
“Rozak,” panggil Nama.
Rozak tidak mengedipkan matanya sama sekali saat melihat Nama berlari keluar dari dalam rumahnya. Nama hanya mengenakan celana jeans dan kaos, tapi kecantikkannya benar-benar terpancar.
“Zak, hei... Nama memanggil Rozak,” canda Nama sambil menggerakkan tangannya di depan wajah Rozak.
Rozak mengerjapkan matanya langsung, “Ah... iya, maaf. Gimana?”
“Hahaa... kamu bengong ih, kenapa bengong?” tanya Nama sambil mengambil helm dari tangan Rozak.
Rozak tersenyum, “Nggak, cuman terpesona.”
Mata Nama langsung menatap manik mata Rozak, “Terpesona gimana?”
Tangan Rozak langsung memasangkan jaket pada Nama, sesekali Rozak membenarkan anak-anak rambut Nama. “Kamu cantik.”
Ujung bibir Nama langsung tertarik keatas, senyuman langsung terlihat di wajah Nama. Lelaki didepannya ini terlalu manis untuk di abaikan. Nama maju selangkah mendekati Rozak, “Kalau aku cantik, kenapa kamu nggak ada kabar beberapa hari ini?”
Sudah empat hari Rozak sama sekali tidak menghubunginya. Biasanya, Nama selalu bangun dengan deretan chat dari Rozak atau bahkan sudah ada kiriman paket bubur di depan rumahnya, kiriman Rozak. Tapi, sudah empat hari ini Rozak sama sekali, tidak ada menghubunginya atau mengirimknya sesuatu. Nama merasakan sesuatu yang kurang saat itu terjadi.
“Aku sibuk banget, Nam. Maaf, aku urus usaha Riki ditambah aku harus ngajar juga, belum usaha beras Abah. Mau nangis rasanya, pulang-pulang ambruk. Nggak ada yang ngurus, nasib jomblo,” ucap Rozak sambil menaikki motornya.
“Siapa yang jomblo?” pancing Nama, Nama langsung duduk di jok belakang motor Riki dengan tenang.
“Aku, jomblo susah move on, kalau kata Riki,” ucap Rozak sambil menjalankan motornya menembus kemacetan Jakarta yang sudah tersohor.
Nama terdiam mendengarkan perkataan Rozak, jomblo susah move on. Emang mantan, Rozak secantik dan sehebat apa sih? Kok bisa, sampai Rozak nggak bisa move on sama sekali. Apa lebih dari dirinya?
Empat hari tanpa kabar dari Rozak, Nama benar-benar berpikir keras akan perasaannya. Menerima cinta seseorang akan sangat sulit untuk Nama. Dulu, dia pernah menerima cinta seorang pria, sayangnya pria itu terlalu posesif dan ringan tangan.
Nama menyentuh dadanya, di dadanya masih ada bekas luka sundutan rokok yang di buat oleh mantan pacarnya. Sundutan itu Nama dapatkan hanya karena Nama ngobrol dengan salah satu orang tua murid pria di tempatnya mengajar. Nama memejamkan matanya, mengingat enam bulan kehidupannya yang seperti neraka saat bersama mantannya.
Diusapnya punggung Rozak pelan, lelaki didepannya ini, benar-benar manis. Rozak bukan lelaki pemaksa, dia punya cara sendiri menyusup ke dalam pikiran dan hati Nama. Tanpa kata dan prilaku yang berlebihan, benar-benar membuat Nama nyaman.
“Nama, pegangan ke belakang motor atau kalau kamu mau, kamu bisa peluk aku. Kalau ma....”
Tanpa diminta dua kali, Nama langsung memeluk erat Rozak. Menempelkan pipinya di punggung Rozak. Hangat.
Tangan Rozak langsung mengelus tangan Nama yang sudah mengait di perut Rozak. Rozak terus menerus mengelus tangan Nama. Ada rasa hangat di hatinya saat Nama memeluknya.
“Nam, mau meluk sampai kapan? Ini udah nyampe.” Rozak menepuk tangan Nama pelan.
“Eh, udah sampai? Kok nggak bilang?” Nama melepaskan pelukkannya dan turun dari motor Rozak dengan malu-malu.
“Keenakkan naik motor apa keenakan meluk aku?” tanya Rozak, Rozak dengan cepat membuka helm di kepala Nama, senyumnya berkembang saat mendapati wajah Nama yang memerah.
“Ih, nyebelin. Aku kan nggak sadar, tau,” ucap Nama sambil mendorong badan Rozak pelan.
“Hahahaa... keenakan juga nggak papa kok, aku mau kok di peluk terus ampe pagi juga.” Rozak dan Nama pun tertawa berbarengan.
Tawa mereka terhenti saat melihat ada mobil Tesla, parkir di samping mereka berdua. Nama langsunh mundur dan berdiri disamping Rozak.
“Siapa?” tanya Nama pada Rozak. Nama yang tidak tau silsilah keluarga Rozak, bingung saat ada mobil mewah parkir di pelataran parkir restoran Riki, ditambah lagi Nama ingat kalau retoran di tutup untuk menyambut Cicil dan Riki pulang dari Yogyakarta.
Rozak yang ingat dengan merk mobil kesukaan Juan hanya bisa tersenyum pada Nama, “Palingan Juan.”
__ADS_1
“Juan who?” tanya Nama bingung. Sapa pula Juan?
“Ah, jadi ‘kan. Aku kan anak ke dua dari empat bersaudara. Urutannya Aa Riki, aku, almarhum Tasya dan Taca adik aku paling kecil. Nah, Taca itu punya sahabat namanya Iis, dia udah dianggap keluarga sama Abah dan sama kita juga. Jadi, udah dianggap adik aku sama Riki.” Rozak menyembunyikan fakta bahwa Iis adalah mantan terindahnya.
“Nah, Juan itu siapa?” tanya Nama bingung.
“Juan itu, suaminya Iis. Jadi, palingan Juan sama Iis itu yang dateng,” ucap Rozak.
“Ah...”
Nama langsung melihat seorang pria yang turun dari mobil. Pria itu ganteng, badannya tegap, hidungnya mancung dan senyuman sekilas yang dilemparkan oleh pria itu pada Rozak, mampu membuat Nama menghentikan napasnya.
Pria itu berjalan ke arah pintu sebelahnya, dengan santainya dia membukakan pintu untuk seseorang. Di sana Nama bisa melihat seorang wanita cantik berambut panjang keluar.
“Bu Lizbet,” ucap Nama sambil berlari kearah wanita itu.
Iis yanh baru keluat dari mobil kaget saat ada seorang wanita mendekati dirinya. Pikirannya langsung bekerja, mencari informasi mengenai wanita di hadapannya. “Ah... Nama? Kamu Nama ‘kan? Anak magang yang dulu kerja di biro?”
“Iya, Bu Lizbet aku Nama. Seneng deh Ibu masih inget aku,” ucap Nama sambil menyalami Iis.
“Kamu kenal?” tanya Juan dan Rozak bersamaan.
Iis dan Nama langsung melirik pasangan masing-masing.
“Iya, dia Nama. Dia pernah magang di tempat aku kerja dulu. Aku inget karena namanya unik dan cantik juga,” ucap Iis sambil menutup pintu mobil.
“Ah, Bu Lizbet bisa aja,” ucap Nama.
“Eh bentar kenapa kamu bisa disini?” tanya Iis bingung, kenapa Nama bisa ada disini. Dunia memang sempit. Tapi, seingatnya tidak sesempit ini juga.
“Aku yang undang, Iis. Nama juga kenal Cicil,” ucap Rozak sambil menepuk bahu Nama pelan.
“Juan.”
“Nama.” Nama benar-benar tidak berkedip, pesona Juan benar-benar menghipnotis dirinya. Pesona Om-Om memang beda.
“Kita masuk duluan,” ucap Juan sambil menarik Iis untuk berlalu dari sana.
Rozak melambaikan tangannya di depan wajah Nama, berusaha untuk menyadarkan Nama dari pesona Juan. “Nam....”
“Eh, iya gimana?” tanya Nama sambil menggoyangkan kepalanya pelan.
“Kamu kenapa?” tanya Rozak, walau Rozak tau Nama terpesona pada Juan. Rozak merasa hatinya sakit melihat Nama terpesona pada Juan. Apakah semua wanita yang disukainya harus terpesona pada Juan Wijaya.
“Nggak kenapa-napa. Masuk yuk,” ucap Nama sambil menarik lengan Rozak, tapi Rozak bergeming.
“Zak, ayo masuk,” ajak Nama.
Rozak memejam matanya, Rozak tau ini egois. Tapi, Rozak butuh kepstian dari Nama. Rozak suka Nama, dia mencintai Nama. Senyuman Nama benar-benar mampu membuat dirinya melupakan Iis. Iya, Rozak sudah move on dari Iis. Dulu, ada seseorang yang masuk ke kehidupan Rozak. Tapi, wanita itu tidak mampu membuat Rozak melupakan Iis.
Tapi, Nama berbeda. Nama, mampu membuat dirinya melupakan Iis. Bahkan, Rozak sudah tidak ingat lagi kapan terakhir kali dia menatap photo Iis di handphonennya atau melihat sosial media Iis. Rozak lupa atau lebih tepatnya lagi, Rozak sudah tidak pernah melakukannya lagi. Semenjak dia mengenal Nama, Rozak benar-benar hanya memikirkan Nama.
Rozak tidak mau, Nama terpesona dengan kharisma Juan. Walau, Rozak tau nggak mungkin Juan meninggalkan Iis. Tapi, entah kenapa hati kecilnya tidak mengizinkan Nama untuk terpesona pada Juan.
“Nama... kamu ngeliatin Juan terus, kenapa?” tanya Rozak.
__ADS_1
“Hah? Nggak kenapa-kenapa. Emang nggak boleh?” Nama malah balik bertanya pada Rozak.
“Boleh sih, tapi....”
“Tapi apa?” Nama bertanya bingung.
Rozak menggaruk kepalanya, “Aku nggak suka aja kamu liatin Juan.”
“Kenapa?” Nama mulai waspada, dia benar-benar tidak mau berurusan dengan lelaki posesif. Cukup penderitaannya dulu, dia berhak bahagia.
“Karena...” Rozak menimbang-nimbang akan memberikan jawaban apa.
“Kenapa, Zak. Aku nggak mau, yah. Aku nggak suka cowo posesif dan cemburuan. Nggak sanggup aku kalau harus punya pasangan kaya gitu,” ucap Nama jujur, lebih baik jujur sekarang dari pada nanti jadi masalah.
“Bukan gitu, aku cuman nggak suka karena...”
“Karena apa Zak?” tanya Nama penasaran.
“Jadi, kamu tau ‘kan, aku punya mantan dulu. Mantan terindah kalau kata Riki...”
“Mantan kamu Juan?” tanya Nama dengan mata membulat sempurna. Apakah Rozak belok?
“Hah? Bukan, astaga Nama aku ini masih suka sama perempuan, aku normal. Makanya, aku cinta dan sukanya sama kamu bukan sama Edy,” ucap Rozak.
Nama kaget mendengar pengakuan Rozak, ternyata Rozak menyukai dan mencintainya. “Yah, terus kamu mau posesif gitu, larang aku buat liat Juan?”
“Bukan gitu, mantan aku itu Iis. Iis itu mantan terindah aku, aku terlalu bodoh buat ninggalin Iis dulu.”
“Jadi kamu masih suka sama Iis?” tanya Nama kesal. Kalau Rozak masih suka sama Iis ngapain dia ngomong cinga sama Nama. Maunya apa sih lelaki didepannya ini, plin plan.
“Bukan gitu,” ucap Rozak.
“Tau, ah... ribet ngomong sama kamu. Aku mau masuk ke dalem aja. Pusing aku,”’rutuk Nama sambil berjalan sambil menghentakkan kakinya dan meninggalkan Rozak sendirian.
Rozak hanya bisa menghela napasnya, sepertinya dia harus berbicara berdua dengan Nama. Secepatnya, dia tidak mau menyesal kedua kalinya. Nggak mau.
Saat Rozak melangkahkan kakinya, ada suara manis menahannya.
“Maaf, ini restorannya tutup?”
Rozak menolehkan kepalanya dan saat melihat siapa yanh berkata, matanya langsung membulat sempurna.
“Zurra?”
“Rozak?”
•••
Deng deng deng...
Sape tuh Zurra? Hihihihihii...
Penasaran dengan Zurra? Bisa baca novelnya kak Chida yang judulnya Kiss me. Disana ada pertemuan Rozak dan Zurra.
Jangan lupa Pointnya disebar, Vote diberikan dan koin di sisipkan untuk Mr and Mrs Trina, biar Kaka Gallon semangat Up dihari yang panas ini. 😘.
__ADS_1
Sekecil apapun kontribusimu untuk karya Kaka Gallon, akan sangat Kakak Gallon hargai. Sini aku pelukkkk 😘😘😘
XOXO GALLON.