
“Aku nggak tau bapaknya siapa. Kalau suami aku, aku bakal bersyukur banget, Suster,” ucap Cicil sambil mengatupkan kedua tangannya di hadapan wajahnya.
“Tapi, kalau anaknya Albert. Aku nggak bakal sanggup, Sus. Kasian suami saya, Sus. Suami saya terlalu baik untuk disakiti kaya gini.” Cicil terus berjalan mondar mandir didalam kamar mandi.
Klik...
“Maaf saya mau ke....”
“Keluar, kamar mandinya di booking. Keluar cepet,” perintah Cicil sambil mendorong wanita yang baru saja akan masuk kedalam kamar mandi.
Wanita tersebut langsung kelur dari kamar mandi dengan kebingungan. Cicil dengan cepat mengunci pintu kamar mandi. Cicil langsung berjongkok di lantai.
“Gimana ini, gimana?” tanya Cicil bingung. “Kalau ini anak Riki dengan senang hati aku rawat. Tapi, kalau ini anak Albert, aku nggak bakal sanggup Suster. Aku nggak bakal sanggup setiap hari liat anak dari orang yang nyiksa aku. Aku harus gimana suster,” isak Cicil bingung.
Ibun hanya diam menatap Cicil, dengan cept Ibun berjongkok di hadapan Cicil. “Mbak, coba tenang dulu. Kita itung bareng-bareng yah.”
“Itung?”
“Iya, kita itung bareng-bareng. Kapan hari pertama Mbak datang bulan?” tanya Ibun sambil mengambil handphonennya dan melihat kalender di handphonennya.
“Tanggal 29 bulan kemarin aku dateng bulan, sekarang tanggal 26. Pokoknya pas aku nikah itu aku udah selesai datang bulan.” Cicil menatap Ibun sambil sesenggukkan.
“Berarti kandungannya sebulan, kamu setelah nikah berhubungan sama sua...”
“Ya iyahlah, Suster. Suami saya susah banget diajak hubungan kalau nggak nikah dulu katanya. Aku hubungan pagi, siang, malem....” Cicil menceritakan kegitan suami istrinya tanpa filter, sampai kasus dirinya dengan Albert.
Ibun hanya bisa menahan senyumnya mendengar perkataan gadis didepannya ini. Entah polos atau apa. “Ya udah, kalau saya liat. Mbak ini hamil 1 bulan. Tapi, kalau buat tau siapa Ayahnya. Saya sarankan Mbak lakukan test DNA.”
“Test DNA?” tanya Cicil bingung. “Jadi saya harus nunggu ini anak lahir dulu? Ya kalau ini anak Riki, kalau anak Albert, masa harus saya masukin lagi kedalem rahim?” Cicil panik bukan main, saking paniknya dia tarik-tarik rambutnya ke atas.
“Nggak usah, Mbak. Anak bisa di cek siapa ayahnya saat kandungan sudah 3 bulan.” Ibun berusaha untuk menenangkan Cicil yang extra panik.
“3 bulan?” tanya Cicil sambil menatap Ibun.
“Iya, 3 bulan. Anak bisa di cek setelah 3 bulan.”
“Hasilnya?” tanya Cicil penasaran.
“Hasilnya bisa ditunggu selama seminggu, mbak Cicil. Tapi, saat datang diharapkan datang bersama suaminya. Biar sama-sama enak atau kalau mbak bingung. Mbak, bisa ambil rambut suami mbak, potongan kuku atau air liur dari sikat gigi.”
“Terus kesini lagi?” tanya Cicil bingung.
“Iya, ini simpen nomer telepon saya, nanti kalau udah tiga bulan kita lakuin prosedurnya. Sekarang, mbak mau ngomong soal kehamilan ini atau nggak?” tanya Ibun.
“Nggak, nggak mau. Aku bingung, aku yakin seratus persen, suami aku bakal larang aku ngelakuin test DNA. Suami aku itu entah titisan malaikat atau apa, dia itu baik banget. Kaget aku tuh kadang sama kelakuan suami aku. Kadang suka mikir, suami aku ini turunan malaikat atau apa, jadi manusia baik banget,” cerocos Cicil sambil berdiri dan mencuci mukanya.
__ADS_1
“Bukannya enak, Mbak. Suami mbak baik?” tanya Ibun.
“Iya, tapi ini tuh kebaikkan. Walau kadang kolokan dan rendah diri. Tapi, baiknya itu astaga. Nggak ada obatnya.” Cicil berkata sambil melap wajahnya dengan tissue kamar mandi.
“Ya udah, Mbak nggak mau ngasih tau suaminya dulu?”
“Iya, tunggu siapa bapaknya baru aku kasih tau. Suster...”
“Iya?”
“Doain saya, moga saya nggak ketauan kalau saya hamil.” Cicil berkata sambil menatap Ibun.
“Iya, doa terbaik untuk anda.”
•••
Sudah dua minggu ini Riki bingung dengan kelakuan Cicil. Cicil bisa marah-marah tidak jelas bila Riki berjalan di dekatnya. Berkali-kali menyuruhnya mandi. Marah-marah di pagi, siang dan sore hari, sampai Riki merasa bila dia bernapas pun salah. Tapi, anehnya dimalam hari Riki habis di makam oleh Cicil, Cicil bisa ngambek bila Riki menolak untuk melakukan hubungan suami istri.
“Neng, kamu teh kenapa sih?” tanya Riki akhirnya yang bingung dengan kelakuan Cicil yang benar-benar tidak jelas.
Cicil yang sedang memakan bongkohan keju menatap Riki. “Nggak kenapa-kenapa, emang kenapa?”
Riki menggelengkan kepalanya bingung, rasanya Riki ingin mencubiti pipi Cicil karena gemas bukan main. “Kenapa?”
“Iya kenapa?” tanya Cicil bingung.
Cicil mengerjapkan matanya bingung bagaimana menjawab pertanyaan Riki. Tidak mungkin dia bilang kalau dirinya hamil. “Nggak kenapa-napa. Cuman perasaan kamu aja.”
“Perasaan aku gimana, Neng. Hari ini aja, kamu udah maksa Aa mandi lima kali. Lima kali, Neng.” Riki mengacungkan tangannya ke udara. “Aa emang bau banget apa, kalau bau malem-malem nggak mungkin kamu gelendotan dan belingsatan diatas badan Aa.”
Cicil yang sedang memakan bongkahan keju yang entah keberapa hanya bisa tersipu malu. Suaminya ini benar-benar pasrah dengan keinginannya di malam hari. “Aa nggak bau kok, cuman itu parfume Aa tuh, kadang baunya aneh. Kaya bau susu basi.”
“Kan, kamu yang beliin parfumenya, Neng. Semenjak nikah, mana pernah Aa beli perlengkapan mandi dan badan. Kamu, yang beli semuanya. Aa mah nurut aja.” Riki benar-benar kesal dengan istrinya ini, ditambah hampir setiap waktu Riki selalu melihat Cicil memakan keju. Apa istrinya ini turunan tikus?
“Lupa, Aa. Maaf.” Cicil menggaruk kepalanya pelan.
“Kamu teh kenapa?” tanya Riki lagi sambil menatap Cicil lekat-lekat.
Cicil hanya bisa menelan salivanya, ternyata menutupi fakta bahwa dia hamil, itu sulit. Kadar sifat menyebalkan dirinya naik seratus persen, “Nggak apa-apa.”
“Terus ini sejak kapan kamu hobi makananin keju, sampai si Edy ngambek karena stock keju cepet abisnya. Kamu makanin keju-kejunya, Neng?” tanya Riki bingung.
Cicil yang sedang memasukkan keju kemulutnya hanya bisa terdiam. “Kamu nggak ikhlas aku makanin keju ini. Ya udah ini ambil. Aku beli sendiri aja.”
Cicil mendorong kejunya dengan kesal, secepat kilat Cicil mengambil tasnya dan berlalu dari sana. Meninggalkan Riki yang kebingungan.
__ADS_1
“Salah apa lagi, hamba ya tuhan...!!!” ucap Riki sambil mengangkat tangannya keudara.
Riki mengusap wajahnya dengan kesal. Saking kesalnya dia menghentak-hentakkan kakinya kelantai. Saking kesanya Riki tidak sadar menyengol tas make up milik Cicil.
Bruk...
Semua benda didalam tas Cicil bertumpahan ke lantai. Dengan cepat Riki memasukkannya kembali kedalam tempatnya.
“Bisa ngamuk Cicil, kalau tau aku ngejatuhin tas make upnya.” Riki memasukkan satu demi satu benda-benda yang hanya tuhan dan wanita yang tahu fungsi dan kegunaannya.
Riki terdiam saat melihat sesuatu berwarna biru dengan tulisan ‘pregnant’.
“Testpack siapa ini?” tanya Riki sambil membulak balikkan benda ditangannya itu.
Klik...
“Aa, aku mau...”
“Ini punya siapa,Neng?” tanya Riki sambil menunjukkan testpack ditangannya.
Cicil langsung terdiam dan hanya bisa mematung berdiri ditempatnya. Rasa takut langsung menjalar disekujur tubuhnya. Bagaimana ini?
“Neng punya siapa ini?” tanya Riki lagi sambil berjalan mendekati Cicil. Meminta penjelasan dari istrinya.
“Punya...”
“Punya siapa ini?” tanya Riki lagi.
“Pun....”
“Punya siapa Cicil Trina?” tanya Riki sambil menatap tajam bola mata Cicil.
“Aku...”
••••
Maaf telat update...
Maaf yah huhuhuhuhu....
Salam sayang dari Riki dan Cicil buat semuanya ❤️❤️❤️.
Jangan lupa di test tombol likenya, merah atau nggak. Ditebar koin dan pointnya.
Dan.... ini hari senin yuk, kasih Votenya buat Kaka Gallon ❤️❤️❤️.
__ADS_1
Xoxo Gallon.