mendengus kesal, sambil kembali duduk disebelah Cicil.
"Astaga, Cil. Kamu mau nikah sama cowo ringan tangan kaya gitu?" tanya Jeff sambil menunjuk Riki.
"Anak saya tidak pernah memukul perempuan, yah. Saya tidak pernah mengajarkan anak-anak saya memukul perempuan," Abah akhirnya tersulut emosinya. Bagaimana tidak, anak laki-lakinya disebut ringan tangan. Abah tidak terima.
Jeff langsung mengambil handphonenya dan mengutak-atiknya. Albert sama sekali tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukan oleh Jeff. Fokusnya hanya pada Cicil dan Riki.
"Ini buktinya, anak saya sampai seperti ini karena dipukuli anak anda?!" ucap Jeff sambil menunjukkan photo Cicil saat dikantor polisi dulu, setelah selesai diculik oleh Albert.
Abah langsung mengambil handphone dari tangan Jeff, matanya membulat sempurna saat melihat photo Cicil yang mengenaskan. "Ini siapa yang bikin gini? Riki ini kamu?" tanya Abah sambil menunjukkan photo di handphone tersebut pada Riki.
Albert langsung sadar, bahwa ini saatnya dia pergi dari sana. Dia mengutuki dirinya yang tidak sadar kalau, Jeff hendak memberikan photo Cicil yang babak belur tersebut. Sial, Cicil pasti akan bilang kalau dia yang melakukannya. Albert harus pergi dari sana sekarang juga...!?
Riki mengambil handphone dari tangan Abah, hanya dengan melihat sekilas, Riki tau photo apa itu dan siapa pelakunya. "Itu Albert yang lakuin. Pak kalau Bapak mau tau, yang pukulin anak Bapak dan menjadikan anak Bapak samsak hidup itu bukan saya. Tapi, Albert," ucap Riki sambil menunjuk Albert yang sudah menghilang dari sana.
"Lah, mana eta bule?" tanya Abah bingung.
"Cicil, itu benar?" tanya Jeff sambil menatap Cicil.
Cicil menatap Jeff sambil mengigit bagian bawah bibirnya dan menganggukkan kepalanya. Mengiyakan perkataan Riki.
"Astaga, kamu disini, jangan kemana-mana," perintah Jeff sambil pergi keluar untuk mencari Albert diikuti oleh Riki.
Mata mereka melihat kekanan dan kekiri mencari sosok Albert. Mereka langsung menangkap sosok Albert yang sedang masuk kedalam mobil untuk melarikan diri dari sana.
"Pak Jeff itu," ujar Riki sambil menunjuk Albert yang baru saja masuk kedalam mobil.
"Ah, sial saya nggak bawa mobil, gimana cara ngejarnya?" tanya Jeff bingung, Jeff benar-benar ingin memukuli Albert karena sudah membohongi dirinya mengenai Cicil.
"Riki..." tiba-tiba Edy datang dengan mobil miliknya.
"Pakai itu aja..."
"HAH...."
+++
Dahlah... si Edy datang mah nggak bakal bener, entah apa bentukkannya itu mobil...
Dahlahh... Kaka Gallon nyerah...
hahahaaaa
__ADS_1