
Riki aneh melihat gelagat kekasihnya dan Adiknya hari ini. Hampir setiap detik dan menit mereka berdua kemana-mana. Kadang mereka berbincang serius, namun, saat Riki mendatangi mereka berdua, mereka langsung diam.
Rasa penasaran langsung menerpa Riki, Riki merasa mereka berdua sedang merencanakan sesuatu.
“Neng,” panggil Riki pelan.
Cicil yang sedang asik mengobrol dengan Taca langsung menengokkan kepalanya ke arah Riki. Senyuman manis langsung terbit diwajah Cicil saat melihat Riki yang berjalan kearahnya.
“Apa?” ucap Cicil pelan.
“Taca, Cicilnya dipinjem dulu, yah.” Tampa menunggu jawaban dari Taca, Riki langsung menarik tangan pelan Cicil.
“Ada apa, Aa?” tanya Cicil saat Aa menariknya kedalam kamar.
“Aa mau nanya?” ucap Riki sambil menutup pintu kamarnya.
Saat Riki mau merapatkan pintu kamar, Riki merasakan ada yang menghalanginya. Pintu kamar sama sekali tidak dapat ditutup dengan rapat.
“Kenapa sih ini pintu,” maki Riki sambil menedekati pintu dan membukanya.
“Abah?!” pekik Riki kaget, saat melihat Abah sudah berdiri diambang pintu sambil menepuk-nepuk korannya ke tangan kanannya.
“Mau, ngapain kalian, hah?” tanya Abah dengan tatapan penuh dengan kecurigaan.
Cicil yang ada disana langsung menahan tawanya melihat mertuanya ini. Abah benar-benar satpam, pantas saja Adipati selalu bilang hati-hati sama Abah. Adipati bilang, kalau mau bertransfusi darah putih dengan Riki, lebih baik sewa hotel atau kabur ke Jakarta, kalau disana bisa di ganggu Abah.
“Mau ngobrol, Bah,” ucap Riki takut-takut, tatapan Abah benar-benar membuat Riki gentar.
“Ngobrolnya, pintunya dibuka aja. Nggak usah di tutup-tutup, mau ngapain di tutup?” tanya Abah.
“Biar, nggak ada yang denger, Bah.” Riki memberikan alasannya.
“Biar nggak ada yang denger atau mau main kuda-kudaan lagi kaya kemaren?” tanya Abah.
Tawa Cicil hampir meledak, mengingat kejadian kemarin. Riki benar-benar habis di pukuli Abah, Cicil dan Riki sampai di ceramahi selama satu jam lebih. Cicil benar-benar kaget dengan reaksi Abah. Bagaimana tidak, hidup di Belgia hampir setengah hidupnya dan melihat kehidupan bebas disana, membuat Cicil mengangap biasa untuk bermesraan seperti kemarin.
“Di buka aja pintunya,” ucap Riki takut-takut.
“Kalau di buka, Aa nggak jadi cium leher Cicil lagi, dong?” Entah kenapa Cicil tiba-tiba ingin menjahili Riki.
Mendengar perkataan Cicil, sontak membuat Abah menyambitkan korannya ke tangan Riki. “Kamu tuh, cari kesempatan aja. Nikah dulu, Riki...!?”
“Awww... nggak, Bah. Itu cuman bercanda,” ucap Riki sambil mengusap tangannya yang di sambit Abah.
“Alah, udah ngobrolnya di luar. Itu ruang keluarga di bikin biar kalian nggak di kamar mulu, udah ngobrolnya di luar,” ucap Abah sambil menunjuk sofa yang ada di ruang kelurga.
Riki langsung menarik tangan Cicil dan membawanya ke luar kamar. Lebih baik menurut dari pada Abah ngamuk.
Saat melihat Riki dan Cicil sudah duduk di sofa, Abah langsung pergi keluar rumah. Tidak lupa membuka pintu ruang kelurga selebar mungkin, Abah takut Riki dan Cicil melakukan tindakkan kuda-kudaan lagi seperti kemarin.
__ADS_1
“Neng,” panggil Riki sesaat Abah pergi meninggalkan mereka berdua.
“Apa, Aa?” tanya Cicil pelan, “Aa mau main kuda-kudaan lagi kaya kemaren?” goda Cicil sambil mengusap paha Riki pelan.
Jantung Riki langsung berolah raga saat merasakan sentuhan di pahanya. Entah kenapa setiap sentuhan Cicil mampu membuat hasrat Riki meledak.
“Iya mau, eh... nggak, nggak Neng. Astaga Neng, udah ih,” ucap Riki sambil menangkap tangan Cicil yang mengusap-ngusap pahanya terus menerus.
“Ih, jadi mau atau nggak?” kekeh Cicil sambil menatap Riki manja.
“Mau, eh nggak. Argh... udah, ah” ucap Riki sambil menarik-narik rambutnya kesal. Riki benar-benar membuat Cicil tertawa kecil.
Cicil benar-benar suka membuat Riki kelimpungan. Muka, Riki yang malu-malu meong benar-benar membuat Cicil ingin menciumi tiap jengkal di tubuh Riki.
“Neng, udah jangan jahil. Aa mau nanya ini,” ucap Riki.
“Nanya apa, Aa?” tanya Cicil sambil menatap Riki.
Riki menepuk punggung tangan Cicil pelan, “Kamu, punya rencana apa sama Taca?”
Cicil langsung menahan napasnya, astaga kenapa Riki bisa tau kalau dirinya akan membuat sesuatu. Cicil memang ingin membuat suatu rencana dengan Taca, rencana yang akan menjebak Riki untuk menikahinya. Karena, menurut Cicil untuk saat ini menjebak Riki adalah jalan yang tepat untuk menikahinya sesegara mungkin.
“Nggak, Neng nggak punya rencana apapun, kok,” dusta Cicil sambil membasahi bibir bagian bawahnya dengan lidahnya.
Riki langsung memicingkan matanya, berusaha untuk mencari kebohongan di wajah Cicil dan wajah Cicil benar-benar menunjukkan kalau Cicil berbohong pada dirinya. Riki tau dengan pasti kalau Cicil sedang merencanakan sesuatu dengan Taca.
‘Sial’ Cicil merutuki didalam hatinya, Riki benar-benar susah untuk di tipu. Sial... sial... sial....
“Neng, jujur sama Aa. Kamu mau bikin rencana apa sih?” tanya Riki lagi.
“Aku nggak bikin rencana aneh apapun, kok,” ucap Cicil dengan intonasi suara dan expressi wajah tenang, berusaha untuk menyembunyikan semuanya.
“Neng....”
“Ih, Aa. Beneran, Neng nggak bikin rencana apapun juga. Ini, yah gini-gini aja, Cicil nggak ada rencana apapun juga.” Cicil berusaha meyakini Riki, walau Cicil tau itu hal yang percuma. Riki pasti tau kalau dirinya memiliki rencana untuk menjebaknya ke jenjang pernikahan.
Riki menghela napasnya pelan dan mengacak pelan rambut Cicil yang makin panjang, “Ya, udah. Aa nggak bakal maksa kamu mau bilang rencananya apa. Tapi, Aa minta jangan bikin aneh-aneh, yah. Taca, itu kadang gendeng otaknya,” kekeh Riki sambil mengecup kening Cicil pelan.
“Iya, nggak bikin aneh-aneh kok,” jawab Cicil sambil menatap keluar jendela. Cicil langsung melihat Taca yang menunjukkan tanda oke dengan tangan kanannya.
Taca diluar bersama gerombolannya, disana sudah ada Abah, Rozak, Adipati, Laura, Edy, dan beberapa orang lainnya, yang Cicil pun tidak mengetahui mereka siapa. Tapi, Cicil yakin mereka adalah orang-orang yang memang sudah di pilih oleh Taca untuk menjebak Riki menikahi dirinya. Iya, sekarang bukan waktunya menya-menye. Bagi Cicil, menikahi Riki bukan dengan cara meminta. Tapi, menjebak..!?
“Aa, hm... Mau kemana?” tanya Cicil berbasa basi.
Riki hanya melihat Cicil sekilas sambil sibuk mencari handphonennya di dalam tas miliknya. Kemana, handphonennya ini, seingatnya dia memasukkannya ke dalam tasnya.
“Nggak kemana-mana, Neng. Emang kenapa?” tanya Riki bingung.
“Anterin Cicil,” ucap Cicil sambil menarik tangan Riki pelan.
__ADS_1
Riki langsung melepaskan tas miliknya dan berdiri, “Kemana?”
“Anterin ke Alfa depan,” ucap Cicil asal sambil menarik Riki dan mengambil kunci mobil milik Abah.
“Ngapain?” tanya Riki sambil berjalan tergopong-gopong dibelakang badan Cicil.
“Beli sesuatu, udah yuk,” paksa Cicil.
Riki hanya mengikuti Cicil dibelakangnya dengan patuh, tanpa tau kalau hari ini akan menjadi hari teraneh, terabsurd dan terbahagia di hidupnya.
•••
Muahahahaa... mau ngapain tuh...
Oke kita seru-seruan yah.
Kaka Gallon tunggu sampai jam 3 sore. Tolong pilih apa yang pas untuk acara nikahan RICI.
Gaun atau kebaya
Baju adat atau jas
Baso atau siomay
Penghulu pak karto atau pak dibyo
Orgen tunggal atau home band
Pilih salah satunya. Jawab di kolom komentar.
Nanti, kakak Gallon itung.
Jawaban ditutup sampai jam 15. 00 WIB
Oke, sip...
Ah, ini undangan dari Cicil. Dateng yah...
Pilih yah, pilihan kamu bakal menentukan kelanjutan cerita pernikahan Cicil Riki yang bakal diadain di Gor Bulutangkis Citeko 🤣
XOXO GALLON
__ADS_1