Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
21


__ADS_3

Frisya sibuk dengan dokumen di hadapannya dan mulai mengerjakannya sambil bertanya jika ada sesuatu yang kurang dia mengerti. Setelah cukup lama dia berkutat dengan komputer di hadapannya serta dokumen yang akan dia kerjakan juga sudah selesai, “Ahh selesai juga. Bos, mohon koreksi jika salah.” Ujar Frisya mendekat ke meja Fazar dan menyerahkan dokumen yang sudah dia perbaiki.


Fazar pun menerimanya lalu kemudian dia tersenyum kagum karena ternyata Frisya yang notabene tidak kuliah jurusan bisnis tapi bisa dengan mudah menguasai dan menyelesaikan dokumen bisnis hanya dengan satu kali belajar, sepertinya ketiga bersaudara itu memiliki jiwa bisnis dalam tubuh mereka. Nyonya bosnya saja punya bisnis baik yang di bangun saat dia belum menikah atau sesudah menikah. Semuanya berkembang dengan baik tidak ada yang gagal, sepertinya hal itu juga karena otak mereka yang dengan mudah bisa mempelajari dan menghafal sesuatu.


“Bagus, ini sudah bagus.” Ucap Fazar jujur.


Frisya tersenyum, “Syukurlah, ohiya apa masih ada yang bisa Frisya bantu bos?” tanya Frisya lagi.


Fazar menggeleng, “Sudah gak ada, kamu istirahat saja dulu. Lagian sebentar lagi jam pulang kantor berakhir.” Balas Fazar.


Frisya pun mengangguk mengerti lalu dia kembali ke meja kerjanya dan mengeluarkan laporan kuliahnya yang harus dia tulis tangan. Dia pun mulai mengerjakan tugasnya itu dengan baik. Fazar yang melihat Frisya tengah serius menulis pun melirik sekilas dan baru menyadari bahwa gadis itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Fazar merasa bersalah membuat gadis itu lelah hanya karena ingin membalas budi karena bantuannya gadis itu menawarkan diri membantunya selama seminggu padahal dia sendiri sibuk dengan tugasnya.


Tanpa Frisya sadari Fazar keluar dari ruangan itu dan sekitar 15 menit kemudian dia kembali dengan minuman di tangannya. Dia membeli kopi untuknya serta jus stoberi untuk Frisya, “Minumlah!” ucap Fazar sambil meletakkan jus itu di hadapan Frisya.


Frisya menatap Fazar, “Terima kasih!” ucapnya lalu segera menyeruput jus stoberi itu. Setelah selesai minum jus itu Frisya kembali menulis hingga waktu ashar tiba.


Tidak terasa, kini sudah jam pulang kerja, Frisya segera merapikan barangnya dan juga meja kerjanya, “Kak, Frisya duluan yaa.” Pamit Frisya segera keluar tanpa menunggu jawaban dari Fazar karena dia masih harus menemui Disa. Fazar yang ingin menahan Frisya hanya bisa menghela nafasnya lalu dia juga segera keluar dari ruangannya menuju ruangan Alvino.


“Ayo kita pulang.” Ucap Alvino yang ternyata juga akan pulang.

__ADS_1


Fazar pun mengangguk lalu keduanya segera turun, “Eee, Risya mana?” tanya Alvino yang baru menyadari adik iparnya itu gak ada.


“Dia sudah pulang duluan tuan.” Jawab Fazar.


“Kok bisa? Kenapa dia gak pamit sama saya ya? Ahh sudahlah mungkin dia sedang terburu-buru.” Ucap Alvino yang paham akan sifat adik iparnya satu itu.


Begitu tiba di basement, “Fazar, kau gunakan mobil lain susul Frisya. Aku merasa khawatir dengannya. Aku akan menyetir sendiri.” Ucap Alvino lalu segera masuk ke mobilnya dan berlalu dari sana.


Fazar pun segera mengambil mobil lain yang terparkir di sana dan segera menyusul Frisya yang entah kenapa juga dia memiliki firasat yang sama dengan Alvino. Dia berdoa semoga saja dia masih bisa menyusul gadis itu. Fazar menyetir dengan kecepatan rata-rata tapi karena ini jam pulang kerja jadi macet hingga membuatnya kesal. Fazar segera menghidupkan GPS yang terhubung dengan ponsel Frisya untuk mencari tahu di mana gadis itu. Yah, entah bagaimana Fazar memasang GPS itu di ponsel Frisya tapi yang jelas itu sudah dia lakukan sejak lama.


Setelah mengetahui di mana letak Frisya, Fazar segera melajukan mobilnya ke tempat Frisya dan tepat saat dia baru tiba motor yang di kendarai Frisya berbelok ke batas jalan karena tiba-tiba ada anak kecil yang menyebrang hingga membuat gadis itu mengerem mendadak dan membanting stirnya yang pada akhirnya dia terjatuh dari motornya.


Frisya tersenyum menatap Fazar lalu mengangguk, “Gak apa-apa.” Jawabnya.


Fazar segera membantu gadis itu berdiri dan memeriksa apa ada luka di tubuh gadis itu dan satu-satunya luka yang dia dapat ada luka di kakinya sebelah kiri yang tergores di aspal hingga pakaian kerjanya itu sobek, “Apa sakit?” tanya Fazar, yang lagi-lagi hanya di jawab oleh Frisya dengan gelengan.


“Maaf nak, maafkan anak saya. Maafkan kecerobohan saya.” ucap seorang ibu mendekati mereka.


Fazar segera menatap ibu itu, “Lain kali jagalah anak ibu dengan baik. Jangan mengajaknya keluar jika tidak bisa menjaganya dengan baik karena bisa saja membahayakan orang lain.” Ucap Fazar tajam.

__ADS_1


Frisya segera memegang lengan Fazar dan menggeleng lalu dia tersenyum menatap ibu itu yang kini tengah menunduk karena merasa bersalah, “Gak apa-apa bu. Saya memaafkan ibu. Hanya saja lain kali saya minta jagalah anak ibu dengan baik agar tidak akan ada yang terjadi kepadanya.” Ucap Frisya lembut.


“Makasih nak dan maaf sudah membuatmu terluka.” Ucap ibu itu masih menunduk.


Frisya pun mendekati ibu itu dan menyentuh pundaknya, “Gak apa-apa bu, ini hanya luka kecil kok.” balas Frisya. Ibu itu pun lagi-lagi hanya bisa mengucapkan terima kasih dan maaf lalu setelah itu dia segera pergi dari sana.


Fazar yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya untuk menetralkan kemarahan dan kekhawatiran di hatinya, “Ayo kita ke rumah sakit. Kamu ikut saya ke mobil. Biar motormu di antar ke apartemen.” Ajak Fazar mendekati Frisya.


Frisya pun hanya mengangguk mengiyakan karena sebenarnya tubuhnya terasa sakit karena menahan motornya tadi dan juga lukanya terasa mulai terasa perih. Frisya berjalan perlahan menuju mobil Fazar, “Apa kamu bisa jalan sendiri?” tanya Fazar.


“Tenang saja kak ini hanya luka kecil.” Jawabnya sambil melangkah. Fazar pun hanya menghela nafasnya lalu mengikuti gadis itu dari belakang sambil membawakan barang-barang gadis itu.


Fazar segera membukakakan pintu mobil untuk Frisya, “Terima kasih!” ucap Frisya.


Fazar hanya mengangguk lalu dia segera meletakkan tas dan dokumen Frisya di bangku kedua lalu segera masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya meninggalkan tempat itu, “Ke klinik kak Freya saja kak.” Ujar Frisya.


Fazar mengangguk dan mengendarai mobil itu menuju klinik Freya nyonya bosnya. Freya mengambil tisu untuk membersihkan debu di lukanya sambil menahan perih. Fazar yang melihat itu lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya karena ternyata gadis itu hanya pura-pura kuat saja padahal sedang kesakitan.


Tidak lama mereka segera tiba di klinik sang kakak dan Fazar segera membantu Frisya keluar mobil dan mengantarnya ke dalam untung saja Freya dan Friska sudah pulang hingga tidak terjadi keributan di sana yang akan menceramahinya panjang lebar. Frisya di bantu perawat yang bertugas malam.

__ADS_1


__ADS_2