
“Abah nggak tidur disini aja?” tanya Cicil.
“Nggak, Abah harus tidur di tempat Rozak. Nggak bisa disini. Kalau Abah tidur disini, si Rozak bakal bikin ulah.”
“Ulah apa, Bah?” Riki memukul bahu Rozak yang sedang menatapnya kesal.
“Rozak anak baik, mana mungkin bikin ulah.” Rozak berkata sambil melirik Nama yang sudah menjulurkan lidahnya kearah Rozak.
“Anak baik darimana?” ucap Abah.
“Udahlah, Abah nggak papa nyupir ke apartemen Rozak malem-malem?” tanya Riki.
“Nggak papa, udah kamu disini aja. Kasian istri kamu lagi hamil. Nggak bagus ibu hamil ditinggalin.” Abah menatap Cicil yang sedang mengelus perutnya yang sudah mulai besar.
“Bener, Bah?” tanya Riki lagi.
“Iya.”
Akhirnya Abah, Rozak dan Nama pergi meninggalkan Cicil dan Riki. Malam makin larut, suasana restoran pun makin penuh.
“Restorannya penuh loh, Aa.” Cicil menunjuk restoran milik suaminya.
“Iya, syukurlah jadi bisa ngumpulin uang buat biaya lahiran kamu,” ucap Riki.
“Aku mau normal aja.”
“Terserah, mau normal atau apapun yang penting kamu sehat, itu aja cukup aku mah. Nggak aku minta yang lainnya.”
“Beneran?” tanya Cicil sambil mengalungkan tangannya keleher Riki.
“Iya, apalagi coba. Semua udah aku dapetin, istri cantik, usaha jalan, rumah ada walau nyatu ama usaha, peliharaan punya noh si Geulis. Abah sehat, adik-adik aku bahagia, apa lagi coba?”
“Bahagia banget kayanya hidup kamu,” ucap Cicil.
Riki memeluk Cicil kemudian membenamkan kepalanya diceruk leher Cicil. “Kamu bahagia?”
Cicil tersenyum sambil menyusupkan jari-jarinya kerambut Riki. “Setahun ini hidup aku bahagia, Aa.”
“Jadi, nggak sia-sia Aa kerja keras banting tulang buat hidupin kamu. Walau kadang Aa masih suka liat ada tas yang harganya nggak masuk akal disembunyiin di kolong tempat tidur,” ucap Riki sambil melepaskan pelukkannya.
Cicil langsung menatapa kearah lain, “Tas apa?”
“Tas apa, noh yang kotaknya warna orange, yang bentuknya persegi yang suka dipake artis. Udah ngaku ajalah,” ucap Riki sambil mencawil hidung Cicil.
“Iya maaf, abis warnanya lucu, pink,” ucap Cicil sambil mengecup bibir Riki. “Marah?”
“Nggak,” jawab Riki.
“Terus.”
“Lain kali ngomong yah, Aa ijinin kok. Besok Aa beli lemari kaca yah buat tas kamu semuanya itu. Sekalian lemari sepatu,” ucap Riki.
“Beneran?”
__ADS_1
“Iya, Aa nggak mampu beliin tasnya. Jadi, Aa beliin lemari kacanya aja, yah. Nggak papa?”tanya Riki.
“Hmm... gimana, yah.”
“Mau apa jadinya?” tanya Riki sambil mengecup bibir istrinya. “Mau tas itu bisa. Tapi, Aa nabung dulu sepuluh tahunan lah, gimana?”
“Kelamaan Aa, keburu bangkrut perusahaannya.” Cicil berkata sambil mencubit bagian belakang pinggul Riki.
“Hahaha jadi gimana?” tanya Riki.
“Bikinin fettuccine alfredo yah, tapi kasih daun kelor dan kejunya yang banyak,” ucap Cicil sambil menatap Riki.
“Neng, ngidam nggak ada yang normal?” tanya Riki sambil menatap Cicil.
“Ih, normal tau.”
“Normal darimana, makanin daun kelor mulu dari kemaren. Curiga kamu harus di ruqiyah ke Ki Brondong lagi nanti,”ucap Riki sambil mengusap perut Cicil pelan.
“Ih, males aku ke sana lagi. Nanti kamu berantem lagi sama Ki Brondong kaya kemarin, pusing aku Aa.”
“Abis, tuh dukun bikin stress aja. Apalah ngomong USA segala, bilang aja orang sunda kan gampang. Bikin Ribet,” ucap Riki.
“Hahaha... tapi bener ‘kan tebakkan Ki Brondong itu, bapaknya kamu.”
“Iya sih, tapi nggak gitu juga gayanya. Minta aku pecut sumpah, mana ngedipin matanya lagi, ah geli aku liatnya.” Riki bergidik mengenang kelakuan Ki Brondong yang absurd kemarin.
“Biarin lah, biar cute,” ucap Cicil asal.
Cicil dan Riki pun berjalan kedalam restoran, dibagian depan mereka sudah menemukan Laura dan Edy yang sedang berbincang. Terdengar Edy yang meminta ijin pada Laura.
“Yah, emang harus dua minggu di Banten?”
“Iya, menurut Ki Brondong aku harus ke Banten dan tinggal disana. Berguru pada jawara (jagoan) Banten.”
“Argh... kamu kenapa nurut banget sih sama Ki Brondong?” tanya Laura kesal sambil menghentakkan kakinya geram.
“Beb, aku tuh ingin menang demi Laura dan Edy menuju halal 2022. Kan, katanya kamu mau nikah di Taman Makam Pahlawan.”
“Apa?” teriak Laura kesal. “Ngapain nikah di Taman Makam Pahlawan, ngaco. Nggak sopan beneran kamu yah kalau ngomong. Bibirnya dijaga,” sentak Laura sambil memukul Edy kesal.
“Maaf, maaf.” Edy langsung menyesali perkataannya yang terkadang tidak ada filternya.
“Ya, udah nggak usah pergi ke Banten. Disini aja, please,” ucap Laura sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Beb, aku harus ke sana. Kalau nggak nyawa taruhannya. Kamu nggak liat, paha Papih kamu itu segede galon air mineral,” ucap Edy sambil menunjuk galon yang bertengger cantik nan paripurna di atas dispenser.
“Tapi ‘kan.”
“Kamu bayangin itu kalau pahanya ada dileher aku, aku udah tinggal nama. Meninggal udah aku, Beb. Kamu tega aku menghadap sang ilahi lebih cepet?” tanya Edy sambil mengecup tangan Laura.
“Tau ah, Le. Kamu tuh nggak peka!?” ucap Laura sambil menendang tulang kering Edy kesal dan berlalu dari sana.
“Aduh... sakit, Beb... woi Beb... ini demi Laura dan Edy selalu bersama selamanya 2022,” ucap Edy sambil mengusapi tulang keringnya yang ditendang dengan keras oleh Laura.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Riki yang baru saja sampai dihadapan Edy.
“Laura nggak ijinin aku buat pergi ke Banten,” ucap Edy.
“Ngapain, lo mau debus?” tanya Riki kaget.
“Aku dapet jawara yang bisa ngelatih aku buat mengalahkan Papihnya Cicil, Rik.” Edy berkata sambil mengambil tas disampingnya.
“Pergi sekarang?” tanya Riki sambil menatap Edy.
“Iya, aku ijin nggak kerja dua mingguan, yah.” Edy berkata sambil menepuk bahu Riki.
“Ed, kamu mau pergi sekaramg banget?” tanya Cicil kaget.
“Iya, titip my hunny bunny sweety Laura Edrosh kesayangan dan kecintaan Edy Edrosh yang doyan di endorse.” Edy berkata sambil menggerak-gerakkan kumisnya.
Cicil langsung mengelus perutnya pelan dan berkata didalam hatinya moga anaknya tidak memiliki kumis seperti Edy. Geli!?.
Sepeninggalannya Edy, Cicil menatap Riki bingung. “Itu, si Edy lupa apa bodo?”
“Kenapa emangnya?” tanya Riki.
“Laura, besok ulang tahun, masa dia pergi sekarang. Laura ulang tahun sendirian, dong.” Cicil berkata sambil menunjuk punggung Edy yang makin menjauh dari restoran.
“Tau, udah emang absurd si Edy itu, biarin aja dia sama kehidupannya. Dia emang gitu, percaya sama dukun daripada sama kita, untung tuh dukun baik. Coba kalau nggak, abis si Edy di tipu,” ucap Riki sambil menggoyangkan kepalanya bingung.
“Aa, mau kemana?” tanya Cicil.
“Mau ke dapur ‘kan kamu mau makan apa itu, fettuchini alfredo isi daun kelor?” tanya Riki.
“Ah, iya.” Cicil langsung mengecup pipi Riki, “aku cari Laura dulu kalau gitu, nanti makannya diatas aja yah.”
“Iya, nanti Aa kabarin kalau udah jadi itu daun kelor.”
Riki pun pergi meninggalkan Cicil yang sudah berlari mencari Laura di keramaian restoran. Cicil langsung mencari dimana Laura dan mendapati Laura sedang duduk di meja paling ujung.
Laura tampak mengerucutkan bibirnya dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Cicil langsung duduk disamping Laura.
“Laura...”
“Cicil,” isak Laura sambil memeluk Cicil, Laura menangis dipelukkan Cicil. Laura yang kesal kalau tahun ini dia harus merayakan ulang tahun sendirian hanya bisa menangis dipelukkan Cicil. Merutuki nasibnya yang menurut Laura tragis.
•••
Hadeuh... mau apa atuh kamu teh Edy, malah ke Banten segala. Itu Laura kasian ulang tahun sendiri ih, kejam kamu tuh Ed...
Apa yang kamu lakukan itu Jahat..!?
Eh, pembaca...
itu tombol Like disenggol, bunga dan kopi ditebar. Jangan lupa Votenya di kirim juga.
Eh sayang-sayangku jangan lupa satu hal, itu Cicil kan hamil yah. Ada saran nama buat Cicil nggak?
__ADS_1
Anak laki-laki dan perempuan deh. Biar Kaka Gallon pilih nanti ❤️❤️.
Makasih, XOXO GALLON