Mr. And Mrs. Trina

Mr. And Mrs. Trina
Berhasil


__ADS_3

“Kamu kenapa tiba-tiba setuju Laura nikah ama Edy. Kamu denger kan latar belakang dia?” tanga Wina pada Sabar.


Sabar dan Wina saat ini baru saja sampai ke rumah mereka. Laura bersikeras untuk menjaga Edy dan menolak pulang. Akhirny, Sabar dan Wina pun merelakannya.


“Iya, denger. Kamu keberatan?” tanya Sabar.


Wina tersenyum, “Nggak, aku nggak keberatan. Ngapain keberatan, kamu aja dulu mantan preman pasar aku mau kok.”


“Eh, jangan keras-keras. Wibawa ini,” ucap Sabar sambil menepuk dadanya.


“Hahaha, takut ketauan anak perempuan kamu. Terus, diejek?” tanya Wina yang langsung dijawab anggukkan oleh Sabar.


“Iya anak kamu itu kalau udah ngejek aduh ampun. Mirip, Mamihnya waktu muda. Waktu zaman PDKT,” ujar Sabar.


Wina langsung membantu Sabar untuk membuat minuman berprotein. “Alah, gitu-gitu juga kamu suka ‘kan?”


“Iya, suka makanya di nikahin,” jawab Sabar jujur. Kalau nggak cinta buat apa menikahi Wina, mending nikahin yang lain.


“Papih, jawab pertanyaan Mamih. Kenapa, Papih mau Laura nikah sama Edy. Padahal, kamu orang paling pertama yang melarang Edy dan Laura bersama?”


Sabar meminum minuman proteinnya sampai tandas, “Karena, dia sopan Mih.”


“Sopan?” tanya Mamih bingung.


“Iya, Edy itu sopan. Sepanjang dia ngomong sama saya tadi, matanya tertunduh ke bawah. Nggak ada nada tinggi sama sekali. Selama, pertandingan sebenarnya dia bisa aja nyerang kepala Papih. Tapi, dia malah nonjok perut Papih tanpa tenaga pula.” ucap Sabar sambil mengambil buah potong di meja makan.


“Tau dari mana tanpa tenaga? Emang dia nggak ada tenaganya juga.” Wina penasaran dengan pikiran suaminya itu.


Sabar tersenyum, istrinya memang tidak mengerti dengan apa itu masa tubuh dan otot. “Mih, Mamih liat badan Edy?”


“Liat, tadi doang itu juga ketutupan baju silat anehnya itu.” Wina berkata jujur, Wina memang melihat tubuh Edy. Tapi, tidak jelas karena Edy mengenakan baju berwarna hitam dan ada rumbai-rumbainya.


“Badan Edy itu udah jadi, walaupun tidak sebesar Papih. Badan Edy itu jadi, Papih yakin dia mampu memukul Papih sampai KO. Tapi, Edy memilih memukul perut Papih. Itu pun dibagian ini,” ucap Sabar sambil menunjuk perutnya.


“Kenapa bagian itu?” tanya Wina yang tidak mengerti sama sekali.


“Ini bagian yang jauh dari ulu hati, kalau dia pukul Papih dibagian ulu hati. Mungkin, Papih yang ada di Rumah sakit sekarang,” terang Sabar sambil tersenyum pada istrinya.


“Jadi, sebarnya dia itu mampu ngalahin Papih?”


“Lebih dari mampu, badan dia udah jadi. Tinggal dikit lagi, badan dia bisa kaya Papih kayanya. Tapi, pasti Laura nangis-nangis. Anak kamu itu nggak suka yang badannya kaya Papih.”


“Hahaha, iya dia nggak suka sama yang badannya berotot kaya Papih. Kenapa yah? Padahalkan macho,” ucap Wina sambil mengedipkan matanya pada Sabar.


“Masa cuman gara-gara itu doang, Papih mau nitipin Laura sama Edy?” tanya Wina.


“Selain itu, dia itu jujur, jujur kalau dia mau bertanggung jawab atas Laura. Papih juga udah cek hidup dia, dia anak baik. Nggak pernah aneh-aneh atau terlibat apapun. Pulang dari Abu Dhabi pun, dia ingin mengurus kakeknya. Tapi, Kakeknya meminta Edy untuk bekerja sesuai dengan kecintaannya memasak. Makanya, Edy kerja di tempat suami Cicil.” teran Sabar lagi.


“Moga aja, Edy bisa bimbing Laura. Tau sendiri anak kamu itu manjanya keterlaluan.” Wina berkata sambil duduk di sebelah Sabar.


“Iya, manjanya mirip kamu,” ucap Sabar sambil memajukan bibirnya meminta dikecup istrinya.


Wina langsung tersenyum malu-malu sebelum mengecup bibir suaminya dan berakhir dengan sesuatu yang menyenangkan bagi mereka berdua.


••••

__ADS_1


Di tempat yang lain ada Edy yang sedang meratapi hidungnya yang patah. Walaupun sudah di obati oleh dokter, Edy masih merasa sakit di hidungnya. Saat sedang memperhatikan hidungnya tiba-tiba pintu dibuka masuklah oranv yang paling berjasa didalam hidup seorang Edy Edrosh. Tak lain dan tak bukan Ki Brondong.


“Gimana Edy?” tanya Ki Brondong.


Edy tersenyum dan berbalik menghadap Ki Brondong, “Berhasi Ki, saya ikutin semua perkataan Ki Brondong.”


“Bagus, saya minta kamu menghormati, berkata jujur dan tidak terlalu bernafsu di ring.” Ki Brondong berkata sambil mengacungkan jempolnya.


“Iya, saya mengikuti semua perkataan Ki Brondong. Tadi, Om Sabar ijinin saya nikah sama Laura, katanya enam bulan lagi,” ucap Edy sambil membalas acungan jempol Ki Brondong dengan kedua jempolnya.


“Saya sudah memperhitungkan semuanya, menurut terawangan saya. Sabar itu lelaki baik dan sangat menyayangi anaknya. Cuman, kamu harus berkorban muka kamu makin ancur, Edy.” Ki Brondong berkata sambil menggerakkan tangan kanannya di depan wajahnya sendiri ke atas dan ke bawah.


“Iya, nggak papalah. Muka mah nanti aku operasi ke Korea. Biar ganteng kaya Lee ming ho.” Edy berkata sambil merapihkan rambutnya.


“Cakep, muka kamu itu sebenernya udah nggak bisa ditolong. Udah terima aja, keberuntungan kamu itu dari wajah kamu yang kaya parutan kelapa,” ucap Ki Brondong sambil memperhatikan wajah Edy yang makin hancur karena dipatah tulang hidung.


“Haduh, nggak usah jujur gitu atuh, Ki.”


“Kenyataan hidup memang menyakitkan, Edy. Kamu harus kuat, hidup ini berat. Seberat cicilan motor yang nunggak tujuh bulan sampai dikejar-kejar debt collector,” ucap Ki Brondong.


“Ki, nggak usah curhat,” kekeh Edy.


“Pedih, Ed. Motor supra ditarik lising itu,” ucap Ki Brondong. “mana cicilannya udah dibayar dua tahun.”


“Eh, udah ini kenapa jadi curhat soal motor?”tanya Edy bingung. “Udah nanti aku beliin motor yah.”


“Bener, Ed?” tanya Ki Brondong bersemangat.


“Bener, Ki. Motor yang warna pink yang ada di Kosambi oke. Yang pake aki,” ucap Edy.


“Aduh, Ki sakit,” ucap Edy.


Klik...


Terdengar suara pintu terbuka dan masuklah Riki kedalam ruangan. Matanya langsung bertatapan dengan Ki Brondong.


“Eh, ngapain dukun gila ini ada di sini?” tanya Riki kesal.


“Lah, kan dia ini dukun kesayangan aku, Mang. Jadi, wajar atuh ada di sini.” Edy berkata sambil tersenyum bangga ke arah Riki.


Masih ingat di otaknya saat dukun sinting ini berteriak-teriak tentang siapa ayah biologis dari anak yang dikandung oleh Cicil. Ngomong orang sunda aja ribetnya bukan main, sampai bawa-bawa USA segala. Cicil sampai stress waktu itu.


“Dukun sinting,” bisik Riki kesal.


“Gimana? Anaknya anak kamu kan?” tanya Ki Brondong sambil mengangkat kedua alisnya.


“Iya, anak saya. Bener,” ucap Riki jujur.


“Nah, emang Ki Brondong nggak ada matinya,” ucap Edy sambil mengacungkan kedua jempolnya.


“Hilih, mana Cicil liat Cicil nggak?” tanya Riki pada Edy.


“Tadi, dia sama Laura keluar. Katanya, mau beli keju. Astaga, Cicil sehari makan keju seberapa sih?” tanya Edy penasaran.


“Tau, ampe lima potong gede,” ucap Riki sambil menggelengkan kepalanya mengingat betapa seringnya Cicil mengunyah keju selama hamil.

__ADS_1


“Sabar yah, Pak hamil.”


“Hmm... kalau saya liat dari seringnya makan keju dan lain sebagainya. Saya yakin, kalau anak kamu itu laki-laki,” ucap Ki Brondong.


“Terserahlah, mau laki mau perempuan. Asal, Cicil sehat dan bayinya selamat. Aku nggak terlalu mempermasalahkan.” Riki berkata sambil tersenyum. Bersyukur Ki Brondong tidak aneh-aneh saat melakukan penerawangan.


“Udah aku mau nyari Cicil dulu, nanti dia ngerengek lagi. Suaminya ilang, manjanya bukan main astaga.” Riki berkata sambil pergi meninggalkan Edy dan Ki Brondong.


Riki berjalan diantara lorong, langkahnya terhenti saat mendengar perkataan seseorang di ujung jalan.


“Emang Riki mau?”


Riki langsung bersembunyi dibelakang tembok dan mengintip. Riki langsung menatap Cicil, Nama dan Laura yang sedang berbincang.


“Nggak tau, nanti aku minta,” ucap Cicil.


“Kalau dia nggak mau gimana?” tanya Nama.


“Aku nangis aja kalau Aa nggak mau. Dia paling nggak tahan kalau aku nangis,” ucap Cicil.


“Idih, cengeng.” Laura berkata sambil tersenyum.


“Abis, aku ingin banget. Nggak tau aku tiba-tiba ingin banget,” ucap Cicil sambil mengerucupkan bibirnya.


“Ngidam lo kagak ada yang normal, emang. Nggak bisa apa ngidam yang normal?” tanya Laura pada Cicil.


“Yah, nggak tau. Jangan salahin akulah, ini bayinya yang mau.”


“Hahaha... astaga aku nggak kebayang Riki ngelakuin ini. Astaga ngos-ngosan, bercampur peluh dan keringat. Rodi, dia,” kekeh Laura.


“Abis gimana bayinya yang mau,” ucap Cicil.


“Aneh bayi kamu Cil, demen banget bikin Bapaknya berkeringat dan ngos-ngosan,” ujar Nama sambil menahan tawanya.


“Biarin,” ucap Cicil, “pokoknya kalau nggak mau aku mau nangis aja,” ucap Cicil lagi.


“Aduh, suer yakin. Capek loh, kuat emang?” tanya Laura lagi.


“Kuat, aku yakin lutut Aa kuat.”


Riki langsung menelan salivanya mendengar percakapan ketiga wanita itu. Apa lagi ngidam istrinya itu. Tanpa sadar Riki mengusap lututnya sambil berbisik.


“Sabar yah, lutut. Jangan oesteoporosis dulu, nak.”


•••


Hahahhaa....


Apa coba ngidamnya? Ada yang bisa nebak?


Penasaran tunggu besok 😘


Jangan lupa like dan komennya kaka 😘


Xoxo Gallon.

__ADS_1


__ADS_2