Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Bobo sama Riki


__ADS_3

“Bisa?” tanya Abah pada Cicil yang sedang berusaha untuk menelepon Taca.


Cicil hanya menatap Abah hampa, Taca benar-benar tidak bisa dihubungi sama sekali. Berkali-kali Cicil mengcoba menghubungi Taca dan Adipati. Nihil, semua nomer ponselnya tidak bisa dihubungi sama sekali.


“Kamana sih, si Neng?” tanya Rozak kesal, Taca itu memang terkadang sulit dihubungi. Kesibukannya dengan pekerjaannya di Singapura benar-benar membuat Taca tidak bisa dihubungi.


“Mungkin sibuk, Bah,” ucap Cicil pasrah, sebenarnya Cicil ingin menelepon semua sahabat-sahabatnya di Singapura dan meminta mereka mencari Taca atau lebih parahnya lagi memaksa mereka menggedor penthouse milik Taca dan Adipati.


“Aduh, Abah nggak tenang ini. Itu kenapa sih si Riki bisa-bisanya maling ke kantor Albert,” ucap Abah bingung.


“Karena Albert mau nipu Aa, Bah,” ucap Cicil, rasanya Cicil tidak ikhlas kalau kekasihnya itu disebut maling. Padahal jelas-jelas Riki hanya ingin mengambil haknya. Surat perjanjian asli antara Riki dan Abert.


“Abah ngerti. Tapi, kalau kaya gini pusing juga, mana si Albert sampai nggak mau lepas tuntutan. Punya dendam apa sih, Albert itu sama Riki?” tanya Abah sambil memukul-mukul pahanya dengan koran.


“Emang si Riki pernah punya dosa apa sih?” tanya Abah kesal.


Rozak yang dari tadi hanya menjadi pendengar, hanya bisa menatap Abah gemas. Ayolah, orang buta juga tau, kalau Albert akan sangat-sangat marah pada Riki, gimana nggak? Calon tunanganya diambil oleh Riki.


“Salah aku, Bah,” cicit Cicil sambil memukul dadanya pelan.


“Salah kamu?” tanya Abah bingung.


Cicil mengganggukkan kepalanya pelan, tiba-tiba air mata keluar dari matanya, rasa sedih langsung menelusup ke dada Cicil. “Cicil putus sama Albert dan kembali ke Aa Riki. Albert nggak terima. Albert itu sakit, Bah. Dia itu cemburuan, kalau marah mukulin aku. Berapa kali aku dipukulin Albert. Dulu, aku bertahan karena aku nggak tau harus kemana, aku sendirian. Aku nggak bisa sendirian. Tidur sendirian itu aku nggak bisa, Bah,” ucap Cicil jujur.


“Masa nggak bisa?” tanya Abah bingung.


“Nggak bisa, nggak tau kenapa,” jawab Cicil menutupi kisah sedihnya. Cicil belum bisa mengungkapkan kisahnya.


“Jadi setelah ada Riki kamu tingalin Albert?” tanya Abah.


“Iya,” jawab Cicil sambil menatap Abah.


“Jadi, selama ini kamu sama Riki tidur satu kasur?” tanya Abah lagi sambil menahan napasnya.


Rozak yang sudah tau kemana arah pembicaraan Abah, langsung melambai-lambaikan tangannya. Berharap Cicil melihat dirinya, agar Rozak bisa memberikan kode bahwa Cicil harus berbohong akan hal ini. Kalau jujur, mungkin setelah Riki keluar penjara, Riki bisa habis di gebukkin Abah.


Cicil yang tidak sadar akan isyarat dari Rozak, menjawab dengan santai, “Iya, aku suka tidur diatas badan Aa, nggak pake kasur juga enak,” ucap Cicil sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, pikirannya langsung melayang ke saat-saat mereka selalu tidur bersama. Saat Riki salalu mengusap punggungnya sampai dirinya tertidur nyenyak, saat-saat Riki memberikannya kenyamanan.


“Jadi, Riki tidur sama kamu?” tanya Abah lagi.


“Iya,” jawab Cicil lugu.

__ADS_1


“Udah, udahlah nggak usah dikeluarin si Riki itu, diem aja dipenjara, nggak usah keluar-keluar. Kelakuan ya ampun,” teriak Abah sambil berdiri dari duduknya.


“Ih, masa nggak dikeluarin, Bah. Jangan, nanti Cicil tidur sama siapa?” tanya Cicil bingung, membayangkan tidur sendirian membuat dirinya bergidik ngeri.


Mendengar perkataan Cicil sontak membuat Abah makin geram. “Ya udah, nikah aja nikah. Astaga, kenapa ini anak Abah demen amat sih bobo-bobo cantik sebelum nikah. Nggak Taca, nggak Riki,” teriak Abah sambil mengusap-ngusap dadanya.


“Jangan, jangan kamu juga yah?” sentak Abah pada Rozak.


“Astaga Abah, Rozak mau sama siapa? Pacar aja nggak punya. Mau sama siapa Rozak tuh, nggak ada.” Rozak berusaha membela diri, dia tidak mau kena amuk Abah karena masalah orang lain.


“Kalau ada?” tanya Abah sambil menatap Rozak.


“Yah... yah ... Rozak nggak nolak,” jawab Rozak jujur, Rozak laki-laki juga, siapa yang nolak dipaksa bobo-bobo cantik sama perempuan.


Bletak...


Rozak merasakan sambitan koran Abah di bahunya. Astaga, rasanya sakit dan perih. “Aw... sakit, Bah,” teriak Rozak sambil mengelus-ngelus bahunya.


“Sama aja dah, kenapa anak Abah nggak ada yang normal barang sebiji gitu, astaga,” Abah mengutuki dirinya sendiri sambil mengangkat tangannya ke udara.


“Kalau seperti ini terus, cabutlah nyawa Abah... Abah tidak sanggup, Tuhan,” ucap Abah sambil menengadahkan kepalanya keatas.


“AAMIIN,” jawab Rozak kesal. Sudahlah, biar Abah puas lebih baik Rozak aamiinkan saja semua doanya.


“Abah sakit,” teriak Rozak sambil mengelus bahunya.


“Anak kurang ajar kamu, yah. Malah ngedoain Abah mengahadap yang kuasa lebih cepat, kurang ajar kamu yah,” teriak Abah sambil mengejar Rozak yang sudah ngacir menyelamatkan dirinya dari amukan Abah.


“Sini kamu, hoi ... Rozak,” teriak Abah geram. Rasanya Abah ingin memuntahkan kemarahannya pada Rozak.


“Ampun Bah, Rozak mah cuman ngaminin aja,” kekeh Rozak sambil berlari kearah dapur.


Abah dengan semangat empat lima mengejar Rozak. Sambil mengacung-ngacungkan koran miliknya. Laura yang baru selesai mandi kaget melihat Abah dan Rozak yang berlari-lari seperti pemain film India.


“Kenapa itu?” tanya Laura bingung.


Cicil hanya bisa mengangkat bahunya, sepertinya dia benar-benar harus membiasakan diri dengan kelakuan keluarga calon suaminya. Benar-benar diluar batas normal.


“Keluarga Riki seru yah, malem-malem ada acara lari-larian dalam rumah. Udah kaya apa aja,” ucap Laura sambil duduk disamping Cicil.


“Laura, kamu tidur sama aku ‘kan?” tanya Cicil sambil menatap Laura.

__ADS_1


“Iya, aku tidur sama kamu,” ucap Laura sambil menepuk bahu Cicil pelan, “kamu masih inget sama kejadian itu?”


Cicil hanya bisa menganggukan kepalanya sambil berusaha untuk menghilangkan ingatannya dengan malam naas tersebut. “Dikit, tapi, kalau kamu bobo sama aku kayanya nggak papa,” jawab Cicil santai.


“Ya, udah nanti bobo bareng deh,” ucap Laura.


Tok... tok...


Suara ketukan menghentikan Laura dan Cicil, mereka saling tatap.


“Siapa?” tanya mereka berbarengan, diliriknya jam di dinding ruangan itu. Jam 10 malam. Kalau di kota bertamu jam segitu pasti masih biasa. Tapi, kalau di kampung beda lagi.


Dengan cepat Cicil membuka pintu, saat membukanya napas Cicil tercekat saat melihat siapa yang berdiri disana. Seseorang yang bisa membuat Cicil sesak napas.


“Siapa, Cil?” tanya Laura bingung melihat Cicil yang tampak ketakutan di depan pintu.


Laura berjalan dan mendekati Cicil sambil membawa gelas berisikan coklat hangat.


Saat melihat siapa yang ada dipintu dengan spontan Laura membanjurkan coklat hangatnya ke arah tamu yang ada didepannya.


“Astaga, Laura...!” teriak tamu itu sambil menatap Laura kesal.


“Sorry...” cicit Laura sambil mundur beberapa langkah.


“Albert, mau apa kamu?” tanya Cicil geram sambil menatap Albert tajam.


“Mau kamu,” jawab Albert santai sambil mengusap-ngusap bajunya yang basah.


“Sinting kamu, pulang...!” maki Cicil.


“Oke aku pulang dan kekasih kamu itu akan membusuk dipenjara,” ancam Albert.


Mendengar perkataan itu, Cicil langsung bergidik ketakutan. “Mau apa kamu?”


“Kamu, aku mau kamu....”


•••


Arghhh... si Albert ini maunya apa sih? Kesel deh suer..!!!


Jangan lupa tombol likenya di TABOK biar HOBAAAAA...!!!

__ADS_1


XOXO GALLON


__ADS_2