
WARNING, baca sampi habis. Jangan berhenti ditengah jalan.
•••
“Aduh.”
“Kenapa, Neng?” tanya Riki kaget.
“Neng, mau dibonceng naik sepeda,”ucap Cicil tiba-tiba.
“Hah, gimana?” tanya Riki bingung.
“Iya, didepan ‘kan ada sepeda. Aku mau dibonceng sama kamu,” pinta Cicil.
“Neng, iya sok mau dibonceng ampe pluto juga, sama Aa diiyahin. Tapi, ini Aa mau liat dulu amplopnya.” Riki mencoba untuk mengambil amplop yang dengan cepat sudah disembunyikan di saku jaket Cicil.
“Ayo,” ajak Cicil sambil mengangkat tangannya. Tatapan wajah Cicil yang tampak sedih membuat Riki terdiam.
Riki langsung menghela napas, melihat tatapan wajah Cicil. Riki tau siapa ayah biologis anak dikandungan Cicil. Anak itu anak Albert.
“Ayo, aku mau naik sepeda,” ucap Cicil sambil menarik tangan kanan Riki.
“Neng...”
“Aa, aku mau naik sepeda, please.” Cicil tersenyum, mata coklat Cicil langsung membius Riki. Manik mata coklat Cicil yang mampu membuat Riki bertekuk lutut.
“Neng,sia....”
“Aku mau naik sepeda, Aa.” Cicil menggelayut manja dilengan Riki sambil mengusap-ngusap hidungnya di lengan Riki.
Riki pasrah, mungkin ini nasibnya harus melihat istrinya melahirkan anak Albert. Mungkin ini karmanya untuk merawat anak dari pria yang sangat dibencinya sampai ketulang sumsum. Riki ingin berjalan tapi lututnya benar-benar lemas.
“Neng, sebentar.” Riki membungkuk dan bertumpu pada lututnya. Berjuang untuk bernapas, menahan air matanya untuk keluar dari matanya. Rasa sakit benar-benar menyayat hati Riki, dadanya sakit bukan main.
“Aa, ayo naik sepeda, Cicil mohon.” Cicil menarik-narik badan Riki.
“Iya, Sayang. Sebentar yah, Neng.”
Cicil diam menatap Riki tanpa berkata satu kata pun. Cicil hanya memeluk Riki dari samping dan menciumi pipi suaminya itu. “Aa, sepeda.”
Riki menengokkan kepalanya kearah Cicil, rasanya dia ingin memaki Cicil yang memaksakan keinginannya untuk naik sepeda di malam hari. Tapi, saat melihat manik mata cokelat milik Cicil. Rasa marah Riki luntur begitu saja.
“Iya, ayo.”
Cicil langsung menarik tangan Riki untuk keluar dan mencari sepeda milik Edy yang Edy tinggalkan disana.
Mereka berjalan dalam diam, pikiran Riki kalut. Riki benar-benar ingin menangis. Hatinya terlalu sakit. Ternyata menjalani sesuatu lebih sulit dari pada mengucapkannya. Pedih.
“Neng...”
“Itu sepedanya, Aa.” Cicil menunjuk sepeda milik Edy, tangannya mengusap air mata yang mengalir di pipi Riki.
“Kamu kenapa nangis?” tanya Cicil sambil mengusap pipi Riki.
“Debu, debu.” Riki berkata sambil mengambil sepeda milik Edy. Riki tidak bisa mengatakan hatinya sakit bukan main. Kenyataan benar-benar menghantam dirinya, dia tidak kuat menerima kenyataan yang ada.
“Naik, Neng. Mau kemana ini?” tanya Riki pada Cicil yang sudah duduk dibelakang. “Pegang yang bener, Aa nggak mau kamu jatuh.”
“Iya.”
__ADS_1
“Mau, kemana?” tanya Riki lagi, diliriknya jam di tangannya jam sepuluh malam. Sudah malam, lalu lintas didepannya pun sudah sangat-sangat sepi.
“Kewarung tenda punya Ria. Yang jual ayam bakar,” jawab Cicil sambil memeluk erat pinggang Riki.
“Iya, kalau kesana nggak papa. Deket,” ucap Riki sambil menjalankan sepedanya. Udara dingin langsung menerpa wajah Riki memberikan kesegaran untuk dirinya. Entah karena apa, Riki merasa mampu bernapas kembali dengan baik saat mengayuh sepedanya.
Riki dan Cicil diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Pelukkan Cicil benar-benar erat, membuat Riki menahan air matanya. Astaga, sesakit inikah mencintai seorang Cicil Bouw, kurangkah kadar cintanya untuk Cicil. Sampai tuhan memberikan cobaan seberat ini pada dirinya.
Tolong, tolong... tolong Riki, bibirnya mungkin bilang kalau dia sanggup mengurus anak Albert. Tapi, sumpah demi apapun didalam hatinya Riki menjerit keras. Riki sebenarnya ingin berteriak histeris dan memaki pada tuhan. Riki tak sanggup.
Riki menghentikan sepedahnya di lapangan kosong, lapangan yang pada pagi hari sering dipakai untuk joging dan olahraga kecil bagi orang-orang disana.
“Aa nggak kuat, Neng. Maaf,” ucap Riki sambil turun dari sepeda dan menaruh sepeda itu secara serampangan. Riki berjalan meninggalkan Cicil yang menatap Riki.
Riki berjalan ketengah lapangan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Hatinya sakit bukan main, sudah cukup. Sudah cukup kesabarannya, tuhan benar-benar mempermainkan kehidupannya sampai seperti ini. Kenapa, apa salahnya? Salahkah dirinya mencintai Cicil, salahkah bila dia ingin bahagia dengan wanita yang dia cintai setulus hidupnya.
“AAAAAAAAAHHHHHHHH....!?”
Riki berteriak keras sekali, saking kerasnya tampak seluruh urat-urat di wajahnya keluar. Tangisnya pecah. Riki sudah tidak peduli bila ada yang melihat dirinya seperti ini.
Riki ada di titik terendah hidupnya, dia harus bersabar dan berjuang menerima segalanya, demi kewarasan istrinya. Sedangkan, untuk melakukan itu semua Riki harus menggadaikan kewarasan miliknya. Riki nggak kuat.
Riki terduduk dan menangis terisak, tangannya mengusap air matanya berpuluh-puluh kali. Namun, nihil air matanya terus mengalir deras. Riki tidak sanggup, Riki ingin mundur.
Riki ingin mundur tapi, itu tidak mungkin. Cintanya pada Cicil benar-bener memaksanya untuk menumpulkan logika di otaknya, menggerus harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
Astaga kenapa cinta sebrengsek ini, apakah ini karmanya karena dulu dia meninggalkan Cicil. Menolak untuk berjuang mempertahankan Cicil hanya karena dirinya orang biasa.
“Tuhan, tolong saya. Saya nggak kuat tuhan, saya harus bagaimana?” isak Riki.
“Aa,” panggil Cicil sambil menyentuh pundak Riki.
“Neng, maaf Neng. Aa nggak kuat, sakit banget ternyata. Tapi, Aa nggak mau ninggalin Neng. Neng terlalu berharga buat Aa sia-siain. Neng, segalanya buat, Aa.” Riki mengambil tangan Cicil dan menciumi jari jemari tangan Cicil.
Riki menatap Cicil, disentuhnya bibir Cicil dengan lembut dari kiri ke kanan. “Nggak papa, sayangnya Aa. Cuman sakit.”
“Aa, sakit apa?” tanya Cicil pelan sambil menggigit jempol milik Riki, mengesapnya pelan.
Riki tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Cicil, istrinya ini benar-benar terlalu sempurna untuk dirinya. Apakah karena itu tuhan memberikan cobaan yang sangat berat untuknya. Menyiksanya dengan anak milik Albert dikandungan Cicil.
“Sakit ini, Neng.” Riki menarik tangan Cicil kedada Riki. “Sakit banget, pedih.”
“Pedih, kenapa?” tanya Cicil panik sambil menatap Riki.
Riki menghela napasnya, “Sakit, ternyata anak yang didalam kandungan kamu anak Albert ‘kan. Aa, sangka Aa kuat buat nerimanya. Ternyata, sakit banget Neng. Aa nggak kuat.”
“Aa...”
Riki langsung menyentuh mulut Cicil dengan jari telunjuknya, meminta Cicil untuk tidak berbicara sama sekali.
“Sakit ternyata, Aa rasanya ingin mundur. Ninggalin Neng tapi, Aa nggak kuat. Aa terlalu cinta sama Neng. Neng segalanya buat Aa.”
“Aa, juga segalanya buat, Neng.” Cicil berkata sambil mengambil amplop dikantongnya dan menyimpannya ditangan Riki.
“Aa segalanya buat Neng dan bayi kita,” jawab Cicil sambil menatap Riki.
Riki langsung menatap amplop yang tadi dibaca oleh Cicil. Disana tertulis dengan tulisan hitam tebal.
HASIL TEST DARI SAUDARA RIKI TRINA.
__ADS_1
“Neng, ini.” Riki menatap manik mata Cicil, memerangkap manik mata coklat kesukaannya, miliknya.
“Iya, Aa. Ini anak kamu, bukan anak Albert. Amplop yang aku buka itu hasil test kamu. Yang Albert ini,” ucap Cicil sambil menyerahkan amplop yang masih bersegel.
Riki yang penasaran dengan hasil Albert langsung merobeknya. Dibacanya dengan cepat tulisannya. Riki tertawa sambil memeluk Cicil.
Dengan cepat diciuminya setiap jengkal wajah Cicil. Riki langsung berjongkok dan mengelus perut Cicil.
“Hai, sayang. Maaf, yah Baba jarang ngobrol sama kamu. Maaf, sekarang Baba bakal sering ngobrol sama kamu. Baba sayang kamu,” ucap Riki sambil mengecup perut Cicil.
Cicil tersenyum sambil mengusap rambut Riki yang hitam pekat. Rambut yang selalu Cicil tarik bila mereka sedang bermesraan.
“Baba, sayang kamu, Nak.”
Dug...
“Aw...” Cicil tiba-tiba mengaduh dan menyentuh perutnya pelan.
“Kenapa, Neng?” tanya Riki panik sambil menatap Cicil.
Cicil tersenyum dan menarik tangan Riki kesamping kiri perutnya. “Bilang lagi, Baba sayang dede bayi.”
“Baba sayang kamu, Nak,” ucap Riki dan...
Dug...
“Neng itu tadi,” tanya Riki kaget saat merasakan gerakan diperut Cicil. “Itu tadi?”
“Itu tadi anak kamu, Aa. Darah daging kamu,” jawab Cicil sambil memeluk Riki yang sudah berdiri.
“Neng, boleh Aa cium kamu?” tanya Riki sambil melepaskan pelukkanya dan menyentuh bibir bagian bawah Cicil.
“Boleh,” jawab Cicil sambil menutup matanya.
Riki mendekatkan bibirnya dan mengecup bibir Cicil pelan. Dihisapnya bibir Cicil yang hangat dan manis, direngkuhnya tubuh Cicil, Riki menekan tubuhnya dengan tubuh Cicil, meleburkannya.
“Neng, Can we kiss forever?” tanya Riki sambil mengurai ciumannya.
(Bisakah kita berciuman selamanya?)
Cicil tersenyum sambil menggoyangkan hidungnya dipucuk hidung Riki. Sambil tersenyum manja.
“Absolutely, yes.”
(Tentu saja, iya)
Riki tersenyum dan mencium bibir mungil istrinya, dibawah sinar rembulan yang tampak tersenyum melihat kebahagiaan dua insan. Kebahagian Cicil dan Riki.
Cicil Trina istri Riki. Ya, istrinya yang detik ini sedang mengandung anaknya. Darah dagingnya.
•••
Setiap masalah selalu ada hikmah. Iya, Kaka Gallon adalah salah satu penulis sinting yang menyajikan masalah yang membuat pembaca murka.
Tapi, Kaka Gallon tetap bersikukuh menyajikan cerita sinting ini. Makanya, pada awal cerita Kaka Gallon selalu berkata, baca ini dengan pikiran terbuka. Seterbuka-bukannya, karena dibalik masalah yang berat, selalu ada hikmahnya.
Jadi, bagi semua pembaca Kaka Gallon yang sedang berjibaku dengan masalah apapun dikehidupannya. Yuk, tetap semangat. Jangan patah arang, kalian hebat dan kuat. Terus ulang itu didalam hati. Yakinlah, kalian bisa melewatinya.
Kalian kuat...!!
__ADS_1
Jangan lupa itu tombol like diteken, votenya tolong dikasih buat novel ini. Sangat menerima bunga dan kopi (asal jangan bunga bangkai dan sianida hahaha).
XOXO GALLON.