
Bayi keju lelah sama Mamih dan Baba yang malah ngomongin masa nifas bukan mikirin nama buat dia. Jadi tidur aja udah lah 🤣
“Cicil!?”
“Iya,” jawab Cicil takut-takut.
“Masa kamu nggak nyiapin nama anak sih,” ucap Rea geram. Rea tidak habis pikir apa yang diperbuat anak dan mantunya sampai-sampai lupa menyiapkan nama anak pertama mereka.
“Itu ... Mih.” Cicil berjuang untuk memikirkan suatu alasan yang tepat agar tidak kena semprot Rea yang detik ini sedang menatapnya bersiap untuk menyerangnya.
“Apa? Kamu tuh yah, sini kalian berdua,” panggil Rea sambil menarik Cicil dan Riki dari kerumunan orang-orang.
Cicil pasrah saat rea menariknya kepojokkan ruangan, menjauhi keluarganya yang hanya bisa menertawakan Riki dan Cicil yang lupa memberikan nama pada anaknya.
“Kalian ini gimana sih? Masa kalian lupa buat ngasih nama anak. Kalian itu suka ngobrol nggak sih?” tanya Rea kesal.
“Suka Mih,” jawab Cicil dan Riki berbarengan.
“Terus kenapa sampai lupa mau kasih nama anak?” Rea berjalan hilir mudik sambil mengusap-usap kepalanya bingung. Kenapa mantu dan anaknya ini sama sekali belum menyiapkan nama anak. “Selama ini kalian manggil anak kalian apa!?”
“Bayi keju,” jawab Riki dan Cicil kompak.
“Hah?! Kalian sangka anak kalian kue keju? Aduh tolong, kalian ini sering komunikasi nggak sih?”
“Sering Mih,” jawab Cicil sambil mundur satu langkah dan menyelipkan tubuhnya di belakang badan Riki, Cicil itu paling malas bila Rea sudah ngambek. Bibirnya tidak akan berhenti berkicau.
“Terus kalian ngobrol apaan? Jangan bilang ngomongin bahasa tubuh mulu!?” tebak Rea, Rea kemudian melihat ekspressi Cicil dan Riki yng tersenyum malu-malu. Detik itu juga Rea tau sepertinya menantunya sudah terkena virus mesum anak perempuannya.
“It—“
“Nggak usah dijawab, Mamih udah tau jawabannya. Haduh, masa kamu kasih nama anak aja nggak bisa,” cerocos Rea sambil menghentak-hentakkan kakinya geram.
“Mih, ini Riki ama Cicil udah ada kok namanya,” dusta Cicil sambil menyikut perut Riki.
Riki yang disikut oleh Cicil hanya memamerkan gigi-giginya yang putih, bingung. Karena, sampai detik ini dia bingung mau memberikan nama apa pada anak laki-lakinya. Ya kali anaknya diberi nama kastangel.
“Riki, jadi siapa namanya?” tanya Rea dengan tatapan menyelidik. Rea bersumpah akan mencakar anak dan mantunya kalau cucunya diberi nama Keju Kraft Trina. Disangka cucunya brand ambassador salah satu merk keju terkenal di Indonesia apa?
“Namanya, Ke—“
“Kalau kamu bilang keju Mamih kutuk kalian berdua. Kasih nama anak seenak jidat, mikir dulu. Nggak kasian apa nanti pas gede dipnggil temen-temennya keju. Aduh ... nggak kebayang deh.” Rea mengurut keningnya sambil menghembuskan napasnya keras, berharap dengan menghembuskan napasnya dapat meredakan angkara murkanya pada anak dan mantunya.
Cicil dan Riki saling bertatapan, mereka berdua mulai berkomunikasi lewat tatapan. Mereka saling menyalahkan, Riki berpikir Cicil yang akan mencarikan nama untuk bayi keju. Sedangkan, Cicil berpikir hal yang sama, makanya dirinya tidak pernah memikirkan siapa nama anaknya itu.
“Hei!?” panggil Rea.
__ADS_1
“Iya Mih,” jawab Riki yang langsung mendapati pelototan Rea yang benar-benar menakutkan.
“Pokoknya Mamih kasih kalian waktu tiga puluh menit. Kalian harus mendapatkan nama yang bagus untuk cucu Mamih atau ....” Rea menggantungkan perkataannya untuk memberikan efek dramatis.
“Apa?”
“Mamih bawa cucu Mamih kerumah dan nggak Mamih izinin kalian buat jenguk baby keju. Ngerti?” ancam Rea sambil mengacungkan tasnya pada Cicil.
Cicil langsung bergidik saat mendapatkan ancaman dari Mamih. Ancaman tadi tidak main-main, Mamih pasti akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keuangan Cicil bila membuat marah Mamihnya itu. Ibu mentri keuangan kelurga Bouw yang terhormat.
“Tapi kan lucu Mih, Keju. Tuh, tadi Mamih bilang bayi keju, kan,” bela Cicil, sebenarnya dia juga nggak mau memberikan nama anaknya keju. Tapi, ini saat genting dia harus berpikir kreatif demi menyelamatkan dirinya dan Riki dari amukkan ibu mentri keuangan keluarga Bouw.
“CICIL BOUW!?”
“Iya, Mih.”
“Kalau kamu tetep kasib nama cucu Mamih keju, Mamih ganti nama kamu ke pengadilan!?” ancam Rea.
“Ih ... jadi apa?”
“CORO!?” Rea berkata dengan tegas sambil menatap tajam Cicil dan Riki. Tak lupa memberikan gerakan eyes on you dengan jari telunjuk dan tengahnya.
“Masa aku ganti nama jadi Coro? Emang aku kecoak apa,” ucap Cicil kesal sambil menyilangkan tangannya di dada.
“Lucu, Neng. Neng Coro Bouw,” ledek Riki.
Cicil langsung memukul lengan Riki kesal, “Seneng yah liat Istrinya dimarahin Mamih,” rutuk Cicil.
“Ya ... senenglah, masalahnya Aa nggak bisa marahin kamu. Jadi, terwakilkan sama Mamih.” Riki berkata sambil mengacungkan kedua jempolnya keudara.
Cicil langsung meliuk-liukkan bibirnya dengan kesal dihadapan Riki. Tawa Riki meledak saat melihat bibir Cicil yang meliuk-liuk, bukannya kesal Riki malah gemas melihat bibir Cicil.
“Nah kan malah ngetawain,” maki Cicil kesal.
“Abisnya bibir kamu kok jadi kaya penari ular gitu, meliuk-liuk manja,” ucap Riki sambil menjawil bibir Cicil yang ranum. “Kalau nggak ada orang udah aku cium kamu.”
“Cium aja,” pinta Cicil sambil memajukan bibirnya, meminta Riki menciumnya.
“Kamu tu—“
“Sampai sepuluh menit lagi Mamih nggak dapet nama buat Cucu Mamih, jangan harap kalian bisa liat Cucu Mamih lagi dan Cicil nama kamu Mamih ganti beneran jadi Coro Bouw!?” teriak Rea dari sebrang ruangan yang kesal melihat anak dan mantunya malah bermesraan bukannya memilihkan nama untuk bayi keju.
Riki langsung memundurkan wajahnya dan berputar ditempat sambil melihat sekeliling ruangan mencoba mencari ilham. “ILHAM DATANGLAH!?” teriak Riki di dalam hatinya.
Sedangkan, Cicil langsung menggaruk-garuk kepalanya, entah kenapa semenjak melahirkan kadar lemot Cicil naik ketingkat tertinggi. Sepertinya mulai besok Cicil harus banyak-banyak minum vitamin khusus otak, agar lebih pintar.
Pikiran Cicil dan Riki pun langsung berkelana untuk mencari nama anak yang pas untuk anaknya. Cicil menggulirkan jempolnya dilayar handphonenya demi mendapatkan nama yang sesuai. Sedangkan, Riki menggerak-gerakkan gelas kekanan dan kekiri mencoba mencari ilham untuk nama anak kesayangannya itu.
__ADS_1
“Neng.”
“Aa.”
Riki dan Cicil saling tatap sambil tersenyum, seperti sudah mendapatkan ilham dari yang maha kuasa. Sebuah nama yang akan mereka persembahkan untuk anaknya.
“Gimana kalau nama anaknya ini ....” Riki berkata sambil tersenyum pada Cicil.
“Ih ... lucu, nama tengahnya ini aja, terus kita tambahin Trina. Biar nggak susah kalau pergi haji,” celetuk Cicil.
“Astaga Neng, jauh amat pikirannya,” kekeh Riki sambil mengecup pucuk rambut Cicil.
“Eh, bener sekarang tuh kalau bikin pasport harus tiga nama,” ucap Cicil sambil mengangkat ketiga jarinya ke udara.
“Oke deh, kalau gitu. Jadi udah yah namanya itu aja, nggak ganti lagi?” tanya Riki.
“Iya, itu aja namanya, bagus. Ayo ... sekarang kita ke Mamih, kalau kelamaan bisa-bisa nama aku udah berubah jadi Coro lagi,” kekeh Cicil sambil menarik tangan Riki.
Riki dan Cicil pun berjalan kearah Rea yang sedang menggendong bayi keju dan di kelilingi oleh keluarga mereka.
“Mih,” panggil Cicil.
“Apa? Udah nemu namanya, hah?”
“Udah Mih,” jawab Cicil cepat, seram juga melihat pelototan Rea. Terakhir Cicil dipelototi itu saat dirinya ketahuan bawa Juan ke apartemennya dulu.
“Siapa? Keju? Kastengel? Nastarino? Hah?”
“Ih ... bukan.”
“Siapa?”
“Namanya Richie Joattar Trina.”
•••
Nah ... akhirnya namanya ada juga, setelah mendapatkan amukkan Mamih Rea sang Ibu Mentri Keuangan Keluarga Bouw yang Terhormat 🤣🤣.
Akhirnya bayi keju punya nama, yeahh...
Terima kasih yang sudah menyumbang nama ❤️❤️
Love you ❤️
XOXO GALLON
__ADS_1