
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Cicil dan Riki langsung masuk kedalam ruangan kerja Albert, dengan cepat Cicil menyuruh Riki untuk menurunkan lukisan di depannya.
“Aa, bantuin aku turunin lukisannya, dibelakangnya ada brangkas. Aku nggak bisa nuruninnya kalau sendirian,” ujar Cicil.
“Yang ini?” tanya Riki.
“Iya yang itu,” ujar Cicil.
Cicil dan Riki pun bahu membahu menurunkan lukisan itu. Setelah lukisannya turun, Cicil langsung menarik kursi terdeket kemudian mencoba untuk membuka brangkas yang menggunakan nomer kombinasi.
“Nomernya berapa, Neng?” tanya Riki bingung.
Cicil berpikir, dulu Albert pernah memberitahukannya tapi apa nomernya? Cicil benar-benar melupakannya.
“Aku lupa.”
“Kamu tau tanggal lahir Albert?” tanya Riki yang langsung dijawab anggukan oleh Cicil. Cicil langsung mencobanya. Namun, gagal.
“Ulang tahun kamu?” Riki memberikan ide lainnya. Cicil langsung mencobanya kembali, terdengar suara tombol yang ditekan. Gagal.
“Apa dong?” Cicil mulai frustasi.
“Tanggal kamu jadian sama dia,” Riki memberikan ide lagi dengan suara super tercekat. Sebenarnya Riki tidak mau memberikan ide tersebut. Tapi, demi mendapatkan surat-surat perjanjiannya kembali Riki harus mengatakannya.
Cicil terdiam berusaha untuk mengingat kapandia dan Albert jadian. Rasa-rasanya dia dan Albert tidak pernah jadian. “Aku nggak tau kapan tanggal jadiannya? Aku sama Albert gone with the flow (ikutin arus aja), Aa.”
“Kalau kita jadian kapan?” tanya Riki usil.
“Wajib banget aku harus hapalin tanggal jadian?” tanya Cicil sambil menatap Riki kesal.
“Kan, cuman nanya, Neng,” ucap Riki sambil menepuk betis Cicil pelan.
“Argh... 12 mei, 12 mei. Aa nolongin Neng waktu ketemu Geulis,” jawab Cicil sambil menatap kembali berangkas dihadapannya.
Riki tersenyum, ternyata Cicil masih ingat kejadian itu. Kejadian dimana dia dan Cicil bertemu tanpa sengaja.
Cicil tiba-tiba memencet serangkaian nomer, tiba-tiba. Voila, brangkas itu terbuka dengan cepat. “Yes ....”
“Apa nomernya?” tanya Riki penasaran.
Cicil menatap Riki dengan tatapan ‘Kamu-beneran-mau -tau’, Riki langsung menganggukan kepalanya penasaran.
Cicil menghela napasnya sebelum berbicara, “Aku input tanggal aku pertama kali melakukan hubungan suami istri sama dia,” jawab Cicil pelan.
__ADS_1
Nyut.....
Hati Riki langsung merasakan sakit luar biasa mendengar perkataan Cicil. Riki tau ini konsekuensinya berhubungan dengan wanita yang sudah terlalu lama hidup di negara barat.
“Aa ....”
“Kenapa? Udah? Ada kertasnya?” tanya Riki berusaha mengalihkan rasa sakitnya.
Cicil turun dari kursinya dengan cepat kemudian memeluk Riki. “Please, jangan mikir aneh-aneh. Aku nggak ....”
“Nggak papa, Neng. Udah cepet ambil berkasnya,” ujar Riki pelan.
“Tapi....”
“Ya udah, Aa aja yang ambil,” ujar Riki sambil naik kekursi dan mulai mencari-cari berkas disana.
Mata Riki mulai mencari berkas yang ada disana. Berusaha untuk menemukan berkas perjanjian miliknya dan ketemu....
Riki menemukannya, dengan cepat Riki mengambil berkas tersebut, kemudian melihat isi bagian dalamnya. Benar ‘kan, isinya benar-benar diubah. Parah Albert.
“Neng ini,” Riki kemudian memberikan suratnya kepada Cicil. Saat akan menutup pintu brangkas ekor mata Riki melihat photo yang membuat jantungnya berdegup.
Deg....
Riki dengan cepat mengambil amplop tersebut, amplop yang lumayan berat karena isinya lumayan banyak. Apalagi ditambah Riki merasakan ada flashdisk dan beberapa photo. Diambilnya Photo disana. Mata Riki membulat, tangan Riki langsung mengepal saat melihat photo ditangannya.
‘Si brengsek itu benar-benar tidak punya hati nurani,’ batin Riki.
Riki langsung memasukkan kembali photo tersebut kedalam amplopnya dan membawanya. Memasukkannya kedalam tas yang rangselnya. Demi apapun, dia harus membawa berkas-berkas itu. Seperti, kesetanan Rikk mengambil satu map lagi, Riki tidak tau itu Map apa, Tapi, Riki mengambilnya dengan cepat dan memasukkannya kedalam tasnya.
•••
Laura yang sedang asik duduk di kursi dan membaca majalah vouge edisi bulan lalu, langsung berdiri tegak saat melihat sosok Albert yang berjalan. Untungnya Laura duduk di belakang pepohonan plastik, sehingga Albert tidak akan bisa melihat dirinya.
Dilemparkannya majalah Vogue ke meja, Laura langsung bersembunyi dibalik kursi. Laura berusaha mengingat apa yang dikatakan Cicil tadi. Ah bersiul.
Laura langsung mengerucutkan mulutnya dan berusaha bersiul, tapi...
Frutttt...fruttt...
Sialan, Laura lupa dia tidak bisa bersiul...!? Mamah ini gimana? Apa yang harus Laura lakukan? Laura panik sendiri. Dengan cepat Laura memunculkan kelalanya dari belakang kursi.
“Cicil.... Cicil... Cicil....” panggil Laura pelan-pelan. Laura makin panik saat Albert berjalan makin dekat kearah ruangannya.
Laura benar-benar panik, apa yang harus dilakukan oleh dirinya. Astaga, ah... Chat.
- Cil gawat, Albert udah ada di luar. Loe gimana? Maaf gue nggak bisa bersiul sama sekali. Gue lupa...!?
-CICILLLLLLL....!!!
Laura terus menerus mengchat Cicil, matanya yang fokus ke layar handphone sama sekali tidak sadar kalau ada seseorang yang sudah memperhatikannya dari tadi.
__ADS_1
“Laura?”
Laura mengangkat kepalanya, kepalanya tersentak kebelakang saat melihat Albert yang tiba-tiba ada di depannya.
“Al... Albert?” cicit Laura sambil membalikkan layar handphonennya, supaya Albert tidak melihat isi Chatnya.
“Ngapain kamu di sana?” tanya Albert.
“Hah, disini? Maksudnya?” Laura menjawab pertanyaan Albert dengan kikuk.
“Iya, dibelakang sofa, ngapain? Nyari apaan?” tanya Albert.
“Nyari... Nyari... Nyari anting, anting gue jatoh,” ujar Laura sambil memegang salah satu anting miliknya, kemudian melepaskan salah satu anting di telinganya.
“Anting?”
“Iya, Albert, bisa tolong cariin? Itu anting kesukaan aku,” ujar Laura sambil mencari ke kolong-kolong sofa.
“Kok bisa hilang?” tanya Albert sambil berjongkok dan membantu Laura mencari antingnya.
“Nggak tau Al, aku lagi sial aja kayanya,” ujar Laura sambil menengok kearah pintu kantor Albert yang terbuka dan tampak Riki dan Cicil yang keluar.
Cicil menatap Laura, Laura dengan cepat menutupi pandangan Albert dengan badannya. Cicil langsung menarik Riki ke arah tangga darurat.
“Kok bisa kamu hilang anting disini?”
“Ah... itu, itu...” Laura terus menggerakkan tanggannya berusaha memberikan dorongan virtual pada Cicil dan Riki yang masih belum sampai ke pintu tangga darurat.
“Lebih tepatnya,” tiba-tiba Albert mencengkram tangan Laura keras, membuat Laura menatap Albert dengan pandangan ketakutan. Laura yang tau kelakuan kasar Albert langsung merasakan ketakutan menjalar ditubuhnya.
“Kenapa kamu bisa disini?” tanya Albert sambil menatap bagian belakang Laura dan mendapati Cicil yang sedang berlari kearah pintu tangga darurat.
Laura yang sadar kalau rencana mereka gagal, langsung menatap Cicil dan Riki lalu menatap Albert kembali.
“Laura, maksudnya apa ini?” tanya Albert sambil mencengkram lebih keras lagi lengan Laura.
Laura langsung menjerit keras, “CICIL LARI...!?”
Cicil menatap kearah Albert dan Laura, pandangan mata Cicil bertemu dengan Albert. Saat pandangan mata mereka bertemu rasa takut langsung mengempur hati Cicil.
“BABY...!?” teriak Albert yang langsung mengejar Cicil dan Riki yang sudah membuka pintu darurat.
“CICIL LARI...!?”
•••
Hola...
Maafkan yah, novel ini kaya novel anak tiri, udah update sehari sekali, terus karna Kaka Gallon sibuk jadi nggak jelas gini nasib novelnya. *sedih...
Tapi, moga mulai besok updatenya mulai bener lagi yah, karena Kaka gallon udah selesai urusannya. Hehehee... makasih semuanya....
__ADS_1
Ciaoo...