
Singkat cerita, tidak terasa sudah weekend semua orang sudah kembali beraktivitas sebagaimana mestinya. Kiana dan Zean juga begitu keduanya sudah pindah ke rumah mereka kemarin dan pasangan suami istri baru itu mulai mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Zean memutuskan akan tetap tinggal di sini sampai sang istri siap pindah ke negaranya. Dia tidak akan memaksakan kehendak untuk membawa istrinya ke negaranya. Kenyamanan istrinya adalah yang paling penting. Urusan pekerjaan dia bisa mengerjakannya dari sini dan keputusannya ini sudah di setujui oleh kedua orang tuanya karena mereka juga tidak ingin memaksa menantu mereka untuk segera ke Negara S.
Kenzo juga sudah kembali ke perusahaan ahh dia memang sudah masuk kerja dua hari setelah papanya meninggal tapi dia selalu pulang lebih awal dan seluruh staf perusahaannya tidak ada yang berani bicara dengannya karena dia memasang wajah dingin.
“Kak Ris, apakah kau hari ini akan melakukan siaran?” tanya Frisya saat mereka bersantai-santai duduk di ruang tv sambil menonton drama.
Friska mengangguk, “Emm, kakak akan masuk hari ini karena kasihan mereka sudah menerima komplen dengan tidak menayangkan program itu minggu lalu.” Ucap Friska yang memang dia tidak masuk minggu lalu sehingga program weekend itu tidak ditayangkan dan membuat penggemar komplen dan bertanya-tanya.
Frisya mengangguk mengerti, “Kok, bisa yaa mereka masih mendengar radio di saat teknologi sudah berkembang pesat begini.“ ucap Frisya.
“Itu selera dek. Iss gak usah heran. Lagian program yang kakak bawakan itu adalah anak muda banget sehingga mereka menyukainya.” Ujar Friska.
“Iya aku tahu kak. Aku pernah mendengarnya. Nyanyian Rindu nama programnya seperti seseorang sedang merindu saja. Siapa sih kak yang memberi nama program itu?” tanya Frisya.
__ADS_1
Friska menggeleng, “Kakak gak tahu karena begitu kakak masuk ke sana kakak langsung di tempatkan pada program itu. Kakak juga gak nanya siapa yang memberi nama program itu dan apa alasannya memberi nama program itu dengan Nyanyian Rindu. Selain itu juga kakak pikir bahwa program itu memang sudah lama tapi setelah beberapa minggu kakak bekerja di sana kakak baru tahu bahwa program itu baru dan pertama kali launcing saat kakak membawakannya. Jadi kakak gak tahu sama sekali deh sejarah tentang itu.” jawab Friska.
Frisya pun mengangguk paham, “Kok, aku merasa bahwa program itu sengaja di buat pemiliknya saat dia merindukan seseorang.” Ujar Frisya.
“Bisa jadi sih tapi kan studio itu kan milik kakak ipar. Apa jangan-jangan kakak ipar yang membuat program itu karena merindukan kakak. Tapi gak mungkin sih kan kakak gak pernah berpisah dengan kakak ipar masa iya mereka saling merindu. Tau ahh pusing aku memikirkannya. Kamu juga dek kenapa mengajukan pertanyaan aneh yang membuat kakak penasaran kan jadinya.” Ucap Friska.
Frisya yang mendengar ucapan Friska seketika teringat, “Kak, jangan-jangan yang membuat program itu adalah direkturnya karena memang benar kakak ipar adalah pemilik dan yang membangun studio itu saat dia masih dalam tahap menunggu kakak tapi sekarang sudah bukan dia direkturnya kak. Kakak ipar sudah menyerahkannya kepada seseorang tapi aku gak tahu siapa.” Ucap Frisya.
Friska yang mendengar itu pun mengangguk setuju, “Kau benar dek sepertinya memang direkturnya yang membuat nama program itu tapi siapa dia. Selama kakak bekerja di sana belum ketemu dengan direkturnya bahkan yang kakak kenal hanya manajernya saja. Kakak juga malas mencari tahu.” ucap Friska.
“Malas. Kamu kan tahu kakak itu gak suka mencari tahu sesuatu yang penting. Selama itu gak mengganggu kakak maka untuk apa mencari tahu, yang penting kakak di gaji untuk hasil kerja kakak. Pusing amat mikirin siapa yang membuat program itu atau apapun namanya. Tugas kakak hanya di tugaskan membawakan acara dan menurut kakak hanya sebatas itu saja kerja kakak.” Ucap Friska.
Frisya yang mendengar ucapan kakaknya hanya bisa menepuk keningnya sendiri, “Tapi gak gitu juga kak Ris. Bagaimana jika gaji yang di berikan padamu adalah uang haram atau bagaimana jika kau di minta untuk menjadi pembawa acara program yang di larang. Apa kau akan diam saja. Kita itu bukan ingin ikut campur hanya saja kita harus tahu alasan dari apa yang kita kerjakan.” Ucap Frisya.
__ADS_1
“Dek, gak mungkin lah gaji itu uang haram. Studio itu milik kakak ipar jadi gak mungkin dan soal program yang kakak bawa juga bukan di larang. Jadi selama tidak melanggar aturan maka kakak mah bodoh amat dengan yang lain.” Ucap Friska.
“Ya sudah terserah kakak aja. Hanya saja siapa tahu di balik program yang kakak bawa itu menyimpan sesuatu yang berhubungan dengan dirimu. Logika-nya begini yaa kak, kau di terima dan mulai bekerja langsung dengan program baru yang mereka belum tahu apa laku di pasaran atau tidak. Jadi gak mungkin penyiar baru yang langsung di percayakan untuk membawakannya jika itu tidak berhubungan denganmu.” Ucap Frisya.
Friska yang mendengar itu pun nampak berpikir dan merasa perkataan adiknya itu bisa saja terjadi, “Bagaimana? Iya kan?” tanya Frisya ingin tahu jawaban kakaknya akan perkataannya barusan.
Friska mengangguk, “Bisa saja sih dek tapi gak mungkin. Bisa saja itu kebetulan. Mungkin saja program itu di buat bersamaan dengan kedatangan kakak dan karena belum ada penyiar yang bertugas untuk program itu karena mereka sibuk dengan program masing-masing maka kakak yang berhubung baru masuk dan kosong mau bekerja di mana maka kakaklah yang di minta untuk menjadi penyiarnya.” Ujar Friska menatap adiknya seolah meminta pendapat bahwa perkataanya bisa juga benar.
Frisya pun menghela nafas mendengar ucapan kakaknya itu, “Kak, apa kau percaya namanya kebetulan? Aku yakin kau tidak percaya karena kau saja langsung mengetahui begitu mami Sinta dan maminya kak Rezky mencomblangkan kalian. Jadi tidak ada yang namanya kebetulan di sini. Semua pasti sudah ada rencananya. Aku yakin ada alasan besar di balik semua ini. Aku yakin ini bukan kebetulan dan aku juga percaya bahwa kakak pun berpikiran sama denganku hanya saja kakak mencoba menolaknya tidak ingin menerima apa yang aku katakan.” Ucap Frisya.
Friska pun tertawa mendengar ucapan adiknya itu, “Kau benar dek. Kakak juga merasa bahwa ini bukan kebetulan dan kau juga benar kakak mencoba menolak logikamu tapi kakak hanya berpikir bahwa ini semua tidak ada hubungannya dengan kakak.” Ucap Friska.
“Lalu kenapa kakak tidak berpikiran demikian terkait apa yang dilakukan oleh mami Sinta dan mamanya kak Rezky?” tanya Frisya.
__ADS_1
“Dek, ayolah jangan memojokkan kakak. Kakak gak bisa menjawabnya.” Ucap Friska.
Frisya pun tertawa akan hal itu, “Aku tahu kenapa kau berpikiran demikian kak. Pemikiranmu itu di dasari oleh kebencian kepada kak Rezky sehingga kau langsung tidak berpikir bahwa itu bukan kebetulan.” Ucap Frisya. Friska yang mendengar itu tersenyum karena sepertinya apa yang di katakan adiknya itu benar semua. Dia mengaku kalah hari ini.