
Kini Frisya dan Fazar dalam perjalanan, mereka diam saja dari tadi karena tidak tahu topik apa yang harus di bicarakan.
“Dek, mau jalan-jalan sebentar gak?” tanya Fazar.
“Jalan-jalan?” tanya Frisya balik.
Fazar mengangguk, “Mau gak? Saya punya dua tiket nonton konser musik.” Ucap Fazar.
Frisya hanya diam lalu menatap Fazar seolah membaca apa ini sudah di rencanakan atau tidak kenapa bisa kebetulan begitu, “Kakak tidak merencanakan ini semua kan? Jangan katakan bahwa pulangnya kak Ris ada hubungannya dengan ini.” ucap Frisya menyelidik.
Fazar pun hanya bisa menelan ludahnya kasar karena ternyata semudah itu semua yang dia rencanakan terbaca. Memang sulit menipu orang cerdas yang memiliki tingkat pengamatan yang kuat, “Kau benar saya yang meminta izin kakakmu untuk menonton konser music. Maaf jika apa yang saya lakukan ini tanpa bicara dulu denganmu.” Ucap Fazar akhirnya jujur.
Frisya pun tertawa setelah itu, “Kau lucu kak seperti itu. Tenang kak jangan tegang aku tidak akan menyalahkanmu, lagian aku juga suka nonton konser musik. Tapi lain kali gak usah berbohong padaku segala. Jika kakak ingin mengajakku maka katakan saja langsung aku pasti akan menerimanya. Siapa sih yang menolak menonton konser music apalagi gratis.” Ucap Frisya.
Fazar yang mendengar itu dan mendapat respon yang jauh dari dugaannya hanya bisa tertawa, dia baru ingat bahwa gadis yang dia cintai diam-diam ini berbeda dengan gadis kebanyakan. Kenapa dia baru ingat itu sekarang, “Jadi mau?” tanya Fazar memastikan.
Frisya dengan cepat mengangguk, “Tentu saja. Let’s go!” ucap Frisya tersenyum senang.
__ADS_1
Fazar pun segera melajukan mobilnya menuju tempat konser, sekitar sepuluh menit kemudian akhirnya mereka tiba. Di sana sudah sangat ramai, Fazar langsung memarkirkan mobilnya lalu keduanya turun dan masuk ke dalam untuk menonton. Frisya sangat menikmati menonton konser music itu. Kapan lagi dia bisa menonton music gratis tambah di temani cowo tampan. Hehehh, otak Frisya mulai rada konslet tapi dia juga tetap remaja pada umumnya yang suka tempat seperti ini.
Selama itu belum bertentangan dengan moral dia akan melakukannya. Selain itu juga music bisa menjadi hiburan tersendiri baginya dari aktivitas weekday yang padat. Untuk itulah kenapa dia bergabung dengan band di restoran kakaknya karena dia yang memiliki jiwa ceria sangatlah membosankan jika hanya di rumah saja. Jika dia bekerja di restoran kakak selain mengusir kebosanannya dia juga bisa menghibur orang-orang lalu bisa mendapatkan gaji juga dari kakaknya. Hehehh!! Katakan saja dia matre tapi dia gak peduli toh semua butuh uang.
***
Di sisi lain, Friska juga tidak langsung pulang dia masih ke taman hiburan, dia juga sudah menelpon sang kakak bahwa akan jalan-jalan sebentar. Dia masuk ke taman hiburan itu lalu memandangi anak-anak yang bermain di temani orang tuanya, “Pantas saja kakak tidak suka anak-anaknya hanya di rumah saja karena mereka terlihat tidak normal. Anak-anak seusia mereka saja sibuk bermain mereka malah sibuk meneliti ini itu.” gumam Friska tersenyum mengingat keponakannya.
Friska berdiri dan dia melakukan antrian dengan anak-anak membeli gulali. Entah kenapa dia kesini tapi dia hanya ingin melihat kesenangan saja. Dia mulai makan gulali yang dia beli tanpa dia sadari ada dua pasang mata yang mengamatinya dari jauh dan tempat berbeda hingga salah satu dari mereka mendekat, “Hi! Bisa aku duduk di sini?” tanyanya.
Friska pun mengangkat kepalanya memandangi siapa yang bicara kepadanya, “Kau bukannya teman band-nya Risya?” tanya Friska mengingat siapa lelaki di hadapannya itu.
“Friska!” balas Friska ramah.
El pun tersenyum, “Apa aku bisa bergabung di sini? Menemanimu?” tanya El.
Friska pun mengangguk saja, “Tentu!” jawab Friska karena ini adalah tempat umum jadi tentu saja dia tidak memiliki hak untuk mengusiar siapapun.
__ADS_1
Friska berdiri setelah memakan setengah gulalinya menuju tempat komidi putar berada. Friska menatap komidi putar itu dengan antusias, “Apa kamu mau naik itu?” tanya El yang melihat tatapan antusias Friska.
Friska segera menggeleng, “Gak, aku hanya senang aja melihat anak-anak yang tertawa bahagia naik itu.” ucap Friska lalu segera mengeluarkan uang dari tasnya dan memberikan kepada tukang komidi putar lalu mengatakan dia membayar untuk anak-anak itu.
El yang melihat itu tersenyum dan semakin mengagumi sosok gadis di depannya itu. Gadis yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali mereka bertemu tidak sengaja di sebuah minimarket. El yakin hanya dia yang mengingatnya karena saat pertemuan kedua mereka di restoran Freya, Friska tidak mengenalinya tapi gak apa-apa semua itu butuh perjuangan.
Sementara di sudut lain ada seseorang yang menggenggam tangannya erat karena kesal melihat pemandangan apa yang dia lihat di depannya, “Sialan, siapa pria itu? Kenapa dia bisa dekat dengan Riska? Aku tidak akan membiarkan ini.” ucapnya lalu menelpon seseorang untuk mencari tahu siapa pria yang sudah berani bersaing dengannya.
Laki-laki itu tidak lain adalah Rezky yang memang setelah dari studio dia segera meminta anak buahnya mencari tahu di mana Friska berada dan akhirnya dia segera menuju taman ini tapi tidak tahunya dia melihat pemandangan yang membuatnya kesal. Rezky tetap mengamati sampai akhirnya Friska pulang. Dia mengikuti Friska dari belakang untuk memastikan Friska pulang dengan aman. Tidak tahunya ternyata bukan hanya dia yang mengikuti dari belakang tapi juga El, “Sialan, ternyata dia juga mengikuti Friska pulang. Wah sepertinya dia berani mengibarkan bendera perang denganku.” Gumam Rezky.
Kedua lelaki itu mengikuti Friska pulang untuk memastikan aman sampai tujuan. Setelah Friska masuk ke rumah kakaknya keduanya berbalik pergi.
Rezky segera melajukan mobilnya menuju rumahnya, dia melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata hingga hanya kurang 20 menit dia tiba di rumahnya. Dia segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam. Mami Jasmin yang keluar untuk mengambil air karena air di kamar mereka sudah habis pun kaget melihat putranya yang baru saja pulang dengan wajah kesalnya, “Ky, ada apa? Kenapa wajahmu kesal begitu?” tanya Mami Sinta menyelidik dan mendekati putranya. Dia meletakkan dulu air di meja makan.
Rezky melihat maminya lalu mendekati maminya itu menyalaminya lalu seketika dia memeluk maminya dengan meletakkan kepala di bahu sang mami. Mami Jasmin pun kaget dengan dan dia membiarkan putranya itu bermanja karena dia tahu jika putranya itu seperti itu berarti ada sesuatu. Dia hanya menepuk kepala sang putra lembut, “Ada apa?” tanya mami Jasmin lembut.
Rezky tetap diam saja dan masih memeluk maminya. Setelah merasa sedikit tenang dia mengangkat kepalanya dari sang mami, “Mih, aku mau mami jodohkan atau comblangkan tapi harus gadis itu.” ucap Rezky lalu segera pergi ke kamarnya meninggalkan maminya yang terbongong.
__ADS_1
“Apa dia baru saja mengatakan setuju aku comblangkan dengan Friska? Ahh senangnya aku! Yes, sebentar lagi aku akan memiliki menantu.” Ucap Mami Sinta tersenyum senang lalu dia segera kembali ke kamar dengan air di tangannya.