Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
75


__ADS_3

Keesokkan harinya, Kini Kiana dan Zean sedang menuju rumah Freya dan Alvino. Mereka datang kesana sore hari setelah ashar karena mereka yakin jika datang pagi hari tidak akan bertemu dengan Freya dan Alvino karena mereka sibuk bekerja. Selain itu juga Zean tadi pagi masih memiliki urusan yang harus dia kerjakan sebelum pergi ke Negara S untuk mengadakan resepsi pernikahannya dengan sang istri. Zean dan Kiana belum membicarakan apakah nanti setelah resepsi pernikahan akan menetap di Negara S atau kembali lagi ke sini.


Tujuan mereka datang ke rumah Freya dan Alvino yaitu untuk membicarakan resepsi pernikahan mereka yang akan di adakan di Negara Zean. Begitu mereka tiba di rumah Freya dan Alvino ternyata bersamaan dengan kedatangan Freya dan Alvino juga yang baru saja turun dari mobil mereka masing-masing. Freya segera menyalami suaminya lalu tersenyum menatap Kiana yang baru saja turun dengan Zean saling bergandengan tangan. Freya bisa menyimpulkan bahwa hubungan Kiana dan suaminya itu sepertinya sudah naik satu tahap atau mungkin keduanya sudah saling memiliki satu sama lain.


“Dek!”


Kiana segera mendekati Freya lalu memeluknya, “Kak, aku merindukanmu. Maaf aku sudah gak ke klinik lagi. Aku masih--”


“Gak apa-apa dek. Kakak mengerti. Kamu bisa mengundurkan diri kapan saja dan juga masuk kapan saja ke klinik kakak. Kakak mengerti sekarang kau sudah memiliki suami yang harus kau prioritaskan. Kakak memakluni semuanya. Jika nanti kau mengundurkan diri dari klinik maka kakak menerimanya tapi perlu kau ingat kau akan selalu di terima di klinik kakak. Kau bagian dari klinik. Sudah ayo kita masuk saja. Kakak yakin kedatangan kalian pasti untuk membicarakan hal penting.” Ucap Freya lalu menggandeng Kiana masuk.


Zean dan Alvino pun segera masuk mengikuti istri mereka, “Kalian duduklah di sini. Kami mau membersihkan diri dulu nanti kita bicara.” Ucap Freya lalu segera naik menuju lantai dua yang juga segera di ikuti oleh Alvino dari belakang.


Friska yang juga memang masih ada di rumah kakaknya karena masih sakit walaupun sudah mendingan itu namun Freya tidak mengizinkan adiknya itu untuk bekerja. Friska yang keluar untuk mengambil air tersenyum melihat Kiana dan Zean ada di rumah kakaknya, “Kak Kia!” sapa Friska lalu mendekati Kiana dan Zean.


Kiana tersenyum menatap adiknya itu, “Hey, kau sakit? Kenapa pucat?” ucap Kiana langsung memeriksa nadi Friska.


“Kak aku masih hidup. Tenanglah sudah mendingan. Aku kemarin demam kak biasa kelelahan.” Ucap Friska lalu menyalami Kiana dan menangkupkan kedua tangannya kepada Zean.


“Makanya jangan terlalu fokus bekerja dek. Sayangi diri sendiri.” Ucap Kiana.

__ADS_1


Friska yang mendengar itu tersenyum, “Kak Kia macam gak seperti aku saja. Kita itu sama kak. Sama-sama suka bekerja.” Ucap Friska tertawa.


Kiana pun ikut tertawa karena memang benar apa yang di katakan adik sepupunya itu. Mereka itu sebelas dua belas dan sepertinya memang mereka semua seperti itu yaitu suka bekerja keras, “Kak Kia dan kakak ipar apa mau bertemu dengan kak Reya ya?” tanya Friska.


Kiana dan Zean mengangguk, “Emm apa mereka sudah pulang?” tanya Friska sambil melihat jam dinding.


“Mereka sudah tiba kok tapi masih membersihkan diri. Mereka sudah tahu kami di sini.” Ucap Kiana.


Friska pun hanya mengangguk tanda dia mengerti, “Baiklah jika begitu. Aku pikir kak Reya belum tiba dan tidak tahu kalian datang. Ya sudah Riska pamit ke dapur dulu ya, mau ambil air. Sudah lanjutkan saja keromantisan kalian kak Kia dan kakak ipar Zean. Maaf sudah menganggu.” Ucap Friska tersenyum lalu dia berbalik dan berlalu menuju dapur.


“Keluargamu saling menyayangi yaa. Aku tidak menyangka dalam hubungan sepupu saja kalian memiliki hubungan seerat ini.” ucap Zean.


Zean tersenyum mendengar perkataan sang istri lalu merangkul istrinya itu, “Aku tahu, aku bisa melihatnya di wajah nona Freya, dia itu sangat penyayang kepada semua adiknya. Aku sudah melihatnya. Dia hebat bisa membagi semuanya dengan baik padahal dia memiliki lima anak yang juga butuh perhatiannya.” Ucap Zean yang memang mengagumi cara mengasuh Freya terhadap anak-anaknya dan juga terhadap adik-adiknya.


***


Singkat cerita, kini Freya dan Alvino segera turun ke lantai bawah di mana Kiana dan Zean berada. Alvino turun dengan putri bungsunya dalam gendongannya, “Ayah, turunkan. Aku malu di lihat orang sudah besar masih di gendong.” Ucap Azwa.


Alvino pun tersenyum lalu segera menurunkan putrinya itu. Azwa segera berlari mendekati Kiana dan menyalaminya, “Mama! Papa!” ucap Azwa menyalami Kiana dan Zean.

__ADS_1


Zean gemas dengan putri kecil Alvino itu yang sangat cantik, “Kau sangat menggemaskan sayang.” ucap Zean.


“Tentu saja pah. Aku ini menggemaskan karena aku masih kecil.” Ucap Azwa.


“Tadi katanya sudah besar sehingga minta di turunkan. Kok sekarang sudah kecil lagi. Jadi mana yang benar? Sudah besar atau masih kecil?” goda Alvino tersenyum.


“Ayah tentu saja sudah besar ehh kecil. Ahh taulah pusing. Bunda ayah menggodaku.” Ucap Azwa menatap Freya.


“Bunda gak ikutan yaa. Itu urusan Azwa dengan ayah jadi jangan ngajak bunda.“ ucap Freya.


Azwa pun mendesis mendengar ucapan Freya lalu dia menatap Kiana meminta pembelaan, “Iya sayang. Azwa itu masih kecil tapi berjiwa besar.” Ucap Kiana lalu segara memangku keponakannya itu dalam pangkuannya.


Azwa yang mendengar itu pun tersenyum, “Ahh mama the best, bisa mengerti maksudku. Tuh denger Yah. Aku itu masih kecil tapi jiwaku besar.” Ucap Azwa kepada Alvino. Alvino pun hanya mengangguk-ngangguk.


“Emang Azwa tahu bagaimana itu jiwa besar?“ tanya Freya.


Azwa menatap Freya lalu dia segera menatap Kiana seperti meminta bantuan, “Jiwa yang besar itu seperti yang Azwa lakukan tadi sudah merasa malu di gendong oleh Ayah Alvino karena tidak ingin dilihat orang. Itu dia jiwa besar.” Jelas Kiana.


“Azwa mengerti mama. Tapi bunda sama ayah tuh yang gak ngerti.” Ucap Azwa.

__ADS_1


Freya dan Alvino pun tertawa mendengar ucapan putri mereka itu, “Ayah sama bunda mengerti nak hanya saja kami ingin tahu apa Azwa juga tahu.” Ucap Freya lembut.


__ADS_2