Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Peringatan


__ADS_3

“Neng,” panggil Riki sambil membuka pintu ruang kerja Cicil.


Cicil langsung menengadah menatap Riki, senyuman langsung merekah di bibir Cicil. Namun, langsung kembali redup saat melihat betapa kusutnya wajah Riki. “Kenapa Aa?”


Riki langsung menutup pintu di belakangnya dan berlari kearah Cicil dan memeluknya. “Astaga Aa tadi baru pukul orang.”


“Hah, kok bisa. Kenapa?” Cicil langsung panik, dengan cepat dilepaskannya pelukkan Riki, Cicil dengan panik meneliti tiap inci tubuh dan wajah Riki. “kamu nggak papa?”


“Nggak aku nggak apa-apa. Tapi, aku takut Rozak yang apa-apa,” ucap Riki.


“Lah, apa hubungannya sama Rozak?” tanya Cicil bingung.


“Aku tadi mukul Ahyar Suhendar,” jawab Riki sambil duduk di Sofa.


“Hah, kenapa? Kamu kenapa tiba-tiba mukul dia?” tanya Cicil bingung. Kenapa lelaki titisan malaikat miliknya ini tiba-tiba memukul Ahyr Suhendar.


“Dia hina kamu, Neng,” jawab Riki sambil menatap Cicil.


“Eh, dia hina aku apa?” tanya Cicil bingung sambil berjalan ke arah Riki.


“Dia bilang kamu jalang. Aku nggak terima, nggak ada yang boleh hina istri aku. Tapi, aku sekarang khawatir tadi, dia ngancam untuk tidak mengijinkan Nama nikah dengan Rozak dan ....”


“Apa?” tanya Cicil khawatir saat menlihat air muka Riki yang berubah makin keruh. “Aa, dia bilang apa?”


“Dia bilang, dia bakal penjarain Aa, dia bakal bawa panjang pemukulan tadi.” Riki menarik tangan Cicil dan membuat Cicil duduk di pangkuannya. Tangannya dengan spontan mengusap perut buncit Cicil.


“Astaga, Aa.” Cicil mengalungkan tangannya di leher Riki.


“Gimana kalau dia laporin Aa?” tanya Riki.


“Kita lapor baik atas pencemaran nama baik, udah nggak usah di pikirin si Ahyar itu. Otaknya kurang seons,” ucap Cicil sambil memeluk Riki, membenamkannya ke dada Cicil yang tampak lebih bulat.


Setelah beberapa lama, Riki langsung melepaskan pelukkannya. “Neng, kayanya kita harus kasih tau Rozak deh. Aku kasian sama dia, malang bener nasib adik Aa punya calon mertua kaya gitu kelakuannya.”


Cicil hanya bisa menggaruk hidungnya, ternyata pikiran suaminya itu sama dengan dirinya. “Aku tau, nanti kita ngobrol dengan Rozak. Aku takut, Rozak diancam. Masalahnya tadi aku nolak perjanjian kerja sama dengan si Ahyar itu,” ucap Cicil sambil menunjuk amplop berisikan berkas-berkas mengenai kerja sama yang tadi Ahyar buang ke tempat sampah.


Entah kenapa Cicil ingin menyelamatkan berkas tersebut dan menyimpannya di mejanya. Feeling Cicil dia akan sangat membutuhkan berkas tersebut.

__ADS_1


“Terus, permintaan kerja sama Tandika dengan perusahaan Adipati dan Juan pun ditolak oleh Juan dan Adipati. Mereka takut,” terang Cicil.


“Aku nggak ngerti, Neng. Maaf, aku nggak paham,” ungkap Riki jujur, Riki benar-benar buta dalam hal mengelola perusaan besar.


“Iya nggak papa, pokoknya aku, Juan dan Adipti sudah tolak segala bentuk kerja sama dengan kelurga Ahyar dan bisa dipastikan Ahyar akan meminta Nama menolak atau menjauhi Rozak,” Cicil berkata sambil mengambil dua bongkah keju dari dalam sakunya.


“Aku nggak tega sama Rozak, Neng. Nanti, malem kita ngobrol sama Rozak deh. Katanya dia mau ke restoran bareng Nama,” ucap Riki sambil mengusap punggung Cicil.


“Ya udah, kamu bilang sama dia. Terus, aku mohon kasih pengertian sama dia, aku nggak bisa mengorbankan kesejahteraan beratus-ratus karyawan perusahaan aku dan Ayahku untuk dia,” ucap Cicil sambil beranjak dari kursi untuk mengambil tas tangan miliknya.


“Iya, Neng.” Riki menjawab pasrah.


“Udah yuk, kita pulang aja. Aku ngantuk, badan aku pegel, dan perut aku berat anak kamu nggak bisa diem dari tadi. Muter terus, aku sampe bingung maunya apa,” ucap Cicil sambil mengusap perutnya yang makin membulat berusaha menenangkan anaknya yang berputar tak tentu arah.


“Kenapa lagi?” tanya Riki sambil mengusap perut Cicil.


“Nggak tau, dari tadi muter. Nendang kanan dan kiri, nggak bisa diem maunya gerak. Tendang sana tendang sini sakitnya bukan main, aku ampe mual tadi siang nggak bisa makan,” keluh Cicil.


Semenjak hamil Cicil jarang mengeluh, ini pertama kalinya Cicil mengeluh tentang kehamilannya. Biasanya Cicil benar-benar santai menjalani masa kehamilannya itu.


“Sakit banget, Neng?” tanya Riki sambil mengusap perut istrinya itu.


Riki yang mengerti langsung mengelus-elus perut dan pinggang milik Cicil dengan pelan. “Hai Dede jangan nakal, jangan bikin perkara di perut Mamih kamu. Nanti, Baba marah loh,” bisik Riki.


Dug....


Cicil langsung mengaduh keras, tendangan anak di dalam kandungannya benar-benar keras. “Sakit,” isak Cicil sambil berusah untuk duduk di samping Riki.


“Sakit banget, Nak. Jangan gini Nak. Sakit,” isak Cicil sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba melesak keluar dari matanya.


Dengan sigap Riki mengelusi perut Cicil, “De, jangan gerak-gerak. Kasian Mamih, Nak. Boleh gerak tapi, jangan terlalu lincah sayang.”


Bug....


Tangan Cicil langsung mencengkram bahu Riki, sakitnya bukan main. “Aa, kayanya dia ingin ngasi tau sesuatu deh.”


“Ngasih tau apa, Neng?” tanya Riki bingung. Seingatnya anaknya masih di dalam kandungan, apa yang mau dia beritahu coba.

__ADS_1


“Aku nggak tau, seharian ini anak kamu itu nggak bisa diem. Kaya yang apa yah. Banyak pikiran, kaya yang ketakutan gitu,” ucap Cicil sambil mengelus-ngelus perutnya dan mengatur napasnya untuk meminimalisir rasa sakitnya.


“Mana ada anak belum lahiran udah banyak pikiran, kamu kali yang banyak pikiran. Kamu stress ngurusin perusahaan ini, Neng,” ucap Riki


Cicil mengusap kepalanya, kakinya sakit karena membengkak. Perutnya jangan ditanya sakit karena anaknya ini tidak bisa diam. “Kayanya, Aa. Tapi, beneran baru hari ini Dede gerak terus aku sampe nggak bisa fokus. Kaya Dede ngasih peringatan, aku takut kamu ada apa-apa, Aa.”


Riki mengusap kembali perut istrinya, sebenarnya semenjak Riki menonjok Ahyar perasaannya tidak enak. Tapi, emosinya sudah diubun-ubun bila menyangkut Istrinya, tidak ada yang boleh menghina istrinya apapun yang terjadi.


“Jangan dipikirin, Neng. Aa yakin nggak ada apa-apa. Semuanya baik-baik aja, sabar yah sayang,” ucap Riki sambil mengusap-usap perut Cicil.


“Iya, Aa. Moga nggak ap ... Aw ... sakit, Nak,” jerit Cicil pelan sambil mencengkram paha Riki berusaha mengurangi rasa sakitnya tendangan bayi dikandungannya.


Riki langsung mengusap perut Cicil, dengan lembut dibisikkannya kata-kata menenangkan di perut Cicil.


“Nak, sayang. Jangan gitu, kasian Mamih, Nak. Jangan repotin Mamih, yah,” pinta Riki sambil mengecupi perut Cicil.


Dug ...


“Astaga, Aa kenapa makin menjadi?” bisik Cicil sambil mengusap perutnya.


“Nak, dengerin Baba. Semuanya akan baik-baik aja, inget sayang bentar lagi kita ketemu, yah. Baba bakal jadi orang pertama yang gendong kamu, Baba sayang kamu yah, udah jangan bikin Mamih kamu sakit lagi, yah.” Riki berkata sambil mengusap perut Cicil.


Menit demi menit berlalu, Cicil merasa bayi di dalam kandungannya, sudah mulai tenang. Rasa tenang langsung Cicil rasakan, bujukkan Riki benar-benar berhasil menenangkan bayi di dalam kandungannya. “Aa.”


“Gimana, masih sakit?”


“Nggak, udah nggak. Makasih yah,” ucap Cicil pelan.


“Aku yang makasih, Neng,” bisik Riki di telinga Cicil, memberikan sensasi geli bagi istrinya itu.


“Buat?” tanya Cicil sambil mendekatkan bibirnya dengan bibir Riki mengikis jarak diantara mereka.


“Udah mau bawa anak Aa selama sembilan bulan, melahirkannya nanti dan udah ngerelain badan kamu, kesayangan Aa,” ucap Riki sambil mengusap pipi gembil Cicil.


Cicil tersenyum, “With my pleasure, Aa.” Cicil pun menautkan bibirnya dengan bibir Riki, mengesap kenikmatan miliknya.


••••

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2