Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
184


__ADS_3

Kini lamaran Frisya dan Fazar sudah di mulai sejak 15 menit lalu. Frisya dengan di apit oleh kedua kakaknya kini sedang berjalan menuju pelaminan untuk menjawab lamaran dari Fazar.


“Nak, jangan menatapnya begitu. Kedipkan matamu.” Ucap ibu Yulia menggoda putranya itu.


Fazar pun tersenyum dengan ucapan ibunya itu. Friska dan Freya segera menyerahkan tangan adik mereka itu kepada mama Najwa dan papa Khabir. Setelah itu mereka segera pergi dari sana duduk bersama pasangan masing-masing.


Acara lamaran itu pun segera di mulai dan semuanya berjalan dengan sangat lancar. Fazar dan Frisya sudah saling menjawab satu sama lain untuk lamaran mereka. Di sana Frisya dan Fazar sudah memakai cincin tunangan mereka masing-masing yang di pakaikan oleh mama Najwa dan ibu Julia.


“By, aku tidak menyangka adik kecilku akan menikah sebentar lagi.” Ucap Freya kepada Alvino.


“Adik kecil? Siapa? Bukankah Mark yang adik kecilmu?” goda Alvino agar sang istri tidak terlalu sedih.


“Ish, mas bukan Mark. Dia memang sering ku panggil adik kecil tapi ini bukan Mark.” Ucap Freya jengkel.


Alvino pun terkekeh dan tersenyum, “Aku tahu sayang. Aku hanya tidak ingin melihatmu melo begitu. Kau tahu bukan aku akan sedih jika melihatmu melo begitu. Sudah jangan berpikir terlalu banyak. Adikmu hanya menikah saja. Mereka tetap akan bersama kita.” Ucap Akvino.


Freya pun mengangguk tersenyum. Suaminya itu selalu bisa mengerti dirinya. Selalu bisa jadi penenang untuknya saat sedang sedih atau banyak pikiran seperti tadi.


Acara lamaran itu segera di lanjutkan dengan sesi foto bersama. Seluruh keluarga segera melakukan antrian untuk mengambil foto.


“Cie kak Risya udah tunangan aja tuh. Hum, kenapa pesta di keluarga kita ini gak selesai-selesai ya? Banyak banget sih.” Goda Mark.


Frisya pun menatap adiknya itu, “Diam Mark dan ambil foto saja. Jika kau tidak suka mengambil foto. Sana pergi dari situ. Jangan suka ikut campur mengambil foto.” Ucap Frisya jengkel dengan adiknya itu saat mereka mengambil sesi foto saudara.


“Cie kak Risya masih sedang panas tuh gak bisa di ledek.” Ucap Mark. Frisya pun seketika tertawa. Semua keluarga pun tertawa. Memang mereka sangat rukun. Tidak ada yang bisa benar-benar marah. Itu hanya sesaat saja.


Sesi foto bersama keluarga sudah selesai, kini Frisya dan Fazar sedang mengambil sesi foto berdua dengan tetap menjaga jarak untuk tidak bersentuhan sama sekali.

__ADS_1


“Kak, kenapa kau terlihat gugup begitu?” ucap Frisya.


Fazar pun tersenyum, “Bukankah kau juga sama. Kau juga terlihat gugup sayang. Jangan menggodaku dan selesaikan ini.” ucap Fazar.


“Tenang kak. Ini akan selesai. Nikmati saja. Bukankah ini lamaran kita.” Ucap Frisya.


Fazar pun tersenyum lalu mereka segera mengambil foto bersama dengan suasana hati yang bahagia pastinya.


Sedangkan di bawah sana tinggallah keluarga yang bersantai dan menikmati makanan,


“Win, tolong dong ambilkan aku makanan.” pinta Mark kepada Wina.


“Ck, ambil sendiri. Kenapa harus aku coba.” Tolak Wina.


“Ambilkan saja kak Wina. Hitung-hitung belajar jadi calon istri yang baik.” ucap Clemira yang juga berada di dekat mereka dan mendengar ucapan Mark dan Wina itu.


“Hey, anak kecil. Kenapa kau menguping pembicaraan kami begitu. Sana pergi jauh-jauh.” Usir Mark kepada Clemira itu. Clemira pun hanya mengerucutkan bibirnya dan segera pergi dari sana menemui papanya.


“Ck, dasar tidak punya tangan. Baiklah tunggu di sini.” Ucap Wina akhirnya.


Wina pun segera berdiri dan mengambilkan makanan untuk Mark itu, “Untuk siapa Win?” tanya Freya saat Wina mengambil makanan.


“Untuk Mark nyonya.” Jawab Wina.


“Ee’eeh tapi kenapa kamu yang mengambilnya? Mark!” panggil Freya kepada si pemilik julukan adik kecil itu.


“Kaak, sekali saja. Aku hanya meminta bantuan. Malas mengambil sendiri.” Ucap Mark dengan nada memohon kepada kakaknya itu.

__ADS_1


“Tetap saja gak boleh. Ambil sen--”


“Sudah gak apa-apa sayang. Biarkan saja.” potong Alvino.


“Wina, ambilkan saja.” sambung Alvino kemudian. Wina pun mengangguk dan segera mengambilkan makanan untuk Mark dan memberikannya kepada Mark.


“Tuh, makan. Awas saja jika tidak di habisin.” Ucap Wina.


“Pasti di habisin karena kau yang mengambilkannya. Terima kasih!” terima Mark dan dia pun segera makan tidak lupa membaca basmalah dan doa makan.


“Mas, kenapa kamu biarkan Mark memperlakukan Wina seperti itu? Aku gak suka jika adikku menghina seseorang begitu. Wina itu bukan pembantu untukku tapi adikku juga.” Ucap Freya protes kepada suaminya.


“Aku tahu sayang. Kamu menyayangi Wina tapi tidakkah kau lihat Mark juga menyayanginya. Mereka memang sering berantem dan berdebat tapi itu adalah cara mereka saling menyayangi satu sama lain. Mark tidak akan bisa hidup tanpa mengganggu Wina begitu juga sebaliknya. Walaupun yang kita lihat Mark kadang kelewatan tapi itu tidak bagi Wina sayang. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka itu sudah saling kenal dari kita menikah dan tumbuh besar bersama. Jadi biarkan saja begitu. Jangan terlalu di pikirkan. Aku yakin Mark tidak akan kelewatan mengerjainya. Lagian dia hanya membantu di ambilkan makanan saja sayang. Hitung-hitung mereka simulasi rumah tangga.” Ucap Alvino.


“Apa kau berencana menjodohkan mereka lagi by? Kau ingin jadi mak comblang untuk mereka lagi by? Jangan lakukan itu. Aku tidak mengkhawatirkan Mark tapi Wina. Paman dan bibi belum tentu setuju anak tunggal mereka menikah dengan Wina. Apalagi bibi dia itu kadang-kadang menilai orang dari materi. Aku tidak ingin Wina menderita memiliki mertua seperti itu.” ucap Freya.


“Sayang, baru kali ini aku mendengar kau menolak saat seperti ini. Aku tidak menjodohkan mereka atau pun ingin jadi mak comblang untuk mereka. Hanya saja aku bisa melihat bahwa mereka saling menyukai.” Ujar Alvino.


“Aku juga bisa melihat itu by. Mereka saling menyukai satu sama lain. Hidup dan tumbuh bersama membuat mereka memiliki rasa itu. Tapi mereka gak cocok. Aku menyayangi Wina. Aku tidak akan biarkan bibi menyakitinya.” Ucap Freya.


“Bibi Naura itu baik sayang.” ucap Alvino.


“Aku tahu tapi tetap saja aku gak setuju.” Ucap Freya.


“Hmm, kita lihat saja ke depannya akan seperti apa.” Ujar Alvino.


Freya pun hanya diam saja lalu melihat ke arah Wina dan Mark. Dia bisa melihat mereka memiliki rasa ketertarikan satu sama lain tapi jalan mereka sulit untuk bersatu. Freya sangat hafal bagaimana bibinya itu.

__ADS_1


“By, jangan bicara ini lagi. Lebih baik kau rencanakan pertemuan kita dengan Hanna dan kak Lio. Aku ingin bertemu mereka secepatnya selepas pernikahan Frisya dan Fazar nanti.” Ucap Freya.


“Hum, aku akan memikirkannya. Aku akan mengatur jadwalku juga.” Balas Alvino. Freya pun hanya mengangguk saja.


__ADS_2