
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️
•••
Setelah mendapat chat dari Bi Jum, dengan cepat Laura, Riki dan Cicil naik kedalam lift untuk naik ke atas penthouse miliknya. Bertepatan mereka masuk lift, pintu lift disebelahnya terbuka dan keluarlah Edy, Nama, Riki dan Jeff.
“Aing lele... aing lele, lele yang butuh cinta dan kasih sayang,” ujar Edy.
Jeff yang dari tadi dibuat sport jantung dengan kelakuan Edy selama di lift hanya bisa pasrah, saat dirinya di tarik-tarik oleh Edy.
“Jeff cepet nyanyi lagi... kalau nggak saya akan selalu menghantui anda, grauuuuuwwwww....” ujar Edy sambil mengerak-gerakkan seluruh tubuhnya seperti orang ayan.
Jeff yang ketakutan langsung bernyanyi sekeras mungkin, “Nangis batinku nggrantes uripku
Teles kebes netes eluh cendol dawet, Cendol dawet, cendol dawet seger. Cendol ... cendol ...”
Entah kesambet apa tapi Rozak dan Nama spontan membalas lagu Jeff sambil menari dengan cara mengangkat tangannya keatas dan menggerakkan tubuhnya meliuk-liuk seperti penari ular. “ Dawet ... Dawet ... Dawet ....”
“Cendol dawet seger, piro?” tanya Edy sambil ikut menari.
“Lima ratusan...” teriak Nama sambil terus menari.
“Terus..” teriak Jeff dengan nada lagu pamer bojo yang sangat kental.
“Gak pake ketan,” jawab Edy sambil mengoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri.
Laura, Riki dan Cicil yang berada didalam lift hany bisa menahan tawanya melihat aksi absurd teman-temannya itu. Astaga kelakuan bahlul Edy sepertinya menular.
“Cil, sejak kapan Om Jeff bisa bahasa jawa?” tanya Laura bingung sambil menatap Cicil.
Cicil menahan tawanya, sebenarnya ayahnya itu kocak, tapi, karena satu dan lain hal yang akhirnya membuat ayahnya berubah menyebalkan.
“Nggak tau, Papih emang nggak jelas,” ujar cicil sambil menahan tawanya.
“Papih kamu kocak yah, pasti seneng yang jadi mantunya nanti,” ujar Riki sambil menatap Cicil.
Cicil mengerjapkan matanya saat Riki menatap bola mata coklat miliknya. “Kamu ngomongin diri sendiri?” tanya Cicil polos.
Riki menganggukkan kepalanya, entah kenapa Riki ingin mendapatkan izin dan restu dari ayah Cicil. Apapun yang terjadi wali yang harus menikahkan dirinya dan Cicil haruslah Ayahnya.
“Ah, Aa...” jerit Cicil manja sambil melocat kepelukkan Riki. Riki langsung menangkap tubuh Cicil yang tiba-tiba memeluknya.
“Hadeuh...obat nyamuk gue disini..!” pekik Laura gemas. Sambil mengetuk-ngetuk kaki kirinya kelantai lift.
Cicil tidak peduli dengan ocehan Laura, malah dia dengan sengaja mengalungkan lehernya bermasuk mencium bibir Riki, Riki dengan cekatan mengangkat Cicil dan memindahkannya ke samping kanan tubuhnya sambil berbisik, “Kasian Laura, Neng.”
Cicil langsung menolehkan kepalanya dan melihat Laura yang sudah mengerucutkan bibirnya sambil menatap kesal kearah Cicil dan Riki.
“Wah ngambek nih, ya udah sana cepet pacaran sama Edy,” ujar Cicil sambil terkekeh. Membayangkan Laura yang cerewet dan Edy yang Absurd entah bakal seperti apa pernikahannya nanti.
“Nggak ih, amit-amit pacaran sama siluman lele. Mending sama adik kamu, Rik. Ganteng,” ujar Laura sambil tersenyum penuh arti pada Riki.
__ADS_1
“Rozak?” tanya Riki sambil menahan tawanya.
“Iya, Rozak. Ganteng yah,” ujar Laura.
“Jangan, nggak usah. Rozak mah susah jatuh cinta, dia move on dari pacarnya yang dulu aja lama.” terang Riki.
“Ih... mungkin sekarang udah move on,” ujar Laura.
“Emang udah move on sih, tapi kayanya Rozak suka sama Nama,” ujar Riki jujur sambil menatap Laura.
“Nama yang tadi?” tanya Laura sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Ya udah. Edy masih menunggu kamu dengan sabar kok. Kalau diliat-liat Edy ganteng kok,” ujar Cicil sambil menepuk bahu Laura.
“Kalau ganteng, gimana kalau kamu pacaran sama siluman lele itu, terus aku sama Riki? Mau?” tangang Laura gemas.
“Enak aja, sana...sana...sana,” usir Cicil sambil memeluk Riki erat.
“Astaga Neng, sesek ih. Udah biarin aja Laura ngehalu. Lah wong aku maunya sama kamu kok,” ujar Riki santai sambil menarik Cicil keluar dari dalam lift.
Mendengar perkataan Riki, Cicil langsung menjulurkan lidahnya pada laura. Laura yang melihat kelakuan Cicil hanya bisa mengepalkan tangannya kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.
•••
Cicil dengan cepat memasukkan semua surat-surat berharga dan buku tabungannya. Baju dan perlengkapan pribadinya sudah dimasukkan oleh Bi Jum. Riki sedang membawa perlengkapan Geulis. Cicil benar-benar ingin membawa kucing kesayangannya itu.
Sedangkan Laura malah sibuk mempacking tas dan sepatu milik Cicil, kata dia semua tas dan sepatu milik Cicil akan disimpan di lemari dirumahnya. Padahal itu semua modus Laura supaya bisa menggunakan barang-barang Cicil yang harganya membuat ginjal kaum rebahan tak berduit seperti Kaka Gallon meronta-ronta.
Cicil langsung menarik kopernya, ini adalah koper terakhir yang akan Cicil bawa. Untungnya tadi Laura membawa mobil double cabin miliknya sehingga dia bisa membawa barang-barang Cicil. Ditambah mobil Avanza milik Edy benar-benar membatu Cicil untuk membawa barang-barang miliknya yang tidak sedikit.
“Udah Neng?” tanya Riki sambil mengendong Geulis ditangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa koper milik Cicil lainnya.
Bi Jum langsung memeluk tubuh Cicil, “Non, baek-baek disana yah Non. Nanti kalau ada apa-apa kasih tau Bi Jum. Bi Jum bakal disini kok, bakal nunggu Non Cicil pulang,” ujar Bi Jum.
“Iya, doain Cicil baik-baik aja yah Bi, sama nanti kalau Albert kesini Bibi ati-ati yah. Pokoknya Bibi jangan bilang aku dimana yah,” ujar Cicil sambl mengusap kedua pipi pengasuhnya dari kecil tersebut.
“fais attention là-bas, Non,” ujar Bi Jum. Ikut kemanapun keluarga Cicil pergi membuat Bi Jum bisa berbahasa Prancis dan inggris dengan fasih.
(Hati-hati disana)
“Oui merci, Bi,” ujar Cicil sambil memeluk Bi Jum sekali lagi.
(Iya, terima kasih)
Cicil, Riki dan Laura pun masuk kedalam lif.
•••
Setelah sampai di restoran Water Teapot Cicil, Laura dan Riki menurunkan semua barang-barang di meja resepsionis.
Manda tampak berlari tergopong-gopong menghampiri Cicil, Laura dan Riki.
“Pak... gawat Pak,” ujar Manda.
“Kenapa?”
__ADS_1
“Itu pak Albert sadar terus marah-marah nggak jelas. Dia teriak-teriak nyari Bu Cicil,” ujar Manda panik.
Brakk...Brakk...
Terdengar suara barang-barang dilempar dari dalam restoran. Badan Cicil langsung mencolos saat mendengar barang yang dilempar. Trauma atas pemukulan yang dirasakan oleh Cicil langsung merayap disekitar tubuhnya.
“Aa...” cicit Cicil sambil menggigit bagian bawah bibirnya dan menatap Riki ketakutan.
“Neng, kamu sama Laura ke kantor Aa, masuk lewat sana yah,” ujar Riki sambil menunjuk pintu masuk ke kantor Riki, “Manda, bantuin Cicil sama Laura bawa barang-barangnya.”
“Tapi pak Albert?” tanya Manda masih dalam mode panik.
“Udah barin si Albert biar saya yang urus,” ujar Riki.
“Ayo, Cil...” pinta Laura sambil menarik Cicil.
“Bentar...” Cicil berlari kearah Riki kemudian memeluknya erat. “Ati-ati Aa,” pinta Cicil.
“Iya, jangan buka kunci kecuali aku yang ketuk yah, Neng,” Riki mengingatkan Cicil.
Cicil menganggukkan kepalanya kemudian menyusul Laura yang sudah menyeret 2 koper sekaligus.
•••
Apa yang akan terjadi? Apakah Albert akan buat ulah atau Riki yang buat ulah?
Atau malah Kaka Gallon tiba-tiba datang 🤣🤣🤣🤣
Tungguin ajalah besok wkwkkw....
Ah sama kalau mau ikut GC Kaka Gallon boleh kok tapi jawab pertanyaan dibawah ini yah.
Inget dijawab, jangan cuman di liatin doang wkwkwkkwkw....
Siapa nama Kucing Cicil ?
Nama panggilan Purnama ?
Siapa nama dukun langgangan Edy Edros?
__ADS_1
Dijawab yah hohohohohooo....
Luv gallon...