
Cicil yang tertidur langsung terhenyak saat merasakan sesuatu dibagian pribadinya, ada sesuatu yang menggelitik dan mampu membuat Cicil melayang.
Tangan Cicil langsung menggapai sesuatu yang sedang asik diantara pahanya. Senyuman langsung terbit diwajah Cicil, tanganya langsung mencengkram rambut milik suaminya.
“Aa....” Cicil mendesah dan menancapkan setiap ujung kuku kakinya ke kasur menahan deburan kenikmatan yang diberikan oleh Riki.
Desahan demi desahan berloncatan dari mulut Cicil, tangannya mencengkram rambut Riki dengan kerasnya. Di lentingkannya tubuhnya untuk mendapatkan lebih banyak dari Riki. Saat Cicil sudah hampir mendapatkan pelepasannya.
Tok... tok... tok...
Saat mendengar suara ketukan otomatis Riki menghentikan kegiatannya dan beranjak dari posisinya. Cicil yang nyaris mendapatkan pelepasannya langsung mengerucutkan bibirnya.
“Siapa lagi!?” maki Cicil sambil bergerak dari posisinya.
Riki hanya bisa menahan tawanya sambil berjalan kearah sink di dapur. “Nggak tau.”
Tok... tok... tok...
“Astaga minta aku garuk itu orang yang ngetuk pintu,” maki Cicil sambil melirik handphone dan melihat jam di layar handphonennya. “Bagus jam delapan pagi di hari minggu yang indah ini, bertamu.”
Tawa Riki hampir meledak, istrinya ini akan terus uring-uringan sampai dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Riki tau, Cicil hampir mendapatkan pelepasannya tadi. Cicil marah karena belum mencapai puncaknya. Astaga, kenapa dia bisa punya istri seunik ini, nggak ada kata jaim dalam urusan hubungan suami istri di kamus Cicil Trina.
Tok...tok...tok...
“Astaga, sabar ih...” maki Cicil lagi sambil berdiri dan berjalan kearah pintu, bergegas untuk membuka pintu kamar. Namun, dihadang oleh Riki.
“Mau kemana?” tanya Riki.
“Buka pintulah, mau liat siapa yang bikin perkara sama aku,” ucap Cicil dengan tatapan kesal.
“Biar Aa yang buka pintu,” ucap Riki.
“Nggak mau, aku mau liat siapa yang bikin perkara. Siapa yang berani ganggu acara sakral kita di pagi hari,” cerocos Cicil sambil berusaha melepaskan pelukkan Riki.
“Aku aja, udah.”
“Nggak bisa, apa dia nggak tau apa. Setelah melahirkan, aku nggak bisa transfusi darah putih sama kamu selama tiga bulan,” ucap Cicil sambil mengerucutkan mulutnya.
“Woi, biasanya yang marah itu suaminya. Ini kok yang ngambek istrinya. Harusnya aku yang stress nggak bisa transfusi darah putih, bukan kamu.”
“Iya, itu orang lain. Kalau Neng, yah Neng yang uring-uringan. Pusing Neng yang ada nggak dibelai sama Aa. Tiga bulan Aa,” ucap Cicil sambil mengacungkan ketiga jarinya ke hadapan Riki.
Tawa Riki langsung pecah detik itu juga, “Neng, kamu teh kenapa?”
“Hyperse• kalau kata psikolog aku,” jawab Cicil sambil mengedipkan matanya pada Riki.
“Eh, udah pernah periksa?”
“Udah, kata psikolognya itu. Ya udah terima aja, wong enak. Suami juga ada,” jawab Cicil santai.
Riki langsung menepuk dahinya sambil tertawa kecil, “Ya udah, nggak papa lah. Asal sama Aa aja, moga anaknya udah lahir kamu masih kaya gini.”
Cicil tersenyum, “Tenang, nanti aku cari baby sitter biar aku nggak capek. Jadi, malem-malem aku masih bisa menggoyang dunia kamu,” ucap Cicil sambil mengedipkan sebelah matanya pada Riki.
“Astaga udah dipikirin dong.” Riki tertawa mendengar perkataan Cicil.
“Iyalah, semua sudah dipikirkan dan direncanakan,” ucap Cicil.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan terdengar lebih keras dari awal. Mungkin, orang yang mengetuk pintu sudah mulai kesal karena menunggu terlalu lama.
“Astaga itu siapa sih yang ngetuk pintu, minta aku cekik,” maki Cicil lagi.
“Aku yang buka,” cegah Riki, sambil mengecup pucuk rambut Cicil.
“Aku mau liat, siapa yang ganggu. Dia nggak tau apa ngidam aku tuh dikelonin kamu,” ucap Cicil lagi.
“Ya kali orangnya tau, ngidam kamu dikelonin aku.”
__ADS_1
“Ih awas aku mau buka pintunya,” ucap Cicil gemas.
“Nggak usah, aku yang buka pintu.” Riki berkata sambil membalikkan badan Cicil kearah kamar. “kamu balik lagi kekamar dan ganti baju kamu.”
“Ih, aku mau.”
“Balik kamar ganti baju kamu, baju ini tuh nunjukkin hampir delapan puluh persen tubuh kamu. Paha dan dada kamu. Mana kamu nggak pake daleman sama sekali, udah sana.”
“Tapi, kamu suka aku kaya gini,” rengek Cicil sambil berjalan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.
“Iya suka, suka banget. Apalagi kalau pake baju tidur warna merah yang udah kekecilan itu,” goda Riki.
Cicil langsung menghentikan langkahnya dan mendelik pada Riki. “Maksud kamu aku gendut?”
“Hahaha... siapa ih yang bilang, udah sana ganti baju kamu. Udah ganti baju, baru kamu bisa murka ke orang yang gedor pintu.”
“Tau ah, awas aja kalau aku udah lahiran. Aku pake itu baju tiap hari, biar kamu semaput.”
“Udah abis Aa, kamu makan. Lutut Aa bisa goyang lagi udah, osteoporosis langsung.” ucap Riki.
“Tinggal ke dokter minta obat,” jawab Cicil sambil masuk kedalam kamar mandi.
“Terus dokternya bingung, umur baru tiga puluhan. Tapi, udah osteoporosis.”
“Bilang aja terlalu lelah menerima gempuran maut dari aku,” kekeh Cicil.
Riki hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membuka pintu. “Iya.”
“Aa, jadi ke rumah Nama?” tanya Rozak sambil menatapnya dengan tatapan berbinar.
Riki langsung menepuk kepalanya, merutuki nasibnya. Memiliki istri yang sangat-sangat memaksa untuk melakukan transfusi darah putih dan memiliki seorang adik yang ngebet kawin.
“Iya jadi,” jawab Riki.
“Ya udah ayo sekarang,” ucap Rozak sambil menarik badan Riki.
“Ke rumah Nama lah, ayo cepetan.”
“Astaga, Rozak Trina. Aa aja ini belom mandi,” ucap Riki sambil menarik tangannya kesal.
“Ya udah mandi cepet,” ucap Rozak sambil mendorong-dorong badan Riki kedalam ruangan, tanpa sadar ada singa betina yang sudah menatap Rozak dengan tatapan akan membunuh.
“Jadi, ini yang ganggu?”
Suara dingin nan menusuk itu tiba-tiba membuat Rozak terdiam ditempat. Digerakkannya kepalanya ke kanan melewati badan kakaknya. Jantungnya langsung berdegup saat melihat Cicil yang sudah berkacak pinggang dan siap menerkam Rozak.
“Hai, Cil,” sapa Rozak sambil menelan salivanya.
“Hai hai hai, ngapain kesini pagi-pagi?” tanya Cicil ketus.
“Kan kamu yang nyuruh, katanya kalau mau nikah hari ini dateng pagi-pagi.” Rozak berjuang untuk membalas kata-kata Cicil.
“Tapi, nggak sepagi ini juga,” ucap Cicil sambil menatap Rozak kesal.
“Kan bilangnya pa—“
“Nggak sepagi ini juga, Rozak,” potong Cicil kesal.
Riki hanya bisa mengusap kepalanya, berada di antara manusia yang ngebet nikah dan ngebet kuda-kudaan.
“Aa, itu istrinya kenapa lagi sih?” tanya Rozak takut-takut. “Aa kok bisa kuat sih, punya istri galak gitu.”
Riki hanya bisa tersenyum saat mendengar perkataan Rozak. Hampir semua orang bilang Cicil galak dan judes, padahal menurutnya Cicil itu manis dan lembut. “Galak? Cengeng dia mah.”
“Ih, cengeng kaya gimana. Galak gitu, kayanya kalau Aa ada salah. Aa abis dilempar piring,” ucap Rozak sambil mencuri-curi pandang kearah Cicil yang sedang berjalan kearah Riki dan Rozak.
“Dia cengeng loh dan nggak pernah marah-marah kalau ke Aa,” ucap Riki sambil menatap Rozak.
Rozak hanya bisa bergidik saat mendengar perkataan Riki. Tidak bisa dibayangkan betapa menderitanya hidup Kakaknya memiliki istri segalak dan sejudes Cicil.
__ADS_1
“Jadi, kamu kesini mau ngajak Aa Riki buat ketempat keluarga Nama?” tanya Cicil sambil menunjuk dada Rozak.
“I-ya,” jawab Riki sambil berjuang untuk menelan salivanya.
“Oke, aku ikut juga.” Cicil berkata sambil mendorong Rozak ke luar ruangan.
Rozak hanya bisa pasrah didorong oleh Cicil keluar ruangan. Bukan tidak bisa Rozak bertahan di ruangan. Rozak bisa saja mendoronga Cicil tapi, daripada dia ditempeleng Riki. Lebih baik dia pasrah mundur keluar dari ruangan.
“Tapi.”
“Tapi, apa?” tanya Rozak bingung, apa lagi yang harus dia lakukan. Astaga, mau nikah aja susah banget syarat dan ketentuannya, ngalahin syarat dan ketentuan test CPNS.
“Tunggu dibawah, jangan bikin perkara. Pokoknya tunggu dibawah!?”
“Tunggu didalem nggak bisa?” tanya Rozak sambil menunjuk ruang tamu.
“Nggak bisa!?”
“Kenapa?”
“Aku mau kuda-kudaan sama Kakak kamu, ngerti,” ucap Cicil sambil menatap mata Rozak ganas.
“Hah, lagi?” tanya Rozak polos.
“Iya, kenapa? Nggak boleh?”
“Boleh?” tanya Rozak sambil menatap Riki yang hanya bisa menahan tawanya melihat Rozak yang kaget mendapat amukan Cicil.
“Ya udah tunggu dibawah, yang manis yah, adik kesayangan,” ucap Cicil sambil menepuk bahu Rozak dan menutup pintu pelan.
Rozak langsung berlari tunggang langgang dari sana, lebih baik menyelamatkan diri daripada harus mendengar teriakkan Cicil untuk kedua kalinya.
Ditengah jalan Rozak bertemu dengan NaWa, salah satu pegawai restoran yang berjalan membawa buku pembukuan.
“Ngapain kamu?” tanya Rozak.
“Mau, ngasih pembukuan, Pak.” NaWa berkata sambil menunjukkan dua buah buku pembukuan.
“Nggak usah, nanti aja.”
“Kenapa?” tanya NaWa heran, kenapa pula adik bossnya ini, melarang dirinya untuk pergi dari sana.
“Udah, nanti aja. Pak Riki sama Bu Cicil lagi sibuk.”
“Ah, lagi ritual pagi?” tanya NaWa sambil menahan tawanya.
Rozak kaget dengan perkataan NaWa. “Kamu kok tau?”
“Taulah, Pak. Udah sering kami tuh. Dimurkai sama bu Cicil, gara-gara ganggu ritual pagi mereka.”
“Astaga pasangan itu, yah.”
“Hahaha... biarin, Pak. Mau buka jalan kali,” ucap NaWa sambil mengedipkan matanya pada Rozak.
“Lo sangka dinas binawarga,”kekeh Rozak sambil menahan tawanya.
NaWa pun tertawa saat mendengar perkataan Rozak. Sepertinya dia harus menunda menyerahkan pembukuaannya. Demi kebaikan jiwa dan raganya.
•••
Dor...
Pasti bilang itu pasangan Cicil ama Riki demen amat. Hahaha... mohon maaf Cicil emang begitu bentukkannya.
Terima kasih semuanya untuk kopi dan bungannya, juga votenya ❤️
Kalian luar binasa eh... salah luar biasa ❤️.
XOXO GALLON
__ADS_1