Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Pencarian Cicil


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


Santaikan posisi kalian, atur posisi rebahan terbaik kalian dan selamat membaca ☺️


•••


Albert menjalankan mobilnya secara ugal-ugalan, semua mobil Albert anggap salah. Mesin mobil 8 silinder milih Albert meraung dengan keras saat Albert menginjak gas sampai mentok.


“Dimana kamu, Baby,”monolog Albert sambil mendatangi rumah seseorang yang Albert yakinin tau di mana Cicil berada.


Sesampainya dirumah mewah bercat hitam putih dan berpagar gold yang berdiri tegak. Seorang satpam langsung mendatangi Albert.


“Maaf Pak, mau ketemu siapa?” tanya Satpam tersebut sambil menatap Albert.


“Ada Laura?” tanya Albert, Albert yakin 100 persen Laura ada dirumah, dia pasti tidak datang ke pesta tadi karena tau Cicil tidak ada diacara tersebut.


“Ada Pak, saya panggilkan yah. Bapak parkirkan mobil disana yah,”ujar Satpam tersebut sambil membuka gerbang dengan tombol otomatis pembuka gerbang.


Albert langsung memarkirkan mobilnya ditempat yang ditunjukkan oleh satpam tersebut. Tak berapa lama Laura muncul dengan celana pendek dan cardigan pink menghampiri Albert.


“Apa?” tanya Laura sambil menatap Albert.


“Dimana Cicil?”tanya Albert tanpa basa basi.


“Ngak tau, bukannya kamu pacarnya? harusnya kamu yang lebih tau dari pada aku,” ujar Laura sambil menyilangkan kedua tangannya kesal.


“Jangan sampai aku ngelakuin hal-hal aneh yah,” ujar Albert sambil menatap Laura geram.


Laura berdecak kesal saat mendengar perkataan Albert, kekasih sahabatnya ini benar-benar membuat Laura muak.


“Gue ngak tau, udah mending lo minggat sono, gue muak liat muka lo,” hardik Laura sambil pergi meningalkan Albert.


Albert diam kemudian pergi meningalkan parkiran rumah Laura.


Laura diam menatap mobil Albert yang sudah meninggalkan rumahnya. Sudah dari siang Laura tidak dapat menghubungi Cicil. Cicil benar-benar mematikan handphonennya. Laura memutar pikirannya, sepertinya dia harus menelepon siluman lele itu.


Laura langsung menelepon siluman lele yang dimaksud, pada dering ke tiga siluman lele itu mengangkat teleponnya.


“Edros yang hobi di endorse disini,” ujar Edy, saking sibuknya mengurus daftar menu baru Edy tidak melihat siapa yang menelepon dirinya.


Laura langsung menepuk dahinya, siluman lele ini benar-benar membuat kepalanya sakit, “Edy ini Laura...”


“Laura cintaku, kasihku, sayangku ada apa sayang?” tanya Edy sambil menghentikan segala aktivitasnya, hatinya berbunga-bunga mendengarkan suara kekasih hatinya ini.


“Ih... salah minum obat lo? Siapa juga yang mau jadi pacar lo, gue cuman mau tanya lo liat Cicil kagak?” tanya Laura cepat.


“Oh... Cicil? Cicil mah dari siang juga ada di kantornya Riki diatas,”ujar Edy.

__ADS_1


“Cicil disana? Sekarang juga disana?” tanya Laura lagi.


“Iya, mau dipanggilin?” Edy bertanya sambil berdiri dari duduknya bersiap untuk berjalan ke kantor Riki.


“Ngak usah, aku kesana aja. Ah...bilangin aja, Albert tadi kerumah aku, jaga-jaga aja takutnya Albert kesana,” ujar Laura sambil mengambil kunci mobilnya dan berlari kearah mobil miliknya.


“Albert mau kesini?” tanya Edy siaga, Edy tau siapa Albert, sialnya Riki baru saja menandatangangi perjanjian baru dengan Albert tentang pasokan daging.


“Ngak tau, pokoknya jaga-jaga aja, aku sekarang mau kesana. Kasih tau Cicil,” terang Laura.


“Oke, Laura hati-hati kamu,” ujar Edy, perkataan Edy membuat Laura terdiam.


“Iya, Lele...” ujar Laura sambil tersenyum kecil dan menutup sambungan teleponnya, kemudian menjalankan mobilnya menuju restoran Water Tepot milik Riki.


Tanpa laura sadari mobil Albert masih ada dibagian luar jalan, Albert tersenyum kemudian membuntuti mobil Laura. Albert yakin 100 persen Laura sedang menjemput Cicil.


•••


Tok tok tok...


Cicil dan Riki yang sedang mengobrol dikagetkan dengan suara ketukan dari luar pintu kantor.


“Siapa?” tanya Cicil sambil menatap Riki.


“Nggak tau, aku buka dulu,” ujar Riki sambil beranjak dari duduknya dan membuka pintu.


“Edy,” ujar Riki.


“Gawat apaan?” tanya Riki bingung.


“Kata Laura, Albert nyari dia kerumahnya. Laura mau kesini, katanya dia takut Albert dateng kesini buat nyari Cicil,” terang Edy sambil duduk dikursi yang ada dipojokkan ruangan.


Badan Cicil langsung bergetar hebat, rasa takut langsung menyelimuti dirinya. Sumpah demi apapun Cicil tidak takut pada orang tuanya, dia bahkan sudah tidak peduli dengan keadaan orang tuanya. Yang cicil takutkan adalah Albert, masih segar diingatannya penganiyayan yang dilakukan Albert pada dirinya.


“Aa..” desis Cicil sambil memeluk tubuhnya sendiri, rasa takut meremang di badan Cicil.


Riki langsung menatap Cicil yang ketakutan dan memeluk dirinya sendiri. Dengan cepat Riki mendekati Cicil.


“Neng...” panggil Riki sambil mengusap rambut Cicil dan memeluk tubuh Cicil.


“Aa, aku ngak mau ketemu Albert, bisa abis aku dipukulin Albert,” ujar Cicil sambil membalas pelukkan Riki.


“Nggak, kamu udah disini aja. Nggak usah kemana-mana,” saran Riki sambil mengusap-usap lengan Cicil pelan.


“Aa kebawah dulu sama Edy, yah. Kamu disini aja, ngak usah keluar sama sekali,”ujar Riki sambil beranjak dari duduknya dan mengajak Edy keluar ruangan. Cicil hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepalanya.


•••


Edy dan Riki sudah berada di ruang tunggu restoran. Restoran yang sudah tutup hanya ada pegawai yang sedang membereskan restoran.

__ADS_1


“Albert ngapain Cicil, sampai Cicil ketakutan gitu?” tanya Edy penasaran.


Riki mengusap-ngusap kepalanya dengan sedikit gemas, “Albert mukulin Cicil, Albert jadiin Cicil samsak hidup, Ed.”


“Astaga, sakit Albert tuh?” tanya Edy kaget.


“Sakit? Bukan sakit namanya, tapi gila. Cuman cowo sinting yang hobi mukulin cewe,” sergah Riki kesal.


Krekk..


“Cicil mana?” tanya Laura yang masuk kedalam ruang tunggu restoran.


“Laura,” panggil Edy kaget karena Laura tiba-tiba ada di sana. Makin kaget karena pakaian Laura yang hany menggunakan cardigan, celana pendek dan sendal jepit, tanpa make up membuat kecantikan Laura lebih terpancar.


“Cicil mana, Lele..!!” ulang Laura lagi sambil membulatkan matanya pada Edy.


“Ah, Cicil dikantor aku,” jawab Riki sambil menunjuk lokasi kantornya.


“Jadi Cicil disini ?”


Laura langsung menolehkan kepalanya dan terkesiap kaget melihat Albert yang sudah berada di belakang tubuhnya.


“Albert..!” pekik Laura kaget.


Dengan sekali dorong Albert mendorong tubuh Laura. Tubuh Laura yang ramping langsung tersungkur kedepan. Edy dengan sigap menangkap Laura, membuat Laura memeluk Edy.


“Mau apa kamu kesini?” tanya Riki sambil berjalan mendekati Albert.


“Mau apa? Astaga Riki Trina. Kamu lupa Cicil itu pacar saya, saya mau cari Cicil,” ungkap Albert sambil mendorong Riki agar tidak menghalangi jalannya.


“Cicil bukan pacar kamu, kalau dia pacar kamu pasti dia dateng ke acara pertunangan kalian kan,” ujar Riki yang tetap berdiri didepan Albert menutupi jalan Albert.


“Hahahaa... kamu kenapa? Mimpi jadi pacar Cicil? Punya apa kamu?” cemooh Albert.


“Mimpi? Ngak butuh mimpi buat jadi pacar Cicil. Memang Cicil pacar saya, kok. Sekarang mending kamu pergi,” ujar Riki.


“Oke,” ujar Albert sambil mundur beberapa langkah dari tubuh Riki.


Riki bingung kenapa Albert dengan mudahnya mengalah. Tapi....


BRUAK....


•••


Apaan tuh yang BRUAK...


hmmm.... episode baku hantamnya besok aja yah


Heheheh...

__ADS_1


Kaka gallon lagi ngak enak badan. Maaf yah telat update nya 😭😭


__ADS_2