
“Aku ini punya kekurangan, Kang.”
Rozak terdiam mendengar perkataan Nama, “Nyun, semua manusia di dunia ini pasti punya kekurangan. Nggak ada yang sempurna, nggak ada.”
“Iya, Kang aku tau. Aku tau tapi, aku punya kelurangan yang disebabkan kebodohan aku sendiri.”
“Apa?” tanya Rozak penasaran. Astaga... apalagi ini.
“Aku punya mantan namanya Dion, Kang.”
“Dion? Mantan kamu?”
“Iya.”
“Terus apa hubungannya si Dion ini sama kehidupan kita. Dia mantan kamu, nggak ada hubungannya lagi. Jangan bilang mantan terindah,” amarah Rozak langsung berada dipuncaknya Rozak paling sensitive dengan kata mantan.
“Hahaha... cuman kamu di dunia ini yang punya mantan terindah. Orang lain tuh nggak punya.”
“Nggak mungkin, pasti pada punya,” ucap Rozak sambil menatap Nama.
“Kang, kalau mantan kamu terindah. Kamu sampai detik ini masih pacaran sama dia. Nggak mungkin kamu putus sama dia, jadi bullshit itu semua mantan-mantan terindah. Nggak ada.”Nama berkata sambil mengelus pipi Rozak.
Rozak terpaku dengan pikiran Nama, umur Nama dibawahnya tapi, urusan pola berpikir Rozak selalu angkat topi dengan perkataannya. “Oke, maaf. Tapi, aku masih nggak ngerti dengan si Dion ini.”
Nama mengusap paha dalamnya pelan, memejamkan matanya dan berjuang untuk berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang mampu menghancurkan kehidupannya. “Dion itu mantan aku yang kelakuannya mirip Albert.”
Rozak langsung memundurkan badannya kebelakang, saat mendengar perkataan Nama. Memang Rozak merasa penasaran dengan bekas luka di dada Nama, luka bekas sundutan rokok itu berkali-kali saat Rozak mengecupi dada Nama. Tapi, Rozak terlalu takut untuk bertanya pada Nama. Kenapa ada bekas sundutan rokok di dada mulus Nama.
“Maksudnya dia yang kasih ini ke kamu?” tanya Rozak sambil menyelusupkan tangannya ke dalam kerah Nama. Rozak benar-benar sudah hapal diluar kepala dimana letak bekas luka itu.
Nama mengigit bagian bawah bibirnya, mencoba menelan salivanya sendiri. “Iya, dia yang bikin luka itu, Kang.”
Seketika itu juga Nama merasakan tekanan keras dibagian dadanya. Nama merasakan emosi Rozak saat menyentuh dadanya. Nama tidak bisa membayangkan apa yang akan Rozak lakukan bila melihat bagian dalam pahanya.
“Dia gila?” tanya Rozak.
“Mungkin, dia mirip Albert.” Nama berkata sambil diam menatap Rozak. Entah harus melakukan apa.
“Kamu diperkosa sama dia?” tanya Rozak.
Nama tersenyum, “Nggak, aku mampu jaga diri aku sendiri, walau bayarannya mahal.”
Tangan Rozak bergerak dari bagian dada Nama kearah leher Nama dan terus kebagian belakang kepala Nama. Rozak langsung menarik kepala Nama menempelkan keningnya dengan kening Nama.
“Nyun, dia apain kamu? Dia dimana?” tanya Rozak sambil terus menatap netra mata Nama.
“Dia nggak tau dimana, aku nggak tau dan nggak mau tau. Mau dia hidup atau mati, aku nggak peduli.” Nama menyentuh lengan Rozak.
“Kalau kamu nggak peduli, kenapa kamu bahas sekarang” tanya Rozak, bekas sundutan rokok di dadanya bukan hal yang besar bagi dirinya.
“Karena.” Nama menarik tangan Rozak dan memasukkannya kedalam rok yang dikenakannya. Membuat Rozak mau tidak mau menyentuh bagian dalam paha milik Nama.
“Nyun...” Rozak kaget saat menyentuh sesuatu disana.
“Kamu inget, aku ngajak kamu kumpul kebo?” tanya Nama pada Rozak yang langsung dijawab anggukkan oleh Rozak.
“Aku juga dulu ngajak Dion buat kumpul kebo. Karena, aku nggak mau nikah. Aku takut nikah, aku nggak mau berurusan dengan Ayah aku. Aku nggak mau.”
“Terus?” Rozak mengelus luka dibagian dalam paha Nama. Rozak mulai menebak-nebak luka itu berbentuk apa.
“Singkat cerita aku datang kekosannya.”
“Kamu kok gitu sih, Nyun. Kamu tau nggak resikonya kumpul kebo?” tanya Rozak gemas.
__ADS_1
Nama menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil menahal air matanya yang sudah tidak bisa Nama tampung lagi. “Tau, aku tau. Tapi, waktu itu aku takut.”
“Takut apa, Nyun. Kamu takut dia ninggalin kamu?”
“Lebih parah, Kang. Aku takut dipukulin,” jawab Nama sambil menatap manik mata Rozak yang tampak membulat sempurna, Nama langsung merasakan cengkaram ditangannya.
“Maksudnya gimana?”
“Dion posessif, semua harus sesuai dengan keinginan dia. Semuanya, sampai kalau aku salah sedikit aja. Aku pasti ditampar, diludahin, dipukul, sebutin semua siksaan. Aku udah rasain semuanya, baik verbal maupun non verbal, Kang.”
“Nyun.”
“Nggak papa, Kang. Aku mau cerita, biar kamu tau. Aku nggak mau kita melangkah ke jenjang berikutnya tapi, kamu nggak tau apa-apa.”
“....”
“Lebih baik tau dari aku ‘kan. Dari pada dari orang lain.” Nama berkata sambil mengusap air matanya.
“Iya.”
“Aku akhirnya tinggal bareng sama Dion tapi....”
“Apa?”
“Tapi, cuman bertahan sehari.” Nama berkata sambil membuka roknya dan menunjukkan paha bagian dalamnya. Rozak tercangang saat melihat paha bagian dalamnya.
“Nyun, ini bekas sayatan!?”
“Iya, ini sayatan. Ini bayaran yang harus aku terima karena menolak untuk berhubungan badan dengan Dion, Kang.” Nama berkata sambil menatap Rozak.
“Astaga, Nyun. Kok bisa sampai kaya gini, sayang?” tanya Rozak sambil mengelus bekas luka yang memanjang sekitar tiga cm.
“Aku nggak mau cerita, Kang. Aku nggak mau cerita lagi, aku capek. Aku mau kubur itu dalem-dalem. Aku nggak mau bahas lagi,” isak Nama sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Aku bilang ini, aku nggak mau denger dari orang lain. Aku nggak mau pas malam pertama kamu kaget liat luka di paha bagian dalam aku. Aku nggak mau.”
“Ya... udah, semua udah berlalu. Maaf aku nggak ada disana. Sekarang semuanya udah selesai ‘kan. Ada lagi?” tanya Rozak.
“Ada.”
“Apa lagi?” tanya Rozak.
“Buat, buat jauhin Dion dari aku. Aku minta tolong Ayah. Ayah menyanggupinya tapi, ada syaratnya.”
“Apa lagi?” tanya Rozak yang sudah mulai geram dengan kelakuan ayah Nama yang membuatnya geram setengah mati.
“Dia nyuruh aku nemenin temennya ke Singapura selama tiga hari dua ma—“
“Bapak kamu itu manusia atau titisan dajjal?” tanya Rozak sambil melepaskan pelukkannya dan menatap Nama.
Nama terbahak saat mendengar perkataan Rozak, “Mungkin dia ada turunan dajjal. Nanti, aku cek di pohon keluarga Ayah.”
“Astaga, terus kamu disana ngapain aja?” Rozak tau riskan menanyakan itu semua. Tapi, rasa penasaran Rozak mengambil alih.
“Nggak ngapa-ngapain. Karena, temen Ayah itu ternyata. Bapaknya temen kuliah aku, jadi dia nggak berani macem-macem,” ucap Nama sambil tersenyum.
“Aku masih bisa jaga diri sampai detik ini. Walau beberapa kali aku hampir nggak mampu buat menjaganya. Tapi, aku bisa ‘kan Kang.” Nama berkata sambil menepuk bahunya beberapa kali.
“Bapak sama mantan kamu kayanya titisan dajjal. Udahlah, aku nggak mau lagi ngomongin mereka. Besok kita ketempat Bapak kamu, terus kita minta ijin. Ada ijin atau nggak aku tetep nikahin kamu.” Rozak berkata sambil mengusap pipi Nama.
“Iya.”
“Ada lagi?”
__ADS_1
“Apa?” Nama balik bertanya.
“Iya apa lagi, udah sekalian aja kamu bilang semuanya sekarang. Biar Akang tau semuanya, lebih enak kamu yang ngomong sekarang, daripada Akang tau dari orang lain, Nyun,” terang Rozak sambil menatap Nama.
Nama tersenyum melihat Rozak, lelaki dihadapannya ini memang unik. Kadang nafsuan, kadang manja, kadang egois, kadang seenaknya dan yang membuat Nama gemas Rozak ini selalu memaksa kehendaknya.
“Nggak ada, Anyun capek. Udah itu aja, Akang mau nerima Anyun?” tanya Nama sambil mengerucutkan bibirnya manja.
Rozak langsung menarik pelan bibir bagian bawah Nama dan melirik ke dalam rumah Nama, memastikan Islah, Cicil dan Riki. “Sini kamu.”
Rozak menarik tangan Nama dan menggandengnya ke taman paling belakang tersembunyi dari Riki, Cicil dan Islah. Nama dengan patuh mengikuti Nama.
“Mau apa? Disini banyak nyamuk.” Nama berkata sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
“Mau ini,” ucap Rozak sambil mendorong tubuh Nama dan memerangkapnya antara tubuhnya dan dinding di belakang Nama.
“Ap—“
Rozak langsung membungkam bibir Nama, mencium bibir anyun kesayangannya. Bibir yang selalu membuat Rozak bernafsu untuk mengesapnya berulang-ulang tanpa jenuh.
Nama yang kehabisan napas setiap dicium oleh Rozak, hanya bisa mendorong dada Rozak pelan. “Kang.”
“Apa, kenapa?” tanya Rozak sambil mengurai ciumannya dan menggesekkan hidungnya di hidung Nama.
“Nggak bisa napas,” jawab Nama jujur.
Rozak tertawa kecil, dengan cepat Rozak mengecup bibir Nama pelan. “Nanti belajar ngambil napas kalau lagi aku cium yah.”
“Belajar sama siapa?” tanya Nama bingung.
“Nanti aku ajarin,” ucap Rozak sambil terkekeh dan menarik bibir bagian bawah Nama.
Nama tersenyum dengan cepat dia mengalungkan tangannya dileher Nama. Didekatkan bibirnya dikuping Rozak. “Ajarin sekarang?”
Bulu kuduk Rozak langsung meremang saat mendengar perkataan Nama. Rasanya dia ingin menarik Nama ke kamar terdekat dan melakukan semua fantasi erotisnya pada Nama.
“Nikahnya masih lama ini tuh.”
Rozak dan Nama langsung melihat kesumber suara. Mereka berdua kaget saat melihat Riki yang sedang menatap mereka berdua dengan tangan menyilang di dada.
“Hai Aa,” sapa Riki dan Nama sambil saling menjauhkan diri dan langsung salah tingkah.
“Hai, mau sampai kapan disana? Nggak ada cita-cita masuk kedalam?” tanya Riki sambil mengangkat salah satu alisnya.
“Ini mau masuk, Aa,” jawab Nama sambil berjalan meninggalkan Rozak dan melewati Riki.
“Hai Aa,” ucap Rozak sambil mengangkat tangan kirinya.
“Ha gimana, enak ciumannya?” tanya Riki pada Rozak.
“Ya gitulah Aa, Aa kaya yang nggak tau aja,” ucap Rozak sambil berjalan kearah Riki.
“Makanya karena Aa tau, Aa nanya. Enak?”
“Banget,” jawab Rozak.
Tawa Rozak dan Riki langsung pecah saat mendengar jawaban Rozak.
•••
Udah, itu masa lalu kelam Nama. Disingkat aja, karena kalau diceritain Full terlalu kejam. Bisa darah tinggi 😖.
Jangan lupa di goyang tombol like itu atuh... jangan didiemin aja zhayang zhayangku ❤️❤️.
__ADS_1
Xoxo gallon