
“Abah,” panggil Cicil sambil turun dari mobilnya dan berlari kecil kearah mertuanya yang baru turun dari mobil Avanza favoritenya.
“Eh, Cicil jangan lari-lari. Itu perut kamu udah gede.” Abah mengingatkan sambil berlari kearah Cicil.
“Hehehe... Maaf, Bah. Kebiasaan,” ucap Cicil sambil menggandeng Abah. “Abah, kesini sendirian?”
“Iya, sendirian aja. Langsung dari Citeko kesini, Rozak gimana?” tanya Abah.
“Rozak nggak papa, cuman katanya tangan kanannya patah. Tapi, kata Aa Riki, Rozak udah di apartemen sama Nama....”
“Kumaha?” tanya Abah kaget.
(Gimama?)
“Rozak udah di urus sama Nama di apartemen ‘kan Rozak butuh bantuan buat makan, masak, mandi....”
“MANDI!?” teriak Abah kaget, “mandi gimana?”
“Ya, mandi, Bah. Mandi masa Abah nggak tau mandi, itu loh bersihin badan,” ucap Cicil sambil menirukan orang mandi.
“Nggak pake baju?”
Cicil bingung dengan pertanyaan mertuanya itu, seingatnya mandi tidak menggunakan baju. Mana ada mandi menggunakan baju. “Yah, mandi ‘kan nggak pake baju, Bah.”
“Celaka,” ucap Abah sambil berbalik untuk kembali ke mobilnya.
“Eh, Abah mau kemana?” tanya Cicil bingung. “Abah, tunggu. Abah...!?”
“Mau kemana?” tanya Cicil bingung.
“Mau ke apartemen Rozak, celaka kalau Rozak dimandiin Nama. Wah, gawat ini, tuh.”
“Hah, gawat gimana?” tanga Cicil bingung.
“Cil, anak Abah yang paling nafsuan itu Rozak. Udah, itu mah nggak bisa diganti.”
“Oh, terus hubungannya apa?” tanya Cicil bingung.
“Aduh, Rozak itu jangan ditanya. Kebayang, duaan mandi. Bisa-bisa bukan mandi malah kuda-kudaan,” ucap Abah.
“Eh... kan enak, Bah. Kuda-kudaan di kamar mandi,” ucap Cicil sambil membayangkan dirinya dan Riki yang melakukan transfusi darah putih di kamar mandi.
“Ya, kamu mah enak, udah halal. Itu si Rozak, haduh gawat darurat udah beneran.” Abah berkata sambil membuka pintu mobilnya.
“Abah mau kemana?” tanya seseorang dibelakang Cicil dan Abah. Spontan Abah dan Cicil berbalik dan mendapati Rozak yang berjalan bersama Nama.
“Rozak, kamu udah mandi?” tanya Abah langsung.
“Hah?”
“Kamu udah mandi belum?” tanya Abah sambil mengambil koran dari bagian dalam mobilnya.
Melihat koran yang sudah diposisikam untuk menyambit, Rozak langsung mundur dua langkah kebelakang.
“Buat apa korannya, Bah?” tanya Rozak was-was.
“Jawab dulu pertanyaan Abah,” ucap Abah sambil memilin-milin koran ditangannya.
“Pertanyaan yang mana Bah?” tanya Rozak sambil bersembunyi dibelakan badan Nama. Nama yang kebingungan hanya bisa tersenyum pada Abah.
“Kamu udah mandi?” tanya Abah lagi.
“Udah, Kang Rozak udah mandi, Bah. Itu rambutnya basah,” ucap Nama sambil menatap Abah.
__ADS_1
Abah melihat Rozak dengan pandangan menyelidik. Pandangan matanya langsung beralih ke rambut Nama, “Rambut kamu basah?”
“Saya?” tanya Nama bingung sambil menunjuk hidungnya kebingungan.
“Iya.”
“Nggak, kan saya nggak mandi. Yang mandi ‘kan Kang Rozak buka saya, dia juga mandi sendiri.”
“Bener kamu mandi sendiri?” tanya Abah pada Rozak sambil memukulkan korannya ke punggung Rozak.
“Aduh, iya Bah. Aku mandi sendiri, mau dimandiin Nama, aku nolak. Bisa gawat kalau dimandiin dia, bukannya mandi, malah mandi wajib,” ucap Rozak sambil mengusap bahunya.
“Bener itu?” tanya Abah ke Nama.
“Bener, Bah. Kang Rozak nggak ngapa-ngapain Nama. Nama masih segel, Bah. Suer,” ucap Nama sambil mengacungkan kedua jarinya membentuk lambang victory.
“Untung kalau, gitu.” Abah mengurut dadanya, punya anak tiga benar-benar membuat Abah banyak-banyak mengurut dada. “Makanya kalian nggak ada cita-cita nikah?”
“Nanti, udah gips dibuka. Rozak mau lamar Nama,” ucap Rozak sambil merangkul Nama. Nama hanya bisa memamerkan giginya.
“Bener?” tanya Abah dengan mata berbinar.
“Iya, bener.” Rozak berkata sambil tersenyum senang.
“Cakep, baru itu anak Abah. Nanti, Abah siapin Avanza satu yah, buat mas kawin.”
“Siap, Bah.” ucap Rozak sambil mengacungkan jempol tangan kirinya.
Nama hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Abah dan Rozak. Sebenarnya, dia ingin lari terbirit-birit detik ini juga, kata nikah belum ada dikamusnya sama sekali.
“Bagus, kapan itu gips dibuka?” tanya Abah bersemangat.
“Sebulan lagi, Bah.”
“Hiduplah,” kekeh Cicil sambil menarik tangan Nama.
Rozak dan Abah masuk kedalam restoran dan meninggalkan Nama dan Cicil berdua.
Cicil langsung merangkul bahu Nama, “Ah, akhirnya punya adik ipar cewe juga. Geli aku punya adik ipar bentukkannya kaya Adipati,” ucap Cicil.
“Kenapa?” tanya Nama bingung, seingatnya Adipati lelaki dingin namun manis pada Taca.
“Nggak napa-napa. Aa Riki cemburu sama dia dan Juan,” jawab Cicil santai.
“Eh, kok bisa?” tanya Nama bingung.
“Mereka berdua yang satu mantan tunangan aku si Juan tuh,” ucap Cicil.
“Oh... kalau Adipati?” tanya Nama.
“Adipati itu, temen tapi mesra. Yah, cinta satu malem doang,” jawab Cicil santai.
“What?”
“Hooh, kenapa?” tanya Cicil santai.
“Hilih, Riki mau nerima kamu walau kamu kaya gitu?” tanya Nama bingung.
Cicil tertawa pelan, dia lupa detik ini dia tinggal di Indonesia bukan Belgia dimana hal seperti itu biasa saja. “Riki itu titisan malaikat, baiknya nggak ada dua. Padahal aku udah minta cerai sama dia, tapi dia tolak.”
“Hah, kapan?” tanya Nama sambil menatap Cicil.
“Pas kejadian itu,” jawab Cicil sambil tersenyum sendu. Hatinya, masih sedikit sakit bila menceritakan kejadian itu.
__ADS_1
“Riki nolak?” tanya Nama kaget.
“Iya, malah dia bilang nggak mau.” Cicil tersenyum saat mengingat kejadian di rumah sakit. Kejadian manis namun memilukan yang dia alami.
Nama menyentuk bagian dalam paha sebelah kanannya. “Apa Rozak juga gitu?”
“Hah, gimana?” tanya Cicil yang tidak terlalu mendengar perkataan Nama.
“Ah.” Nama menatap Cicil bingung, “Nggak, Nggak apa-apa.”
“Kenapa?”
“Nggak, aku nggak papa. Masuk yuk, panas diluar Cil.” Nama menarik Cicil kedalam restoran.
Cicil hanya bisa mengikuti Nama dari belakang dengan tatapan bingung.
Sesampainya didalam Cicil langsung dipeluk dari belakang oleh Riki.
“Dari mana kamu?” tanya Riki.
“Kantorlah, masa dari pasar,” jawab Cicil kesal.
“Hahaha, jangan marah. Cuman nanya, mana mungkin juga kamu kepasar pake sepatu hak tinggi.”
“Aa, Rozak ama Nama mau nikah,” ucap Cicil sambil berbalik. Saat berbalik, Riki mendorongnya hingga duduk dikursi.
“Oh yah,” ucap Riki santai sambil membuka sepatu hak tinggi Cicil.
“Iya, Aa. Tadi, Rozak bilang ke Abah.” Cicil berkata sambil mengambil sepatu hak tinggi yang diarahkan pada dirinya.
“Oh, iya baguslah,” jawab Riki sambil mengambil bungkusan yang entah darimana tiba-tiba ada dibawah kolong kursi.
“Iya, nunggu gipsnya dilepas, katanya.”
“Baguslah, jadi Rozak ada yang ngurus. Kasian, dia jomblo lama banget.” Riki berkata sambil memasukkan flat shoes ke kaki Cicil.
Cicil kaget melihat kini kakinya sudah mengenakan flat shoes berwarna coklat yang tampak cantik di kakinya.
“Ini?” tanya Cicil kaget.
Riki menatap Cicil sambil tersenyum, “Suka?”
Cicil memandangi kakinya, sepatu yang dibeli Riki bukan dari brand mahal. Bahkan mungkin harganya tidak ada seperempatnya dari harga sepatu yang tadi Riki lepas. Tapi, rasa hangat dan dicintai menyusup ke hati Cicil. Suaminya ini manis, cara dia melarang Cicil benar-benar halus.
Cicil tau, ini artinya dia dilarang menggunakan sepatu hak tingginya lagi dan beralih kesapatu-sepatu tanpa hak.
“Suka,” jawab Cicil sambil mengusap rambut Riki pelan.
“Syukurlah, Aa takut kamu nggak suka,” jawab Riki sambil mengecup lutut Cicil pelan.
Cicil hanya tersenyum melihat tingkah manis suaminya itu. Astaga, Riki selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali dan ini entah sudah keberapa kalinya Cicil jatuh cinta pada suaminya.
•••
Dor....
Hihihihihii....
maaf yah klo puasa beneran bawaannya ngantuk, jadi kalau nulis tuh bawaannya ingin tidur mulu.
Jadi, updatenya nggak tentu arah, kaka Gallon mohon maaf yah.
Sama terima kasih untuk kopi dan bunganya, sama jangan lupa itu tombol like diklik biar asex
__ADS_1
XOXO Gallon ❤️