
Rozak yang sudah pusing dengan kelakuan Nama, langsung berjalan kearah dapur. Entah, kenapa Rozak membutuhkan minum air dingin yang berasa. Mungkin segelas orange juice bisa mendinginkan kepalanya yang hampir meledak.
Saat sedang meminum orange juice di gelasnya, Rozak kaget bukan main saat mendapati, Nama sudah berdiri di belakangnya.
“Nama...” ucap Rozak panik, saking paniknya Rozak memuncratkam sedikit orange juice nya ke kaosnya.
“Astaga, Zak.” Nama dengan cepat mencari serbet untuk mengelap noda orange juice di kaos Rozak. “Kok bisa sih muncrat.”
“Kamu ngagetin aku, Nam,” ucap Rozak sambil menarik-narik kaosnya. Percuma, kaos Rozak benar-benar basah parah, seandainya itu air putih pasti Rozak akan santai saja. Masalahnya, ini orange Jus, lengket.
“Pegang ini, Nam,” ucap Rozak sambil memberikan serbet dan jaketnya pada Nama, Nama dengan cepat mengambil serbet jaket milik Rozak.
Rozak dengan cepat membuka kaosnya, saat Rozak membuka Kaosnya Nama langsung menahan napasnya. Tiba-tiba suhu udara disekitarnya menjadi panas, rasanya Nama berjuang untuk menelan salivanya. Matanya tidak berkedip sama sekali, badan Rozak benar-benar membuat Nama menahan napasnya.
Rozak yang tidak sadar dengan situasi yang ada, malah berjalan mendekati Nama. Nama yang dari tadi berdiri mematung langsung menahan napasnya, saat Rozak mengurung badan Nama dengan dada Rozak. Wangi tubuh Rozak langsung tercium oleh Nama.
‘Kenapa Rozak badannya bagus gini, kenapa wangi banget.’ Nama mulai berguman sendiri di dalam hatinya. Pikirannya mulai berlari-lari kecil ke kiri dan ke kanan, pikiran mesumnya mulai meronta-ronta.
“Nam... Nam...” panggil Rozak, “Purnama Iswanti.”
“Hadir...” jawab Nama dengan suara serak.
Rozak langsung menatap manik mata hitam Nama, Nama menahan napasnya. Rozak makin mendekatkan wajahnya dengan Nama, mengikis jarak diantara Nama dan Rozak.
“Zak,” bisik Nama pelan, jantungnya berdetak keras, bulunya meremang parah.
“Apa, Nam?” tanya Rozak sambil menekan badan Nama dengan tubuhnya. Sontak membuat Nama merasakan hangat tubuh Rozak.
Nama mundur sampai terantuk kitchen set dibelakangnya. Nama langsung merasakan tangan Rozak bertumpu pada meja kitchen set dibelakangnya. Deru napas Rozak langsung dirasakan oleh Nama.
“Kamu kenapa?” tanya Rozak sambil melepas kacamata Nama.
“Zak, jangan di lepas. Minus aku 3 kanan kiri, nanti aku nggak bisa liat,” ucap Nama sambil menyentuh dada Rozak. Astaga, keputusan salah, menyentuh dada Rozak yang polos membuat hasrat Nama berpacu. Rasa hangat di jari-jarinya membuat Nama makin semaput.
Rozak menyimpan kacamata Nama dimeja terdekat. “Emang nggak keliatan banget?”
“Nggak, Zak,” ucap Nama sambil menyelipkan rambutnya ke kuping kanannya. “Muka kamu aja nggak keliatan sama sekali.”
Rozak mendekatkan lagi mukanya ke arah wajah Nama, membuat jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja. “Kalau segini keliatan?”
Rozak benar-benar menatap manik mata Nama dengan intens. Nama hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya pelan.
“Mau apa?” tanya Nama polos.
“Mau, kamu,” bisik Rozak pelan.
Sesaat Rozak mengatakan itu, Nama langsung merasakan rasa orange juice di bibirnya, pelan dan cepat.
__ADS_1
“Ah...” Lutut Nama langsung lemas saat merasakan kecupan kilat Rozak.
Rozak langsung menahan badan Nama dengan sigap. “Kenapa?”
“Nggak, nggak Papa,” ucap Nama pelan.
“Ah...” Rozak mendekatkan bibirnya ke kuping Nama. “Boleh aku cium beneran?”
Daboom...
Jantung Nama langsung berolahraga, napasnya langsung terengah-engah. Wajahnya memerah sampai kuping, napas Nama memburu dengan cepat.
Rozak yang merasa Nama menolaknya karena tidak menjawab sama sekali, langsung berbalik. Tapi, saat berbalik Rozak merasakan tangan Nama di pipinya.
“Mau kemana?” tanya Nama.
“Mau ke...”
Rozak sama sekali tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Bibir Nama yang tipis dan manis sudah mengesap bagian bawah bibirnya.
Nama mencium Rozak tanpa ampun, dengan cepat Rozak mengangkat Nama agar duduk di atas meja kitchen set dibelakangnya.
“Rozak...” Suara Nama yang serak benar-benar membuat Rozak hilang kendali.
“Apa?” tanya Rozak sambil mencium bibir Nama, mengesapnya dengan pelan, berusaha untuk menikmati tiap jengkal bibir Nama yang kecil, lembut, manis dan ranum.
Suasana makin panas, nafsu benar-benar mengambil alih akal sehata Rozak dan Nama. Desahan demi desahan meloncat keluar dari mulut dua insan tersebut, sampai...
BLETAKKK....
Rozak merasakan sambitan koran di kepalanya. Dengan cepat Rozak mengurai ciumannya dengan Nama.
“KALAKUAN SIA...!?”
(Kelakuan kamu)
Mata nama membulat saat melihat seorang lelaki sepuh berkacak pinggang sambil menggenggam sebuah koran di tangan kanannya.
“Eh... eh... hai,” ucap Nama canggung sambil mencengkram kerah bajunya yang sudah terbuka hampir semua kancingnya.
“Hai hai hai... maneh saha?” tanya lelaki itu pada Nama (kamu siapa?).
“Nama...” jawab Nama takut, takut.
“Eh si borokoko, nama kamu siapa? Kok malah balik nanya ke saya,” ucap lelaki itu.
“Nama, Pak,” jawab Nama pelan sambil berusaha turun dari meja.
__ADS_1
“Astaga, nama kamu siapa? N-A-M-A,” ucap lelaki itu lagi.
“Nama, Pak. Nama saya Nama,” ucap Nama dengan nada hampir menangis, detik itu juga Nama mengutuki kelakuan orang tuanya yang memberikan nama, yang mengharuskan dirinya beradu urat dengan semua orang yang ingin berkenalan.
“Hah, nama, nama kamu siapa? Ya ampun, geulis-geulis rieut (cantik-cantik, bikin pusing).”
“Namanya, Purnama Iswanti, panggilannya Nama, Bah,” ucap Rozak berusaha untuk menghentikan pertengkaran yang tidak berfaedah itu.
“Ah, terus ini tadi kalian ngapain?”tanya Abah sambil menunjuk Nama dan Rozak bergantian menggunakan koran miliknya.
“Nggak, ngapa-ngapain Abah.” Rozak langsung mengambil kaos miliknya. “Nama ini Abah, Bapak saya, Abah ini Nama, dia...”
Rozak terdiam bingung, apa statusnya dengan Nama. Rozak menatap Nama bingung.
Nama langsung berdehem pelan, tidak pernah terlintas diotaknya kalau dia akan bertemu dengan calon mertuanya untuk pertama kalinya dengan situasi seperti ini. Situasi saat sedang bermesraan dengan anaknya.
“Saya pacar Rozak, Pak. Nama saya Nama,” jawab Nama sambil berdiri dibelakang Rozak berusaha mengancingkan kemejanya dengan cepat dan rapih.
“Hadeuh... kenapa anak Abah nggak ada yang normal barang satu aja. Semuanya sama, udahlah, udah,” ucap Abah sambil menyambitkan korannya ke arah Rozak, Rozak langsung berteriak keras saat koran Abah mengenai badannya.
“Abah sakit, Bah”ucap Rozak sambil melindungi dirinya dari gebukkan Abah dengan kedua tangannya.
“Udahlah, kamu Nama, sini kamu. Jangan deket-deket sama Rozak. Nafsu Rozak itu paling gede dari semua anak-anak Abah. Sini kamu,” ucap Abah memanggil Nama.
Nama dengan patuh berjalan mendekati Abah. “Iya Bah.”
“Denger Nama, Abah sarankan kamu nikah sama Rozak secepatnya. Rozak ini napsunya gede, mirip kaya Abah. Jadi, liat kamu napas aja dia mah bisa nafsu,” ucap Abah sambil mengajak Nama meninggalkan Rozak yang sedang meringgis kesakitan.
“Nikah?” tanya Nama bingung, jadian aja belum ada semenit udah disuruh nikah. Nama langsung jiper.
“Iya, nikah. Halal lebih enak dan Abah nggak was-was, gimana? Alamat Nama dimana?” tanya Abah sambil terus berjalan.
Nama melirik kebelakangnya, meminta bantuan Rozak. Rozak hanya bisa memamerkan giginya, Rozak paling tidak bisa berkata tidak pada Abah. Nama akhirnya hanya bisa pasrah dan terus berjalan di samping Abah dan berusaha untuk mendengarkan semua celotehan calon mertuanya ini.
“Pokoknya kalau kamu nikah sama Rozak, Abah udah siapin, Avanza buat jadi mahar kamu, Nama,” ucap Abah.
“O... oke,” jawab Nama kebingungan.
“Tenang, Avanzanya seri terbaru, Nama,” ucap Abah sambil mengacungkan kedua jempolnya kehadapan Nama.
Nama hanya bisa tersenyum, seperti kehidupan cintanya akan sangat-sangat berwarna.
•••
Abah udah kebal liat kelakuan absurd anak-anaknya. Mulai dari Taca, Riki dan sekarang Rozak. Kita doakan Abah selalu sehat selalu yah...
Jangan lupa tombol like di goyang Bang... hahahaaa...
__ADS_1
XOXO GALLON