
Mami Jasmin dan Papi Harry kembali terkejut dengan ucapan putra mereka itu, “Kok bisa?”
Rezky pun segera menceritakan semuanya yang terjadi pada dan Friska mulai dari Friska yang dulu muridnya hingga jadi mahasiswanya lalu kesalapahaman itu terjadi sampai kejadian hari ini tanpa ada yang di tutupi sama sekali.
Mami Jasmin setelah mendengar penjelasan putranya itu hanya bisa melongo karena tidak menyangka bahwa Friska dan putranya sudah saling mengenal selama itu, “Kenapa kau baru menceritakan ini nak? Ahh itu tidak penting yang sekarang kita lakukan bagaimana meyakinkannya dan meluruskan kesalahpahaman ini. Mami ingin dia jadi menantu mami dan tidak akan rela jika kehilangan dia.” Ucap mami Jasmin.
“Tunggu sebelum kita mencoba meyakinkannya, papi ingin tanya bagaimana perasaanmu saat ini kepadanya? Papi tidak ingin kau menyakitinya lagi. Bagi papi memang ingin dia jadi menantu namun papi tidak akan mempertaruhkan hidup seorang gadis untuk hidup dengan laki-laki yang tidak mencintainya.” Ucap papi Harry menguji putranya dan ingin tahu jawaban putranya walau dia yakin bahwa putranya itu sudah menyukai Friska di lihat dari tingkahnya saat ini yang risau dan khawatir telah membuat Friska salah paham.
“Pih, apa kau sedang mengujiku. Aku menyukainya dari dulu bukan dari dia menjadi muridku sewaktu SMA dan hingga sekarang ahh bukan aku tidak menyukainya tapi aku mencintainya dan tidak akan pernah rela jika harus kehilangannya. Aku akan meyakinkannya dan meluruskan segala kesahapahamannya.” Jawab Rezky tegas.
Papi Harry yang mendengar jawaban tegas sang putra tersenyum lalu segera menepuk bahu putranya itu bangga, “Papi akan mendukungmu. Kami akan membantumu mendapatkannya dan membawanya ke rumah ini sebagai menantu nak. Kau jangan khawatir namun kau harus mendapatkannya dengan cara kesatria. Perjuangkan dia sampai dia menerimamu.” Ucap papi Harry.
“Papimu benar nak. Kami akan membantumu. Kau jangan khawatir.” Ucap mami Jasmin.
Rezky mengangguk. Dia memang sudah yakin akan perasaannya dan dia akan memperjuangkannya, “Menurut papi dan mami aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan agar dia memaafkanku dan menerima penjelasanku?” tanya Rezky meminta pendapat orang tuanya.
“Menurut papi kau harus membuktikan apa yang membuatnya salah paham. Saat itu kau bicara dengan Robi kan, ajaklah Robi untuk membantumu menjelaskan padanya.” Ucap Papi Harry.
“Dia tidak akan percaya pih. Kau lupa apa yang anak kita katakan dia sudah mengatakan itu kepada Friska namun di tolaknya karena dia menganggap Robi akan berbohong dan sudah di ajak kerja sama oleh anak kita karena Robi adalah asisten putra kita.” Ujar mami Jasmin. Papi Harry pun terdiam karena tidak tahu harus apa yang dia bisa lakukan.
__ADS_1
“Ah aku tau. Sepertinya ini jalan satu-satunya. Di ruanganku saat itu ada CCTV dan aku yakin terekam CCTV.” Ucap Rezky.
“Apa kau gila? Apa mungkin kejadian dua tahun lalu masih terekam CCTV. Ini gak mungkin.” Ucap papi Harry.
“Tapi sepertinya idemu itu tidak buruk nak. Kita harus mencobanya karena memang hanya itu yang bisa membuktikannya.” Ucap Mami Jasmin.
Rezky mengangguk, “Aku harus mencobanya. Aku akan meminta temanku untuk melakukannya. Aku punya kenalan yang tahu IT.” Ucap Rezky.
Mami Jasmin dan Papi Harry pun mengangguk sambil berdoa semoga apa yang dilakukan putra mereka akan membuahkan hasil yang memuaskan. Setelah itu Rezky segera menuju kamarnya bermaksud untuk segera menghubungi temannya agar segera melakukan pengecekan CCTV dan semua masalah akan cepat selesai.
Mami Jasmin dan Papi Harry yang kembali di tinggalkan berdua pun saling memandang, “Pih, mami gak nyangka mereka sudah saling mengenal sebelumnya. Sepertinya takdir memang membawa mereka untuk saling terikat satu sama lain.” Ucap Mami Jasmin menatap suaminya.
Mami Jasmin pun mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Dia paham apa yang di maksud suaminya dengan menemui orang tua gadis itu. Dia bisa mengerti walau sang suami tidak mengatakan apa tujuannya tapi dia tetap tahu seolah-olah pikiran mereka saling terhubung satu sama lain. Yah, begitulah jika pasangan suami istri sudah saling memahami satu sama lain maka bicara pun tak perlu berkata sudah saling bisa mengerti.
***
Kita tinggalkan Rezky yang saat ini sedang galau dan berusaha untuk memperjuangankan cintanya. Kita ke kisah pasangan lain yang juga tidak kalah menarik.
“Aku duluan yaa.” Pamit Frisya segera mengambil tasnya dan menuju pintu keluar untuk segera pulang.
__ADS_1
“Aku juga pamit.” Ucap Fazar segera menyusul keluar sehingga membuat tiga orang yang di tinggalkan mereka saling melongo satu sama lain, “Apa mereka memiliki masalah?” tanya Dino bingung sekaligus penasaran.
Jery mengangkat bahunya tanda dia juga bingung, “Mereka tidak akrab lagi. Risya juga tidak seceria biasanya.” Ujar Jery sama bingungnya dengan Dino.
“Sudahlah jangan pikirkan mereka. Mereka sudah dewasa untuk mengatasi masalah mereka sendiri.” Timpal El yang juga sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi dengan dua teman band-nya itu tapi dia tidak ingin ikut campur terlalu dalam karena dia sendiri pun punya banyak beban pikiran yang harus di pecahkan.
“Tapi bang mereka itu aneh. Emang abang El gak penasaran kenapa mereka seperti itu? Abang El gak penasaran apa yang membuat asisten Fazar menekuk wajahnya?” ucap Dino bertanya.
“Sudahlah Dino, benar kata abang El kita gak usah mencampuri urusan mereka karena aku juga yakin asisten Fazar dan Risya bisa mengatasi masalah mereka sendiri tanpa harus membutuhkan bantuan kita.” Ucap Jery. Dino pun hanya mengangguk mengiayakan walau sebenarnya dia sangat penasaran. Maklum dia memiliki jiwa kepo sangat tinggi.
Sementara di luar, Frisya sudah naik di jok sepeda motornya dan segera memakai helm tapi di tahan oleh seseorang. Frisya pun menatap siapa yang menahannya itu, “Iya ada apa kak?” tanya Frisya.
“Ikut saya ke mobil. Biar saya yang akan mengantarmu ke apartemen.” Ucap Fazar.
Frisya tersenyum, “Aku gak apa-apa kak. Kakiku sudah sembuh kok, sudah baik-baik saja. Jangan khawatir aku sudah bisa menyetir sendiri. Lagian apartemen juga tidak jauh kan. Jadi aku gak butuh di antar.” Ujar Frisya lembut namun terdengar pedih di telinga Fazar.
Fazar menghela nafas kasar, “Dek, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa menghindari saya?” tanya Fazar sudah tidak dapat menahan rasa penasarannya kenapa gadis itu bersikap seolah-olah cuek padanya.
Frisya tertawa mendengar pertanyaan Fazar itu, “Aku gak apa-apa kak. Aku hanya belum mood saja hari ini. Jangan terlalu berpikiran buruk karena aku tidak melakukan apa yang katakan. Emang apa alasanku jika harus menghindarimu?” tanya Frisya balik.
__ADS_1