
Alvino yang melihat asistennya dan adik iparnya pergi tersenyum misterius. Freya yang menyadari senyuman suaminya itu hanya mengeleng-gelengkan kepalanya karena dia sudah bisa membaca apa yang ada dalam kepala suami tampannya itu.
"Jangan aneh-aneh yaa by." ujar Freya mendelik ke arah suaminya.
Alvino yang tengah tersenyum karena sedang memuji dirinya yang tiba-tiba memikirkan sesuatu yang brilian hanya tersenyum menatap sang istri, "Aku gak aneh-aneh sayang. Emang apa yang aku lakukan? Suamimu ini tidak pernah memikirkan sesuatu yang aneh-aneh." ujar Alvino.
Freya hanya tersenyum sinis menanggapi perkataan suaminya, "Kau mungkin bisa mengelabui adikku suamiku tapi tidak aku. Aku sangat tahu apa yang ada dalam otak licikmu itu. Aku tahu apa yang kau rencanakan. Aku ini bukan hanya sehari hidup bersamamu jadi aku sudah sangat hafal apa yang tengah kau rencanakan." Ucap Freya.
Alvino yang mendengar ucapan istrinya itu hanya terkekeh karena memang benar dia tidak bisa mengelabui istri cantiknya yang terlampau pintar itu, "Heheheh,, ternyata memang gak ada satupun rencanaku yang luput dari penglihatanmu istriku. Jadi bagaimana menurutmu terkait rencanaku itu? Brilian bukan?" tanya Alvino percaya diri.
"Brilian sih brilian tapi jangan gunakan adikku juga dong by. Jika memang kau ingin mencarikan jodoh untuk asistenmu maka carilah yang lain mungkin putri relasi bisnismu atau siapa tapi jangan adikku. Aku tidak ingin kedua adikku mengalami cinta terpaksa. Lagi pula belum tentu juga asistenmu itu menyukai adikku. Adikku juga masih kecil belum lulus kuliah, aku yakin dia masih memiliki cita-cita yang ingin dia raih." balas Freya.
Alvino pun hanya terdiam mendengar perkataan istrinya karena memang benar apa yang di katakan istrinya itu, "Kau benar sayang tapi aku hanya ingin membuat mereka dekat saja, keputusan terakhir tetap di tangan mereka. Aku tidak akan memaksa siapapun karena aku tahu pernikahan itu butuh pertanggungjawaban yang besar. Tapi untuk cinta sepertinya akan tumbuh jika terbiasa seperti yang terjadi pada kita. Aku yakin jika mereka sering bersama maka cinta akan timbul secara perlahan-lahan. Kenapa aku ingin Fazar dekat dengan Frisya karena aku tahu asistenku itu butuh sosok seperti adikmu yang bisa menghidupkan suasana. Aku yakin Fazar akan selalu bahagia jika hidup bersama adikmu. Perlu kau tahu juga bukan aku tidak mau menjodohkan Fazar dengan putri relasi bisnisku karena aku yakin bukan Fazar yang akan diterima mereka tapi justru aku. Putri para relasiku itu angkuh dan sombong yang hanya memandang materi jadi aku yakin seratus persen Fazar akan ditolak karena dia hanya seorang asisten walaupun aku menggaji Fazar sangat besar." Ujar Alvino panjang lebar.
Freya mengerti apa yang suaminya katakan, "Aku mengerti maksudmu suamiku. Tapi aku penasaran kenapa kau ingin menjodohkan asistenmu itu? Emang kau ingin mencari asisten lagi jika dia menikah dan punya usaha sendiri? Kau sudah beberapa kali mengganti asisten karena mereka meninggalkanmu." Ucap Freya.
"Gak apa-apa jika aku harus mencari asisten baru lagi yang terpenting aku bisa membantu mereka mencari pasangan. Entah kenapa aku bahagia jika melihat hal itu. Selain itu aku ingin membalas budi walau Adelio dan Devano yang membantuku dalam mendapatkanmu. " jawab Alvino tersenyum.
__ADS_1
Freya yang melihat itu ikut tersenyum lalu dia segera berdiri mendekati sang suami lalu cup. Satu kecupan mendarat di bibir Alvino, "Aku tahu niatmu suamiku. Tapi apakah kau akan beralih profesi dari penguasa menjadi tukang comblang." ucap Freya tertawa.
Alvino pun ikut tertawa lalu menarik Freya ke pangkuannya, "Bukan kita sama istriku? Kau juga tukang comblang untuk hubungan Devano dan Salwa. Kita itu pasangan tukang comblang." ujar Alvino lalu mengecup bibir sang istri.
Lalu setelah itu keduanya tertawa bersama karena memang benar yang di katakan suaminya bahwa mereka adalah pasangan tukang comblang.
***
Kita tinggalkan pasangan mesra suami istri yang sudah punya buntut lima itu beralih pada pasangan yang ingin di comblangkan.
"Maaf yaa kak membuatmu repot menemaniku." ucap Frisya merasa bersalah.
Fazar yang mendengar hal itu tersenyum, "Gak apa-apa kok. Saya tidak merasa repot." Jawab Fazar.
"Benarkah? Kak Fazar gak bohong kan? Benar gak terpaksa kan? Padahal kau bisa menolak apa perintah kakak ipar kak. Aku tidak suka jika ada yang menemaniku karena keterpaksaan." ucap Frisya.
Fazar lagi-lagi hanya tersenyum, "Benar dek saya gak repot kok. Saya melakukan ini bukan karena tuan tapi karena saya ingin. Jadi jangan merasa bersalah karena saya tidak merasa di paksa melakukan ini." ucap Fazar lembut.
__ADS_1
Senyum di wajah Frisya pun muncul karena tadinya dia sudah merasa bersalah di tambah lagi Fazar memanggilnya dek. Entahlah menurutnya itu panggilan teromantis dan membuatnya sedikit baper walau dia tahu Fazar melakukan itu karena permintaannya tadi.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu kak? Pasti akan menumpuk karena kau yang pergi menemaniku." ucap Frisya mengatakan kegelisahannya.
"Sudah jangan pikirkan hal itu. Saya bisa mengatasinya kok. Lebih baik ayo kita turun dan segera melakukan apa yang di minta nyonya." ucap Fazar setelah memarkirkan mobil.
Frisya pun mengangguk tersenyum lalu segera turun tidak lupa dengan dokumen kerja sama yang dia bawa dan juga daftar bahan yang ingin dia ambil.
Sekitar satu jam mereka di sana akhirnya semuanya sudah selesai. Semuanya tidak ada yang terlupakan karena Frisya di bantu Fazar memeriksa kembali sebelum di muat menuju klinik.
Setelah memastikan semua beres Frisya dan Fazar segera pamit dari sana dan masuk ke mobil lalu berlalu pergi dari sana, "Ahh senangnya akhirnya tugas yang kakak berikan selesai juga. Terima kasih yaa kak sudah menemaniku dan membantuku memeriksa barang tadi. Ohiya jika nanti kau butuh bantuan saat mengerjakan dokumen-dokumen itu kau bisa menghubungiku jika aku punya waktu luang aku akan membantumu hitung-hitung balas budi karena sudah menemaniku hari ini." Ujar Frisya.
"Emang kamu mengerti tentang dokumen-dokumen perusahaan?" tanya Fazar.
Frisya yang mendengar hal itu mendelik sinis pada Fazar, "Kau meremehkanku yaa kak walau aku bukan jurusan manajemen bisnis tapi sedikit tidaknya aku tahu mengenai bisnis. Selain itu jika aku tidak tahu aku bisa belajar kan dan juga ada kakak yang akan membantu mengajariku. Aku janji otakku ini bisa menghafal pelajaran dengan cepat dan hanya dalam sekali belajar langsung tahu." ucap Frisya sedikit sombong.
Fazar hanya tersenyum mendengar penuturan Frisya itu, "Kakak gak percaya?" tanya Frisya kesal.
__ADS_1