
“Pak Rozak.”
“Buat apa kamu jual itu?” tanya Rozak pada Ira sambil menunjuk barang-barang yang akan Ira jual.
“Bukan buat apa-apa, iseng.” Ira berkata sambil mengalihkan pandangannya dari Rozak kembali ke barang-barang yang akan dijualnya.
“Iseng? Tadi aku denger kamu mau jual karena butuh uang. Buat apa?” tanya Rozak.
Ira menggigit bagian bawah bibirnya, “Nggak jadi.”
Ira dengan cepat memasukkan kembali barang-barang yang akan dijualnya kedalam tas miliknya. Lalu berjalan meninggalkan Rozak dan penjualnya.
“Pak ... tadi dia bilang sih butuh uang buat kuliah,” ucap penjual itu.
“Buat kuliah?” tanya Rozak kaget.
“Iya katanya buat bayar kuliah dia,” jawab penjual tersebut.
“Oh ... ya udah makasih infonya.” Rozak langsung mengejar Ira yang sudah lumayan jauh.
“Ira, tunggu.”
Ira sama sekali tidak menghiraukan Rozak dia tersu berjalan ke arah parkiran mobil. Berusaha untuk menghindari Rozak.
Tangan Ira tiba-tiba ditarik oleh seseorang, spontan Ira langsung menghentikkan langkahnya dan menatap orang yang menarik tanganya.
“Paka Rozak, ada apa?” tanya Ira mencoba bersikap setenang mungkin, padahal hatinya ketar ketir karena berjumpa dengan Rozak di sana.
“Ra, kamu butuh uang buat apa?” tanya Rozak.
“Bukan urusan Bapak,” ucap Ira sambil menepis tangan Rozak dari lengannya.
“Ra ... jujur, aku ini bentar lagi jadi Kakak kamu,” ucap Rozak mencoba mengingatkan kembali pada Ira kalau Rozak ini sebentar lagi akan menjadi Kakaknya.
Tampak raut muka kesedihan terpancar dari wajah Ira. “Saya ....”
Kruyuk ... kruyuk ...
“Saya lapar?” tanya Rozak pada Ira sambil tersenyum.
Ira mengusap perutnya, ia baru ingat kalau dari pagi dirinya belum makan sama sekali. Keributan antara Mamih dan Kak Tandika di rumahnya benar-benar membuat Ira melupakan segala-galanya.
“Ra ... kamu lapar?” tanya Rozak.
“Iya Pak, laper saya belum makan dari pagi,” jawab Ira Jujur sambil memamerkan deretan giginya yang putih.
“Astaga ini udah jam tiga sore, Ra. Kamu bisa sakit, ya udah ayo ... makan dulu sama Bapak,” ajak Rozak.
Ira yang memang sudah lapar langsung mengikuti Rozak dengan patuh. Berjalan mengekor di belakang Rozak seperti seekor anak bebek yang selalu mengikuti induknya.
Akhirnya mereka duduk di foodcourt dan memesan makanan. Saat menunggu makanan yang datang Rozak langsung menanyakan kenapa Ira menjual barang-barang miliknya.
__ADS_1
“Kamu ngapain jual barang-barang?” tanya Rozak.
Ira langsung mengalihkan pandangannya, menatap kakinya. Berusaha untuk tidak menatap mata Rozak.
“Hai ... kamu kenapa jual barang-barang kamu?” tanya Rozak lagi yang sadar kalau Ira mengalihkan pandangannya.
“Ra ....”
“Iya Pak?” tanya Ira sambil terus mengalihak pandangannya, menolak untuk melihat wajah Rozak.
Rozak langsung mengusap wajahnya kesal, “Ira ... kamu kenapa cerita sama Bapak, Bapak ini Kakak kamu, Ra. Kamu keluarga Bapak,” ucap Rozak.
“Aku nggak punya keluarga, Pak,” ucap Ira sambil mengerjapkan matanya berusaha untuk menghilangkan butiran-butiran air mata yang siap mengalir dari matanya.
“Ngaco kamu.”
“Nyata Pak.” Ira saat ini langsung mengarahkan pandangannya pada Rozak sambil menghela napas pelan. Mencoba untuk menahan tangisannya, “saya nggak punya keluarga.”
“Jangan ngomong gitu, kamu kenapa?” tanya Rozak waswas. Ada apa lagi dengan calon adik iparnya ini, seingatnya dia di sekolah baik-baik aja.
“Kalau saya punya kelurga, nggak mungkin saya luntang lantung kaya gini.” Ira berkata sambil memainkan butiran-butiran debu di meja makan.
“Luntang langung gimana? Hei Ira kamu kenapa?” tanya Rozak.
“Saya cuman mau kuliah Pak, cuman itu. Cuman ingin kuliah di Universitas yang saya mau.”
“Kamu tinggal kuliah Ra, Bapak liat nilai kamu bagus, kamu juga lolos kan ke Universitas Indonesia.”
“Iya ... emang lolos tapi ....”
Helaan napas yang sangat berat terdengar dari Ira, sepertinya Ira sedang berusaha untuk melepaskan beban berat di pundaknya. “Mamih nggak mau bayarin uang pangkal. Kak Tandika juga nolak, katanya uangnya habis buat mencoba ngeluarin Ayah dari penjara.”
“Nggak mungkin, harta keluarga Ayah kamu tuh banyak. Mamih kamu juga pasti punya banyak aset,” ucap Rozak yang bingung dengan alasan yang dibuat Eva dan Tandika. Masa untuk pendidikan anak mereka tidak mampu membayar sih? Bohong banget.
“Nyata Pak, semua aset Ayah diambil negara. Karena, dengan masuknya ayah ke penjara semua kasus Ayah terbongkar. Hutang Ayah ke negara lebih banyak dari pada aset Ayah saat ini, semua kolega Ayah cuci tangan. Bahkan, kosan dan rumah milik Ibu dan Kak Nama pun sudah diambil,” terang Ira sambil mengusap air matanya dan sesekali terdengar tarikan napasnya pelan.
Rozak menegakkan duduknya, dia tidak tau kalau apa yang dilakukan oleh keluarga Cicil benar-benar menggerus semua aset kekayaan Ahyar. Rozak tidak bisa membenci perlakuan keluarga Cicil pada Ahyar, mengingat apa yang dilakukan Ahyar pada Riki. Tapi, miris rasanya melihat Ira yang sama sekali tidak bisa membayar uang kuliahnya.
“Ya ... udah, kamu mau jual barang kamu semuanya?” tanya Rozak.
“Iya, kalau aku jual ini semuanya aku bisa punya uang buat bayar uang kuliah aku awal dan dua semester awal juga kosan aku selama satu tahun. Tapi, itu juga kalau barang-barang aku ada yang mau manewar dengan harga yang bagus.” Ira berkata sambil menepuk tasnya yang tampak menggembung besar.
“Mau Bapak bantu biar yang belinya pake harga diatas pasaran?” tanya Rozak.
“Gimana caranya?” tanya Ira.
Rozak tersenyum, “Tenang, banyak cara. Salah satunya menyuruh youtuber terkenal sekaliber Edy Edrosh buat jualannya, pasti banyak yang mau belinya,” ucap Rozak.
“Eh ... Edrosh high up?” tanya Ira senang, sebagai anak zaman sekarang, Ira sangat tau siapa itu Edy Edrosh. Dia adalah salah satu youtumber yang paling berpengaruh di Indonesia.
“Yang dulu berantem ama Om Sabar?” tanya Ira.
__ADS_1
“Iya ... yang bentukkan kaya lele dumbo,” ucap Rozak sambil menahan tawanya.
“Iya ... dia kan viral karena mukanya kaya lele dumbo tapi pacarnya cantik, pacarnya anak Om Sabar ‘kan?”
“Iya anak Om Sabar sahabatnya Cicil, istrinya Aa Riki Kakak Bapak,” ucap Rozak.
“Jadi bisa?” tanya Ira.
“Bisa, makanya cepet selesain makannya. Nanti Bapak anter ke tempat Edy, walau dia lagi sakit sih.”
“Sakit apa?”
“Oh ... burungnya sakit,” jawab Rozak santai sampai menyuapkan nasi goreng kemulutnya.
“Dia punya burung?”
“Ohok ....” Rozak langsung terbatuk karena mendengar pertanyaan yang tak Ira sadari adalah pertanyaan ambigu.
“Eh ... malah batuk,” ucap Ira sambil memberikan minuman pada Rozak.
“Hahaha ... iya maaf, iya Edy punya burung. Kasian burung dia sakit. Udahlah makan dulu, nanti Bapak anter. Terus langsung kita bayar itu uang kuliah kamu.”
“Beneran?”
“Iya beneran, jangan dibikin pusing yang penting kamu harus sekolah aja, jangan bikin ribet yah.” ucap Rozak sambil mengacungkan kedua jempolnya.
“Sama Pak, aku punya permintaan lain,” ucap Ira.
“Apa?”
“Hm ... boleh nggak saya.” Ira menggantungkan kalimatnya menimbang-nimbang apakah keinginannya ini dapat diterima Rozak dan Nama atau tidak.
“Apa?” tanya Rozak penasaran.
“Ehm ... saya mau tinggal sama Bapak dan Kak Nama aja. Saya nggak papa tidur sama Ibu juga, saya nggak mau tinggal di rumah Ayah lagi. Aku nggak suka nggak tenang. Aku nggak kuat, Pak.”
Rozak hanya terdiam mendengar permintaan Ira, sepertinya dia harus cepat-cepat memperbesar rumah miliknya. “Ra ....”
“Boleh?” tanya Ira penuh harap, Ira sudah tidak sanggup lagi tinggal di rumahnya. Rumah yang mewah dan serba lengkap namun, dingin dan penuh angkara murka.
“Boleh, Ra.”
•••••
Holaaa .... Bab ini di buat bagi yang penasaran sama kehidupan Ahyar Suhendar yang carut marut dan hidup Ira yang dari tidak jelas menjadi jelas hehehee....
Bab selanjutnya bakal di sibukkan dengan pesta pernikaha dan lain sebagainya hehehe ....
Jangan lupa like dan komment ❤️
Siram pake burung eh ... salah kopi dan bunga wkwkkw....
__ADS_1
Btw ... burung Edy aman yah, bisalah Edy menternakkan Edy-Edy kecil wkwkkw
XOXO GALLON YANG HOBI KELON.