
“Ini mau kemana sih?” tanya Riki kesal bukan main karena dari tadi Cicil benar-benar mengajaknya berputar-putar tidak tentu arah. Setiap ada Alfa, Cicil menolak turun dan bilang nggak suka tempatnya.
“Ke Alfa,” jawab Cicil santai sambil menunjuk jalan didepannya.
“Alfa mana? Ini udah 5 alfa kita datengin. Tapi, nggak ada satupun kamu mau turun. Alesannya juga banyak banget dan nggak masuk akal,” cerocos Riki, ada apa dengan kekasihnya ini.
“Aku emang nggak suka Alfanya, kurang hoki,” jawab Cicil asal sambil mengutak ngatik layar handphonennya dengan tersenyum.
Riki yang kesal dengan Cicil langsung memarkirkan mobilnya ke samping kiri, “Neng....”
Cicil yang baru sadar kalau mobilnya berhenti langsung menatap Riki. “Kok berhenti?”
“Kamu mau apa sih? Mau ngapain, bikin rencana apa kamu tuh?” tanya Riki penasaran, Cicil bukan tipe wanita yang sulit ditebak bagi Riki. Hanya dengan memperhatikan gerakkannya dan lirikkan matanya Riki langsung tau apa yang diinginkan dan dipikirkan oleh Cicil.
“Nggak bikin rencana apa-apa,” ucap Cicil pelan sambil memalingkan pandangannya.
“Neng, kamu kalau kaya gini, pasti mau bikin rencana. Mau ngapain sih?” tanya Riki sambil mengusap pipi Cicil pelan. “Mau apa kamu tuh?”
Cicil hanya bisa mengigit bagian bawah bibirnya, Riki benar-benar mengenalnya luar dalam. Riki benar-benar mengetahui apa yang ada dipikirannya. “Aku nggak punya rencana apa-apa.”
Riki kembali menatap manik mata Cicil yang coklat. Tangan Riki tiba-mengusap bagian dalam paha Cicil membuat Cicil terkesiap kaget. “Aa!?”
“Apa?” tanya Riki sambil terus mengusapnya makin keatas.
Badan Cicil langsung bergetar hebat saat merasakan sentuhan Riki yang tiba-tiba di bagian dalam pahanya. “Aa....”
“Kamu bikin rencana apa?” bisik Riki di telinga Cicil, membuat Cicil terkesiap, hasrat Cicil langsung terpompa.
“Aa, Cicil nggak bikin rencana apa-apa.” Cicil benar-benar harus menahan bibirnya untuk tidak membeberkan rencananya sama sekali.
“Kamu mau bilang atau aku bikin kamu semaput?” tanya Riki lagi.
“Aku ngg.....”
Zreettt zreetttt
Handphone Cicil berbunyi sangat nyaring, membuat Riki menghentikan elusannya di bagian dalam paha Cicil.
“Safe by the bell” batin Cicil sambil tersenyum pada Riki.
“Telepon, Aa,” ucap Cicil sambil mengangkat teleponnya. Saat di angkat hanya ada dua kata yang diucapkan di sebrang sana yang mampu membuat Cicil tersenyum bahagia.
“Semua siap.”
Cicil langsung mematikan teleponnya, senyumannya mengembang dengan manisnya. “Aa, anterin aku ke gor bulutangkis,” ucap Cicil.
“Gor bulutangkis?” Riki menanyakannya kembali, Riki takut pendengarannya salah.
“Iya, Gor bulutangkis,” jawab Cicil santai. “Sekarang!?”
“Mau ngapain?” tanya Riki bingung, udah mulai ngada-ngada ini pacarnya tuh. Ke Gor bulutangkis mau ngapain? Maen bulu tangkis?
“Udah kesana cepet,” pinta Cicil.
“Tapi....”
“Sekarang kesana, ayo,” ucap Cicil sambil mendorong-dorong badan Riki, memaksa dirinya untuk mengemudikan mobilnya ke arah gor bulutangkis.
“Ngapain sih?” tanya Riki kesal,”katanya mau ke Alfa sekarang malah nyuruh ke gor bulutangkis. Mau ngapain kamu tuh, udah nggak bener ini mah. Udah kita pulang aja....”
“Jangan,” ucap Cicil cepat.
“Neng, jujur sama Aa ini mau ngapain?” tanya Riki kesal.
“Ke Gor, pokoknya ke Gor nggak mau tau,” ucap Cicil sambil menunjuk ke arah depan jalan.
“Neng, Aa....”
“Kalau Aa cinta dan sayang sama Neng, Neng mohon, kita ke Gor, please,” Cicil menelungkupkan kedua tangannya di dada sambil memberikan tatapan puppy eyes andalannya pada Riki. Dan....
“Oke,” ucap Riki sambil menjalankan mobilnya ke gor bulutangkis
Berhasil...!?
•••
“Berhenti disini,” ucap Cicil.
“Disini, Gor masih jauh sayang, itu masih jauh,” Riki menunjuk Gor bulutangkis yang masih berjarak 200 meter lagi.
__ADS_1
“Jalan aja dari sini,” ucap Cicil sambil keluar dari mobil “ayo, cepet.”
“Ini mau apa sih?”
“Mau nikah,” jawab Cicil santai.
“Hah, gimana nikah gimana?” tanya Riki bingung.
“Aa mau nikah sama Neng, kan?” tanya Cicil lagi.
“Iya mau,” jawab Riki.
“Ya udah nikah sekarang yah,” ucap Cicil sambil tersenyum manis.
“Sekarang?”
“Iya, sekarang mau nggak?” tanya Cicil.
“Kamu nggak salah?”
“Aku nggak salah, aku tanya Aa, mau nikah sekarang nggak?” tanga Cicil lagi.
Riki terkekeh pelan saat Cicil berkata seperti itu, “Sekarang banget?”
“Iya, mau?”
“Bisa emang?” tanya Riki.
“Bisa, mau nggak?” tanya Cicil sambil menatap Riki.
“Oke, terserah kamu, Neng.” Sudahlah Riki ikut saja dengan keinginan Cicil. Mau nikah sekarang juga hayo, emang bisa?
Riki dengan menurut turun dari mobil dan mengejar Cicil yang sudah berlari kearah segerombolan tukang baso dan siomay.
“Neng!?”
“Aa,” teriak Cicil sambil menarik Riki, “kalau kita nikah mau tukang siomay atau tukang bakso?”
Riki terkekeh melihat segerombolan tukang bakso dan siomay yang sudah menunggu disana, senyuman mereka benar-benar membuat Riki tertawa. “Bakso cinta.”
“Oke, jadi Bakso,yah,” ucap Cicil sambil mengusir gerombolan tukang siomay yang merasa tereliminasi.
“Iyalah, beneran. Kalau nggak kaya gini, susah ngajak kamu nikah tuh,” ucap Cicil sambil menarik Riki ke arah dua beberapa orang yang membawa alat musik.
“Ini apa, Neng?” tanya Riki takjub sambil menunjuk ke arah dua gerombolan dihadapannya.
Cicil hanya tersenyum centik ke arah Riki, tangannya langsung menunjuk ke arah gerombolan di kanan dan kirinya. “Nah, kalau ini gimana? Mau hiburannya apa? Orkes dangdut HOBA pimpinam Ice Juice atau home band biasa?”
Riki menutup kedua matanya dengan tangan kanannya, kelakuan absurd kekasihnya ini benar-benar membuat dirinya menahan tawa. “Oke, orkes dangdut.”
Sekalian gila, Riki memilih orkes dangdut hoba, Cicil langsung mengeliminasi home band, kemudian menarik tangan Riki untuk berlari.
Riki hanya bisa pasrah ditarik-tarik Cicil yang tampak tersenyum senang. Hatinya hangat melihat Cicil yang tampak cantik hari ini.
Riki saat ini berhadapan dengan dua orang lelaki, mereka mengenakan baju batik dan berdandan rapih. “Siapa?”
“Penghulu, Aa mau di nikahin sama Pak Karto yang dulu nikahin Adipati dan Taca atau Pak Dibyo?”
Tawa Riki hampir meledak, Cicil benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik. Seumur hidup baru sekarang Riki menemukan ada yang menikah seperti dikejar setan seperti ini.
“Aa.”
“Pak Karto,” jawab Riki cepat sambil menatap Pak Dibyo dengan tatapan meminta maaf.
“Oke, sekarang kesana.” Cicil menunjuk kearah jalan belakang gor bulutangkis.
Riki dan Cicil pun berlari kesana dan mendapati Taca dan Laura yang sedang memegang gaun pengantin dan kebaya sunda berwarna putih yang tampak cantik.
“Aa mau liat Neng, pake baju apa?” tanya Cicil sambil menunjuk baju yang ada didepannya.
“Astaga kalian ikutan juga?” tanya Riki spontan saat melihat Taca dan Laura.
“Aa, fokus... jawab, waktu kita nggak banyak?” paksa Cicil.
“Oke, Aa mah liat kamu pake kebaya,” jawab Riki tenang.
“Oke, Fine. Kalau baju buat Aa mau yang mana,” tanya Cicil sambil menunjuk ke arah belakang Riki.
Riki kaget saat melihat Rozak dan Edy sudah berdiri dengan gagahnya sambil membawa jas dan baju adat berwarna burgundy.
__ADS_1
“Neng pake kebaya jadi Aa pake baju adat,” jawab Riki cepat sambil menunjuk baju adat yang dipegang Roza.
“Oke, semua siap-siap,” perintah Cicil sambil mengangkat kedua jempolnya.
Riki bingung dengan perkataan Cicil. Tapi, sebelum Riki protes dirinya sudah ditarik oleh Rozak dan Edy ke arah samping Gor bulutangkis.
“Ini mau ngapain sih?” tanya Riki kesal.
“Cuman Aa, kayanya yang nikah bikin kepala satu kampung Citeko pecah. Nikah, kaya dikejar setan,” ucap Rozak sambil memberikkan baju yang Riki pilih tadi.
“Hah, ini beneran nikah?” tanya Riki tidak percaya sama sekali dengan apa yang didengarnya.
“Iya, beneran. Emang sangka bohongan. Cicil yang bikin acara ini, dia kesel kamu susah di ajak nikah, jadi aja dia nikah kaya gini,” ucap Edy sambil membuka kancing baju Riki satu persatu.
“Woi... aku bisa buka baju sendiri, udah aku ganti baju sendiri,” ucap Riki sambil menahan tangan Edy yang sudah membuka hampir semua kancing bajunya.
“Ya udah cepet. Penghulu, tamu undangan, wali nikah sampai saksi udah nunggu didalem gor,” ucap Edy.
“Jadi aku nikah ini teh?” tanya Riki Takjub
“IYA ... BAMBANG...!!!?” teriak Rozak dan Edy gemas.
•••
Riki dengan kebingungan dan rasa kaget masuk kedalam gor bulutangkis. Disana sudah tampak banyak sekali tamu undangan. Mereka sudah bergerombol duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan.
Tampak gerombolan Rina yang menggunakan baju dengan motif Zebra yang menyilaukan mata. Lalu, ada gerombolan emak-emak baju loreng di sebelahnya. Bapak-bapak yang tampak gagah mengenakan jas berwarna kuning yang mampu menyilaukan mata orang waras yang melihatnya.
Riki diminta duduk di kursi yang sudah disediakan, lalu Abah memberikan secarik kertas pada Riki dan membisikkan kata-kata ditelinganya.
“Hapalin ini ijab kabul, kalau sampai salah tiga kali, Abah suruh Rozak yang nikahin Cicil,” canda Abah.
“Idih, enak aja,” ucap Riki sambil mengambil kertas dari tangan Abah.
Saat membacanya Riki tersenyum membaca maharnya. Abah benar-benar maniak, saat Riki mengangkat kepalanya dari kertas yang diberikan Abah, Riki sadar semua orang disana terdiam. Riki langsung menolehkan kepalanya dan mendapati Cicil berjalan kearahnya dengan anggun dan cantik paripurna.
Riki benar-benar tidak mengerti mengapa bisa Cicil berdandan dengan extra cepat dan masih tampak cantik paripurna. Semua ornamen kenaya sunda benar-benar tertata sangat cantik dikepala Cicil. Cicil tampak seperti noni belanda yang tersesat di keraton.
Cicil dengan anggun duduk disamping Riki dan melirik kearah Riki dengan senyum yang mampu membuat jantung Riki berdetak cepat.
Dihadapan Riki sudah duduk Uncle Jacquen dan pak Karto. Mereka berdiskusi sebentar mengenai wali Cicil yang adik Papih Cicil. Namun, setelah Pak Karto menerima telepon dari Rea, Pak Karto akhirnya melanjutkan pernikahan tersebut.
“Baiklah, siap?” tanya Pak Karto yang langsung dijawab anggukan oleh Riki. Riki langsung menjabat tangan Uncle Jacquen.
“"Bismillahirrohmanirrohim, ya Riki Trina bin Suhaedi Trina, saya nikahkan dan kawinkan putri kandung Kakak saya Cicil Bouw kepada ananda dengan mas kawin berupa uang sebanyak seratus juta dan 1 unit mobil Avanza, dibayar tunai,” ucap Jaquen dengan logat bahasa Prancis yang sangat kental.
“Saya terima nikah dan kawinnya Cicil Bouw binti Jeff Bouw dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Riki sambil menatap Jaquen mantap.
Karto langsung berteriak keras, “Sah....”
Semua orang langsung mengucap syukur, Riki dengan spontan langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Saat dia menoleh kearah Cicil, Riki langsung kaget mendapati Cicil yang langsung melemparkan tubuhnya ke arah Riki.
“Astaga Neng, sabar,” kekeh Riki yang kaget saat Cicil sudah memeluknya.
“Kita nikah, Aa,” ucap Cicil bahagia.
“Iya, kita nikah, sekarang Neng tanggung jawab Aa yah,” ucap Riki sambil mengusap punggung Cicil pelan.
“Aa, terima kasih,” bisik Cicil pelan.
“Buat?” tanya Riki bingung.
“Karena, saat aku tidak tau apa itu cinta, Aa datang meluk Neng dan mengajarkan tentang Cinta,” ucap Cicil sambil mencium pipi Riki.
“Karena Aa, akan selalu mencintai Neng, sampai napas Aa habis.”
•••
Yeahh nikah... nikah... nikah...
Nikah macam apa ini tuh? Hahahaa
Maaf absurd ini nikahan, biarin lah yah. Biar Hobaaaaaaa.....
Terima kasih yang sudah berpartisipasi, aku padamu hehehe....
Jangan lupa itu jempol ama pinggul di goyang buat klik tombol Like dan jangan sungkan buat kasih point dan vote nya....
Goyang bang....
__ADS_1
XOXO GALLON