
“Aa... kenapa kamu mukul orang?” tanya Cicil.
Riki yang menghentikan motornya karena lampu merah hanya bisa mengusap betis Cicil pelan. “Mulutnya kurang aja.”
“Tapi, gimana kalau dia laporin ke kantor polisi?” Cicil bener-benar khawatir.
“Bodo amat, mulutnya kurang ajar. Nggak boleh ada yang hina kamu. Terserah dia mau hina Aa kaya gimanapun juga. Tapi, nggak ada cerita dia hina kamu,” ucap Riki sambil menepuk-nepuk betis Cicil pelan.
“Makasih,” jawab Cicil sambil mengusap perut Riki dan mengeratkan pelukkannya pada Riki.
Riki tersenyum, hangatnya badan Cicil benar-benar terasa di punggungnya. Tangan Riki yang tadinya menyentuh betis Cicil langsung mengusap-ngusap tangan Cicil yang sudah melingkar di perutnya.
“Yang bener megangnya nanti jatuh,” ucap Riki, mendengar perkataan Riki. Cicil langsung mengeratkan lagi pegangannya bahkan mendarapkan kecupan di bahu Riki.
“Nggak seerat ini juga, Neng. Engap...”
“Hah? Apa engap?” tanya Cicil bingung.
“Sesak... mati nanti Aa,” kekeh Riki sambil menepuk tangan Cicil pelan.
“Eh... maaf, maaf. Jangan mati nanti aku kawin lagi kalau kamu mati,” canda Cicil.
“Kawin lagi aja, nggak papa. Tapi, jangan harap nemu yang kaya aku,”ucap Riki sambil memukul tangan Cicil pelan.
“Iya, susah nemu yang kaya Aa. Sabarnya nggak ada obatnya,” ucap Cicil pelan.
Riki hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Cicil. Dengan santainya dia membelokkan motornya ke kiri, membawa Cicil ke suatu tempat.
•••
Cicil berdiri sambil menengok ke kiri dan kanan. Riki menyuruhnya menunggu di parkiran, entah apa maksud dan tujuan Riki memintanya untuk menunggu disana.
“Hai... sendirian?” tanya seseorang berambut kribo pada Cicil.
Cicil hanya menatapnya sebentar kemudian mengalihkan kembali pandangannya ke yang lain.
“Eh... judes yah, sendirian nih. Mau ikut sama Mas nggak?” tanya lelaki itu lagi.
“Eh, Sendirian?” tanya lelaki itu lagi sambil menyentuh lengan Cicil kasar.
“Buta lo? Emang gue sendirian. Tapi, gue lagi nunguin suami gue. Mau apa lo?” tanya Cicil sambil menatap lelaki itu kesal.
“Galak amat mbak, mana suaminya nggak ada. Wah, ngaco nih, Mbaknya” ucap lelaki itu lagi.
__ADS_1
“Lo yang ngaco,” ucap Cicil judes.
“Mbak, kalau Mbak sama suaminya. Mana... nggak ada suami Mbah disini,” ucap lelaki itu sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
“Mana suami....”
“Saya suaminya, kenapa?” tanya Riki dari belakang lelaki kribo itu.
“Eh... nggak papa. Saya mau nanya aja, kasian sendirian gitu loh, Mas,” ucap lelaki kribo itu lagi.
“Nggak usah ganguin istri orang. Mending Masnya pergi yah, sebelum saya lempar Mas pake helm,” ucap Riki sambil mengangkat helmnya kesal.
“Iya Mas, maaf,” ucap lelaki itu sambil pergi meninggalkan Riki dan Cicil.
“Susah emang punya istri cantik, baru aku tinggalin dua menit ada aja yang deketin. Udah mulai sekarang, kamu nggak bisa ditinggal semenit aja,” ucap Riki sambil berlutut di depan Cicil. Dengan lembut Riki melepaskan sepatu hak tinggi milik Cicil dan memasangkan sendal capit merk rakyat jelata.
“Ih lucu warnanya kuning,” ucap Cicil tiba-tiba sambil melihat sandal jepit miliknya.
Riki hanya bisa menahan tawanya, istrinya ini memang paling mudah di buat bahagia. Dikasih sandal capit harga 20rbu aja udah bahagia. Padahal, harga sepatu hak tingginya mungkin bisa membeli satu buah motor bebek.
“Sepatunya aku simpen disini, yah,” ujar Riki sambil menyimpan sepatu Cicil di dalam jok motor Vespa matic milik Riki.
Riki dan Cicil pun berjalan ke dalam salah satu objek wisata di Yogyakarta. Entah kenapa tempat itu tampak sepi, hanya ada beberapa pasang muda mudi yang duduk di pojokan.
Cicil berdiri kebingungan, dia bingung mau duduk dimana. Tidak ada kursi disana, duduk dimana dia?
Tangan Riki langsung menelusup ke perut Cicil, kepalanya langsung di telesupkan di bagian leher Cicil. “Napas, Neng.”
“Hah?” Cicil langsung bingung saat diminta untuk bernapas. Rasa-rasanya dia dari tadi sudah bernapas. Kalau nggak napas mungkin detik ini dia sudah menghadap yang maha kuasa.
“Ambil napas yang banyak, terus hembusin sambil hitung sampai lima,” pinta Riki sambil memeluk Cicil menekan badan Cicil ke badannya berusaha untuk meleburkam tubuh mereka berdua menjadi satu.
“Buat apa?”
“Nenangin pikiran, kalau kamu udah nggak sanggup inget ini. Sama inget kalau Aa selalu ada disamping, Neng,” ucap Riki sambil mengecup pipi Cicil.
Cicil menengokkan wajahnya dan melihat Riki, tangan Cicil langsung menyentuh dada Riki pelan. “Aa, jujur sama aku. Dada Aa juga sakit ‘kan?”
Riki menatap manik mata Cicil, apa yang dikatakan Cicil benar. Hampir semua orang menyemangati Cicil, perhatian tersedot pada Cicil. Tidak ada yang bertanya bagaimana keadaanya sama sekali, padahal selain Cicil, keadaan Riki pun carut marut. Hatinya sakit dan hancur.
“Neng....”
“Aa... nggak papa?” tanya Cicil sambil mengelus dada Riki pelan. “Aa, kuatkan. Aa masih kuat ‘kan nemenin Cicil?”
__ADS_1
Diambilnya tangan Cicil diciuminya setiap buku jari Cicil satu demi satu. “Sakit, Neng. Hati Aa sakit, hancur. Aa nggak kuat sebenernya.”
“....”
“Aa nggak kuat, ego aku ngejerit. Rasanya Aa ingin marah dan ninggalin, Neng....”
“Jangan...” pinta Cicil sambil menyentuh wajah Riki dengan kedua tangan mungilnya. Riki tersenyum sambil menciumi telapak tangan Cicil.
“Ego dan rasa marah, udah hilang. Rasa sayang dan cinta aku ke kamu sekarang yang ambil alih. Cinta banget Aa ke Neng.”
“Aa...”
“Aa sakit, beneran. Aku sampai nggak ngerti lagi. Dimana harga diri aku sebagai laki-laki sekarang ini. Kayanya semua orang bakal ngetawain Aa, yang mau nerima Neng. Disebut bodo, bego sama modal kon••l doang sama orang-orang,” ucap Riki sambil menyerahkan handphonennya ke tanga Cicil.
Cicil langsung menggerakkan jarinya di layar handphone suaminya itu, napasnya terhenti saat membaca komen-komen netizen di salah satu sosial media suaminya itu. Astaga, jempol-jempol mereka jahat. Mereka nggak tau masalahnya, mereka nggak tau kalau Cicil yang berkali-kali kembali ke pelukkan Riki, Cicil bahkan yang memaksa Riki untuk menikahinya bukan sebaliknya. Ini jahat.
“Aa, ini....”
Riki hanya tersenyum pada Cicil, “Aa tutup mata itu semua. Sakit, Neng. Tapi, Aa harus kuat. Ini semua nggak sebanding sama sakit yang kamu rasaian.”
“Maaf kalau aku nggak sadar kalau kamu juga sakit, maaf. Istri macam apa aku ini,” isak Cicil.
“Udah jangan nangis lagi, nangis nggak bakal menyelesaikan masalah. Nangis, cuman bikin kita keliatan lemah. Udah, jangan nangis lagi,” pinta Riki.
“Neng, aku cuman minta sama Neng.”
“Apa? Aa mau apa?” tanya Cicil sambil menatap Riki.
“Aa cuman minta, kalau Aa jatuh, tangkap Aa. Terus tunggu Aa kemudian cari dan terus jaga hati Neng buat Aa. Jangan tinggalin Aa,” pinta Riki sambil mengusap pipi Cicil.
Cicil tersenyum sambil membenarkan anak-anak rambut Riki terus menerus. Sedangkan, Riki diam menatap Cicil, kecantikan Cicil bertambah dua kali lipat, sinar matahari yang akan tenggelam menerpa wajah dan rambut Cicil. Memberikan efek dramatis pada wajah Cicil, Cicil tampak seperti Malaikat di mata Riki.
“Neng, jawabannya?”
“Iya, Neng milik Aa. Kemarin, saat ini, dan esok hari.” Cicil mengusap bibir Riki pelan, dengan cepat Cicil mendaratkan ciuman kecil di pipi Riki, pelan dan manis.
•••
Siap untuk memompa amukan masa pada Albert? Enaknya malem yeh... kalau bikin bab Albert besok, biar nggak banyak dosanya 🤣🤣🤣.
So... tetep sayang sama pasangan Riki dan Cicil yah. Jangan berhenti baca cerita ini, kenapa? Karena semua memiliki cerita indahnya masing-masing....
Jangan lupa di klik tombol Likenya, pake hidung dah....
__ADS_1
Jangan sungkan kasih koin, point dan vote untuk Pasangan Cicil dan Riki.
Xoxo Gallon