Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Ira


__ADS_3

“Kamu mau di sini sampai kapan?” tanya Nama pada Ira yang sedang berguling-guling di kamarnya.


Sudah hampir empat hari Ira ada di rumah Nama dan entah kenapa keluarga Ira sama sekali tidak ada yang mencari Ira. Bahkan, mereka tampat tidak peduli sama sekali.


“Nggak tau, aku mau di sini aja,” ucap Ira tiba-tiba.


“Ngaco, masa kamu mau di sini terus,” ucap Nama bingung.


“Di sini enak Kak,” ucap Ira.


Nama tersenyum mendengar adiknya itu mulai memanggilnya Kakak, semenjak Rozak memberikan kuliah tujuh menit pada Ira tentang tata krama dua hari yang lalu. Ira berubah menjadi anak yang lebih baik. Ira, mulai mau memanggilnya Kakak dan Ibu pada Islah.


Memang Ira kadang masih menyebalkan. Tapi,kenakalannya masih dalam tahap wajar. Berbanding terbalik saat bersama kedua orang tuanya. Untungnya kasus video tindak asusila kemarin bisa diredam oleh Ahyar. Orang tua Wahyu pun sudah meminta maaf pada keluarga Ahyar.


Ahyar menggunakan semua sumber dayanya untuk mencengkram usaha bisnis panci milik keluarga Wahyu dan membuat keluarga Wahyu diam. Mereka takut usaha pancinya carut marut.


“Kamu pulanglah, emang nggak kangen rumah?” bujuk Nama pada Ira.


“Nggak mau Kak, males. Enak di sini, aku mau makan ada, aku kenapa-kenapa diliatin diawasin. Aku bikin ulah, pasti Pak Rozak langsung marahin aku sampe uber-uber aku pake koran,” kekeh Ira.


“Hah, Kang Rozak nguber kamu pake koran?”


“Iya, kemaren gara-gara aku ketauan bolos pelajaran biologi. Aku dikejar Pak Rozak pake koran, sekarang satu sekolah tau kalau aku calon adiknya Pak Rozak,” ucap Ira sambil tidur dipaha Nama.


“Eh, ngapain tidur dipaha aku?” tanya Nama bingung.


“Biarin kenapa emangnya? Nggak boleh?” tanya Ira sambil menatap Nama.


Nama hanya bisa mengusap rambut Ira perlahan, “Boleh tapi, jangan lama-lama, yah.”


“Kenapa?” tanya Ira bingung. “Nggak boleh?”


“Bukan nggak boleh, Kaka mau pergi ini, Kang Rozak udah mau jemput,” ucap Nama sambil tersenyum manis pada Ira.


“Mau kemana?” tanya Ira cepat.


“Mau ke acara apa yah, lupa. Apa sih itu.” Nama mencoba untuk mengingat-ingat acara yang tadi diucapkan oleh Rozak.


“Acara apa, Kak?”


“Aduh apa sih, aku lupa. Bentar,”ucap Nama sambil mengambil handphonenya dan mencari sesuatu di sana.


“Apaan sih, aku kepo nih, Kak.” Ira langsung beranjak dari duduknya dan mencoba untuk melihat layar handphone Kakaknya.


“Ah, ini pertarungan Sabar vs Edrosh.” Nama berkata sambil menunjukkan tulisannya pada Ira.


“Ah, ini Edy Edrosh youturber yang subcribernya lebih dari tiga juta?” tanya Ira penuh semangat. “Kaka kenal?”


“Eh... ikan lele ini banyak subcribernya? Banyak fansnya?” tanya Nama bingung. Dia tidak menyangka kalau sahabat calon suaminya ini orang terkenal.

__ADS_1


“Iya, Kaka nggak tau?” Ira langsung mengambil handphonennya dan menunjukkan channel youturbernya pada Nama. Mata Nama langsung membulat saat melihat jumlah subcribernya.


“Banyak banget.”


“Wuih, ini duitnya udah banyak banget. Udah, kayalah. Kaka mau kesana? Aku ikut boleh?” tanya Ira.


“Boleh, tapi Ayah mau kesini katanya mau jemput kamu.” Nama mencoba mengingatkan Ira.


Ira langsung mengerucutkan bibirnya, “Ayah, ajak ajalah. Sabar Subagja itu kalau nggak salah kolega Ayah juga. Mungkin dia mau memberikan dukungan, biar tahun ini dia kepilih lagi jd anggota dewan.”


“Ra, nggak boleh gitu. Gitu-gitu itu Ayah kamu sendiri.”


“Hilih, bahasanya. Padahal demen tuh nyaci Ayah, ngaku.”


Nama hanya bisa menjulurkan lidahnya, Nama tidak munafik sebenarnya dia paling hobi mencaci Ayahnya bila dirinya mendapatkan kesialan dalam bentuk apapun. “Kok tau?”


“Yah taulah, kan pemberi donor sperm• untuk hidup kita berdus sama. Walau beda indung telur,” ucap Ira santai.


“Astaga Ira, mulut filter.” Nama berkata sambil mendorong bahu Ira kesal.


“Hahaha, lah kenyataan ‘kan. Itu aja sumbangsih dia tuh,” ucap Ira santai.


“Ira.”


“Udah, pokoknya kalau Ayah datang aku mau ajak ketempat Om Sabar. Pasti mau, apalagi cicilan rumah masih ada lima tahun lagi,” dengus Ira.


“Astaga Ira, mulut kamu.”


“Kamu tuh, bibirnya.”


“Kenapa?”


“Suka bener, hahaha,” tawa Nama sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


“Kan, kan, kan,” tawa Ira pun terdengar renyah.


Entah bagaimana, berbagi kamar selama empat hari membuat mereka jadi lebih dekat dan lebih sering menunpahkan unek-unek mereka. Ternyata, Ira hanya mau didengar. Anak nakal itu hanya ingin disayang dan dimengerti, bukan dihina dan dicaci.


Klik....


Pintu kamar terbuka kemudian, munculah Islah yang tersenyum melihat kedua anak gadisnya tertawa-tawa, “Apaan ini, kalian ngetawain siapa?”


“Ibu mau tau aja, ini rahasia perusahaan. Ibu kelebihan umur,” ucap Ira.


“Eh, kok kelebihan umur?” tanya Islah bingung, perumpamaan dari mana itu. Kelebihan umur, seingatnya yang ada itu kekurangan umur.


“Iya, Bu. Ini pembicaraan duapuluh enam kebawah,” terang Nama sambil menjulurkan lidahnya.


“Ada-ada aja kalian berdua tuh,” kekeh Islah sambil mengelus rambut Ira dan Nama bergantian. “makan dulu sana. Tadi, Rozak bilang udah di jalan. Makan dulu.”

__ADS_1


“Oke sip, yuk makan,” ucap Ira bersemangat. Entah kenapa nafsu makannya bertambah semenjak tinggal di sana.


“Eh, emang kamu mau kemana? Mau ikut Kak Nama juga?”


“Iyalah, Bu.”


“Nggak bisa, Nak. Ayah jemput kamu. Tadi, dia udah telepon Ibu katanya setengah jam lagi sampai.” Islah mengingatkan Ira.


“Udah biarin Ayah tuh, ajak aja sekalian.”


“Emang mau?” tanya Islah.


“Mau dia, udahlah cepet yuk. Makan, yuk. Laper ini, mati aku nanti,” rengek Ira sambil menari tangan Nama dengan tatapan mengiba.


“Kamu, semenjak di sini makan mulu, pantesan nggak dicariin sama orang rumah. Kamu nggak ada aman stok beras mereka ampe dua bulan,” canda Nama sambil beranjak dari duduknya dan mengikuti Ira.


“Hahaha, aku di rumah jarang makan, Kak. Di sini doang aku seneng makan. Nggak tau kenapa, kayanya makanan di sini enak-enak semuanya,” ucap Ira sambil tersenyum.


“Bu, Ira ngerayu tuh. Minta, dijinin lagi nginep di sini.” Nama berkata sambil membuka pintu kamar lebih lebar. “Ati-ati, Bu. Jangan mau, yah.”


“Ih, harus maulah. Inget Kak, memberi pada anak yang membutuhkan itu wajib hukumnya,” ucap Ira.


“Kata siapa? Ngaco deh,” balas Nama.


“Kata akulah, emang tadi yang ngomong sapa?” tanya Ira pada Nama sambil mengangkat salah satu alisnya.


“Asem, aku sangka filsuf mana yang ngomong,” ucap Nama.


“Ira Suhendar lah, calon cendikiawan masa depan.”


“Hilih, ngaco.”


“Udah woi, ribut mulu. Makan sana, nanti ayamnya hidup lagi baru tau rasa kalian,” lerai Islah sambil tersenyum melihat betapa akurnya kedua anak gadisnya. Tidak pernah terbayangkan di pikirannya melihat Nama dan Ira bisa seakrab ini.


••••


Dor....


Iya, Ira itu kurang kasih sayang dan perhatian, makanya saat bersama Nama dan Islah ditambah Rozak yang juga merasa memiliki tanggung jawab mendidik Ira. Ira merasa seperti dihargai.


Jadi, sekecil apapun penghargaan kalian pada orang lain, akan sangat dihargai dan disyukuri.


Jadi, jangan pernah insecure harus banyak bersyukur. 🤣🤣🤣


Eh mau liat Ira nggak? Ini dia Ira...



Manis yah hohohohohoo...

__ADS_1


Xoxo gallon


__ADS_2