
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
“Uhuk... uhuk...uhuk....” Cicil terbatuk-batuk karena menghirup asap knalpot. Dengan sigap Riki memanjangkan jaketnya kemudian menutupi mulut dan hidung Cicil.
“Aa itu kenapa asepnya item banget, nggak ada cita-cita diganti apa itu busnya?” cecar Cicil sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahnya.
“Nggak bisalah,Neng. Mau ganti pake apa? Uangnya pas-pasan,” ujar Riki sambil menarik Cicil lebih dekat lagi ketubuhnya dan memelototi gerombolan laki-laki yang sudah menatap Cicil dengan tatapan nakal.
Riki menatap pacarnya dari atas kebawah, kaos oversive milik Riki dipadu celana leging hitam dan sepatu olah raga, wajah Cicil sama sekali tidak terlihat lebam, karena tadi sebelum pergi Cicil meminjam perlengkapan make up seorang polwan untuk menutupi lebam-lebamnya. Rambutnya di ikat sembarangan. Kalau perempuan biasa pasti terlihat kaya ah sudahlah. Tapi, Cicil tampak cantik paripurna.
“Neng, kamu kapan jeleknya sih?” tanya Riki spontan.
“Hah... gimana?”
“Nanya Aa, Neng kapan jeleknya sih?” kekeh Riki sambil menyentil hidung Cicil.
“Ih, sakit tau. Aku kapan jeleknya? Pas mau datang bulan, badan Neng bengkak, muka bengkak, jerawat keluar sebiji. Ah... pokoknya nggak banget,” jawab Cicil.
“Nah itu kapan? Aa mau liat jeleknya kamu, kalau pas kamu jelek Aa masih cinta, udah langsung kita ke KUA,” canda Riki sambil mencari bus dengan jurusan yang akan mereka naikki.
“Aa....”
Riki langsung menolehkan kepalanya ke arah Cicil dan kaget bukan main. “Astaga Neng...!!?”
“Gimana udah jelek belom? Masih cinta nggak?” tanya Cicil sambil menahan tawanya.
Cicil saat ini sudah mengacak rambutnya kemudian mengesampingkan rambutnya dan mengembikkan bibirnya dengan bentuk paling absurd, benar-benar sukses membuat Riki kaget.
(Gambar hanya ilustrasi visualnya Cicil, gambar didapat dari Instagram Davikah dan susah banget nyari muka jeleknya hahahaa)
“Udah jelek belum ini?” tanya Cicil.
“Astaga Neng, ini mah saking jeleknya Aa nggak jadi ajak Neng ke KUA,” kekeh Riki sambil mengacak rambut Cicil.
“Argh... Aa mah,” rengek Cicil manja.
Riki hanya bisa tertawa lepas saat melihat Cicil menaikkan alisnya. “Udah, yuk naik bus yang itu,” ujar Aa sambil menunjuk bus didepannya.
Cicil pun mengikuti Riki untuk masuk kedalam bus. Saat masuk kedalam bus Cicil langsung terdiam dan membulatkan matanya. Bagaimana tidak isi didalam bus itu benar-benar membuat Cicil kaget, berbagai macam dan rupa manusia benar-benar tercampur disana dan baunya? Oh jangan ditanya antara aroma ketek asem bercampur knalpot benar-benar menggetarkan jiwa kaya Cicil, jiwa kaya Cicil meronta-ronta dan menjerit meminta Cicil untuk keluar dari Bus dan membeli satu unit mobil OTR (on the road) saat itu juga.
Riki yang langsung sadar dengan perubahan wajah Cicil langsung mendekap Cicil didadanya. Cicil yang didekap Riki langsung mencium wangi papermint dari tubuh Riki langsung merasa tenang.
__ADS_1
“Aa, maaf ini bus kok wanginya uwow sekali,” tanya Cicil.
Riki hampir tertawa keras saat mendengar pertanyaan Cicil, astaga benar-benar suatu tantangan membawa anak sultan naik bus.
“Iya, emang gini Neng kalau naik bus, harus berjibaku dengan manusia dan aromanya yang sangat unik,” ujar Riki.
“Astaga aromanya bukan unik Aa, ini aromanya ah, udahlah bikin banyak-banyak urut dada,” ujar Cicil.
Setelah bus berjalan jauh, tiba-tiba merasakan tangan yang meraba bagian belakang pinggulnya, awal-awal dia menganggap yang memegangnya adalah Aa Riki, tapi saat Aa Riki mengambil handphone dari sakunya dengan menggunakan kedua tangannya, Cicil langsung sadar yang menyentuh bagian belakang pinggulnya bukan Riki. Cicil langsung panik.
Riki sama sekali tidak menyadari perubahan air muka Cicil,karena sedang melihat Chat dari Edy.
‘Gimana ini? Masa ada orang mesum pegang-pegang sih,’ batin Cicil.
“Aa...”
Riki langsung mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya dan menatap Cicil, “Kenapa Neng?”
“Itu... itu...”
“HEH... COWO GILA, BERANI-BERANINYA KAMU PEGANG-PEGANG PANT•T ORANG...!!!” suara teriakan ibu-ibu bertumbuh tambun mengagetkan Cicil dan Riki, seketika itu juga Cicil tidak merasakan lagi sentuhan di bagian belakang pinggulnya.
“Apa?” tanya pria yang menggunakan masker.
“Eh, apa-apa kamu tadi saya liat pegang2 pant•t ini mbak-mbak,” ujar Ibu itu lagi sambil menunjuk Cicil.
Riki yang kaget bagian tubuh Cicil di sentuh oleh pria tidak dikenal langsung menarik Cicil ke dekatnya.
“Iya Aa, aku sangka yang pegang Aa, taunya dia?” ujar Cicil sambil menunjuk lelaki bermasker yang sedang di cecar oleh Ibu bertubuh tambun.
“Astaga Neng, kok nggak bilang?” ujar Riki berang, hari ini benar-benar menguji kesabaran Riki. Mulai dari Cicil diculik Albert sampai ada laki-laki mesum menyentuh pant•t pacarnya itu.
“Nggak saya nggak pegang,” elak laki-laki bermasker itu.
“Alah, saya liat dari tadi kamu elus-elus pant•t mbaknnya,” teriak Ibu itu lagi sambil menunjuk-nunjuk.
Enak aja, jangan nuduh yah, saya bisa laporkan pencemaran nama baik,” ujar laki-laki bermasker tersebut.
“Idih, udah salah ngotot yah,” sentak Ibu itu lagi.
“Nggak saya nggak....”
BUG....
Riki yang sudah malas adu argumen langsung memukul lelaki bermasker itu keras sampai lelaki itu tersungkur kebawah. Dengan cepat Riki mengambil tangan kanan lelaki itu dan memelintirnya, pelan tapi efek yang ditimbulkan membuat lelaki itu berteriak keras sampai mengeluarkan air mata.
“Ampun Bang, sakit Bang,” ujar lelaki bermasker itu.
“Tangan ini yang pegang-pegang pant•t pacar saya?” tanya Riki sambil tersenyum.
__ADS_1
“Maaf Bang, maaf saya khilaf,” ujar Lelaki bermasker itu.
“Alah khilaf, wong saya liat itu tangannya lama bangeg usap-usapnya. Khilaf apa keenakan?” tanya Ibu bertubuh tambun itu.
“Khil.... Aaaaaa....”
Riki menekan lembali tangan lelaki itu, “Oh keenakan? Kalau saya keenakan neken tangan kamu ampe patah gimana?” tanya Riki santai.
“Jangan Bang, maaf-maaf.”
“Minta maaf sama pacar saya..!?” sentak Riki.
“Mbak maaf saya khilaf,” ujar lelaki bermasker itu.
“Khilaf apa keenakan, lama amat tangan kamu diem dipant•t saya,” pekik Cicil kesal.
“Maaf Mbak,”ujar lelaki bermasker itu, sepertinya dia salah memilih mangsa.
“Huuuu.... mesum”
“Mampus, meresahkan tuh yang mesum.”
“Aduh Mas daripada pegang si mbaknya, mending sama akikah,” ujar banci kaleng yang sedang ngamen.
Mendengar perkataan banci tersebut lelaki bermasker itu bergidik.
“Nah mbak, nih kata masnya mau dipeluk mbaknya,” ujar Riki sambil menarik tangan banci kaleng tersebut untuk mendekati lelaki bermasker yang ketakutan didekati oleh banci tersebut.
“Nggak, ampun. Tolong saya mau turun,” teriak Lelaki bermasker itu.
“Ah abang jangan gitu, akika juga cucok manjah,” desah banci itu sambil memeluk lelaki bermasker itu.
“Nggak saya nggak mau..!! Tolong...!!” jerit lelaki bermasker itu sambil berlari keluar dari dalam bus yang sedang berhenti di salah satu stasionnya.
“Eh.... BANG MAU KEMANA?” teriak banci tersebut.
“Tolong,” pekik lelaki berkaca mata tersebut.
“HEH MAU KEMANA LO..!!” teriak banci tersebut dengan suara lelakinya.
“Sini lo..!”ujar banci itu super keras sambil mengangkat roknya sampai paha dan berlari mengejar lelaki bermasker itu.
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon