
Cicil diam saat Riki membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Riki dengan telaten membersihkan setiap inci di tubuhnya, menggosoknya pelan. Perlakuan Riki pada Cicil benar-benar membuat Cicil menahan napasnya.
Semua Riki lakukan dalam diam hanya terdengar suara gemericik air, dan isakan tangis ntah Riki atau Cicil.
“Neng, jangan digosok lagi keras-keras badannya, liat ini badan kamu merah-merah gini,” ucap Riki sambil membilas badan Cicil.
“Tapi....” Cicil menatap Riki dengan mata berkaca-kaca.
“Ini udah Aa bersihin. Mulai sekarang, Neng mandi sama Aa aja,yah. Biar Aa yang bersihin, kamu tuh nggak kotor. Kamu cantik, bersih, istri Aa nggak kotor,” ucap Riki lagi sambil terus mengusap-ngusap badan Cicil menggunakan alat penggosok khusus.
“Aa, kotor maksudnya bukan itu. Albert itu ngeluarin semuanya di dalam tubuh aku, Aa. Albert... gimana kalau aku hamil?” tanya Cicil sambil menatap Riki. Astaga... kenapa dia baru sadar akan kemungkinan itu. Bagaimana kalau dia hamil anak Albert? Dirinya sendiri pasti tidak mau menerimanya, bagaimana dengan Riki?
“Aa, gimana kalau aku hamil?” tanya Cicil dengan suara serak, tangannya langsung menyentuh bibirnya. “Aa...”
Cicil langsung mendapatkan serangan panik, kenyataan yang diterima Cicil benar-benar membuat Cicil panik. Badannya bergetar hebat, tangisannya pecah. Ditariknya rambut di kanan dan kirinya, ketakutan langsung menerpa dirinya.
“Aa kalau aku hamil gimana? Gimana kalau aku hamil anak....”
“Anak Aa.” Riki menjawab sambil menahan tangan Cicil yang mulai menarik-narik rambutnya lebih keras lagi.
Cicil terdiam mendengar perkataan Riki, tatapannya langsung menatap manik mata hitam milik Riki. Tatapan mata Riki benar-benar tatapan mata yang menunjukkan keteguhan hati Riki.
“Aa, Albert....”
“Anak Aa, kalau kamu hamil. Itu anak aku, kamu istri aku, berarti anak yang ada didalam kandungan kamu itu anak aku,” jawab Riki sambil memeluk badan Cicil. Badan Cicil yang basah membuat baju kemeja yang digunakan Riki ikut basah. Tapi, Riki tidak peduli dia ingin memeluk istrinya.
“Aa, Neng....”
“Anak aku, kamu hamil itu anak aku. Aku bapaknya, siapa yang berani bilang itu anak orang lain. Itu anak aku,” ucap Riki sambil melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Cicil yang sudah tampak bengkak di bagian matanya. Air mata Cicil benar-benar terus keluar 24 jam nonstop selama empat hari ini.
“Aa, Neng aja nggak sanggupa bayangin harus ngurus anak Albert. Bisa gila Neng. Aa kok bisa bilang gitu, Neng aja nggak sanggup. Gimana, kalau....”
“Sanggup nggak sanggup, kamu Ibunya dan Aa ayahnya. Kalau kamu hamil, anak yang ada di perut kamu itu anak aku. Udah, jangan mikirin apa-apa. Apapun yang terjadi, kamu istri Aa. Udah tanamkan itu di otak kamu mulai sekarang. Kamu Cicil Bouw adalah istri aku. Kalau kamu hamil itu anak aku, oke.” ucap Riki sambil mencium kening Cicil.
“Aa, Neng mau nanya. Aa hatinya terbuat dari apa? Neng belum pernah nemu laki-laki sesabar Aa,” ucap Cicil sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
Riki sebenarnya ingin berteriak kalau dia tidak sekuat itu, hatinya masih sakit dan hancur. Sebenarnya melihat istrinya sendiri detik ini sangat sulit. Apalagi mengingat tubuh istrinya ini disentuh oleh Albert. Rasanya dia ingain menggosok badan Cicil dengan semua pembersih badan yang ada di dunia ini.
Riki juga rasanya ingin memukuli dirinya sendiri, karena kebodohannya, dirinya tidak bisa menjaga Cicil. Riki ingin merutuki dirinya sendiri kalau bisa. Sayangnya, itu tidak bisa sama sekali. Awalnya dia ingin berteriak-teriak seperti orang gila.
__ADS_1
Tapi, hatinya langsung terenyuh saat melihat istrinya yang terbaring dan menjerit setiap malam. Menangis dan memaksa mandi berkali-kali. Merutuki dirinya sendiri sambil menarik-narik rambutnya, melempar semua barang yang ada sampai Cicil pernah bersimpuh di kakinya memohon pada Riki agar memafkan dirinya. Riki benar-benar tidak mampu berkata apapun lagi. Ego dan harga dirinya sebagai lelaki langsung hilang, rasa cinta dan sayangnya pada Cicil langsung mengambil alih.
“Aa...” panggil Cicil lagi sambil menatap Riki.
“Aa nggak tau. Yang aku tau, aku sayang sama kamu. Udah itu aja yang harus kamu tau dan aku nggak mau lepasin kamu. Apapun yang terjadi,” ucap Riki sambil mengusap pipi Cicil pelan.
Cicil tersenyum dan mendekatkan bibirnya pada Riki. Dengan cepat Cicil mengesap bibir manis Riki, mencumbunya pelan, lembut dan mendamba.
Cicil bersyukur memiliki Riki. Begitupula Riki...
•••
“Cicil...!?” teriakkan seorang lelaki membuat Cicil dan Riki kaget.
Cicil yang sedang asik di suapi makanan oleh Riki, kaget saat melihat Jeff masuk tergopong-gopong ke dalam kamar rumah sakit bersama Rea dan beberapa orang polisi.
“Papih, Mamih,” ucap Cicil dan Riki berbarengan.
“Cicil kamu kenapa?” tanya Jeff sambil berjalan masuk dan memeluk Cicil sambil mendorong badan Riki dengan kasar.
Riki hanya bisa menghela napasnya saat Jeff mendorong badannya. Rea hanya bisa menyentuh bahu Riki pelan.
Jeff langsung menatap Rea, “Ah... aku lupa Riki ini tipe kamu kan. Kenapa nggak sekalian kamu pacarin si Riki?” tanya Jeff dengan nada sangat-sangat ketus.
“Maksud kamu apa ngomong nggak jelas gitu. Nggak punya ota....”
“Mih, Pih... udah Cicil pusing denger kalian berantam. Aa sini,” panggil Cicil sambil menepuk bagian kasur yang kosong disampingnya. Riki dengan patuh duduk disamping Cicil, sebelumnya dia menyimpan piring disampingnya.
“Cicil kamu kenapa?” tanya Jeff panik.
“Cicil... Cicil...” Cicil kebingungan, Cicil benar-benar belum mampu mengatakannya sama sekali. Tangan Cicil seperti mencari-cari sesuatu, Riki dengan sigap menggenggam tangan Cicil dengan erat berusaha untuk menyalurkan semua keberanian yang Riki miliki.
“Nak, kata polisi kamu di perkosa Albert?” tanya Jeff sambil menunjuk kedua polisi yang berdiri di belakangnya dengan tenang.
Cicil hanya menjawab dengan anggukkan. Jeff langsung mengusap bagian belakang kepalanya. Andai dia dulu memaksa Cicil melaporkan tindakan perkosaan yang pertama Cicil alami mungkin detik ini Cicil masih baik-baik saja.
“Cil, kamu harus laporin ini semua. Kamu harus gugat Albert,” ucap Jeff sambil menatap Cicil.
Cicil terdiam sambil melihat kedua tangannya yang saat ini sedang di genggam oleh Riki. Ada rasa malu, bagaimana tidak malu. Bila Cicil menggugat ini semuanya, semua orang akan tau kalau dia di perkosa. Cicil bingung.
__ADS_1
“Jangan pikirin nama keluarga,” ucap Rea sambil menepuk kaki Cicil lembut. “Nama keluarga Bouw juga nggak bagus-bagus amat kok, terima kasih sama Papih kamu,” ucap Rea santai.
“Harus kita bahas sekarang?” tanya Jeff sambil menatap Rea tajam. Istrinya ini benar-benar membuat Jeff naik darah.
“Pih, Mih... udah, tolong tenang, kasian Cicil,” pinta Riki pada Jeff dan Rea.
Mendengar Riki berkata, bukannya makin tenang tapi Jeff malah makin kesal. “Diam, kamu. Ngejaga anak saya aja nggak becus, sosoan mau nenangin saya.”
Riki hanya bisa mengepalkan tangan kanannya dan menggeretakkan giginya menahan amarahnya. Entah kenapa Riki sangat sensitif dengan perkataan Jeff.
Melihat Riki yang menahan amarahnya, Cicil langsung berkata, “Kalau Papih mau menghina dan ngerendahin suami Cicil. Mending, Papah keluar. Cicil nggak mau ketemu Papih.”
Jeff langsung diam, Cicil memang dikenal tegas dengan pendiriannya. Cicil bukan orang yang suka bila ada yang merendahkan Riki.
“Oke maaf, tapi ini kita kembali kemasalah Albert. Papih mau kamu laporin Albert. Kemarin kamu nggak laporin Albert dia jadi keenakkan. Kamu harus laporin Albert, Cil.”
“Cicil...”
“Cicil bakal laporin Albert, iya kan Neng?” ucap Riki sambil menatap Cicil.
Cicil hanya bisa mengerjapkan kedua matanya, bingung dengannperkataan Riki. Riki dengan tenang mendekatkan mulutnya ke telinga Cicil. “Nanti, Aa temenin kamu. Aa bakal temenin kamu. Aa pokoknya bakal ada disamping kamu, kita sama-sama masukkin Albert ke penjara,” ucap Riki sambil menatap Cicil.
“Aa Janji?” tanya Cicil sambil meremas tangan Riki.
“Janji, sayang. Aa bakal selalu sama kamu. Aa janji....”
Cicil langsung memejamkan matanya kemudian menatap kedua polisi yang berdiri disana. Sambil tersenyum Cicil langsung berkata, “Iya, saya diperkosa Albert Connor, semua bukti ada di rumah sakit dan saya ingin melaporkannya.”
•••
Kalau ada yang tanya kenapa Cicil kok kaya yang santai? Ini waktunya Kaka Gallon cepetin 4 hari. Kalau hari-hari awal diceritain, Kaka Gallon yang nggak sangup nulisnya. Jadi, cuman Kaka Gallon narasikan saja tadi.
Kita doakan mereka kuat dan Albert menerima ganjarannya. Ganjaran setimpal.
Jangan lupa itu tombol likenya di sengol dikit yah. Biar happy gitu Kaka Gallon.
Jangan sungkan memberikan vote, point dan koinnya...
Terima kasih yang masih setia membaca kisah ini. Kisah ini manis tapi nyelekit...
__ADS_1
XOXO GALLON