Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
34


__ADS_3

Mami Jasmin yang terharu akan kedatangan tamu yang dia tunggu segera mendekat menyambut, “Kau datang nak.” sambut mami Jasmin ramah dengan mata yang sudah berkaca-kaca seolah-olah dia menyambut putrinya.


Mami Jasmin yang tidak bisa menahan perasaan harunya segera memeluk gadis itu erat karena kado yang sangat dia harapkan sudah tiba, “Mami senang kau datang nak. Ayo!” ucap mami Jasmin setelah melepas pelukannya dan mengajak Friska untuk duduk di kursi di sampingnya.


Friska pun hanya bisa menurut saja, dia melihat mami Sinta di sana yang sedang tersenyum padanya. Friska segera ikut duduk di kursi yang memang sudah di sediakan untuknya. Matanya melihat sekeliling dan dia tidak mendapati seseorang itu, seseorang yang tidak ingin dia temui, syukurlah jika memang dia tidak ada tapi sepertinya itu tidak mungkin seorang putra tidak menghadiri pesta ulang tahun ibunya sendiri.


Papi Harry yang sedang berbincang dengan papi William dan para pria segera mendekat ke arah istrinya yang di sana sudah duduk dengan seorang gadis cantik, “Wah siapa ini mih?” tanya papi Harry begitu duduk di samping sang istri.


Mami Jasmin tersenyum menatap Friska dan sang suami bergantian, “Doakan saja yaa pih semoga bisa jadi menantu.” Bisik mami Jasmin yang masih bisa di dengar oleh Friska karena bagaimana tidak mami Jasmin itu berbisik tapi dengan suara seperti orang bicara biasa saja. Friska pura-pura tidak mendengar hal itu karena baginya itu tidak mungkin walau dia tahu para orang tua itu ingin mendekatkan mereka.


“Pih, di mana Rezky?” tanya mami Jasmin yang memang tidak melihat sang putra.


Papi Harry yang juga baru sadar bahwa putra mereka gak ada menggeleng, “Papi juga gak tahu, tadi papi melihatnya hanya saat dia baru pulang kantor setelah itu gak lagi. Kemana anak itu?” ujar papi Harry sambil memandang sekeliling untuk mencari putranya.


Sementara di dalam ruangan tepat yang mengarah ke bangku orang tuanya duduk dengan seorang gadis cantik yang memakai gaunnya wardahnya tersenyum, “Ternyata kau datang. Kau menghargai undangan mami.” gumamnya. Dia tadi ada di lantai atas di kamarnya sedang duduk di balkon kamarnya. Dia berencana akan turun nanti saat acara akan di mulai karena dia memang tidak suka berbaur tapi saat ada seorang gadis masuk, seorang gadis yang membuatnya beberapa hari ini tidak tenang segera berlari turun ke lantai bawah untuk memastikannya dan begitu dia di lantai bawah dan ternyata gadis itu memang gadis yang sudah mengganggu tidurnya, dia berhenti dan menatap dari jauh gadis itu.

__ADS_1


Dia ingin mendekat ke sana ke meja di mana ada orang tuanya dan gadis itu tapi dia sedikit canggung karena dia akan bertemu lagi dengan gadis yang dulu dia kerjai hanya entahlah untuk alasan apa dia melakukan itu hanya saja saat itu dia ingin melakukannya. Dia masih menatap dari jauh hingga tiba-tiba ada yang mendekat ke arahnya, “Tuan muda di tunggu oleh nyonya dan tuan di depan karena acaranya akan di mulai.” Ucap maid di rumahnya itu.


Rezky pun mengangguk dan dia sekarang mencoba menetralkan perasaannya agar terlihat biasa saja walau hatinya tidak baik-baik saja. Dia segera berjalan keluar kediaman menuju meja di mana orang tuanya berada, “Selamat ulang tahun mih.” Bisik Rezky di telinga maminya yang saat dia mengangkat kepalanya matanya beradu dengan mata cantik gadis di samping maminya.


Mami Jasmin tersenyum mendengar ucapan putranya itu walau tadi pagi Rezky sudah mengatakannya tapi tetap saja dia bahagia mendengarnya lagi, “Makasih nak. Kau darimana saja?” ucap mami Jasmin lembut.


“Maaf mih tadi Rezky ketiduran.” Jawab Rezky.


Mami Jasmin pun hanya mengangguk, “Ya sudah duduklah dirimu, acaranya akan di mulai.” Ucap papi Harry. Rezky pun mengangguk dan segera duduk di kursi samping ayahnya yang juga bersampingan dengan Friska.


Acara demi acara mulai di laksanakan kini tibalah pada pemotongan kue, semua orang mengelilingi mami Jasmin yang di dampingi oleh papi Harry dan Rezky di sampingnya kini mulai memotong kue. Friska dia berdiri di samping mami Sinta, “Kau sangat cantik dengan gaun ini.” ucap mami Sinta berbisik.


“Terima kasih mih.” Jawab Friska.


Hingga kini mami Jasmin selesai memotong kue dan potongan pertama dia berikan kepada sang suami lalu potongan kedua kini dia mendekat ke arah Friska, “Ini untukmu nak.” ucap mami Jasmin lembut.

__ADS_1


Friska yang masih tidak menyangka akan hal itu hanya bisa menatap mami Jasmin, “Nak, terimalah!” bisik mami Sinta dari belakangnya. Seketika Friska tersadar dan segera menerima potongan kue itu, “Terima kasih mih.” Ucap Friska lembut. Mami Jasmin hanya tersenyum lalu mengucap kepala Friska yang tertutupi dengan hijab itu.


Mami Jasmin kembali memotong kuenya dan potongan ketiga di berikan untuk putranya. Rezky menerimanya dengan tersenyum walau tadinya dia sedikit sedih karena biasanya potongan kedua untuknya tapi kesedihan itu entah kenapa menghilang begitu dia mendengar Friska memanggil maminya dengan sebutan mami. Terdengar biasa tapi baginya itu sangatlah entah apa mungkin dia senang akan hal itu tapi tidak tau.


Mereka makan kue itu setelah mami Jasmin membagikannya hingga tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Wah apa dia calon menantumu Jasmin? Kau memberinya potongan kedua dan lebih memilihnya daripada Rezky. Selain itu juga gaunnya senada dengan pakaianmu.” Ucap orang itu yang memang kerabat.


Mami Jasmin hanya tersenyum mendengarnya, “Doakan saja.” balas mami Jasmin.


Sementara Friska dan Rezky memandang warna pakaian mereka yang memang senada serta gaun maminya dan gaun yang di pakai Friska sangatlah mirip. Friska yang menyadari itu hanya bisa menghela nafasnya sepertinya dia harus menanyakan sendiri kepada kakaknya. Kenapa dia tidak menyadari hal itu dari tadi, apa karena tertutupi dengan pashmina dia pakai hingga tidak sadar pita yang ada pada gaunnya sangatlah mirip ahh bukan mirip tapi sama dengan pita di gaun yang di pakai mami Jasmin.


Friska yang bisa bersabar akan hal itu sampai nanti dia bertanya pada kakaknya alasan semua ini. Dia yakin tidak ada yang kebetulan di sini, semua pasti sudah di rencanakan. Friska segera menatap mami Sinta. Mami Sinta yang di tatap hanya tersenyum.


Friska pun segera menuju meja minuman setelah acara potong kue itu selesai dan dia segera mengambil segelas jus lalu mencari kursi untuk meminumnya. Friska minum jus itu untuk meredakan emosinya yang naik karena kenapa dia tidak mempercayai firasatnya saat menerima gaun itu.


“Apa kita bisa bicara sebentar!” ucap seseorang tiba-tiba sudah ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2