Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Tenang … ada aku …


__ADS_3

Rozak berjalan berdampingan dengan Riki, di depannya ada Abah yang menggendong Kafta dan menuntun Kalila. Mereka berjalan ke arah meja yang akan menjadi saksi bisu pernikahan Nama dan Rozak.


Rozak duduk dengan perasaan tak menentu, mungkin tadi saat dirinya mendapati Nama yang akan melarikan diri Rozak masih bisa bersikap tenang. Tapi, detik ini Rozak waswas.


Waswas karena takut Nama melarikan diri dan meninggalkan dirinya di meja pernikahan. Rozak yakin seyakin-yakinnya Nama pasti akan kembali dan memeluknya untuk mengungkapkan keinginan sintingnya untuk kumpul kebo.


Rozak bukannya tidak mau mengikuti keinginan Nama tapi, masa dia harus kumpul kebo. Mending nikah sekalian, Rozak sudah yakin dengan Nama.


“Zak, kenapa?” tanya Riki yang melihat Rozak gelisah.


“Nggak apa-apa, cuman takut aja.”


“Takut apa? Masa takut nikah, kamu ini udah waktunya buat nikah Zak.” Riki mengingatkan umur Rozak yang sudah tidak muda lagi, sudah sepantasnya Rozak memiliki pasangan hidup.


“Aku nggak takut nikah, Aa. Demen malah aku nikah, ngebet.” Rozak menatap Riki sambil mengecilkan suaranya sekecil mungkin agar hanya Riki yang mendengar perkataannya.


“Terus kenapa?” tanya Riki bingung.


“Hm … aku takut Nama nggak dateng, Nama kabur.”


“Kabur ke mana? Mau ke mana?” tanya Riki kaget, kenapa lagi calon adik iparnya ini. Astaga … sudah cukup Adipati saja adik ipar yang membuat kepalanya sakit. Janganlah, Nama ikut-ikutan juga membuat kepalanya sakit.


“Shutt … jangan keras-keras nanti kedengeran Abah,” ucap Rozak sambil melirik Abah yang sedang asik bermain bersama Kalila.


“Gimana ceritanya?”


“Tadi aku nggak sengaja nemuin Nama yang mau kabur dari ruang rias. Udah setengah badannya keluar dari jendela.” Rozak berkata.


“Kenapa? Kamu teh ini nikah paksa? Nama teh nggak mau nikah sama kamu?”


“Nggak … bukan gitu, Nama cuman takut. Dia trauma sama pernikahan ibu bapaknya. Dia takut, makanya dia tuh sebenernya nggak mau nikah. Dia cuman mau kumpul kebo aja.”


“Lah ….”


“Tapi, udah nggak papa. Tadi, udah aku bujuk kok. Walau sebenernya aku juga ini masih dag dig dug der … takut aku tuh, takut Nama nggak dateng ke sini, malah kab—“


“Semuanya, sebentar lagi kita akan kedatangan calon mempelai wanita. Diharapkan semua duduk di kursi yang telah di sediakan oleh panitia acara dan kedua mempelai.” Suara MC langsung memotong perkataan Rozak.


Rozak dan Riki langsung kembali ke kursinya masing-masing. Sebelum kembali ke kursinya, Riki menepuk bahu Rozak dan berbisik, “Aa yakin, Nama nggak akan mungkin kabur.”


“Iya,” jawab Rozak sambil duduk di kursinya yang langsung berhadapan dengan wali hakim dan Karto, penghulu yang pernah menikahkan Riki, Adipati dan Juan.


••••


Nama berjalan dengan kaki yang gemetaran saat diminta oleh MC untuk berjalan ke tempat akan dilakukannya prosesi ijab kabul.


“Ibu, pulang aja yuk,” bisik Nama pada Islah yang detik ini sedang memapahnya agar berjalan ke arah Rozak.

__ADS_1


“Jangan ngaco kamu Nama, ya kali pulang. Kamu sayang dan cinta nggak sama Rozak?” tanya Islah sambil terus tersenyum pada orang-orang yang ada disana.


“Sayang Bu, tapi ….”


“Percaya dan yakin aja, Rozak pasti bisa bimbing kamu. Nggak usah liat pernikahan Ibu yang hancur lebur tak karu-karuan. Jangan dijadiin contoh.” Islah berkata sambil terus memapah Nama.


“Tapi kalau Rozak kaya Ayah gimana?”


“Nggak gimana-gimana, itu ‘kan masa depan. Dan kamu udah liat Ibu ‘kan. Jadikan itu antisipasi kamu, ancang-ancang biar kamu nggak lakuin kesalahan kaya Ibu.” Islah berkata sambil membimbing Nama agar duduk di sebelah Rozak yang sudah tersenyum pada Nama.


“Bu ….” Nama berusaha menggapai tangan Ibunya. Tapi, Ibunya menolak menggenggam tangannya.


Tapi, ada tangan yang menarik tangannya dengan hangat. Tangan yang besar dan kasar, tangan yang mengelusnya, memeluknya juga sangat menghargai dirinya. Tanga itu adalah tangan kiri Rozak.


“Kang ….”


“Tenang ada aku,” bisik Rozak pelan sambil tersenyum pada Nama. Sebuah senyuman kecil yang mampu membuat Nama tenang.


“Baiklah kita mulai saja,” ucap Karto.


Rozak langsung menyalami tangan wali hakim yang ada di hadapannya menggunakan tangan kanan sedangkan tangan kirinya menggenggam erat tangan Nama yang bergetar hebat.


“Baiklah kita mulai prosesi ijab kabulnya.” Karto berkata sambil memegang mic dan mengarahkannya pada Rozak.


Wali hakim langsunh berkata, “Ananda Rozak Trina bin Suhaedi Trina Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Purnama Iswanti binti Ahyar Suhendar dengan maskawinnya berupa uang tunai sebesar tiga ratus ribu rupiah dan satu buah mobil Avanza seri terbaru, dibayar tuunai.”


“Sah?” tanya Karto.


Semua orang di sana langsung berkata sah, seketika itu juga terdengar ucapan-ucapan syukur dari para tamu undangan. Tepuk tangan langsung terdengar di telinga Nama dan Rozak.


Rozak langsung menatap Nama sambil tersenyum, “Hai Istri.


Nama terkesiap mendengar panggilan yang disematkan Rozak padanya. Entah kenapa tiba-tiba beban yang ada di pundaknya seakan terangkat saat mendengar perkataan Rozak.


“Hai … suami.”


•••••


Pesta pun berjalan sangat-sangat meriah, walau pada awalnya Rozak dan Nama ingin melakukan pesta sederhana di Restoran milik Riki. Tapi, Iis dan Taca bersikeras untuk menghadiahkan dekor dan makanan bagi pernikahan mereka berdua. Yang, akhirnya membuat pesta pernikahan itu berubah menjadi mewah dan elegant.


Rozak awalnya menolak itu semua tapi, dengan pintarnya Iis dan Taca mengatakan kalau itu semua sudah di bayar lunas. Nggak bisa dikembalikan sama sekali.


Sedangkan Cicil dan Riki memberikan tiket bulan madu ke Bali untuk Rozak dan Nama. Walau mereka berdua menolaknya, Cicil mengikuti perkataan Taca dan Iis kalau tiket dan akomodasi tidak bisa dikembalikan. Akhirnya Rozak dan Nama pun menerima hadiah-hadiah tersebut.


Semua tampak bergembira, jangan ditanya betapa gembiranya Abah yang akhirnya semua anak-anaknya nikah. Saking gembiranya Abah merayakannya sampai encoknya kambuh dan akhirnya harus pulang lebih dulu di antar Taca dan Adipati.


••••

__ADS_1


“Capek Kang,” ucap Nama sambil melemparkan dirinya ke kasur hotel. Rozak dan Nama menyewa sebuah hotel untuk malam pernikahan mereka berdua.


Sebuah hotel yang dekat dengan restoran Water Teapot milik Riki.


“Capek?” tanya Rozak sambil membuka jas dan menarik dasinya.


“Iya … aku nggak mau nikah dua kali,” ucap Nama sambil tersenyum pada Rozak.


“Sekali aja nikah mah, tapi, kawinnya berkali-kali ….”


Bug ….


“Aw ….” ucap Rozak, “Sakit Nyun.”


“Mesum dasar,” ucap Nama sambil mengerucutkan bibirnya.


Rozak terkekeh geli mendengar perkataan Nama, dengan cepat Rozak mendekati Nama yang menatap Rozak.


Tubuh Nama langsung saja diperangkap oleh Rozak. “Mau apa?”


Rozak tertawa saat mendengar pertanyaan Nama, geli rasanya mendengar pertanyaan Nama. Mau apa? Ayolah Kakek-Kakek lulus SD juga tau Rozak mau apa saat ini.


“Nuntut hak aku,” ucap Rozak sambil menatap Nama.


“Hak A-P-A?” tanya Nama sambil mengeja kata apa dan membuka kaitan kebayanya satu persatu.


Rozak menelan salivanya saat melihat gundukan dada milik Nama yang tampak menggembul dan seakan menantanh dirinya untuk dijamah.


Seperti mengerti Nama membusungkan dadanya kearah wajah Rozak. Tanpa dikomando Rozak mengusapkan bibirnya di atas dua gundukkan dada Nama.


“Hak apa, Kang Rozak?” bisik Nama di telinga Rozak yang berada tepat di bawah bibirnya, yang mau tidak mau memberikan sensasi meremang kedalam diri Rozak.


“Hak aku Nyun, hak aku atas kamu.”


•••••


Mari kita akhiri prosesi belah duren Rozak dan Nama dengan kata-kata.


DAN MEREKA PUN MELAKUKANNYA 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


Atau


Mereka melakukan apa yang harusnya mereka lakukan 🤣🤣🤣


Yakin gallon langsung diuber ini mah 🤣.


Jangan lupa kopi dan bunga juga votenya untuk dan merekapun melakukannya wkwkkw

__ADS_1


Xoxo Gallon yang hobi kelon


__ADS_2