
“Neng,” panggil Riki saat melihat Cicil yang masuk bersama Rozak.
“Aa,” rengek Cicil yang berlari sambil memeluk Riki.
Pak Sinclair yang baru melihat seorang Cicil Bouw merengek dan memeluk pria sebegitunya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. Seingatnya dulu saat bersama mantan-mantan pacar atau mantan tunangannya, Cicil adalah sosok yang dingin dan menjaga wibawanya. Sedangkan, saat ini Sinclair melihat Cicil yang berlari ke arah suaminya dan merengek.
“Udah, nggak papa. Aa nggak papa, kamu jangan nangis yah. Udah, hari ini kamu bobo sama Geulis dulu, yah.” Riki mencoba menenangkan Cicil, Riki yang tau mental istrinya itu langsung mengusap-usap punggung Cicil.
“Tapi, gimana kalau Aa di penjara terus. Aku harus gimana? Aku harus sama siapa?” isak Cicil sambil membenamkan wajahnya ke dada Riki.
“Udah sayangnya Aa, udah nggak papa. Aa juga ada di sini kok. Udah yah, kamu dijaga Rozak dulu ama Edy,” bujuk Riki sambil mengangkat wajah Cicil yang sudah basah karena air mata.
“Tapi, gimana kalau Aa nggak pulang lama?” isak Cicil.
Riki tersenyum dan mengusap air mata Cicil dengan kedua jempolnya. Kesehatan mental Cicil benar-benar membuat Riki ketakutan, berkali-kali Taca mengingatkan kesehatan mental Cicil.
“Pulang sayang, Aa pulang. Aa kalau nggak pulang mau kemana? Aa sayang sama kamu, pasti Aa pulang.” Riki berusaha menenangkan Cicil yang tampak histeris.
“Tapi ... tapi ... kalau aku lahiran nggak ada Aa aku nggak mau. Aku nggak mau,” isak Cicil lagi sambil membenamkan kembali wajahnya ke dada Riki.
Riki hanya bisa mengecupi rambut Cicil pelan, matanya menatap Rozak dan membisikkan satu kalimat pada Rozak. “Jaga Cicil.”
Rozak hanya bisa menganggukan kepalanya, apa lagi yang bisa dia lakukan. Semua ini bersumber dari dirinya, mungkin hanya ini satu-satunya yang bisa dia berikan pada Kakaknya.
“Aa ... Cicil ikut tidur di sini aja,” ucap Cicil.
“Aduh, sayang ngaco kamu. Udah pulang yah, peluk Geulis aja, anggap Geulis Aa yah. Udah pulang, istirahat. Besok kamu juga harus ngantor ‘kan?” tanya Riki pada Cicil yang terus menerus menangis.
“Iya, tapi gimana kalau kamu nggak keluar?” tanya Cicil, semua pemikiran buruk langsung berkelebat di kepala Cicil.
“Nggak, Pak Sinclair bilang Aa bisa keluar. Udah tenang, Aa nggak bunuh orang dan kasus obat terlaranh juga. Tenang, udah tenang.” Riki lagi-lagi mencoba menenangkan Cicil yang sudah bergetar di pelukkannya.
Astaga kepalanya bisa meledak kalau begini, Cicil memang terlihat kuat. Tapi, trigger (pemicu) kesehatan mentalnya adalah Riki. Bukan ingin merasa jumawa atau sombong, tapi itu adalah kenyataannya. Cicil bisa histeris seperti orang gila bila Riki menghilang dipagi hari hanya karena Riki ada di kamar mandi.
“Aa Neng gimana?” isak Cicil lagi.
“Udah nggak gimana, gimana. Nanti, aku coba minta Pak Sinclair buat ijinin aku pake handphone yah. Nanti malem aku telepon kamu sampai kamu tidur yah.” Riki berjuang untuk membujuk Cicil.
“Iya, nanti bisa saya usahakan. Karena, melihat kondisi Bu Cicil yang sedang hamil.”
“Bukan diusahakan Pak Sinclair tapi dilakuin,” ucap Cicil dengan intonasi suara yang sedikit tinggi.
Pak Sinclair hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Astaga, Bu Cicil ini benar-benar yah. Ke suaminya aja kalem kaya kucing, pada saat berbicara dengan dirinya berubah seperti macan. Seram.
“Iya, Bu,” jawab Pak Sinclair.
“Udah, pulang yah sama Rozak. Aa juga nggak papa, kamu istirahat yang bener. Kasian Dede di perut kamu, sini aku elus yah.”
__ADS_1
Riki langsung berlutut di lututnya, dikecupnya perut Cicil. “De, jangan nakal sama Mamah yah, Baba pergi dulu bentar yah. Udah jangan gerak-gerak nggak jelas, titip Mamah yah. Jangan nakal anak Baba.”
Dug ...
Seperti mengerti anak dalam kandungan Cicil memukul pelan perut Cicil. “Babanya, Babanya jangan lama-lama yah,” pinta Cicil sambil mengusap kepala Riki pelan.
“Iya, nggak lama-lama.” Riki tersenyum dan bangkit dari duduknya.
Cicil tersenyum sambil menatap manik mata suaminya. “Janji yah, nggak lama-lama.”
“Janji.”
••••
“Kang, maaf yah gara-gara Nama, Riki masuk ke penjara,” ucap Nama sambil meremas-remas kemejanya.
“Iya nggak papa, bukan kamu yang salah. Yang salah bapak kamu,” ucap Rozak sambil mengelus-ngelus rambut Nama pelan.
“Iya, tapi kasian Cicil. Kesehatan mental dia bisa keganggu kalau nggak ada kakak kamu. Cicil itu bisa nggak gila yah gara-gara ada Riki. Sekarang, Rikinya nggak ada gimana?” tanya Nama bingung.
Nama yang selalu mengobservasi dan memperhatikan keadaan Cicil mulai mengerti mengapa moodnya bisa berubah-ubah dengan cepat. Kejadian dimasa lalu memperngaruhi semuanya. Bersyukur ada Riki yang mau dengan sabar merengkuhnya. Kalau tidak ada, mungkin Cicil bisa gila.
“Akang yakin semuanya baik-baik aja, sekarang kita mau kemana?” tanya Rozak pada Nama.
“Kita ke tempat Ayah, aku mau nanya maksud dan tujuan dia tuh apa?” terang Nama.
“Iya, tapi aku coba buat nanya dulu. Mungkin Ayah bisa robah pikirannya, otaknya tiba-tiba bener ‘kan kita nggak tau.” Nama mencoba untuk berpikiran baik, moga Ayahnya sadar walau setitik.
“Kita liat aja,” ucap Rozak yang sudah berpikiran negatif sambil membelokkan mobilnya ke pekarangan rumah Ahyar Suhendar yang terhormat.
“Yuk,” ajak Nama sambil mencoba membuka pintu mobil.
Klik...
“Kok dikunci Kang?” tanya Nama bingung.
Rozak hanya bisa menatap Nama, kepala Rozak saat ini bertumpu pada stir mobil. Namun, matanya menatap Nama.
“Kang,” panggil Nama sambil melepaskan peganggannya pada handle pintu mobil.
“Nyun, Akang takut.”
“Takut kenapa?” tanya Nama sambil mengusap rambut Rozak yang tebal, menyusupkan rambutnya kesetiap inci celah jari jemari Nama.
“Takut aja.”
“Takut itu ada alasannya, Kang.” Nama mencoba mengingatkan Rozak.
__ADS_1
“Takut, takut kamu ninggalin Akang. Takut kamu nyerah sama hubungan ini,” bisik Rozak.
“Hei, kok punya pikiran gitu sih. Nggak boleh dong,” ucap Nama sambil mengusap-usap rambut Rozak pelan.
“Nyun, Akang kalau kamu mundur. Akang bingung, Nyun.”
“Bingung kenapa?”
“Akang sukanya sama kamu. Masa nggak nikah sama kamu, masa Akang nikahnya sama tetangga?” ucap Rozak.
“Hahaha, ya jangan lah. Sukanya sama aku yah nikahnya sama aku, aku suka dan sayangnya sama akang yah nikahnya sama akang.” Nama berkata sambil memberikan senyum terbaiknya.
“Tapi, kalau kaya gini Akang takut kamu nyerah dan ninggalin Akang.” Rozak berkata sambil memejamkan matanya menikmati elusan tangan Nama di kepalanya. Nyaman.
“Ninggalin Akang? Nggak lah, Kang. Masalah kita ini bukan dari aku sama kamu. Tapi, dari orang lain.”
“Tapi.”
“Kang, denger yah. Denger prinsip aku dalam menjalani hubungan,” pinta Nama sambil mengusap rambut Rozak.
“Apa?”
“Selama kamu nggak selingkuh, mukul, dan bohong sama aku. Aku bakal sama kamu terus, sampai kapanpun, Rozak Trina,” ucap Nama sambil mengecup hidung Rozak pelan.
“Janji?” tanya Rozak.
“Janji, Kang. Manja banget sih, calon iman aku ini,” olok Nama.
“Makasih yah.”
“Sama-sama, jadi sekarang kita hadapi Bapak Ahyar Suhendar.”
“Iya.”
•••••
Manjanya Kang Rozak ini jadi pingin aku karungin hahaha ....
Oh, sama cuman mau kasih tau. Seseorang memiliki kesehatan mental yang terganggu nggak perlu orang tersebut diam di rumah sakit jiwa. Orang itu masih bisa kok berkomunikasi dengan orang-orang, bekerja dll. Mereka itu harus ada pemicunya dulu barus bisa histeris atau marah.
Nah pemicu bagi Cicil itu kalau Riki suaminya hilang atau pergi. Itu pemicu terbesarnya, makanya Cicil masih bisa kerja dengan baik, bersosialisasi atau bahkan bermasyarakat dengan orang-orang, selama suaminya menyayangi dirinya dan ada di sampingnya.
Terima kasih untuk banyak komennya aku suka bacanya. Suka deh ❤️
Terima kasih juga untuk like, vote dan pointnya, jangan dipaksa tapi seikhlasnya.
__ADS_1
XOXO GALLON