
Pletak...
Saat Jeff dan Riki memasuki ruangan dimana Cicil dan Rea berada, Riki merasakan bahunya di sambit koran.
“Aduh... Abah,” ucap Riki sambil mengusap bahunya.
“Budak belegug, eta pamajikan ceurik ngalakan ningalkeun. Ngalakah, ngagebukkan si Albert. Yeuh teu kudu di gulung si Albert mah. Engke oge, modar sorangan. Eta pamajikan nepikeun ka kitu, belegug sia...!?” teriak Abah sambil memukuli bahu Riki keras. (Anak bodoh, itu istri kamu nangis malah ditinggalin. Malah, mukulin si Albert. Dengerin, nggak usah digebukkin si Albert. Nanti juga, mati sendiri. Itu istri kamu sampai kaya gitu, bodo kamu.)
Abah benar-benar murka pada Riki, “Abah nggak pernah yah, ngajarin anak-anak Abah buat ningalin pasangannya. Nggak pernah, kamu tega bener...”
“Abah, Aa Riki baik kok, maaf yah. Maaf tadi Cicil teriak-teriak. Udah jangan dipukul lagi,” pinta Cicil sambil berdiri diantara Riki dan Abah.
“Dasar borokokok..!” hardik Abah kesal pada Riki.
Riki hanya diam dan menundukkan kepalanya, apa yang dikatakan Abah benar. Harusnya, tadi dia bisa menjaga emosinya. Istrinya lebih membutuhkannya dari pada siapapun disana.
“Abah, udah. Riki nggak salah. Si Albert aja gila. Gimana kalau kita keluar, ada yang mau saya bicarakan dengan Abah,” ucap Jeff sambil merangkul Abah.
Abah kaget mendengar besannya ini. Dari awal Riki menikahi Cicil, baru sekarang besannya ini berbicara dengan normal pada dirinya. Biasanya, besannya ini hanya mendengus dan mendelik saat melihat dirinya. Mungkinkah, besannya ini sudah mendapatkan hidayah?
“Ngomongin apa, Pak?” tanya Abah bingung.
“Jeff, panggil Jeff aja.” Jeff berkata sambil merangkul Abah dan membanya keluar dari sana.
“Mamih keluar juga yah, Mamih mau kekamar mandi.” Rea pergi meninggalkan Cicil dan Riki.
Sepeningalan Rea, Cicil bertanya pada Riki. “Aa dari mana? Papih ngomong apa?”tanya Cicil.
Riki langsung mengecup pucuk rambug Cicil, “Papih bilang, tolong jaga anaknya. Katanya, anaknya manja dan nafsunya segede gunung Tangkuban Perahu,” canda Riki.
Cicil tertawa sambil mengusap ingusnya dihidung. “Hahhaa... maaf yah, maaf istri kamu ini manja, padahal dulu aku nggak gini loh, tanya aja Juan. Aku nggak pernah manja sama dia.”
“Hidih, ngapain nanya Juan. Baguslah kamu nggak pernah manja sama dia,” ucap Riki sambil mengambil tangan Cicil dan menciumnya. “Kamu manjanya ke aku, aku suami kamu. Jadi, manjanya ke aku, kalau manjanya ke Juan nanti kamu dimurkai Iis, baru tau rasa.”
Cicil tersenyum pada Riki, “Beneran, tadi Papih ngomong apa? Kalau ada kata-kata Papih yang bikin kamu marah, maaf yah.”
“Nggak ada kata-kata Papih yang bikin aku marah. Nggak ada, Neng.”
Cicil menatap wajah Riki, berusaha untuk mencari kebohongan di wajah suaminya itu. “Beneran?”
“Iya, nggak ada apa-apa.” Riki mengusap rambut Cicil pelan.
Tok...tok...
Suara ketukkan di pintu membuat Cicil menyembunyikan dirinya dibalik badan Riki dan mencengkram lengan Riki. “Kenapa, Neng?”
“Neng, takut Aa di bawa lagi. Neng, nggak mau,” ucap Cicil sambil mengeratkan pelukkannya.
__ADS_1
“Hahahaa... nggak, nggak bakal dibawa lagi.” Riki berkata sambil mengacak rambut Cicil pelan.
“Masuk.” Riki berkata, sesaat Riki berkata muncul seseorang dari balik pintu.
“Pak, saya diminta Pak Hakim, untuk memanggil Pak Riki dan Bu Cicil kembali ke tuang sidang. Saat ini akan dibacakan vonis hukuman untuk Pak Albert.”
“Kami kesana,” ucap Riki sambil menarik Cicil pelan. “Nggak papa, ada Aa. Aa nggak bakal kemana-mana lagi.”
Cicil menganggukkan kepalanya dan berjalan disebelah Riki. Mereka berjalan sambil saling menguatkan lewat genggaman tangan.
Mereka bisa, mereka kuat...
•••
Tok tok tok...
Pak Hakim memukulkan palunya, setelah membacakan putusan pengadilan. Albert di putuskan bersalah dan mendapatkan vonis 10 tahun penjara dan denda sesuai hukum yang berlalu.
Cicil yang mendengar itu semua langsung memeluk Riki. Rasanya ada beban yang terangkat dari bahunya. Beban bernama Albert Connor. Setidaknya, dia tidak akan melihat lagi Albert Connor dalam waktu dekat ini.
Semua orang langsung memberikan selamat pada Cicil dan Riki. Kharis memeluk Cicil dengan erat.
“Maafin aku yah, aku udah jahat sama kamu dulu,” ucap Kharis sambil memeluk Cicil.
Cicil tersenyum pada Kharis, “Iya nggak papa, makasih yah udah mau bantu aku sekarang.”
“Ta, udah. Udah selesai.” ucap Cicil sambil memeluk Taca.
“Iya, selamat yah, kamu kuat Cil. Ada Aa Riki disebelah kamu. Kuat yah,” ucap Taca.
Semua orang seperti ingin memeluk Cicil, keadaan benar-benar diliputi perasaan haru. Saat keluar dari ruangan pengadilan. Cicil langsung disambut Tutti Frutty dan para wanita lainnya. Semua bersuka cita dengan putusan pengadilan.
“Cicil, kamu kuat,” ucap Tutti sambil memeluk Cicil.
“Ink juga berkat dukungan, Bu Tutti. Makasih yah,” ucap Cicil.
“Sama-sama Cicil, sehat-sehat yah, nanti kita olah raga bareng lagi,” canda Tutti pada Cicil.
“Iya, Bu.”
Cicil dan Tutti pun berpelukkan, saling memberikan semangat dalam diam.
•••
“Pak Albert, bagaimana? Bapak mau menerima ini semua atau banding?” tanya Susanto pda Albert yang selama pembacaan Vonis hanya diam dan tersenyum.
“Pak...” Susanto memanggil kembali Albert. Abert tam bergeming, dia hanya diam dan menatap satu titik di depannya.
__ADS_1
“Pak Albert, maaf,” panggil Susanto lagi. Susanto mencoba untuk mendapatkan perhatian dari Albert.
“Iya,” jawab Albert pelan sambil menatap Susanto.
“Bapak, mau melakukan banding atau menerima keputusan, Pak?” tanya Susanto sambil membuka berkas-berkas diatas meja.
“Nggak usah, saya terima putusan,” jawab Abert santai.
“Pak, kalau bapak menerima putusan Bapak akan di penjara selama 10 tahun dan den....”
“Nggak papa, saya terima. Semuanya saya terima, selama saya di penjara bersama Cicil, iya kan, Baby,” ucap Albert sambi menolehkan kepalanya ke kanan, menatap Cicil yang sedang tersenyum pada dirinya.
“Iya, aku udah cocok pake baju ini?” tanya Cicil pada Albert. Cicil dihadapan Albert sedang menggunakan baju tahanan berwarna orange, baju yang sama yang dikenakan oleh Albert saat ini.
“Sexy, Baby. Orange is your color,” ucap Albert sambil tersenyum pada Cicil. (Sexy, sayang. Orange adalah warna yang cocok untuk kamu)
“Masa? Nggak aneh?” tanya Cicil sambil menepuk kedua pipinya pelan.
“Nggak, Baby. Kamu cantik kaya gitu,” ucap Albert sambil tersenyum. Senyumannya sakit, pukulan Riki benar-benar membuat wajahnya babak belur. Lelaki sialan itu memukulnya tanpa ampun.
“Kenapa?” tanya Cicil sambil mendekati Albert dan melihat wajahnya.
“Dipukul sama Riki...”
“Idih, ngapain Riki mukulin kamu, Sayang? Ah, dia sirik sama kamu. Dia sirik karena sekarang aku bakal disamping kamu terus.
“Kayanya, dia sirik kamu bakal selalu sama kau, hahahahhaaa....”
Susanto hanya bisa terperangah melihat kliennya yang berbicara sendiri dihadapannya. Sepertinya, kliennya ini sudah hilang akal.
“Pak, berarti semuanya sudah selesai?” tanya Susanto sambil menutup semua berkas dihadapannya dan membereskannya dengan cepat. Makin cepat dia menjauh dari Albert makin baik.
“Oh, yah. Sudah selesai Pak Susanto. Senang bekerja sama dengan anda. Terima kasih, berkat anda saya bisa menikah dengan Cicil,” ucap Albert sambil melirik ke kanan. Entah apa yang di lihat Albert, karena Susanto tidak melihat apapun disana.
“Nikah?”
“Iyah, saya nikah sama Cicil. Terima kasih, Pak,” ucap Albert sambil tersenyum lebar.
“Sama-sama?” tanya Susanto kebingungan, sepertinya otak Albert sudah kebelinger. Lebih baik dia cepat-cepat pergi dari sana. Meninggalkan kliennya dan menutup kasusnya. Mencari kasus lainnya, yang lebih menguntungkan bagi dirinya dan citranya.
•••
Done....
Albert sudah masuk penjara...
Ah, buat putusan vonis, bisa kasih tau kaka gallon sebenernya di undang-undang itu berapa tahun. Kaka Gallon nggak tau.
__ADS_1
XOXO GALLON.