Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
161


__ADS_3

Keesokkan harinya seperti yang sudah mereka bicarakan kemarin di telepon. Kini ke empat orang itu segera berkumpul di apartemen Friska untuk membahas pra wedding yang akan mereka lakukan bersama.


Friska dan Rezky sudah memanggil tukang fotografer ke apartemen itu untuk membicarakan semuanya. Dan di sinilah mereka sekarang sedang memilih lokasi pra wedding mereka karena mereka memilih untuk melakukan pra wedding outdoor dengan memanfaatkan destinasi wisata terdekat.


Setelah berpikir dan memutuskan dengan berbagai pertimbangan. Akhirnya mereka mendapatkan keputusan akan mengambil pra wedding di tiga tempat sekaligus. Tempat pertama di studio indoor lalu dua tempat lainnya di dua destinasi wisata yang berbeda tapi berdekatan tempatnya. Setelah itu untuk pakaian mereka sendiri yang memilihnya. Fotografer menyerahkan kepada mereka sendiri untuk pakaiannya. Dia hanya memberikan saran saja lalu setelah itu dia segera pulang meninggalkan dua pasangan itu.


Kini mereka sibuk melihat pakaian yang harus mereka pakai, “Emm, bagaimana untuk yang foto di studio itu kita pakai pakaian sesuai profesi kita.” Usul Friska.


“Boleh juga.” Jawab Rezky menyetujui.


Kenzo pun mengangguk, “Bagaimana denganmu Irma?” tanya Friska.


“Aku juga setuju kak. Tapi aku bingung aku harus memakai pakaian apa. Orang aku aja bingung aku sekarang berprofesi apa.” Ujar Irma bingung hingga menimbulkan tawa yang lain melihat wajah lucu Irma itu.


“Kau sekarang sedang magang jadi sekretaris kan. Ya pakai saja pakaian yang biasa di pakai seorang sekretaris. Emm, bisa juga kau memakai pakaian ala CEO perusahaan. Kau kan akan jadi pewaris perusahaan orang tuamu nanti. Jadi gak usah bingung.” Ucap Friska.


Irma pun mengangguk-ngangguk, “Baiklah aku setuju. Sepertinya hal itu juga seru. Aku memilih pakaian ala sekretaris saja karena aku tidak suka pakaian ala CEO walaupun pakaian mereka hanya berbeda sedikit.” Ujar Irma.


“Baiklah. Di putuskan kita akan memakai pakaian itu untuk foto studio.” Ujar Friska yang di angguki oleh ketiga orang menyetujui.


Setelah itu mereka pun segera memilih pakaian untuk dua destinasi tema outdoor. Setelah sekitar satu jam mereka memilih ini itu akhirnya selesai juga di putuskan mereka akan memakai apa.


“Okay, sekarang kita sudah selesai memilih pakaian yang harus kita pakai. Kita harus membelinya. Tidak mungkin kita meminjam kan.” Ucap Friska.


“Ya sudah. Ayo kita ke mall kalau begitu.” Usul Rezky.


Kenzo dan Irma pun menyetujui saja dan akhirnya dua pasangan itu segera meluncur menuju mall.


***


Kita tinggalkan dua pasangan yang sedang bersiap untuk menyiapkan pra wedding mereka. Kita menuju dua sahabat yang saat ini sedang sibuk menyusun laporan mereka di restoran setelah dari rumah sakit, “Risya, apa kau setelah kita lulus akan menikah dengan kak Fazar?” tanya Disa sambil menyeruput minumannya.


Frisya yang serius dengan laporannya pun segera menatap Disa lalu dia menggeleng, “Aku gak tahu. Tapi satu hal yang aku pastikan aku pasti akan menyetujui apapun permintaan orang tuaku. Jika dia memang sudah datang ke rumah dan melamarku maka aku pun akan menerimanya. Untuk saat ini fokusku hanya untuk menyelesaikan dulu semua laporan laporan ini. Aku sudah muak.” Ucap Friska.


Disa yang mendengar perkataan Frisya pun tertawa, “Ahh, ternyata kau bisa muak juga yaa. Ku pikir hanya aku yang sudah ingin muntah dengan tumpukan laporan ini. Ternyata kau juga sama padahal kau itu dewi cerdas dan rajin.” Ucap Disa.


“Hey aku juga manusia yang bisa kapan saja bosan dengan rutinitas ini.” ucap Frisya tidak terima. Sementara Disa dia hanya tertawa.


“Hentikan tawamu Disa sebelum bolpoinku ini melayang ke wajahmu.” Ucap Frisya tajam.


Disa pun segera menghentikan tawanya karena dia tidak ingin jadi korban bolpoin Frisya. Dia sangat tahu dan hafal bahwa Frisya tidak main-main dengan ancamannya itu. Dia sudah pernah merasakannya dan dia tidak ingin merasakannya lagi.


“Disa, bagaimana hubunganmu dengan abang El?” tanya Frisya tersenyum menggoda menatap sahabatnya ini.


Disa yang mendapat pertanyaan itu pun tersenyum malu, “Apa an sih kau Risya. Aku gak punya hubungan apa-apa dengan abang El.” Ujar Disa menunduk.


“Jika memang tidak punya hubungan apa-apa. Tatap aku dan katakan dengan tegas bahwa kau tidak punya hubungan dengan abang El.” Ucap Frisya tegas.


Disa pun menghela nafasnya dan menatap Frisya dengan tatapan kesal karena seperti biasa Frisya itu suka mengancamnya, “Ish, sungguh kami tidak punya hubungan apapun. Hanya saling berkirim pesan saja satu sama lain.” Jawab Disa sambil menatap Frisya.


Frisya pun tersenyum lalu mengangguk mengerti, “Baiklah aku percaya padamu.” Ucap Frisya.


“Yah, kau memang harus percaya padaku. Aku ini tidak pernah membohongimu.” Ucap Disa percaya diri.

__ADS_1


“Sangat percaya diri sekali yaa kau. Perlu kau tahu aku melihatmu pergi dengan abang El minggu lalu ke taman kota.” Ujar Frisya tanpa menatap Disa dan kembali menulis laporannya.


Sementara Disa melototkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari sahabatnya itu, “Kok, bisa? Aku tidak melihatmu. Di mana kau?” tanya Disa lalu menutup mulutnya setelah dia sadar bahwa sahabatnya itu memancingnya saja.


Disa segera memukul jidatnya, “Ahh dasar bodoh kau Disa. Kenapa kau kena perangkapnya lagi. Dia hanya menipumu.” Sambung Disa.


Frisya pun tertawa melihat apa yang di lakukan oleh sahabatnya itu sungguh lucu di matanya, “Hahahah, jadi benar kau pergi dengan abang El ke taman kota? Ngapain kalian di sana?” tanya Frisya.


Disa menarik nafas panjang lalu menghembuskan dan menatap Frisya dengan tatapan pasrah, “Jadi benar?” tanya Frisya lagi.


Disa pun mengangguk pasrah, “Hahahaahhh, wah aku tidak menyangka kau melakukan itu. Ayo sekarang jujur padaku apa hubungan kalian sebenarnya. Aku tidak percaya jika kalian tidak memiliki hubungan apapun.” Ujar Frisya.


“Yah, aku tahu. Aku memang tidak bisa membohongimu. Kau benar. Dia sudah datang menemui orang tuaku tiga hari lalu.” Ujar Disa akhirnya mengakui.


Kini giliran Frisya yang menganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar, “Wah, parah kau. Kau tega menyembunyikan ini dariku. Jahat kau!” ujar Frisya kesal bercampur bahagia karena akhirnya cinta sahabatnya itu bersambut walaupun di sisi lain dia juga mengkhawatirkan sesuatu. Jangan sampai sahabatnya ini hanya di jadikan pelarian saja.


“Aku belum memberitahumu karena memang kami hanya saling berkenalan saja dengan orang tua masing-masing. Kemarin aku di ajaknya bertemu dengan orang tuanya. Lalu kami masih merencanakan juga untuk langkah selanjutnya. Jadi aku belum memberitahumu.” Tutur Disa.


“Tetap saja kau harus memberitahuku. Aku ini sahabatmu kan. Kau jahat jika memberitahuku nanti sudah lamaran kalian. Aku pasti akan kesal padamu jika kau melakukannya. Untung saja aku memancingmu dan kau pun keceplosan. Jika tidak entah kapan aku mengetahuinya.” Ucap Frisya.


“Maaf Ris. Aku tidak bermaksud penyembunyikan hal ini darimu.” Ucap Disa merasa bersalah.


Frisya yang melihat itu pun jadi tersenyum lalu mendekati Disa dan memeluknya, “Sudahlah. Aku memaafkanmu untuk ini tapi jangan lakukan lagi. Jika kau masih menganggapku teman atau sahabatmu maka katakan padaku apapun itu. Aku mengucapkan selamat untukmu.” Ucap Frisya lalu melepas pelukannya dan kembali ke tempat duduknya.


“Tapi Disa ada satu hal yang aku khawatirkan. Kau tahu kan abang El menyukai siapa sebelumnya? Aku percaya abang El tidak mungkin melakukannya dan dia memiliki perasaan padamu. Namun tetap saja aku khawatir kau hanya di jadikan pelarian saja olehnya.” Ucap Frisya mengutarakan keresahan hatinya.


“Aku tahu apa yang kau maksud Risya. Dia pun sudah mengakui itu padaku bahwa dia menyukai kak Riska. Aku memakluminya.” Ucap Disa.


Disa mengangguk, “Ya seminggu lalu di taman kota. Dia mengungkapkan semuanya dan dia mengajakku untuk berjalan beriringan bersama tanpa menutupi masa lalunya. Aku memutuskan untuk menemaninya. Dia adalah cinta pertamaku. Aku mempercayainya. Walaupun mungkin saat ini dia masih memiliki perasaan kepada kak Riska gak masalah. Aku yakin suatu saat nanti perasaannya padaku akan tumbuh. Aku hanya perlu memupukinya saja agar tumbuh subur. Aku akan membuatnya melupakan kakakmu.” Ujar Disa penuh tekad.


Frisya pun mengangguk, “Aku percaya padamu. Aku yakin kau bisa. Aku juga percaya pada abang El. Dia orang baik. Dia pasti akan berusaha mencintaimu dan melupakan kakakku. Aku mendukung keputusan kalian. Aku juga akan berdoa semoga kalian selalu bahagia.” Ujar Frisya.


***


Keesokkan paginya, Frisya sibuk bersiap untuk ke studio dan menunggu jemputan calon suaminya yang sudah dalam perjalanan. Seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya, hari ini mereka akan melakukan double date pra wedding.


Singkat cerita, kini mereka sudah tiba di studio. Friska dan Irma segera menuju ruang rias untuk berhias dan mengganti pakaian mereka dengan pakaian sesuai profesi sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.


Pra wedding pertama itu berjalan lancar tanpa kendala. Baik pasangan Friska dan Rezky maupun pasangan Kenzo dan Irma mengambil foto pra wedding tanpa sentuhan sama sekali karena memang belum mahram.


Sekitar tiga jam pengambilan foto pra wedding di studio itu. Kini mereka sedang melihat hasil foto mereka sebelum nanti mereka akan melanjutkan kembali sesi foto pra wedding sesi berikutnya yang outdoor.


“Ini sangat cantik.” Ucap Friska memperlihatkan hasil foto mereka yang berempat. Ketiga orang lainnya juga menyetujuinya.


“Kita akan lanjut nanti tapi istirahat dulu.” Ucap Friska.


“Iya kita istirahat dulu. Nanti selepas zuhur kita lanjut lagi menuju lokasi.” Ucap Rezky.


Setelah itu mereka segera membicarakannya dengan fotografer yang langsung di setujui.


“Ya sudah sambil menunggu sholat. Kita makan siang dulu.” Ajak Kenzo.


“Ayo!” ucap ketiganya menyetujui.

__ADS_1


Mereka pun segera menuju tempat makan terdekat dan menikmati makan siang di sana sambil bercerita satu sama lain.


***


Sementara di kediaman Freya, Kini Kiana sedang sibuk di dapur memasak. Dia ingin makan sate ayam bakar hasil buatannya sendiri. Kiana memasak sendiri. Dia melarang ART kakaknya itu untuk membantu sama sekali. Yah, Freya mengajak Kiana untuk tinggal bersamanya di kediamannya. Dia tidak tega membiarkan adiknya itu tinggal di kediamannya sendiri. Walaupun kediaman mereka juga aman tapi Freya tidak mengizinkan.


Sekitar satu jam dia berkutat sendiri di dapur dengan para ART hanya melihat saja karena di larang membantu. Memang keluarga nyonya mereka itu unik dan sangat baik. Mereka memperlakukan orang lain seperti keluarga sendiri. Walaupun mereka hanya pembantu saja.


“Para bibi, Ini untuk kalian. Ohiya ini untuk kak Reya juga. Aku mau makan dulu. Tolong ya bi bantu aku menyimpan milik kak Reya itu.” pinta Kiana.


Ketiga ART Freya itu pun mengangguk dan segera melakukan apa yang di minta oleh Kiana.


“Aku akan mencicipi hasil masakanku ini.” ucap Kiana mulai makan hasil makanannya itu yang sangat pas di lidahnya. Sungguh dia merasa sangat puas dengan hasil makanannya itu dan menghabiskannya dengan lahap.


Tidak lama ponselnya berdering dan itu adalah panggilan video dari suaminya.


Kiana pun segera menekan ikon hijau dan menjawab panggilan dari suaminya itu, “Halo, Assalamu’alaikum dear!” salam Zean dari seberang dengan senyuman manis menghiasi wajah tampannya itu.


“Wa’alaikumsalam boo.” Jawab Kiana juga dengan tersenyum sambil melap bekas dia makan dengan tisu.


“Kamu habis makan sayang?” tanya Zean dari seberang.


Kiana pun mengangguk, “Iya nih. Baru menghabiskan sepiring sate ayam.” Ucap Kiana memperlihatkan bekas piringnya.


“Ahh aku jadi rindu masakanmu sayang. Aku juga merindukanmu sayang. Ingin rasanya aku terbang kesana dan memelukmu dengan erat.” Ujar Zean.


Kiana yang mendengar ucapan suaminya itu pun terkekeh, “Aku akan membuatkanmu sate ayam ini jika kau sudah kembali. Sekarang kau harus bersabar makan makanan yang ada di sana. Kau harus makan suamiku. Aku juga merindukanmu.” Ucap Kiana.


“Ayo makan. Biar aku temani dari sini.” Lanjut Kiana.


Zean pun mengangguk dan membuka makanannya itu dan mulai memakannya dengan mereka saling memandang layar ponsel. Lama mereka berbincang sampai Zean selesai makan dan mereka harus segera melakukan sholat.


***


Kita kembali lagi pada pasangan yang sedang melakukan double date pra wedding. Mereka kini sudah selesai menunaikan sholat. Rezky dan Kenzo saja yang sholat karena Friska dan Irma sedang sama-sama udzur.


Tanpa berlama-lama lagi, kini mereka segera berangkat menuju destinasi wisata pertama untuk pengambilan foto pra wedding mereka selanjutnya. Mereka menggunakan mobil masing-masing dan berangkat bersamaan.


Di mobil Friska dan Rezky kini mereka sedang bercanda satu sama lain. Sementara di mobil Kenzo dan Irma mereka juga bicara.


“Sayang, apa hadiah yang ingin kau minta dariku?” tanya Kenzo karena Irma belum juga mengatakan apa hadiah yang dia inginkan.


“Aku belum memikirkannya. Tapi sepertinya hadiah yang ku inginkan sudah ku dapatkan.” Ujar Irma.


“Kok begitu sih? Emang hadiah apa yang kau inginkan?” tanya Kenzo.


“Aku ingin jadi istrimu. Itu adalah keinginan terbesarkan dan sebentar lagi akan jadi kenyataan. Jadi anggap saja kau sudah memenuhi janjimu itu.” ucap Irma memandang Kenzo penuh cinta.


“Ish kok jadi itu sih permintaannya. Itu sudah pasti aku lakukan bahwa aku akan jadi suamimu. Tapi tetap saja permintaannya harus yang lain. Selain itu sebagai hadiah untukmu karena kau menang.” Ucap Kenzo.


“Huh, baiklah. Kalau begitu terserah kakak aja mau memberiku apa. Aku akan menerimanya.” Ucap Irma.


Kenzo yang mendengar itu pun tersenyum, “Baiklah. Akan aku pikirkan hadiah apa yang cocok untuk calon istriku ini.” ucap Kenzo lalu mengusap kepala Irma lembut.

__ADS_1


__ADS_2