
Albert diam menatap tablet di pangkuannya, matanya benar-benar terpaku dengan tablet dihadapannya. Tidak diindahkan sama sekali kharis yang berjalan hilir mudik dihadapannya, padahal Kharis sama sekali tidak mengenakan sehelang benangpun di badannya. Badan Kharis yang berkulit sawo matang benar-benar tampak cantik dan mempesona, cantik Indonesia.
Berkali-kali Kharis, mencoba untuk menarik perhatian Albert. Nihil, Albert tetap fokus oada tabletnya, entah apa yang di lihat oleh Albert di tablet itu. Semenjak, menerima ancaman dari salah satu rekan bisnisnya yang bernama Adipti Berutti, Albert benar-benar tampak diam. Dia tampak lebih pendiam dan fokus dengan pekerjaannya di siang hari dan menjadikan Kharis budak nafsunya di malam atau sore hari, bahkan di pagi hari. Pokoknya kapan pun dan dimanapun Kharis harus selalu siap melakukannya.
Semenjak Albert menggila dengan melakukan transfusi darah putih dengan dirinya, Kharis sama sekali sudah tidak peduli dengan alat kontrasepsi sama sekali. Dia benar-benar tidak mempedulikan apapun lagi. Kharis merasa baguslah kalau dia hamil, dia bisa nikah dengan Albert. Win-win solution.
“Al, kamu liat apa sih?” tanya Kharis manja sambil mengusap bahu Albert.
“Bukan urusan kamu, mending kamu pake baju dan pergi dari sini, besok kita ketemu di kantor,” ucap Albert ketus.
Kharis hanya bisa diam menatap Albert, rasa kesalnya benar-benar tidak bisa ditutupi lagi. Albert benar-benar menganggap dirinya budak pemuas nafsu saja. Dengan, cepat Kharis pergi meninggalkan Albert.
Saat Kharis meninggalkan Albert sendirian, terdengar helaan napas yang sangat keras dari Albert. Sejujurnya Albert jengah melihat Kharis yang selalu wara wiri dihadapannya, seandainya dia tidak membutuhkan penyaluran mungkin Albert sudah mengusir Kharis dari kehidupannya.
Saat sedang asik melihat sosial media, napas Albert memburu melihat photo pernikahan Cicil dan Riki. Di photo itu tampak Cicil yang mengenakan kebaya putih sedang memeluk Riki. Senyuman manis Cicil benar-benar nampak sangat cantik di photo itu.
“Kapan mereka menikah?” tanya Albert pada dirinya sendiri, seiingatnya Jeff sedang berada di Belgia. Walaupun semenjak Jeff mengetahui kalau dirinya memukuli bahkan memperkosa Cicil, Albert masih sering mendapatkan info mengenai keadaan Jeff.
Jeff benar-benar tidak melayangkan gugatan apapun pada Albert, entah karena apa. Namun, dari informasi yang Albert dapat. Cicil menolak melakukan tuntutan. Itu adalah ciri bahwa Cicil masih mencintainya dan membutuhkan dirinya.
“Kamu kenapa nikah sama curut ini sih?” ucap Albert sambil berdiri dari duduknya. Dengan kesal Albert melemparkan tabletnya kelantai.
Kharis yang baru keluar dari kamar mandi dan berpakaian lengkap kaget melihat Albert melemparkan tablet kelantai. “Kamu kenapa?”
Albert sama sekali tidak menghiraukan perkataan Kharis, dengan kesal Albert menendang tablet di lantai. Tablet itu langsung terpental kesamping Kharis hampir mengenai dirinya.
“Albert, kamu gila?” tanya Kharis kaget saat melihat tablet yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
Albert langsung mendekati Kharis, “Kamu bilang saya apa?” tanya Albert sambil mendorong tubuh Kharis sampai dinding, tangan Albert langsung mencengkram dagu Kharis dengan keras.
“Al... sakit,” rintih Kharis, dagu yang dicengkram Albert benar-benar membuat Kharis meringis, sakitnya bukan maen.
“Kamu bilang saya apa?” tanya Albert lagi sambil membenturkan kepala Kharis ke dinding sebanyak tiga kali. Kepala Kharis langsung limbung. Pusing langsung menerpa dirinya.
__ADS_1
“Albert, sakit,” pinta Kharis.
Entah kesetanan atau apa, tapi Albert tiba-tiba mencekik leher Kharis kencang. Kharis sampai kehabisan napas, dia benar-benar sesak. Rasanya dia ingin menangis sesenggukkan saat ini.
“Al... sesak,” rintih Kharis lagi, tangan Kharis langsung mencakar-cakar tangan Albert yang mencekik lehernya.
Albert hanya diam sambil menatap Kharis, tatapan Albert kosong. Albert seperti tubuh tanpa jiwa dan ada seutas senyum disana. Albert menikmati menyiksa kharis, sensasi yang diberikan saat menyiksa Kharis hampir sama dengan sensasi saat Albert menyiksa Cicil.
Kharis meronta, paru-parunya meledak meminta pasokan udara. Napas Kharis memburu, tangan dan kaki meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cekikkan Albert. Selama mereka berhubungan Albert tidak pernah melakukan kekerasan, paling kekerasan yang diterima Kharis hanya saat mereka melakukan transfusi darah putih, yang menurut Kharis masih di batas kewajaran. Tapi, ini beda. Albert benar-benar mencekiknya dan menatapnya dengan tatapan yang sangat menakutkan.
“Albert, sesak,” ucap Kharis.
Albert menggerucutkan bibirnya sebelum melepaskan cekikannya. Kemudian, duduk kembali di sofa yang ada.
Kharis langsung terjatuh dilantai sesaat Albert melepaskan cekikkannya, dengan cepat Kharis memasukan sebanyak mungkin oksigen kedam dirinya. Beberapa kali Kharis terbatuk-batuk karena merasa tenggorokkannya tidak enak. Cengkraman Albert dilehernya, membuat leher Kharis sedikit membiru.
“Kamu kenapa, ohok...ohok...” tanya Kharis sambil mengusap lehernya pelan.
“Mungkin karena mereka sudah jodoh, ayolah Albert. Sampai kapan kamu mau ngejar Cicil?” tanya Kharis gemas, rasanya Kharis ingin berteriak pada Albert, lihat dia. Dia bisa menggantikan posisi Cicil. Memang dia bukan anak sultan, tapi semua kebutuhan Albert mampu Kharis penuhi. Ingat, semuanya.
“Jodoh? Ngaco kamu, mana ada seorang seperti Cicil menikah dengan orang kampung seperti Riki? Nggak ada,” ucap Albert.
“Tapi, buktinya mereka nikah. Bahkan kata Sherlly mereka mau honeymoon ke Yogyakarta,” ucap Kharis sambil berdiri.
“Tau dari mana kamu? Siapa Sherlly?” tanya Albert penasaran.
“Sherlly, sekertaris Adipati Berutti. Aku kenal dia, dia bilang kemaren habis beli tiket untuk hadiah pernikahan Kakak Ipar Adipati,” ucap Kharis sambil berjalan kearah kulkas, dia membutuhkan sebungkus kacang polong dingin untuk meredam memar di lehernya.
“Dimana? Kemana, kamu tau dimana hotelnya? Pesawatnya?” tanya Albert antusias. Entah kenapa Albert mendapatkan ide gila. Ide yang dapat membuat Cicil kembali kepada dirinya, dengan cara apapun juga.
“Kamu mau tau?” tanya Kharis sambil menatap Albert dengan tatapan menyelidik.
Albert beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Kharis dan memerangkap tubuh Kharis di antara dirinya dan kulkas empat pintu miliknya.
__ADS_1
“Said it,” ucap Albert.
(Katakan)
Kharis hanya bisa menghela napasnya pelan, Albert benar-benar tidak bisa melupakan Cicil, dia benar-benar mencintai gadis sialan itu. Padahal, Kharis sudah melakukan semuanya untuk Albert, dari mulai pekerjaan kotor hingga bersih. Tapi, tidak secuilpun Albert meliriknya.
“Marry me, First and I will tell you, Albert Connor,” ucap Kharis sambil menatap Albert tajam.
(Nikahi aku dulu baru aku beri tahu kamu, Albert)
Albert menatap Kharis dengan tatapan merendahkan, astaga gila semua manusia di dunia ini. Seoarang wanita miskin seperti Kharis ingin menikah dengan dirinya. Astaga, sinting.
“Albert, your answer?” tanya Kharis sambil menatap Albert.
(Jawabannya?)
Albert hanya bisa menahan tawanya, wanita didepannya ini sangat mudah ditipu. Albert yakin bila dia mengatan iya. Kharis akan sangat lancar memberitahukan semuanya dan bahkan membantu dirinya untuk melakukan rencananya. Rencana sinting yang Albert yakin mampu membuat pasangan itu tercerai. Kalau Albert tidak bisa mendapatkan Cicil, tidak akan ada satu manusiapun yang boleh memilikinya.
“Oke, jadi dimana mereka sekarang?” tanya Albert.
Kharis langsung tersenyum mendengarkan perkataan Albert. Dengan lancar Kharis menceritakan jadwal perjalanan Riki dan Cicil.
•••
Kaka Gallon peringatkan, buka pikiran anda. Jangan ngambek-ngambek nggak beraturan sama cerita ini. Karena, Kaka gallon nggak sayang-sayang amat sama karakter Cicil dan Riki 🤣🤣🤣🤣
Jangan lupa itu like di teken pake lutut sama jangan sungkan kasih Vote dan pointnya yang banyak.
Ancamannya...
BERIKAN VOTE, LIKE DAN POINT KALIAN ATAU CICIL GOYANG!? 🤣🤣🤣🤣
XOXO GALLON
__ADS_1