
Seluruh rangkaian pernikahan itu sudah selesai dan kini mereka tinggal mengadakan makan bersama untuk pernikahan Zean dan Kiana. Seluruh keluarga berkumpul di meja di salah satu restoran di dekat rumah sakit yang sudah di booking oleh Alvino sebelumnya. Semua keluarga ikut bahkan Fazar dan Rezky juga di ajak karena memang kedua lelaki itu hadir dalam akad pernikahan tadi. Papa Vian juga ikut walau tetap dengan infus di tangannya sambil terus di jaga oleh Kenzo.
Zean dan Kiana tentu saja juga ikut karena mereka adalah bintang utamanya di sini tapi sebelum kesana Kiana sudah mengganti gaun pernikahannya dengan gamis biasa yang lebih ringan agar memudahkannya berjalan begitu juga dengan Zean yang tinggal memekai kemeja dengan bawahan saja sudah tidak memakai tuxedo-nya.
Kiana dan Zean duduk berdekatan dan begitu hendak mengambil makanan, Kiana yang terbiasa mengambilkan makanan untuk papanya lebih dulu pun segera berdiri bermaksud membantu papanya, “Kia kau duduklah nak biar mama yang akan mengambilkan makanan untuk papamu. Kau layani suamimu saja.” ucap Mama Najwa menghalangi keponakannya itu dan segera mengambilkan makanan untuk papa Vian tapi sebelum itu dia mengambil makanan untuk papa Khabir lebih dulu.
Kiana yang mendengar ucapan Mama Najwa pun segera duduk kembali dan mengambilkan makanan untuk suaminya, “Kakak, maul auk apa?” tanya Kiana pelan.
“Apa aja dek. Terserah dirimu.” Jawab Zean pelan juga.
Freya dan Alvino yang berhubung ada di depan keduanya tersenyum mendengar pembicaraan Kiana dan Zean itu yang canggung. Seketika mereka teringat akan bagaimana mereka saat menikah dulu juga yang sama canggung dengan Zean dan Kiana sekarang, “Mereka mengingatkan akan kita yang baru menikah sayang.” bisik Alvino. Freya pun tersenyum mendengar ucapan suaminya karena tidak menyangka bahwa apa yang dia pikirkan sama dengan apa yang dipikirkan suaminya.
Kiana setelah mengambilkan makanan untuk suaminya dia pun mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Semua orang menikmati makan bersama itu dengan penuh hikmat sampai selesai namun pass di akhir papa Vian memegang jantungnya. Kiana yang melihat itu segera berlari mendekati papanya, “Pah, apa yang sakit?” tanya Kiana khawatir.
__ADS_1
“Kenzo segera bawa papa kembali ke rumah sakit.” Perintah Kiana. Kenzo yang mendengar itu segera menghentikan makannya lalu segera mendorong kursi roda papa Vian menuju rumah sakit kembali. Kiana segera berlari menyusul di belakang adiknya dan sang papa begitu juga Zean dan keluarga yang lain. Alvino dan Freya segera menelpon dokter.
Tidak lama mereka sudah tiba di rumah sakit dan langsung di tunggu oleh dokter di ruang perawatannya, “Apa yang sakit pak?” tanya sang dokter yang kini mulai memeriksa tanda-tanda vital papa Vian.
Setelah dokter itu selesai memeriksa tanda vital dan akan segera di bawa ke ruang UGD kembali papa Vian langsung menggeleng, “Saya gak sakit dokter. Saya sudah tidak mau menerima pengobatan lagi. Sudah cukup.” Ucap papa Vian lemah.
Kiana yang mendengar itu langsung berlutut di hadapan papanya, “Pah!” ucap Kiana yang sudah bisa memprediksi apa maksud ucapan papanya. Dia juga sudah bersiap untuk kemungkinan terburuknya walau sungguh dia ingin rasanya menolak jika apa yang dia prediksi akan terjadi.
Papa Vian menatap putrinya itu dengan dalam lalu mengusap kepala Kiana, “Papa sudah senang nak melihatmu menikah dan bahkan kita masih bisa makan bersama. Jadi izinkan papa untuk pergi sekarang nak. Papa sudah di tunggu, papa gak bisa menolak lagi karena janji yang papa buat sudah selesai. Kamu harus bahagia terus nak, hormati suamimu dan juga keluarga suamimu.” Ucap papa Vian lalu beralih menatap sang menantu yang berdiri di belakang Kiana.
“Khabir tolong bombing aku--” pinta papa Vian kepada papa Khabir yang ada dibelakangnya. Papa Khabir pun segera mendekat dan menggengam tangan dingin papa Vian yang satunya lalu mulai membimbing papa Vian tepat tiga kali mengucap syahadat secara sempurna nafas papa Vian pun berakhir.
Kiana yang melihat itu pun segera menangis dan memeluk papanya, “Pah, jangan tinggalin Kia.” ucap Kiana menangis. Zean yang melihat itu segera memeluk istrinya erat. Kiana menangis dalam pelukan Zean. Sementara papa Vian yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya dengan penuh senyuman itu segera di lepas oleh dokter alat-alat yang terpasang di tubuhnya dan mengkonfirmasi waktu kematian.
__ADS_1
Freya yang melihat itu menangis dalam pelukan suaminya sementara Friska dan Frisya menangis sambil berpelukan satu sama lain. Kalau Kenzo dia hanya meneteskan air matanya lalu mendekati mayat papanya dan menggenggam tangan papanya itu yang kini sudah dingin. Dia bukan tidak sedih tapi dia sudah berjanji kepada papanya bahwa dia tidak akan menangis karena harus menjaga kakaknya walau kini kakaknya itu menangis dalam pelukan suaminya, “Kia!” panggil Zean begitu menyadari tubuh Kiana melemah.
Freya yang melihat itu segera mendekati Kiana dan segera memeriksa adiknya, “Bawa dia ke ruangan lain. Dia pingsan.” Ucap Freya sambil menghapus sisa-sisa air matanya pasalnya dia sedang menangis dan mendengar Zean memanggil adiknya dia segera mendekat tidak memedulikan dirinya sedang menangis.
Zean yang mendengar perintah Freya langsung menggendong istrinya itu ke ruangan di samping ruangan ini dan Freya mengikuti dari belakang lalu segera memasangkan infus untuk adiknya itu. Sementara keluarga lain sudah mulai mempersiapkan untuk pemakaman papa Vian yang akan tetap di makamkan hari ini. Jasad papa Vian langsung di bawa ke rumah Alvino dan Freya karena papa Vian akan di kuburkan di pemakaman keluarga.
Sekitar setengah jam kemudian akhirnya Kiana sadar dan mendapati Zean yang menggenggam tangannya sambil membaca surah-surah pendek. Zean terus menggenggam tangan istrinya itu tanpa di lepaskan sama sekali selama Kiana pingsan, “Kamu sudah sadar dek!” ucap Zean tersenyum dan menghentikan ngajinya.
Kiana masih belum sepenuhnya sadar dan begitu kesadarannya kembali dia menangis, “Kak, papa dimana?” tanya Kiana.
Zean menggenggam erat tangan istrinya itu, “Papa sudah di bawa ke rumah kakakmu.” Jawab Zean.
Kiana pun hendak duduk, “Kak, bawa aku kesana.” Ucap Kiana hendak melepas infusnya.
__ADS_1
“Jangan di lepas Kia. Kita akan ke rumah tapi jangan lepaskan cairan itu biarkan terpasang sampai habis baru lepas.” Ucap Freya yang tiba-tiba masuk.
Kiana yang mendengar itu pun segera menghentikan tindakannya untuk melepas infus, “Kita akan pulang tapi kau gak boleh menangis lagi. Papamu dia pergi dengan bahagia karena melihatmu sudah menikah. Dia sudah berusaha keras untuk bisa bertahan sampai saat ini hanya untuk menikahkanmu jadi jangan buat dia sedih dengan mendengar tangisanmu. Ayo kita antar dia dengan ikhlas karena dia pergi dengan bahagia.” Ucap Freya. Kiana pun mengangguk.