
Cicil dan Riki langsung meninggalkan kantor polisi saat sudah dipersilahkan pulang olah polisi. Riki dengan cepat menarik Cicil menjauh dari Albert. Seandainya Riki bisa, Riki ingin membawa sejauh mungkin Cicil dari Albert.
Setelah berada diluar kantor polisi Cicil dan Riki sama-sama celingukkan. Mereka baru ingat bahwa mereka kesana bersama mobil pick up Kang Galon. Sedangkan, Kang Galon sudah pulang bersama Edy tadi.
“Aa, kita pulang pake apa?” tanya Cicil bingung.
“Bentar,” Riki berpikir sebentar, sebenarnya untuk pulang dari sana bisa dengan menggunakan bus. Tapi, Riki takut Cicil menolak menggunakan Bus. Anak sultan naik Bus, Riki benar-benar tidak bisa membayangkan sama sekali.
Krucuk....
Perut Cicil berbunyi keras. Riki langsung menatap Cicil yang hanya bisa memandang Riki malu-malu.
“Neng, lapar?” tanya Riki sambil menatap Cicil.
“Heeh,” jawab Cicil sambil mengerak-gerakkan telunjuknya ke atas dan ke bawah di lengan kanan Riki.
“Astaga, ya udah kita makan dulu. Kebetulan di sana ada tukan bubur yang enak, mau?” tanya Riki.
“Bubul? Pollidge,” tanya Cicil.
“Iya, porridge,” jawab Riki sambil mengusap rambut Cicil.
“Mau, aku mau pake ayam, boleh?” tanya Cicil, Cicil yang selalu berpacaran dengan lelaki yang sangat-sangat mementingkan penampilan, membuat dirinya memiliki kebiasaan meminta izin untuk makan sesuatu.
“Boleh, Neng. Mau pake ati ampela, cakue ama kacang juga boleh,” ujar Riki sambil menatap Cicil, “Tapi....”
Cicil langsung menatap Riki dengan mata puppy eyes andalannya.
“Besok potong rambut yah, Aa kesel liat rambut kamu ini,” ujar Riki sambil mengusap rambut Cicil yang panjang.
“Oke... tapi aku mau bubul ayamnya yang banyak, boleh?”
“Boleh, nanti Aa suapin yah,” ujar Riki sambil berjalan kearah pintu gerbang kantor polisi.
Cicil langsung tersenyum senang mendengar perkataan Riki, entah sejak kapan Cicil sangat suka disuapi oleh Riki.
•••
Cicil duduk manis di kursi plastik di warung tenda yang berjualan bubur. Mata Cicil menatap semua yang ada disana dengan penuh keingintahuan. Cicil jarang, ah maaf dikoreksi, Cicil tidak pernah makan diwarung pinggir jalan terkecuali makan ayam bersama Riki.
Mata Cicil membulat bahagia saat Riki membawa dua mangkok bubur ayam, Cicil langsung mengambil bubur yang paling banyak daging Ayamnya. Dengan cepat Iis menyuapkan bubur tersebut.
“Hmm enak Aa. Tapi, aw aw...” Cicil merasakan perih saat bubur tersebut mengenai luka didalam mulutnya yang diakibatkan pukulan Albert tadi.
“Pelan-pelan Neng, bagian dalam mulut kamu masih luka,” ujar Riki sambil memberikan air teh hangat pada Cicil.
Cicil meminum teh yang diberikan oleh Riki, mata Cicil langsung membulat bahagia saat meminum teh yang diberikan oleh Riki.
“Kenapa Neng? Pedih lagi?” tanya Riki bingung melihat reaksi Cicil.
“Enak banget, ini teh apa? Kok bisa enak gini?” tanya Cicil sambil menatap Riki dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
“Hahahaa... teh apa yah, nggak tau. Tapi, emang kalau teh di tukang dagang emang suka lebih enak sih, mungkin karena di buatnya barengan gitu kali yah,” terang Riki sambil melihat Cicil yang sedang asik memakan buburnya dengan mata berbinar.
Cicil memakan buburnya menggunakan sendok dengan gembira. Oke anggap lebay, tapi jujur Cicil jarang memakan bubur seperti ini, bukan sombong atau apa. Tapi, Cicil tidak pernah makan ketempat makan seperti ini oleh orang tuanya ataupun oleh teman-temannya.
“Neng, mau tau cara makan yang lebih enak nggak,” tawar Riki sambil menatap Cicil.
“Gimana Aa?”
“Gini,” Riki mengambil kerupuk yang dari tadi Cicil abaikan, saking asiknya menyantap bubur miliknya.
Riki mengambil sedikit bubur dengan menggunakan kerupuk dan menyuapkannya ke mulut Cicil. Saat Cicil memakan buburnya, otomatis Cicil bersorak gembira, saking gembiranya Cicil langsung menepukkan kedua tangannya senang.
“Enak, Aa tau dali mana?” tanya Cicil sambil mengerling jenaka ke arah Riki.
Riki tertawa melihat kelakuan Cicil yang seperti anak kecil. “Tau dari Abah, Abah suka banget makan bubur pake cara itu.”
“Ah, aku jadi kangen sama Abah. Abah kabarnya gimana sekarang?” tanya Cicil sambil mengambil kerupuk.
“Abah, baik. Dia lagi ngambek gara-gara Taca nggak pulang-pulang. Abah kangen 3 cucunya,” ujar Juan.
“Ah, anak-anaknya adik Aa ‘kan, Taca masih di Singapur?” tanya Cicil.
“Iya Taca masih di Singapur, tapi bulan depan juga pulang kok,” ujar Riki.
“Ah pasti seneng Abah,” ujar Cicil.
“Abah kalau ada Cucunya bahagia banget, semua kemauan Cucunya diturutin, ah ribet pokoknya,” ujar Riki.
Riki yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung salah tingkah, “Aku?”
“Iya, Aa, Aa kapan mau ngasih Abah cucu?” tanya Cicil.
“Kalau Neng siap,” jawab Riki sambil menatap Cicil.
Cicil yang sedang menyuapkan bubur langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Riki malu-malu.
“Kenapa? Kan Aa mau nikahnya sama Neng, masa punya anaknya sama Laura,” canda Riki.
“Ih... enak aja, awas aja Aa deket-deket perempuan lain, Cicil sunat ulang Aa,” ancam Cicil sambil menunjuk Riki dengan sendok bubur.
“Waduh, jangan Aa nggak sanggup kalau disunat dua kali, bisa abis yang ada,” ujar Riki.
“Makanya, awas aja kalau Aa selingkuh, Cicil nggak bakal main-main,” ujar Cicil sambil memicingkan matanya menatap Riki.
“Hahahaa... ngapain selingkuh, lah wong udah dapet bidadari. Masa mau selingkuh,” ujar Riki sambil mengacak rambut Cicil pelan.
Setelah selesai makan, Riki dan Cicil pun langsung mendekati penjual bubur untuk membayar bubur yang sudah mereka makan.
“Berapa Pak?” tanya Riki sambil mengeluarkan dompet dari sakunya.
“Pake minum nggak?” tanya Kang bubur.
__ADS_1
“Nggak cumam minum teh doang,” jawab Riki.
Cicil ingin mengetahu berapa harga teh yang tadi Cicil minum, rasanya sangat-sangat enak. Cicil bahkan meminum teh tersebut sampai 8 gelas, saking enaknya.
“Ah, tehnya gratis, semuanya totalnya 30rbu,” ujar tukang bubur sambil mengambil 1 lembar uang 50rbuan.
“Gratis?!” tanya Cicil takjub, ternyata masih ada barang gratisan di muka bumi ini. Dan, itu adalah teh yang rasanya sangat Cicil sukai.
“Iya, Neng gratis,” jawab Riki sambil mengambil kembalian dari tangan tukang bubur.
“Tapi, kan. Tehnya enak banget, masa gratis?” Cicil tidak terima minuman yang dia sukai diberikan secara cuma-cuma pada seseorang.
“Terus ini harganya 30rbu untuk 2 orang.”
“Iya, 30rbu,” ujar Riki.
“Murah banget, harusnya harganya sekitar 50 ribu,” ujar Cicil sambil menatap tukang bubur yang tersenyum.
“Wah, kalau dua mangkok harga segitu mah pembeli bisa kabur, Mbak,” ujar tukang bubur.
“Ih... bukan dua mangkok, tapi semangkok 50rbu,” ujar Cicil polos
“Eh... buset kalau semangkok harganya 50rbu mah bisa-bisa saya dikatain tukang bubur naik haji kali Mbak,” ujar tukang bubur sambil menatap Cicil kaget.
“Lah, bagus Pak kalau cepet-cepet naik haji,” ujar Cicil yang tidak mengerti kalau sebenarnya itu hanya sebuah ungkapan dari kalangan biasa.
“Ha....”
Riki hanya bisa tertawa mendengar obrolan Cicil dan Tukang Bubur, “Udah ah, Neng. Ayo pulang?” ujar Riki.
Cicil pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. “Ayo, pulang naik apa?”
“Naek bis,” ujar Riki santai.
“Bis!?”
•••
Nah loh... anak sultan naik bisa apa kata dunia?
Hahahahaa....
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1